The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Adik angkat Tuan Kama



Happy reading ❤️


Setelah segala drama yang terjadi di apartemen. Hanna dan Kama tiba di kantor pada pukul 08.30. Hari pertama dalam sejarah dimana Tuan Kama datang terlambat. Tentu saja, hal itu menjadi gosip di Luxuria group. Tuan Kama datang terlambat untuk pertama kali dalam sejarah. Begitulah bunyinya.


"Kau sudah membuatku malu!" Kama melangkah sambil bergumam geram.


"Salahmu sendiri, kau membuatku repot harus membuatkanmu sarapan yang baru." Bantah Hanna pula.


Mereka melangkah cepat melewati koridor kantor dan hampir semua orang di sana memperhatikan Kama. Sebagai pemilik perusahaan seharusnya tidak masalah datang sesuka hati, tapi tidak dengan Kama. Ia merupakan seorang yang disiplin waktu.


"Hanna..." Panggil seorang pria yang berdiri di depan resepsionis.


Langkah Hanna terhenti mencari sumber suara itu, "Siapa ya.." Gumamnya, samar-samar melihat dari kejauhan.


"Kau tahu bukan kita sudah terlambat?!" Kata Kama kesal.


"Sebentar Tuan, sepertinya ada yang memanggilku."


Pria itu menghampiri Hanna, ia terlihat seperti orang penting. Berpenampilan bagai pengusaha dan bukan golongan biasa saja. Ya, cukup tampan tapi jika dibandingkan dengan Kama, ia mungkin berada di posisi nomor dua setelahnya.


"Kau ingat aku Han, aku Ardi. Kita teman sebangku SMA." Pria itu tersenyum ramah, "Selamat pagi kak..." Sapanya pada Kama pula.


"Ada perlu apa kau kesini?" Tanya Kama terlihat tak suka.


"Ayolah kakak, jangan selalu marah padaku. Ibu merindukanmu." Pria itu merangkul Kama akrab.


Hanna mengerutkan keningnya. Ya, ia sungguh tak mengerti apa yang sebenarnya ia lihat dan apa hubungan Ardi dan Kama.


"Tunggu sebentar, sebenarnya apa hubunganmu dengan Tuan Kama?" Hanna mengangkat sebelah alisnya.


"Haha dia kakakku Han. Ya, sebenarnya kakak angkat tapi rasanya sudah seperti kakak kandung sendiri." Ardi menepuk pundak Kama.


"Katakan pada ibu aku akan pulang akhir pekan ini." Ucap Kama.


"Haha... baiklah, tapi jangan sampai ibu tahu kau masih main perempuan." Ledek Ardi, "Han kau bekerja disini ?" Ardi mendekati Hanna.


"Tidak, aku hanya sekretaris magang."


Kama memiliki keluarga angkat. Bagaimana bisa, apa foto tadi itu memang keluarga kandungnya. Tapi, ia terlihat begitu membencinya.


"Kau sungguh tidak berubah Han. Sangat cantik dan tetap cantik haha..." Ardi mengedipkan sebelah mata.


"Lebih baik kau pulang saja. Hanna harus bekerja." Kama menggenggam tangan Hanna.


"Kau beruntung sekali kak, bisa mendapat sekretaris magang secantik Hanna." Ardi tersenyum memandagi Hanna.


Wajah Kama mulai terlihat kesal melihat adiknya itu terus menggoda gadis cherry nya. Tangannya kini merangkul pinggang Hanna erat hingga membuat Hanna sedikit sulit bergerak.


"Jangan tersenyum pada pria manapun termasuk adikku, paham?" Bisik Kama geram.


Hana mengangguk pelan, "Ardi senang bisa bertemu denganmu." Katanya tanpa senyuman.


"Tapi wajahmu terlihat tidak menyukaiku. Biasanya, orang akan tersenyum jika mengatakan itu." Ucap Ardi.


"Um---" Hanna hendak mengatakan sesuatu tapi Kama memotongnya.


"Sudah aku katakan, gadis ini harus bekerja. Jadi, lebih baik kau pulang dan sampaikan pesanku pada ibu." Kama membawa Hanna pergi meninggalkan Ardi.


"Kakak aneh sekali. Biasanya dia senang dengan kehadiranku." Ardi menggaruk kepalanya bingung.


Hanna masih penasaran tentang sisilah keluarga Kama, "Ardi itu adikmu Tuan?"


"Apa kau tidak dengar dengan ucapan nya tadi ? Bukankah dia memanggilku kakak?" Ucap Kama dengan intonasi yang di naikkan.


"Iya Tuan maaf. Tapi, mengapa bisa dia menjadi adik angkatmu?" Tanya Hanna lagi.


"Menurutmu bagaimana bisa?" Kama balik bertanya.


"Aku tidak tahu."


Bertanya saja sulit sekali rasanya.


"Ibu?"


"Apa kau tidak mendengar perkataan adikku tadi?" Kama terlihat kesal, bukan karena Hanna yang tak mengerti melainkan, karena mengingat Ardi yang berusaha menggoda Hanna.


"Ardi datang dari New York dan kau malah mengabaikan nya seperti tadi Tuan?"


"Dia itu pria dewasa. Dia sudah terbiasa hidup bebas, sekolah di Singapore dan tinggal sendiri dan kembali ke New York juga tidak tinggal dengan Ibu." Jelas Kama sambil mulai membuka e-mail.


"Tapi harusnya kau menyambutnya ramah, bukan seperti tadi." Protes Hanna.


Kama membalas e-mail dengan geram sehingga suara ketikan nya terdengar, "Mengapa kau merepotkan sekali!"


"Aku ingin sekali punya adik... pasti menyenangkan jika di kunjungi seperti tadi." Hana masih terus mengomel tak jelas.


"Bisakah kau diam?!" Bentak Kama.


"Mengapa kau begitu cepat marah? Aku hanya mengatakan hal yang benar saja, kau marah sekali!" Hanna tak mau kalah.


Kama mendekati Hanna, "Apa kau menyukai adikku itu, hah?"


"Tentu saja tidak. Kau pikir aku ini perempuan seperti apa, yang mudah sekali jatuh cinta pada pria." Bantah Hanna.


"Lalu sedekat apa kalian di waktu SMA?" Tanya Kama lagi.


"Ardi dan aku hanya teman biasa Tuan tidak ada yang lebih. Memangnya kenapa?" Hanna memandang Kama heran.


"Bukankah aku katakan, kau itu hanya milikku? Aku tidak suka jika kau berlaku ramah pada pria lain, paham?" Kama menyentuh dagu Hanna lagi.


"Tapi Ardi itu temanku dan dia juga adikmu, bukan?" Hanna menurunkan tangan Kama yang menyentuh dagunya.


"Jangan lakukan apa yang tidak disukai Tuan Kama." Kata Kama dengan nada penekanan, "Atau kau akan aku hukum lagi." Lanjut Kama.


Kau adalah wanita pertama yang membuat aku seperti ini, Hanna.


"Um... aku mengerti Tuan."


Sebenarnya apa artinya aku ini miliknya. Sebagai apa. Apa dia menyukaiku, jatuh cinta atau maksud yang lain. Batin Hanna.


"Kau harus ikut denganku ke New York." Kama kembali duduk di kursinya.


"Mengapa Aku harus ikut denganmu Tuan?"


"Jangan banyak bertanya! Akhir pekan ini kita akan pergi." Ujar Kama sambil kembali membalas e-mail para klien.


Hanna mengangguk dan duduk di meja kerjanya. Perasaan nya campur aduk, antara senang karena ia akan ikut bersama Kama tetapi juga bingung akan sikap Kama yang menandai dia adalah miliknya tanpa sebuah arti.


Drrt...


Dering ponsel Hanna berbunyi.


Sayang, apa kabarmu? Mengapa tidak pulang juga, ibu merindukanmu.


Hanna tersenyum melihat pesan singkat itu dan segera membalasnya.


Aku sangat baik Ibu dan tempat magangku juga menyenangkan. Ia melirik ke arah Kama sejenak lalu kembali mengetik.


Ibu kau pasti tahu Tuan Kama bukan ? Dia ternyata pria yang tampan dan sangat baik. Akhir pekan aku akan ke New York bersamanya.


Hanna mengirim pesan singkat itu sambil tersenyum.


Drrt...


Tidak lama kemudian balasan dari sang ibu masuk.


Kama? Dia sudah melakukan apa padamu? Apa dia memukulmu? Atau menodaimu, katakan pada ibu. Jangan pergi dengan nya.


Hanna menghembuskan nafasnya pelan.


Ibu dia tidak seperti yang kita pikirkan. Kama itu sangat baik padaku. Jangan khawatir bu. Hanna sayang ibu...