The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Sudah lama kita tidak berdansa



Malam itu menjadi tidak biasa bagi Hanna setelah mendengar perkataan Tuan Kama yang berniat untuk menikahinya setelah wisuda.


Rasanya bukan tidak bahagia, tapi apakah mungkin seorang Tuan Kama mengatakan itu sungguh-sungguh dari dalam hatinya? Hanna sedikit meragukan perkataan Tuan Kama, walau ia memang terkenal tidak pernah plin-plan dalam keputusannya.


Tapi siapa yang menyangka Tuan Kama yang suka membeli dan menikmati perempuan jal*ng atau seorang pria yang suka menyiksa dan menjadikan wanita pemuas nafsu buasnya malah ingin mempersunting satu wanita?


Gadis berambut pirang itu berulang kali menukar posisi tidurnya. Ntahlah perkataan Tuan Kama sangat merisaukan hatinya, hingga saat ini kalimatnya bak menari-nari di otak Hanna.


Apa mungkin Tuan Kama benar-benar mengucapkan itu dari hatinya? Sebenarnya aku bahagia, hanya saja jika menjadi istrinya nanti apa dia masih akan tetap menghukumku dengan cambukan atau yang lainnya? Aku memang menerima semua tingkah misteriusnya,tapi tak selamanya seorang wanita akan terus mau diperlakukan seperti itu. Hanna memandang kalut langit-langit kamar.


Hati dan otaknya seakan berlawanan. Hatinya berbunga-bunga, tapi pikirannya melayang begitu jauh tentang akan jadi apa dia setelah nama Alfredo di letakan di belakang namanya.


Tok!... Tok!..


Ibu yang langsung masuk setelah mengetuk pintu dua kali. Ia menghampiri putrinya yang terlihat masih larut dalam lamunan malam.


“Hei Hanna, kau ini kenapa?’’ Ibu membelai rambut Hanna yang tengah berbaring.


“Tidak apa-apa bu.” Hanna mengambil posisi duduk dan bersandar pada kepala tempat tidur. “Bu, mengapa ibu memaksa Kama untuk menikahiku?”


Ibu Hanna mengetuk dahi purtinya geram, “Ibu dulu mengidam yang bergizi, tapi kau mengapa terlahir bodoh seperti ini!” Bibir ibu mencebik.


“Tapi Bu---‘’ Hanna tak sempat melanjutkan kalimatnya.


“Tapi apalagi, hah?! Kau ini sudah memberi dirimu padanya, kau merelakannya begitu saja? Bodoh sekali kau! Lagipula, Kama itu sepertinya sangat menyayangimu.”


Hanna tersenyum lebar dan wajahnya memerah, “Ah ibu… Apa itu benar?”


“Tentu saja! Mata ibu tidak pernah salah. Lebih baik kau tidur, karena besok ibu akan mengajakmu bersama calon suamimu itu kerumah Bibi Ara.” Ibu menarik selimut menutupi badan Hanna.


“Mengapa kita harus ke sana?” Hanna terlihat sangat tidak suka.


“Dia harus tahu bahwa Kama adalah calon suamimu, dengan begitu mulutnya tidak akan merendahkan keluarga kita lagi.” Ibu tersenyum licik.


Calon menantuku itukan orang yang terkenal akan kekayaan dan ketampanannya, wuaah aku pasti akan di hormati oleh Ara. Dia tidak akan menjulukiku sebagai janda malang.


Hanna menghela napas, “Ibu buat apa pamer seperti itu, tidak berguna!”


“Kau ikuti saja apa kata Ibu.” Ibu meninggalkan Hanna begitu saja dan menutup pintu kamarnya.


“Ibu selalu saja begitu. Lagian untuk apa memamerkan hal ini pada Bibi Ara yang angkuh dan sombong itu!” Gerutu Hanna.


“Apa saat ini Kama sedang tidur dan memimpikan aku ya?” Hanna tersenyum salah tingkah, ia bergerak kesana kemari hingga seprai tempat tidur menjadi berantakan.


“SSSTT!...” Kama mengendap-endap masuk ke kamar.


Hanna melempar pandangan mencari tahu sumber dari suara itu.


“Sstt! Hei Hannaku!” Seru Kama yang sudah berdiri di hadapan Kama.


Hanna hendak mengambil posisi duduk, tapi Kama menindihnya dengan tubuhnya dan menimpah kedua tangan Hanna dengan telapak tangannya.


“Tuan, apa yang kau lakukan?!” Mata Hanna membolak, wajahnya begitu dekat dengan Kama.


“Aku rindu aromamu, Hannaku.” Kama berbisik dengan tatapan penghipnotis andalannya.


“Jika ibu tahu, maka habislah kita!” Hanna memberontak, matanya bersiaga melihat keadaan.


Tuan Kama menempelkan jari telunjuknya di bibir Kama, “Aku tidak bisa tidur tanpamu Hanna.”


“Hei! Kau tidak bisa seperti ini Tuan. Tolong singkirkan tubuhmu dari atasku.” Pinta Hanna seraya mengeliat.


Kama mendekatkan bibirnya, “Aku sangat haus akan bibir cherrymu.” Matanya mulai menatap nakal.


Ya Tuhan, penyakit Tuan Kama mulai lagi. Mengapa dia selalu saja bergairah seperti ini.


“Tuan! Lepaskan!” Hanna terus memberontak.


“Hannaku, kau begitu menyiksaku dengan tidak menyentuhmu. Kau tahu, Tuan Kama tidak suka akan hal itu!” Kama berbisik dengan napas yang terdengar begitu seksi, hingga membangkitkan gairah gadis cherrynya.


“Izinkan aku mengecup dan mengecap airmu.” Kama semakin menggoda Hanna dengan tatapan mata yang langsung menusuk pada manik milik Hanna.


Bibir Hanna mulai merekah, dan matanya seolah memberi izin.


“Apa kau juga haus, my sweetheart?” Kama semakin mencekam tangan Hanna yang telihat pasrah di atas seprai.


“Tidak! Menyingkir dariku Tuan.” Akhirnya tenaga Hanna cukup kuat mendorong keras tubuh Kama dan hampir terjatuh.


“Tuan, kau tidak boleh menyentuhku atau melakukan hal ini lagi padaku! Kau paham?” Hanna bangkit berdiri dan bertolak pinggang. Wajahnya di buat begitu serius dengan suara yang terdengar tegas.


“Kau berani sekali mendorongku!” Kama tak mau kalah, ia bangkit menantang Hanna dan juga bertolak pinggang.


“Tentu saja aku berani! Kau bilang aku seperti ibuku, kan?!” Hanna mengangkat wajahnya memandang berani pada pria bermata coklat itu.


“Jika kau lakukan itu lagi padaku, maka…” Kama tidak tahu harus mengatakan apa.


“Maka?”


“Maka, kau akan…” Kama menggaruk kepalanya.


“Maka aku akan apa? Dengar Tuan Kama, tidak ada lagi penghukuman untukku!” Tekan Hanna dan hendak melangkah pergi, namun dengan sigap Kama menarik tangannya jatuh kedalam pelukan dadanya yang bidang.


Kama memeluknya dalam hangat. Tangan kanannya mengusap lembut rambut Hanna dan tangan kiri ia gunakan untuk merangkul pinggang gadis itu.


“Jika kau melakukannya lagi, maka aku semakin tidak akan melepaskanmu! Kau hanya akan jadi milikku.”


Hanna tersenyum dan kedua tangannya kini ia lingkarkan di leher pria rupawan itu, “Aku memang hanya akan menjadi milikmu Tuan.”


“Kau tidak akan pergi dariku?” Kama menempelkan keningnya pada kening Hanna.


“Tergantung!”


“Maksudmu?!” Kama menjadi serius.


Hanna tertawa kecil, “Jika aku pergi menemui Azel atau teman-temanku, tentu aku akan pergi darimu sebentarkan? Haha…”


“Tidak! Mulai sekarang kau tidak boleh pergi kemanapun tanpa aku. Aku tidak peduli, Azel atau temanmu yang lain!”


Mengapa dia jadi seperti ini. Peraturan seperti apa itu.


“Tuan, aku ini belum resmi menjadi istrimu. Jadi, kau tidak boleh terus membuntuti aku.” Protes Hanna.


“Tidak! Secepatnya kau akan menjadi istriku dan setelah itu matamu hanya di pakai untuk menatap mataku, kaki dan tanganmu hanya untuk menggandeng dan berjalan denganku!” Kata Kama penuh penekanan.


“Iya tapi nanti setelah kita menikah, kau baru boleh posesif seperti itu Tuan.” Bibir Hanna mencebik.


“Aturannya akan berlaku mulai sekarang! Aku akan menghancurkan siapa saja yang menyentuhmu atau sekedar melihatmu!”


“Tidak usah berlebihan seperti itu, mana mungkin---‘’ Hanna tak sempat melanjutkan perkataannya.


“Sst! Jangan protes! Ini adalah perintah tambahan Tuan Kama.”


“Hmm, ya baiklah,” Ucap Hanna terpaksa.


Tiba-tiba Tuan Kama meraih ponselnya dari saku.


“Kau mau apa Tuan?” Tanya Hanna yang terlihat bingung.


“Aku ingin menyalakan musik,’’ Setelah menyalakan musik romantis Kama meletakkan ponselnya di atas kasur.


“Sudah lama kita tidak berdansa, bukan?”


Kama kembali merangkul pinggang Hanna, begitu mesra. Mata mereka saling beradu dan Kama kembali menempelkan wajahnya dekat pada Hanna.


Hanna begitu lihai dalam dansanya, sama seperti Kama yang mengikuti gerak tubuh Hanna. Menangkapnya dalam pelukan lalu memutar indah tangan Hanna, hingga posisi Hanna bersandar membelakangi dada kekar Tuan Kama.


Pria kekar itu, kini memeluk mesra pinggang Hanna dari belakang. Sementara, Hanna ikut memeluk syahdu tangan kekasihnya.


“Tuan, aku suka kau yang seperti ini.”


Kama hanya tersenyum menanggapi perkataan Hanna.


Terimakasih sudah sangat setia menanti dan membaca THE OTHER SIDE OF KAMA 🙏🙏


Mohon maaf jika hari ini author telat update, karena biasanya pagi-pagi sudah nongol episode baru. Dikarenakan tadi author sedikit punya kesibukan jadi, terpaksa harus telat mengupdate🙏😁


Jangan lupa untuk tinggalkan like dan komentar ya hehe… Karena komentar kalian begitu menyemangati author, sekaligus bisa bikin author punya ide-ide untuk up. Oh iyaaaa! Jangan lupa vote juga ya… Semoga kita semua sehat selalu! Terimakasih!...❤️❤️