The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Jangan tersenyum pada Hanna



Malam pesta dansa berlalu. Pagi yang tidak terlalu cerah menyambut Hanna yang semalam terjaga dalam tidur dengan borgol di tangannya.


"Sudah pagi. Tapi, Tuan Kama belum juga mengeluarkan aku dari sini. Aku masih bingung mengapa dia memborgol dan mengunciku di sini. Apa dia terus berusaha membuat aku takut dengan tindakan nya." Celoteh Hanna yang bangkit dari dari tempat tidur, hendak memastikan apa pintu kamar masih terkunci.


"Ternyata sudah dibuka." Hanna melangkah keluar dan melempar pandangannya mencari Tuan Kama.


"Tuan, kau sedang memasak?" Hanna mendapati Kama di dapur sibuk membuat sesuatu.


Selain romantis kau pandai memasak rupanya. Batin Hanna sambil duduk di meja makan memperhatikan Kama.


"Kau sudah bangun? Apa rasanya tidur dengan tangan terborgol Nona Hanna?" Kama membawakan sepiring nasi goreng ke meja makan.


"Tetap nyenyak. Tuan, kasurmu itu empuk sekali."


Kama duduk di hadapan wanita cantik itu, "Harusnya aku menyuruhmu tidur di lantai saja. Makan ini dan habiskan atau tidak kau akan membayar setiap sisa butiran nya dengan terus melayaniku seumur hidup!"


Hanna memperlihatkan tangan nya yang terborgol, "Apa saya harus makan seperti kucing, Tuan?"


"Mungkin jika kau bisa, silakan saja!" Kama mengacuhkan kode Hanna, walaupun ia mengerti maksudnya, "Dan berhenti mengucapkan kata saya, jangan terlalu formal!" Katanya lagi.


"Tuan, kau ini kenapa? Mengapa memborgolku hingga pagi seperti ini. Apa yang ada di kepalamu itu, hah?" Omel Hanna memandangi kepala Kama seperti ingin membukanya.


"Beraninya kau berkata seperti itu padaku! Kau tidak tahu aku ini."


"Tuan Kama yang sedikit hangat dan romantis juga jago memasak." Potong Hanna.


"Jangan hina aku, wanita bodoh!!!" Bentak Kama, "Atau kau akan aku goreng seperti nasi ini!" Katanya lagi.


Hanna menggerakkan alis kanannya ke atas dan bawah, "Silakan saja Tuan. Dagingku ini tidak pantas untuk dimakan oleh seorang Tuan Kama." Katanya remeh.


"Kau! Jika kau bukan sekretaris magangku maka akan aku lempar kau ke neraka!" Kama membuka borgol Hanna.


Hanna tersenyum memandangi tangannya, "Akhirnya kalian berdua bisa bebas. Saatnya makan." Ia menyantap nasi goreng itu dengan lahap.


Kama memperhatikan gadis yang sedang menyantap nasi goreng buatan nya.


Dia lahap sekali. Apa yang ada di otak wanita ini, sehingga ia sama sekali tidak takut padaku.


"Tuan kau ingin makan juga?" Hanna menyodorkan sesendok nasi goreng padanya.


"Tidak, kau saja. Kau harus bekerja, bukan? Setelah ini ganti bajumu lalu kita berangkat."


"Apa aku tidak kembali dulu ke kosan? Aku harus memberitahu Azel Tuan, jika tidak dia akan khawatir." Masih terus mengunyah.


"Azel wanita kurus kering itu?" Kama tersenyum miring.


"Jangan bilang begitu Tuan. Azel.itu sahabatku!" Protes Hanna.


"Jika dia perempuan jal*ng, maka tidak akan ada yang tertarik padanya! Haha..." Kama tertawa lepas.


Hanna memukul meja dengan ujung sendok, "Hentikan Tuan! Kau memang pria tak punya selera. Seleramu hanyalah perempuan-perempuan jal*ng!"


Kama berhenti tertawa, raut wajahnya menjadi dingin dan serius, "Aku tak sedang inginkan perempuan jal*ng! Jika aku katakan sekarang yang aku inginkan adalah kau, bagaimana?"


Hanna menjadi gugup dan lagi-lagi menggigit bibir bawahnya.


"Jangan lakukan itu! Aku tidak ingin mencium mu dua kali!" Kama bangkit berdiri dan pergi.


"Jangan lupa bersihkan piring kotormu! Dan, ganti bajumu dengan apa yang ada di kamarmu tadi!" Teriak Kama dari atas tangga.


"Iya Tuan."


Nafsu rendahan! Masa hanya karena aku menggigit bibir, dia ingin melahapnya. Apa ia, dia akan melakukan lebih setelah ini padaku. Gumam Hanna sambil mencuci piringnya.


***


Hanna sudah bersiap memakai dress yang ada di lemari kamar, tempat ia terlelap semalam. Ntah, dress siapapun itu yang terpenting adalah ukuran yang pas untuk Hanna.


"Tuan Kama apa dress itu milik wanita yang menginap di sini?" Hanna menghampiri Kama yang sudah menunggu di sofa.


Kama memperhatikan nya sekilas, "Bukan. Sebelumnya, tidak ada wanita yang pernah menginap di apartemenku. Jika aku inginkan mereka, akan aku bawa ke tempat lain." Kama berjalan menuju lift.


"Lalu dress itu punya siapa Tuan?" Hanna mengikuti langkah Kama yang cepat.


Itu milik Lina, perempuan yang bibirnya adalah lolipop semua pria. Batin Kama sambil memperhatikan jam tangan nya.


Melihat Kama yang hanya diam, Hanna pun tak berani mengatakan apapun lagi. Karena ia tahu jika Tuan Kama sudah mengunci bibirnya, lebih baik jangan katakan apapun.


"Arkhan, langsung saja ke kantor." Perintah Kama ketika baru saja duduk di dalam mobil.


"Apa tidak ke tempat biasa dulu, Tuan?" Arkhan memperhatikan Tuan Kama.


"Tidak usah." Jawab Kama singkat.


Hanna pun tak mengerti apa yang sebenarnya mereka katakan, "Tuan Kama, memangnya biasanya anda kemana?"


"Sudah aku katakan, aku tak inginkan lagi perempuan jal*ng, bukan?!" Kama menatap tajam.


Aku mengerti. Waktu itu, dia sudah mengajakku kesana. Apa itu ritual setiap paginya


"Iya Tuan, maaf."


Arkhan menyalakan mobilnya dan terus memperhatikan Hanna dari kaca yang ada di depan nya.


Apa yang sudah Tuan Kama lakukan pada gadis ini semalam. Ia menginap di apartemen Tuan Kama. Pantas saja, Tuan Kama tidak pergi ke penginapan tersembunyinya untuk main perempuan.


Luxuria Group


Langkah Kama sangat cepat menelusuri koridor kantor. Seluruh orang akan menundukkan kepala jika bertemu dengan nya. Namun, tetap saja Kama tidak peduli dan memilih untuk mengabaikan mereka.


Brukk!...


Seorang pria tak sengaja menabrak Hanna. Hingga membuat seluruh berkas yang ia bawa. Ya, jadwal khusus Tuan Kama berserakan di lantai.


"Maafkan saya Nona," Pria itu berusaha untuk merapikan berkas Hanna.


Hanna ikut membantu, "Tidak apa-apa. Lain kali lebih berhati-hatilah."


"Terimakasih Nona." Pria itu tersenyum manis pada Hanna.


"Kau! Jika kakimu tidak berfungsi dengan baik, biar aku patahkan!" Kama menarik kerah baju pria itu.


"Ma -ma -maafkan saya Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi." Pria itu bergetar ketakutan.


"Haha... Kau di pecat!" Kama dengan angkuh melepaskan kerah baju pria itu.


"Tuan Kama, apa yang kau lakukan?! Dia tidak sengaja menabrakku." Hanna menyosor masuk ke tengah-tengah mereka, berhadapan dengan Kama.


"Tenang saja Tuan Kama tidak akan memecat anda." Katanya lagi, kini memandang pria itu.


Pria itu tersenyum, "Terimakasih Nona..."


Kama tersenyum miring. Ia sangat tidak menyukai senyum pria itu pada Hanna, "Apa kau pikir senyum mu itu indah, hah?! Jangan lakukan itu pada Hanna!


"Maaf Tuan." Lirih pria itu bergetar dan menunduk.


"Kau tetap akan aku pecat!" Kama pergi meninggalkan pria itu tanpa belas kasih.


"Tuan Kama, tunggu!" Hanna berlari mengikutinya yang sudah masuk ke dalam lift.


"Kau ini kejam sekali! Dia sudah meminta maaf padamu, apa itu tidak cukup bagimu?!" Protes Hanna.


Mereka sudah tiba di lantai teratas. Kemudian dengan senyum sinis di wajah Kama, ia berjalan masuk ke ruangan nya. Hanna yang mengikutinya terus berbicara atas dasar tidak terima.


"Tuan kau tidak bisa seenaknya begini! Pria itu tidak sengaja!"


"Silakan, beri tanda centang di jadwalku. Memecat satu karyawan yang membosankan!" Kama duduk di kursi singgasananya.


"Seharusnya jadwal itu tidak ada! Memangnya dia membosankan, kau bahkan jarang bertatap muka dengan nya!" Hanna masih terus protes.


Kama menatap tajam pada Hanna seperti ingin bicara tapi tertahankan.


Dia tersenyum padamu, Hanna. Batinnya.