
Hanna merebahkan tubuhnya di sebuah kursi panjang di toko buku tempat ia bekerja untuk membiayai kuliahnya.
"Bagaimana Han? Di terima?" Tanya Azel yang merupakan teman satu kerjanya.
Hanna hanya melirik pada Azel sekilas lalu memejamkan matanya karena begitu lelah hari ini.
"Han... jawab aku, apa Tuan Kama yang tampan dan kejam itu menerima kau magang di perusahaannya?" Azel menggoyangkan tubuh Hanna, tidak sabar mendengar apa jawabannya.
Hanna hanya mengangguk.
"Apa?! Kau di terima? Ya ampun Hanna kau akan jadi apa nanti jika bekerja bersama Tuan Kama yang kejam dan bengis itu." Histeris Azel hingga membuat Hanna menutup kedua telinganya.
Azel tidak memperdulikan suaranya yang menggangu sekitar, "Han, aku mohon batalkan saja ya, aku tidak mau kehilanganmu. Jika nanti Kama itu membunuhmu, aku tidak punya sahabat lagi, huaaa!..." Celotehnya membuat Hanna geram.
"Azel!!! Kau ini kenapa, hah?!" Bentak Hanna kesal.
Azel menutup mulutnya sejenak, "Maaf Han. Kau tahu kan Kama itu pria yang paling di takuti semua orang,"
"Pria seperti itu saja di takuti, apa hebatnya dia." Ucap Hanna remeh.
"Apa kau bilang?! Dia itu bukan pria sembarangan Hanna." Pekik Azel.
"Azel kecilkan suaramu!" Bentak Hanna geram.
"Maaf Han, aku hanya mengingatkanmu agar lebih berhati-hati terhadapnya,"
Hanna bangkit dari duduknya dan merapikan rak buku, "Hari ini apa pelanggan kita ramai ?"
"Mengapa kau mengalihkan topik kita, padahal kan ini hal yang serius." Azel menyusul Hanna.
"Azel jangan khawatirkan aku, semua akan baik-baik saja." Hanna mencubit geram pipi teman nya itu.
"Ya, aku harap begitu." Ucap Azel pelan.
Pagi-pagi sekali Hanna bersiap. Ia mengenakan kemeja putih dan rok ketat di atas lutut. Hari pertama ia menjadi sekretaris Tuan Kama, jadi ia harus berpenampilan serapi mungkin.
"Han, kau ingin bawa bekal?" Tanya Azel menghampirinya.
"Tidak usah. Hari ini aku harus buru-buru agar tidak terlambat," Hanna mengenakan heels hitamnya.
"Kalau begitu kabari aku nanti, jika kamu sudah pulang lebih dulu." Azel memberikan kunci kostan pada Hanna.
"Iya tenang saja. Aku pergi dulu ya..." Hanna bergegas pergi meninggalkan Azel.
Sebuah taxi mengantar Hanna di gedung tinggi dan mewah, Luxuria Grup. Ia menengadah ke atas, memandang ketinggian gedung itu.
Luarbiasa sekali gedung ini. Sejak kemarin aku kagum sekali pada desain mewahnya. Harusnya aku bangga bisa magang di sini. Gumam Hanna.
Ia melangkahkan kakinya perlahan memasuki gedung itu dan menuju lantai teratas dimana Tuan Kama bersinggasana.
Alangkah kagetnya Hanna, Tuan Kama sudah mendahuluinya.
Ini kan masih pukul 06.30 pagi. Mengapa dia cepat sekali?
"Tuan, maafkan hamba yang datang terlambat." Hanna menundukkan kepalanya.
Kama yang duduk membelakangi, memutar kursinya dan memandang Hanna yang masih saja menunduk.
"Hari ini aku sedang tidak ingin menghancurkan seseorang." Ucap Kama sambil meremukkan selembar kertas yang ada di depan nya, lalu melemparnya tepat di kaki Hanna.
"Terimakasih Tuan," Hanna masih tetap menunduk menatap kertas yang terlempar tepat di kakinya.
"Haha... Ambil kertas itu dan rapikan lagi!" Perintah Kama.
Apa?! Kertas ini sudah remuk dan kusut, mana mungkin bisa di rapikan.
Hanna mengambil kertas yang sudah kusut dan sedikit robek itu.
"Aku inginkan kertas itu kembali seperti semula dan tidak kusut!" Mata Kama menatap tajam pada Hanna yang berusaha merapikan kertas itu.
"Haha... Kau memang bodoh! Kertas itu adalah nasibmu. Jika, kau melakukan kesalahan lagi maka aku akan meremukkan mu hingga robek dan tidak bisa dikembali seperti semula." Ancam Kama sembari menggeprak meja.
Hanna sama sekali tidak takut dengan apa yang di ucapkan oleh Kama. "Baik Tuan, hamba tidak akan melakukan kesalahan lagi." Katanya percaya diri.
Kama mengerutkan keningnya memandang Hanna, "Kau berpenampilan seperti budak. Besok jangan kenakan baju itu lagi, paham?!"
Huu... dia pikir aku punya banyak uang untuk membeli baju. Batin Hanna geram.
"Baik Tuan, hamba tidak akan memakai baju ini lagi."
Dengan polosnya Hanna mengikuti langkah pria tampan nan menakutkan itu.
"Hei!!! Kau tidak bisa bekerja, hah?!" Bentak Kama menghentikan langkahnya.
"Ma -maksud Tuan?" Hanna tersentak dan gugup.
Apa caraku melangkah salah ya.
"Tinggalkan ransel kecilmu itu dan bawa tas berisi barang-barangku!" Perintah Kama geram.
Mata Hanna mencari kesana kemari dan akhirnya mendapati sebuah tas tangan berwarna hitam yang tergeletak di kursi sofa. Kemudian, ia mengikuti Tuan Kama yang melangkah begitu cepat.
"Arkhan antarkan saya ketempat yang sudah saya katakan tadi!" Perintah Kama yang kini sudah duduk di dalam mobil.
Hanna terburu-buru masuk ke dalam mobil. Melihat tingkah Hanna yang lamban, Tuan Kama memandang sinis wanita berambut pirang itu.
Sebenarnya mau kemana ini. Seharusnya aku di beri tahu dulu jadwal dan kemana ia akan pergi sebagai sekretarisnya. Batin Hanna lagi.
Arkhan menyetir sembari memandangi Hanna dari kaca yang ada di depan nya.
Wanita ini manis sekali dan sepertinya ia tidak takut sama sekali pada Tuan Kama.
***
"Tuan, kita sudah sampai," Ucap Arkhan.
"Kamu tunggu di sini sampai saya selesai." Kama membuka pintu mobil.
"Baik Tuan," Jawab Arkhan mengangguk.
Hanna mengikuti langkah Tuan Kama sembari memandangi sekitarnya. Ia sangat bingung melihat tempat yang berada jauh dari jalanan kota. Sebuah penginapan minimalis dengan bangunan yang mewah, bahkan dindingnya terbuat dari kaca pilihan yang tertutup tirai putih, serta banyak rerumputan hijau yang di perindah dengan bunga di sekitarnya.
Sebenarnya ini tempat apa, mengapa ia malah ke sini. Jika ingin bertemu klien kan tidak mungkin di sini.
"Tuan Kama, akhirnya kau datang juga." Seorang wanita muda berpakaian seksi menyambut Kama.
Kama merangkul pinggang wanita itu, "Aku ingin permainan yang panas,"
Hanna terbelalak menyaksikan apa yang ada di hadapannya.
"Tuan Kama siapa perempuan ini?" Wanita itu melirik Hanna yang berdiri di samping Kama, dari atas hingga ke bawa.
"Kau tidak perlu tau siapa dia, tugasmu hanya menjadi budak wanitaku hari ini !" Kama melepaskan rangkulan nya.
"Kau! Duduk diam dan tunggu di sini sampai pekerjaanku selesai, paham?!" Kama menarik Hanna dengan kasar untuk duduk di sofa.
"Tuan, apa yang anda maksud dengan pekerjaan itu, seperti ini?" Hanna menaikkan sebelah alisnya memandang wanita penggoda itu.
"Jangan banyak bicara atau kau akan aku remukan hari ini juga!" Ucap Kama geram menatap sekretarisnya itu.
"Baik Tuan, lakukan pekerjaan anda dengan baik," Ujar Hanna pula dengan polosnya.
Kama yang semakin geram dengan ucapan Hanna, hanya mengabaikanya lalu menarik kasar wanita penghibur itu ke dalam sebuah Kamar.
Hanna yang di tinggal menghembuskan nafas lega, "Ya Tuhan... dia menjijikkan sekali. Ada berapa wanita yang sudah ia sewa."
Buk!...
Tumpukan berkas keluar dari tas Kama yang ternyata tidak tertutup sedari tadi.
"Astaga ternyata tas ini terbuka," Hanna berusaha mengumpulkan berkas itu.
Apa ini, Batin nya setelah melihat selembar foto masa kecil Kama yang di gendong oleh Ayahnya.
Ini pasti Ayah Tuan Kama. Apa ia terus membawa foto ini saat bekerja?
Hanna tidak begitu memperdulikan foto itu. Ia kembali merapikan nya dan alangkah kagetnya Hanna setelah mendapati sebuah buku usang yang juga terselip di dalam lembaran berkas itu.
Ia membuka pelan buku itu, "Hari ini aku melihat ibu bersama pria asing tanpa memakai baju di kamarnya," Hanna membacanya pelan.
Matanya kini seperi memikirkan sesuatu, seolah semakin penasaran akan buku itu. Ia menelusuri setiap lembarnya. Betapa kagetnya ia melihat coretan serta gambar yang menakutkan. Seperti seorang wanita tanpa busana sedang di ikat bagaikan binatang, bahkan ada gambar wanita yang tangan nya terkunci dengan borgol. Disetiap gambar itu tertulis nama Carlee dan Lina.
Apa ini semua gambar Tuan Kama. Lalu, siapa yang ia maksud Carlee dan Lina dan buku ini juga sudah usang. Lebih baik aku simpan saja dan membawanya pulang.
Hanna menyimpan buku itu dibalik kemejanya dan mengembalikan berkas itu ke dalam tas Kama.