
Hanna mengikuti langkah pelayan wanita itu, hingga tiba di taman belakang rumah. Taman yang cukup luas dengan rerumputan hijau serta kolam renang di tengah-tengahnya.
Dari kejauhan, Nyonya besar sudah duduk dengan kaki bersilang dan wajah penuh keangkuhan.
Bantal panjang putih dan empuk menjadi tempat nyaman untuk ia duduk menselonjorkan kaki. Bantal itu sengaja ditaruh dalam sebuah gazebo minimalis, agar waktu bersantai Nyonya besar akan terasa teduh.
Tidak peduli sudah teduh, ia tetap menggunakan topi bundar putih kesayangannya. Tidak lupa pula, kaca mata untuk menangkis bias matahari agar tidak mengenai matanya. Ya, bagai di pantai itulah pikiran Nyonya besar, Carlee.
Terlihat pula ada dua orang wanita, tengah sibuk memijat kakinya yang mungkin ia rasa pegal.
Hanna memandang sedikit heran.
Ibu Kama diperlakukan seperti Ratu. Apa hanya perasaanku saja yang mengatakan ia sedikit angkuh? Pikir Hanna dalam hati.
“Permisi Nyonya, Nona muda sudah disini.” Pelayan yang tadi mengantar Hanna ke taman, memberitahu dengan sangat hormat.
Carlee menaikkan wajahnya tanpa menoleh ke arah siapapun. Jika dilihat dibalik kacamatanya, maka saat ini wajah angkuhnya bertambah dua kali lipat.
“Baiklah. Kau boleh pergi.”
Pelayan itu menunduk sejenak sebelum akhirnya melangkah pergi.
Hanna hanya terus berdiri setengah menunduk dengan kedua tangan di depan perut.
“Maaf Bibi, apa kau memanggilku?” Tanya nya hati-hati.
Carlee membuka kaca matanya sejenak untuk melirik Hanna, “Duduklah.” Ia mengibaskan tangannya agar pemijat berhenti melakukan pekerjaannya.
Hanna duduk sopan, di hadapan ibu sang kekasih.
Carlee menghela napas seakan tak menyukai kehadiran Hanna, “Minumlah terlebih dahulu.”
Di meja memang sudah di sediakan dua gelas kopi serta sepiring cemilan coklat.
“Terimakasih Bibi. Tapi saya belum haus.” Tolak Hanna.
“Tidak ada yang menolak tawaranku sebelumnya, walau hanya sekedar minum.” Carlee tersenyum sinis.
Hanna merasa tidak enak, ia segera meneguk perlahan kopi yang ada diatas meja.
“Pelan-pelan. Kopi itu masih panas, aku takut jika tenggorokkanmu terbakar nantinya.” Carlee mengeluarkan tawa liciknya pelan.
Mengapa ibu Kama terlihat berbeda. Dia sepertinya tidak menyukaiku.
“Bagaimana, kau suka kopinya?” Tanya Carlee sedikit menggerakan kepalanya ke kanan dan kiri.
“Kopinya sangat nikmat Bi.” Hanna menjawab dengan terpaksa, karena kopi yang di suguhi sengaja dibuat tanpa gula.
Carlee lagi-lagi mengeluarkan tawa licik, ia merasa berhasil mengerjai kekasih sang putra, “Haha… Bibirmu sangat manis, gadis pirang. Kopi itu dibuat tanpa gula, apa mungkin rasanya nikmat?”
“Bibi, tidak masalah jika kopinya tanpa gula, ia akan tetap menjadi kopi. Tinggal caramu menikmatinya yang akan membuat kopi itu enak atau tidak,” Ucap Hanna berani.
Carlee dengan cepat menarik senyum dibibirnya, “Kau pandai berkata-kata. Apa itu yang kau lakukan pada putraku?”
Dahi Hanna mengerut dan matanya menatap tak mengerti.
Ibu Kama memindahkan posisi kakinya, “Aku sungguh tidak mengerti dengan selera putraku.” Ia tersenyum miring.
“Maksud Bibi?”
“Putraku adalah pemilik perusahaan properti ternama dan terkenal di Singapura. Dia dikenal tidak pernah menjadikan wanita sebagai kekasihnya.” Carlee mengambil sebuah majalah dari tangan pelayan yang baru saja datang dan melempar kasar majalah itu diatas meja yang ada ditengah mereka.
“Aku baru membaca majalah ini. Hannatasya, itukah namamu?” Mata Carlee begitu sinis.
Hanna merasa sedikit gugup sekarang, “Iya Bibi itu adalah namaku.”
“Yang benar saja! Sudah banyak majalah yang meliput kedekatan kalian dan aku baru membacanya tadi.” Tertawa penuh dengki. “Sekarang aku melihat sendiri gadis ini di hadapanku!” Carlee menaikkan intonasi bicaranya.
“Maaf Bibi, tapi aku sangat tidak mengerti maksud dan tujuanmu memanggilku kemari.” Hanna sangat terlihat bingung.
“Kau tidak memahami maksudku?” Tanya Carlee begitu sinis.
“Aku tidak menyangka bahwa putraku memilih gadis biasa saja sepertimu menjadi kekasihnya!” Kata Carlee penuh penekanan.
“Kau tidak menyukai hal itu Bibi?”
“Untuk apa aku harus menyukai itu? Haha, hal ini sungguh memalukan!” Tatapan Carlee begitu tajam dan menusuk walau dibalik kacamata.
“Bibi, maaf---’’
“Jadi sebaiknya kau putuskan saja putraku! Lagipula, dia pria yang kasar. Melihatmu diperlakukan seperti tadi, aku sangat tidak tega. Untuk apa kau bersama Kama, hah?!” Kini Carlee mengeraskan suaranya.
“Bibi, aku tidak bisa memutuskan putramu. Aku mencintainya, jadi apa saja yang menjadi kekuranganya maka akan aku hadapi.” Sanggah Hanna berani.
Ternyata Tuan Kama benar, ibunya sungguh menyebalkan! Bahkan dia merendahkan aku.
“Cinta? Kau mencintai pria yang tidak bisa menghormati ibunya? Apa kau pikir dia akan lebih menghargaimu setelah dia memperlakukan ibunya tak berharga?!” Intonasi bicara Carlee sedikit diturunkan namun penuh penegasan.
“Bibi, aku meminta maaf jika Kama berlaku kasar padamu. Tapi, dia adalah pria yang baik. Tujuan dia kemari adalah untuk---’’ Meskipun dengan nada cepat, Hanna tak sempat melanjutkan kalimatnya.
“Sudahlah!” Carlee mengacungkan tangannya. “Kau pikir kau lebih mengetahui siapa putraku itu, hah?! Kau ini bukan gadis yang pantas untuknya!”
“Bibi, mengapa kau mengatakan hal itu padaku? Aku pikir, kau tidak terlalu mempermasalahkan siapa yang akan menjadi kekasih putramu.”
Carlee tersenyum miring, “Apa kau pikir, aku akan membiarkan putraku itu mencintai seorang gadis? Aku lebih menyukai dia yang seperti dulu, untuk itu aku tidak perlu khawatir Luxuria Group akan jatuh ke tangan siapa.”
Hanna menatap tak percaya, “Sungguh, yang kau pikirkan hanyalah harta Bibi?”
Sekarang aku malah merasa ibah padamu Tuan Kama.
“Haha… Kau tidak perlu merasa heran. Kama adalah putraku, jadi sepatutnya dia aku jadikan alat untuk aku menikmati semua ini.” Carlee memamerkan kemewahan di sekelilingnya dengan merentangkan kedua tangan. “Jika dia miliki seorang kekasih, lalu menikah? Seorang ibu tidak bisa memiliki hak lebih atas hartanya lagi, bukan?”
“Bibi, yang kau pikirkan itu salah---’’
“Aku tidak memintamu untuk memberikan pendapat! Katakan padaku, apa tujuanmu kemari bersama putraku?” Menatap menghakimi.
Hanna membisuh. Ia memikirkan apa yang harus ia katakan pada Carlee.
Apa mungkin aku mengatakan bahwa aku ingin mendamaikan mereka? Rasanya aku terlanjur kecewa dengan ekspektasiku sendiri. Maafkan aku Tuan Kama.
“Katakan padaku, apa tujuanmu gadis pirang!” Desak Carlee.
“Aku dan Kama---’’
“Akan segera menikah!” Suara Kama lantang dari belakang. Ia kemudian melangkah cepat dengan wajah murka.
“Kama.” Sentak Carlee, ia langsung berdiri.
“Apa kau mengatakan sesuatu pada gadisku?!” Kama menatap tajam pada Carlee.
“Kama, apa yang kau maksud dengan menikah?”
Kama tertawa sinis, “Aku akan segera menikahi Hanna, gadis biasa menurutmu ini, Carlee!”
“Ibu tak habis pikir. Bagaimana bisa kau jatuh cinta pada wanita seperti ini?”
“Jangan pernah menghina Hannaku!” Bentak Kama.
Carlee merubah raut wajahnya menjadi sedikit memelas, “Kama, kau tahu ibu tidak akan melarang apapun yang menjadi kebahagiaanmu.”
“Kau bahkan tidak pernah memikirkan tentang apa yang membuat aku bahagia.” Kama menatap sinis. Ia kemudian menarik tangan Hanna dan melangkah pergi dari hadapan Carlee.
Napas Carlee menjadi tajam. Ia membuka kaca matanya dan memandang penuh amarah pada Hanna dan Kama yang sudah jauh beberapa langkah.
Matanya terlihat penuh nafsu licik. Ia menepuk tangannya sekali dan kemudian seorang pelayan datang membawakan segelas air es. Pasti hati dan kepalanya saat ini terasa panas.
Dengan geram ia meneguk air es itu.
Saat ini aku tidak bisa melawan apa yang menjadi keputusanmu, putra kesayanganku!