The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Permintaan maaf



Brakk...


Kama melemparkan sebuah map berisi banyak berkas.


"Ini adalah daftar yang harus aku lakukan dalam sebulan ini. Jadi, kau harus mengatur semua jadwalnya dengan baik." Perintah Kama yang duduk bersandar sambil merapikan dasi.


Hanna memeriksa berkas itu.


Meeting, bertemu klien, keluar kota, melakukan observasi bulanan di setiap hotel dan apartemen Luxuria Group dan berkencan, pergi ke tempat hiburan malam, memecat satu karyawan yang membosankan, mencuci mobil, perawatan wajah, gym, cek kesehatan, dan yang terakhir pemijatan relaksasi. Mengapa jadwalnya tidak sinkron seperti ini.


"Mengapa? Kau ingin protes atau kau tidak bisa bekerja, hah?!" Kama membesarkan bola matanya.


Hanna tersenyum manis, "Tidak Tuan, semuanya bisa saya atur. Tuan tenang saja tidak perlu khawatir.


"Ya memang sudah sewajibnya kau hidup berguna untukku haha..." Kama tertawa lepas.


"Haha... Iya Tuan Kama benar haha..." Hanna pun ikut tertawa padahal ia tidak mengerti apa yang lucu.


Brakk!...


Kama menggeprak meja.


"Aku tidak mengajakmu untuk tertawa bersama!" Bentak Kama.


Hanna masih saja terus tertawa. Ya, kali ini ia menertawakan daftar kegiatan yang harus ia susun sebulan ini.


"Haha... Tuan Kama lucu sekali. Jadwal macam apa itu, haha..." Ceplosnya tak sadar.


"Apa kau bilang?!" Kama bangkit dari duduknya.


Hanna pun tersadar akan ucapan nya, "Tuan, maafkan saya, bukan maksudnya untuk menyinggung."


Habislah aku. Semoga pemakamanku kelak ditempat yang asri.


"Kau ini berani sekali ya. Sepertinya aku harus menambah hukuman untukmu. Pergi, buatkan aku kopi!"


Hanya membuat kopi saja, Haha... gampang sekali.


"Baik Tuan, akan saya buatkan segera." Hanna bergegas pergi untuk menyiapkan kopi bagi Kama.


Kama kembali duduk dan menghela nafasnya,


Mengapa aku tidak bisa berbuat apa-apa saat Hanna melakukan kesalahan. Gadis bodoh itu sudah membuatku kesal, harusnya aku memberi dia hukuman setimpal.


Hanna kembali membawa segelas kopi hangat untuk Kama. Langkahnya terhenti melihat seorang wanita yang hendak masuk ke ruangan Kama tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Maaf Nona, anda siapa? Dan perlu apa dengan Tuan Kama?" Sapa Hanna ramah pada wanita asing itu.


Wanita itu memandang sinis pada Hanna dari atas hingga kebawah


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Kama. Ada hal penting yang harus saya bicarakan. Anda siapa?" Tanya nya.


"Saya adalah sekretaris magang Tuan Kama Nona. Perkenalkan saya, Hanna." Hanna mengulurkan tangan nya. Tetapi wanita itu mengabaikan nya begitu saja.


"Apa Nona sudah membuat janji sebelumnya?" Hanna menurunkan tangan.


Hanna tak juga di hiraukan oleh wanita itu. Ia malah mendorong kuat pintu ruangan Kama dan menyosor masuk.


Kama yang sedang duduk di kursi singgasana nya tak merasa kaget ataupun gempar atas kehadiran wanita itu


"Haha... Kau rupanya. Apa kabarmu Chloe ?" Kama berpangku tangan dan duduk bersandar.


Wanita itu adalah Chloe, mantan kekasih Kama yang ia tinggalkan sewaktu lulus SMA.


Hanna yang masih bingung dengan Chloe. Hanya berdiri di belakang, sambil terus memegangi segelas kopi panas.


Chloe meraih kopi itu dan menyiramkan nya pada Kama, tetapi hanya mengenai jasnya.


"Nona, apa yang kau lakukan?!" Teriak Hanna.


"Biarkan saja wanita ini melakukan apa yang dia mau haha..." Kama bangkit berdiri dan mendekati wanita itu.


"Mengapa begitu marah Chloe? Haha..." Kama memperhatikan perut wanita itu, "Oh... Kau dan suamimu itu akan menjadi orang tua dari anakku?" Kama bertepuk tangan dan tertawa.


"Kama!!!... Kau pria bajing*n!" Suara Chloe lantang menampar keras Hanna yang mendengarnya.


Apa?!... Wanita yang sudah bersuami ini sedang mengandung anak Tuan Kama. Mengapa bisa. Batin Hanna yang merasa ibah pada wanita itu.


"Haha... Ya itulah Tuan Kama. Kau yang terlalu bodoh! Kau wanita yang haus sekali akan cinta, hingga lupa bahwa kau sudah punya suami. Lihat, inilah hasilnya." Kama memandangi perut Chloe dan tertawa senang.


"Tapi aku senang, karena balas dendamku terhadap Ayahmu sudah terbalas. Setidaknya, anakku nanti akan menjadi cucunya, bukan? Haha... Mau tidak mau, Ayahmu yang dulu menolak permintaanku akhirnya harus menganggap bayi ini sebagai cucunya." Lanjut Kama sambil terus tertawa.


"Tuan Kama!!!..." Hanna berteriak marah.


"Jangan berteriak padaku, Hanna !" Mata Kama menatap tajam pada sekretarisnya.


Chloe tidak tahan mendengar kata-kata menyakitkan dari Kama. Bergegas meninggalkan Kama dengan langkah yang cepat, hingga membuatnya tersandung dan mengalami pendarahan.


Kama menggendong wanita hamil itu dan mereka membawanya ke rumah sakit. Seluruh karyawan Luxuria Group heran menyaksikan wanita yang di gendong Tuan Kama, bercucuran darah di kakinya.


Sampai dirumah sakit, suasana begitu tegang. Khususnya Hanna yang sangat mencemaskan wanita itu. Ia memandang sinis pada Kama yang ikut duduk menunggu di sampingnya.


Kama sudah keterlaluan. Batin nya geram.


"Tuan apa kau tidak punya hati, mengapa kau lakukan itu pada wanita ini?!" Hanna begitu terlihat marah.


Kama memandangnya, "Apa yang aku lakukan, hah?! Sudah aku katakan jangan berteriak padaku!"


"Kau bertanya apa yang kau lakukan? Bagaimana bisa dia hamil anakmu, dia sudah bersuami. Apa kau ini sudah gila?!" Hanna berdiri di hadapan Kama.


"Dia mantan kekasihku," Jawab Kama dengan suara yang di pelankan.


"Apa?! Jadi, dia mantan kekasihmu? Lalu mengapa tidak kau nikahkan saja dia sebelum dia bersuami?" Hanna kembali duduk di samping Kama.


"Aku tidak mencintainya," Kama membungkuk dan melipat kedua tangan nya.


"Tapi mengapa dia sampai hamil anakmu?" Hanna masih tak habis pikir.


"Aku memiliki dendam terhadap Ayahnya. Dan ketika aku bertemu wanita ini lagi, dia sudah menikah dengan pria yang adalah musuh beratku sewaktu kuliah, Kenan." Kama menjelaskan semuanya pada Hanna panjang lebar.


"Kau membuat banyak orang menjadi musuhmu Tuan Kama! Ternyata memang kau berhati iblis, aku tidak percaya dari dulu kau sudah terbentuk dengan banyak sisi kejahatan!" Hanna berdiri lagi menghadap Kama dengan tatapan mata yang muak terhadapnya.


"Keluarga Nyonya Chloe, apa semua ada di sini ?" Sapa seorang dokter yang memeriksa Chloe.


"Iya dokter. Saya adalah temannya," Hanna langsung menghampiri dokter itu.


"Baik. Suaminya apa tidak ada?" Dokter itu melihat ke arah Kama yang masih duduk.


"Masih di jalan dokter," Ucap Hanna berbohong, "Bagaimana kondisinya?"


"Dia mengalami pendarahan yang cukup hebat. Sehingga bayinya tidak selamat," Ucap dokter itu dengan penuh penyesalan.


Hanna menatap sinis pada Kama dan pergi masuk menemui Chloe yang sudah sadar.


"Nona, maafkan Tuan Kama," Hanna berbicara hati-hati.


Wanita itu tersenyum, "Mengapa kau begitu peduli pada laki-laki brengs*k itu?"


Hanna diam membisuh.


"Kau harus berhati-hati padanya. Dia bukan pria yang baik," Kata wanita itu lagi.


"Terimakasih Nona. Aku turut berduka atas kepergian bayimu," Hanna mengusap lembut tangan wanita yang terinfus itu.


"Terimakasih," Wanita itu tersenyum lagi.


"Apa aku boleh tahu, dimana suamimu?" Tanya Hanna.


"Dia sebentar lagi akan tiba. Tapi, aku mohon bawa Kama pergi dari sini. Aku hanya tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi. Apalagi, jika sampai suamiku tahu kalau aku menemuinya. Aku mohon cepatlah pergi." Pinta wanita itu.


"Sebentar Nona," Hanna pergi meninggalkan Chloe.


"Tuan Kama. Kau harus minta maaf pada wanita itu," Hanna menghampiri Kama yang masih duduk di posisi yang sama.


Kama melihat ke arahnya, "Minta maaf? Haha... dia kehilangan bayi nya bukan karena aku dan mengapa aku harus minta maaf, hah?! Aku sudah membuang waktuku dengan membawanya kerumah sakit." Celotehnya.


"Dia tidak ingin berurusan denganmu lagi. Anggap saja ini adalah kesempatanmu untuk sedikit menjadi manusia yang punya belas kasih. Ayo cepat minta maaf !" Hanna menarik paksa tangan Kama.


Kama bangkit berdiri, "Kau ini siapa?! Beraninya memaksaku untuk meminta maaf pada wanita bodoh itu ! Aku tidak melakukan kesalahan, dia yang terlalu bodoh datang kepadaku padahal dia sudah menikah."


"Tapi kau menghamilinya dan itu adalah kesalahan. Meniduri wanita yang sudah bersuami, apa nafsu buasmu itu lebih besar dari pada harga dirimu?! Kau katakan wanita tidak punya harga diri, tapi sebenarnya kau lah yang tidak punya rasa malu sedikit pun!" Hanna mendorong Kama kuat hingga sedikit tergeser ke belakang.


"Kau!!!..." Kama terlihat marah.


"Seorang Tuan Kama yang tampan, kaya dan paling di takuti oleh banyak orang, ternyata tak sepantasnya ia di takuti. Meminta maaf saja dia tak punya nyali !" Hanna sengaja mentantang Kama.


Aku yakin Kama, kau punya alasan menjadi seperti ini. Apapun itu, adalah hal yang salah. Aku harus bisa menggali sisi baikmu yang pasti terkubur dalam.


Kama menahan emosi di dadanya. Wajahnya memerah menatap Hanna. Ia tidak pernah di perlakukan seperti ini oleh siapapun. Tapi, siapa sangka seorang wanita bernama Hanna berhasil membuatnya tak berkutik.


"Tuan, ayolah... Meminta maaf tidak akan menurunkan derajat dan harga dirimu. Aku akan melakukan apa saja di luar perintah yang sudah tertulis, jika kau melakukannya." Bujuk Hanna lagi dengan lembut sambil meraih tangan Kama dan mengusapnya.


Seorang moster sekalipun, akan luluh dengan rayuan dan bujuk yang tulus. Batin Hanna.


Kama menatap dalam pada wanita yang memegang tangan nya itu. Rasanya ia tidak pernah merasa hangat dan di beri rasa percaya diri, seperti yang Hanna lakukan. Tanpa mengatakan apapun, ia masuk ke dalam ruangan Chloe. Hanna mengikutinya di belakang.


"Chloe, aku memohon maaf darimu. Aku sudah merusakmu, bahkan mungkin juga menyakiti hati suamimu hanya demi kepuasan nafsu balas dendamku yang seharusnya, tidak wajar aku lakukan." Kama menghampiri Chloe yang membuang muka padanya.


"Nona, saya tahu. Mungkin Tuan Kama sudah keterlaluan, tapi tolong maafkan dia." Sambung Hanna memohon belas kasih.


Wanita itu, perlahan melihat Kama. "Akan aku maafkan. Tapi, jangan pernah ganggu hidupku atau Kenan," Pintanya.


Kama mengangguk dan tersenyum lega. Ia merasakan sesuatu yang terlepas dari dalam dirinya. Rasanya sangat berbeda dan belum pernah ia rasakan sebelumnya.