The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Bertemu Carlee



Pagi hari yang sibuk bagi Hanna. Ia bersiap-siap untuk berangkat ke Jakarta dan mungkin juga dalam waktu dekat kembali ke Singapur. Sebelumnya, Hanna juga membantu ibunya yang selalu rutin menyiapkan sarapan mereka.


“Hanna,” Panggil Kama dari depan pintu kama Hanna yang sedikit terbuka.


Hanna berbalik badan, “Ya Tuan. Mengapa tidak masuk saja?”


“Apa boleh aku masuk ke kamarmu?” Pertanyaan yang menggelikan bagi Hanna.


Hanna menahan senyumnya, “Apa kau pernah permisi sebelumnya?” Hanna berpangku tangan.


“Tidak! Tapi kita belum menikah.” Kama tersenyum manis.


Mata Hanna membolak mendengar perkataan Tuan Kama, “Mengapa kau jadi seperti ini Tuan? Wah, sekarang kau punya sedikit etika yang baik.”


“Jangan meledekku! Aku hanya ingin terlihat baik di mata ibumu.” Katanya pelan.


Hanna menggelengkan kepala, “Haha... Masuklah Tuan. Jangan berdiri di depan pintu.”


Kama melangkah masuk dan memilih duduk di tempat tidur. Sementara Hanna ia kembali sibuk menyiapkan segala sesuatunya ke dalam koper.


“Kau terlihat sibuk?” Tanya Kama.


“Iya Tuan. Aku harus membawa baju lebih banyak untuk bekerja dan kuliah.” Kata Hanna sambil mengunci kopernya.


“Mengapa tidak beli yang baru saja? Dari pada membawa seberat ini.”


“Tuan, jika masih banyak baju yang bisa di pakai , mengapa aku harus membeli yang baru? Aku tidak sepertimu yang punya banyak uang.”


Kama tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, “Jika jadi istriku, kau boleh membeli baju sebanyak mungkin.”


‘’Tuan, apa kau serius ingin menikahiku?” Hanna menatap dalam.


Kama menggangguk.


“Kau yakin?” Hanna duduk di samping Kama dan menatap curiga.


“Mengapa kau bertanya seperti itu? Aku tidak ingin kau meninggalkanku.”


“Hanya itu saja? Apa kau tahu arti menikah sebelumnya?” Tanya Hanna lagi.


Kama menggeleng, “Hanna, aku hanya tidak ingin kau menikah dengan lelaki lain.”


“Tuan---‘’


“Kita akan terlambat nanti.” Kama bangkit berdiri dan dan membawa koper Hanna keluar.


Menikah itu tidak main-main Tuan Kama dan Aku harap kau tahu itu. Batin Hanna.


Hanna meraih tas kecilnya dan kemudian menyusul Kama yang terlebih dahulu keluar dari kama.


“Kalian lama sekali. Apa tidak takut akan ketinggalan pesawat?” Kata ibu yang sibuk menyiapkan sarapan di meja makan.


“Tidak Bi, jangan khawatir.” Kama mengambil posisi duduk dan langsung di susul dengan Hanna.


“Kalau begitu sarapan dulu.” Ibu memberikan roti panggang dan juga segelas susu.


“Terimakasih Bi,” Ucap Kama.


“Bu jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan ya.” Hanna mengusap punggung tangan sang ibu.


“Kau tenang saja sayang, ibu pasti akan selalu sehat disini. Oh iya, ibu sudah mendapat tempat untuk membuka restoran.” Kata ibu yang mulai mengunyah rotinya.


“Wah bagus kalau begitu Bi. Apa perlu aku membantu untuk mengurus semuanya?”


“Tidak usah Kama. Kau urus saja pernikahanmu dengan Hanna ya, biar Bibi yang urus semuanya sendiri.” Suara ibu terdengar ramah.


“Ibu jangan terlalu kelelahan ya.” Hanna terlihat khawatir.


“Tenang saja Hanna.”


Setelah sarapan, Hanna dan Kama pamit. Mereka memberikan pelukan hangat sebelum akhirnya taksi online datang menjemput mereka untuk mengantar ke bandara.


Dalam waktu yang tidak lama mereka tiba di bandara dan langsung menaiki pesawat karena mereka datang memang 15 menit sebelum pesawat melakukan penerbangan.


Wajahnya dari semalam seperti itu terus. Maaf, jika aku harus memaksamu untuk melakukan ini Tuan.


Jakarta, Indonesia.


Kama terus diam dengan wajahnya yang masam. Ia melangkah lebih cepat menuju sebuah mobil yang menunggu mereka di parkiran bandara. Hanna setengah berlari mengikutinya.


“Tuan, kau melangkah cepat sekali.” Kata Hanna dengan napas cepat ketika sudah berada di dalam mobil.


“Maaf.” Jawab Kama sekedar.


‘’Tuan muda Kama, apa anda ingin langsung di antar kerumah atau---‘’ Seorang sopir yang siap mengemudi tak sempat melanjutkan kaimatnya.


“Apa kau berpikir aku ini ingin mengunjungi ibumu terlebih dahulu?” Potong Kama dengan nada marah.


“Maaf Tuan.” Sopir itu menyalakan mobilnya dan mulai melaju pelan.


“Apa kau tidak bisa lebih cepat?! Mobil ini berjalan seperti siput!” Bentak Kama.


“Maaf Tuan, saya akan lebih cepat.” Pria itu sedikit bergetar.


Hanna menyentuh pundak Kama, “Tuan, mengapa kau marah-marah seperti ini?”


“Jangan banyak bertanya Hanna.” Kama tidak menoleh sedikitpun bahkan suaranya terdengar ketus.


“Baiklah, maaf.” Hanna memilih diam setelah itu.


Bahkan, belum sampai bertemu ibumu kau sudah seperti ini Tuan. Batin Hanna.


Tibalah mereka di suatu rumah dengan desain cukup tua berwarna putih cerah. Rumah itu berukuran cukup besar dan sedkit mewah.


Kama menggeret koper kasar menuju pintu rumah dan tanpa mengetuk ia langsung masuk ke dalam. Sedangkan Hanna, ia malah berdiri di tangga teras rumah itu. Ya, untuk menuju pintu utama, harus menaiki sedikit tangga teras.


“Kau ingin tinggal disana?” Kama berbalik menghadap Hanna.


“Apa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?”


“Kau sudah melihat Tuan rumahnya ada di hadapanmu! Mengapa harus mengetuk?” Kama menaikkan intonasi bicaranya.


“Baiklah Tuan.” Dengan langkah kaki cepat Hanna menyusul masuk.


Di dalam rumah itu ada beberapa pelayan yang sedang sibuk membersihkan barang-barang antik dari dalam lemari kaca. Mereka tersentak seraya menghentikan pekerjaan mereka setelah melihat kehadiran Kama.


“Tuan muda, selamat datang.” Mereka menundukkan kepala memberi salam.


“Kau!” Kama menunjuk ke arah wanita tua yang sedang memegang kemoceng.


Wanita itu menunduk takut, “Iya Tuan,” Ucapnya.


“Bawakan koper ini dan antar wanita itu menuju kamarnya!” Perintah Kama sembari menoleh ke arah Hanna.


“Tuan, apa tidak sebaiknya kita bertemu dengan ibumu terlebih dahulu? Tidak sopan jika aku langsung masuk ke kamar yang bukan rumahku.” Hanna terlihat sedikit segan.


“Kau, mengapa merepotkan sekali?!” Kama mendengus kesal.


“Bukan seperti itu. Lebih baik kita bertemu dulu dengan---‘’


“Kama, putraku! Kau datang kemari nak?” Tiba-tiba suara Carlee mengejutnya. Ia menghampiri Kama dan hendak memeluknya, namun Kama mendorongnya.


“Kau berkunjung kemari untuk ibu, kan?” Ibu tersenyum bahagia.


“Tidak! Jangan mengira bahwa aku berniat untuk bertemu denganmu!” Kama tersenyum miring.


“Tuan kau tidak boleh berkata seperti itu.” Sambung Hanna.


Carlee dengan spontan melihat ke arah Hanna yang berdiri di samping putranya. Tatapannya sangat terlihat tidak ramah, wajahnya sedikit ia naikkan dan matanya menelusuri penampilan Hanna dari kepala hingga kaki.


“Siapa gadis ini?” Tanya nya dengan nada sinis.


“Dia kekasihku!” Ketus Kama.


Mata Carlee bertambah sinis, ia terlihat begitu tidak menyukai Hanna. Bak seorang hakim begitulah tatapan matanya.