The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
NO!



“Azel sahabat terbaikku, aku rindu padamu…” Histeris Hanna yang langsung merebahkan tubuhnya menindih dan memeluk Azel.


“Hanna! Aw, badanmu berat sekali!” Azel berusaha bangkit dari tindihan tubuh Hanna.


“Tentu saja berat, mungkin rasa rinduku padamu dan dagingku sudah menjadi satu, haha…”


“Singkirkan tubuhmu dariku!” Suara Azel seperti menahan beban berat.


Hanna menyingkir dan duduk di ranjang. Begitu pula Azel, ia duduk dan langsung memeluk Hanna dengan erat.


“Bagaimana New York?” Katanya tak sabar.


“AHH, Indah sekali!...” Kata Hanna dengan nada sedikit pamer.


Azel mencubit pelan pinggang Hanna, “ Kau beruntung sekali. Aku iri padamu.”


“Kau tidak perlu iri. Aku membawakanmu banyak oleh-oleh.” Hanna meraih sebuah bingkisan dan memberikanya pada Azel.


“Kau memang bisa di andalkan.” Dengan rasa tak sabar Azel membuka bingkisan itu yang isinya adalah baju hangat serta tas cantik bermerk ternama.


“Kau punya uang dari mana? Atau ini barang tiruan?” Canda Azel.


“Tentu saja asli dan itu semua Kama, kekasihku yang membelinya.” Jawab Hanna dengan seringaian di bibir.


“Apa, kekasih?!” Mata Azel membesar dan ia menelan paksa ludahnya.


“Ya, aku dan Kama sudah resmi menjadi kekasih!” Tegas Hanna.


“OH MY GOD!!! Selamat Hanna, apa sebentar lagi kalian akan bertunangan? Atau menikah? Seluruh media akan menyiarkan berita ini, bukan? Ah tak sabar!” Kata Azel dengan nada begitu cepat, matanya seolah sudah membayangkan apa yang ia katakan.


Hanna menampar pelan pipi temannya itu, “Tidak secepat itu! Kama tidak mungkin mengambil tindakan cepat apalagi urusan cinta. Lagipula, misiku tidak hanya menjadi kekasihnya, kau tahu itu.”


“Iya, iya! Tapi, aku harap kau tidak hanya di jadikan kekasih saja. Apalagi, mungkin kau wanita pertamanya.” Azel menggandeng tas barunya.


Hanna menggigit ujung jari telunjuk seperti sedang berpikir, “Hubungan ini baru seumur jagung. Lagipula, aku harus kuliah terlebih dahulu.”


Tiba-tiba Azel mendekatkan wajahnya pada Hanna dan tatapannya seolah-olah meneliti sesuatu, “Kau dan Kama sudah---?”


“Iya sudah!” Potong Hanna seolah mengerti apa yang akan dikatakan Azel selanjutnya.


“APA?! Aku tidak menyangka, tapi tidak masalah karena dia menjadikanmu kekasih dan bukan sebagai perempuan jal*ang.”


Hanna mengoyangkan tubuh Azel, “Azel apa ibuku akan marah jika tahu anaknya berpacaran dengan gaya bebas?” Katanya hampir berteriak.


“HAHAHA!... Gaya bebas? Kau pikir kalian ini sedang berenang?” Azel terpingkal.


“Ya! Memang kami sedang berenang dalam lautan cinta.” Hanna terlihat geram.


“Asalkan kau tidak tenggelam. Maksudku,” Azel mendekatkan mulutnya ke telinga Hanna. “Maksudku, jangan sampai kau mengandung Kama kecil.” Bisiknya menakuti Hanna.


Hanna mencubit perut Azel, “Kau ini!!! Jika iya, aku akan segera memaksanya untuk menikahiku!”


“Kau tenang saja Hanna, Kama itu sepertinya memang sudah bertekuk lutut padamu,” Ucap Azel dengan nada santai.


“Benarkah? Kalau begitu berarti aku beruntung.” Hanna tersenyum manis.


”Kau memang beruntung!” Tegas Azel pula sambil merangkul Hanna akrab.


“Apa boleh aku meminta sesuatu padamu, temanku?” Hanna memasang wajah manisnya.


“Hmm! Aku merasakan suatu hal yang tidak enak akan menimpaku.” Gumam Azel seolah mengerti maksud dari temannya.


“Ayolah, kau tahu besok aku harus ke Bali bertemu dengan ibu. Jadi, bantu aku menyelesaikan laporan akhir kuliah, ya?” Bujuk Hanna dengan raut wajah memelas.


“Ke Bali? Bukankah harusnya bulan depan?”


“Tapi, Kama juga ikut bersamaku. Jadi, dia sudah memesan tiket untuk kami berdua besok.” Jelas Hanna.


Azel seperti setengah pingsan, “Ya Tuhan! Apa Kama itu selalu ingin membuntutimu!”


“Setelah ke Bali, aku dan Kama juga akan langsung menemui ibu kandungnya di Jakarta.”


Azel menjatuhkan dirinya di kasur, “Kau magang atau sedang program keliling dunia, Hanna? Apa kalian ingin meminta restu?”


“Azel ayolah bantu aku. Nanti, kau akan aku traktir.”


“Tidak perlu kau menyuapku seperti itu, aku akan tetap membantumu. Apalagi, aku bisa mengerjakannya di toko bersama Louis.” Azel memandang Hanna dengan ketulusan.


Tok!... tok!...


Mendengar suara pintu, Azel dan Hanna saling bertukar pandang.


“Biar aku saja yang buka.” Bergegas Hanna membuka pintu kamar dan mendapati Arkhan di depan pintu.


“Nona, sudah saatnya untuk kembali ke apartemen.”


“Memangnya kenapa Arkhan?” Tanya Hanna.


“Tadi Tuan menelpon dan meminta nona untuk segera pulang.” Jelas Arkhan sembari mencuri pandang ke arah Azel.


“Baiklah. Lima menit lagi aku akan ke mobil, kau tunggu saja di sana.”


“Baik nona.” Arkan melangkahkan kakinya kembali ke mobil.


Hanna menutup pintu dengan raut wajah jengkel, “Kau lihat? Kama begitu posesif, dia mengatur-ngatur.”


“Tapi kau di perlakukan seperti seorang ratu saja.”


“Ratu yang sekarang sedang di kekang,” Hanna memakai sepatunya, lalu meraih tas kecil yang terletak di ranjang.


“Kau terlihat menikmatinya, Han.” Sanggah Azel.


“Kadang!” Jawab Hanna singkat.


Dengan berat dan rasa rindu yang masih tersisa Hanna melangkahkan kakinya meninggalkan Azel di kostan sendiri. Langkah yang berat ia paksa untuk masuk ke dalam mobil dan kembali ke apartemen.


“Kau lama sekali!” Suara lantang Kama yang duduk menunggu di sofa ruang tengah.


“Apa kau tidak bisa menghitung jam Tuan Kama?!” Hanna bernada kesal.


“Ini sudah hampir dua jam! Apa kau tahu aku sedang lapar!” Kama mendekati Hanna yang masih berdiri beberapa langkah dari sofa.


Apa dia tidak bisa mandiri! Masak sendiri atau memesan di restoran!


“Baiklah, Maaf. Kau mau makan apa Tuan?” Tanya Hanna seperti tidak ingin berdebat.


“Aku ingin di buatkan pasta dan juga coklat panas.” Kama kembali duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya.


“Baiklah.”


“Hanna,” Panggil Kama yang menghentikan langkah kaki gadis manis itu yang baru saja akan ke dapur.


“Ya Tuan.”


“Kau lelah? Jika iya, aku akan masak untuk kita.” Kama mendekati Hanna lalu memijat punggung tangan Hanna.


Hanna terlihat bingung dengan sikap Kama yang berubah dengan cepat, “K –Kau ingin masak?” Tanya nya ragu.


“Aku tidak bisa melihat gadis cherryku kelelahan.” Kama mencium tangan Hanna.


Aneh sekali! Tadi, dia begitu marah karena aku pulang cukup lama, sekarang dia malah mengasihani aku. Cepat sekali dia berubah.


“Aku sebenarnya tidak merasa lelah Tuan.”


“Oh darling! Besok kita akan pergi lagi mengunjungi ibumu.” Kama mengusap-usap kepala Hanna.


“Kau yakin akan memasak?”


“Apa saja untukmu!” Jawab Kama begitu yakin, bibirnya hendak menyosor mengecup bibir Hanna namun, dengan sigap Hanna menutup bibirnya dengan tangan.


“NO!” Tegas Hanna sambil menggelengkan kepala.


Kama tetap memaksa, ia berusaha membuka tangan Hanna yang mengunci rapat bibirnya, “Sweatheart berikan!”


“Tidak!” Kata Hanna dengan nada penekanan.


“Your lips is mine!” Kama berusaha untuk dapat mencium Hanna, sebelum akhirnya Hanna berlari ke atas.


“Sudah aku katakan, kau tidak boleh menyentuhku, menikmati bibirku sebelum kau bertemu dengan Carlee dan berlaku baik padanya!” Teriak Hanna dari atas tangga.


“Hei! Awas saja kau!”