The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Marah



Hingga matahari menutup matanya, Hanna tetap berada di tempat yang sama dengan posisi yang terus berpikir dalam rasa penasaran.


Namun, gelapnya malam yang terlihat di balik jendela dapur, menyadarkan ia akan berapa lama ia sudah duduk di dapur. Hanna membereskan serta membersihkan meja dan piring kotor bekas makanan. Lalu, ia berjalan sambil melempar pandangan mencari tahu dimana Tuan Kama berdiam di jam seperti ini.


Lantunan suara piano akhirnya mengantarkan Hanna di sebuah ruangan yang berdesain mewah dan klasik. Banyak lukisan abstrak, serta piano berukuran besar terbuat dari pahatan kayu yang mahal dan bentuk yang elegan, terletak di tengah-tengah ruangan itu.


Ia mendapati pria tampan berhati Lucifer, sibuk menggerakkan jari-jarinya berirama pada hitam putih tombol piano.


"Kau ternyata pandai bermain musik Tuan," Ucap Hanna yang kini berdiri disamping Kama.


Kama mengabaikan gadis itu dan terus merasuki nada-nada yang ia mainkan. Nada itu membuat Hanna diam terpaku menikmati bunyinya.


Berawal dari lantunan yang lembut dan menghangatkan tiba-tiba nada itu berubah menjadi kuat tak beraturan. Seolah mewakili perasaan Tuan Kama saat ini. Dan nada itu terhenti seketika.


Wajah Kama kembali memerah. Keringat mengaliri dadanya yang bidang. Nafasnya seperti sedang berburu, juga tatapan tajam yang kosong menggambarkan kebencian yang mendalam.


Hanna memberanikan diri menyentuh bahu Kama, "Kau tidak apa-apa Tuan?"


Kama menepis kasar tangan Hanna, "Jangan sentuh aku semau mu! Lebih baik kau pergi dan tinggalkan aku!"


"Tapi mengapa? Kau marah padaku? Atau aku melakukan kesalahan?" Hanna mencoba memandang wajah Kama.


"Sudah aku katakan, kau jangan banyak bertanya!!!" Bentak Kama dan bangkit berdiri menatap tajam.


"Aku hanya---"


Kama menggendong Hanna yang belum sempat melanjutkan perkataannya. Ia membawanya ke sudut ruangan. Disana ada sebuah besi panjang yang tergantung seperti sebuah jemuran.


"Diam disini!" Perintah Kama sambil pergi meninggalkan Hanna.


Berapa lama kemudian, Kama datang sambil membawa borgol dan cambuk. Ia mengunci tangan gadis manis itu di tiang besi yang tergantung.


"Kau ingin menghukumku lagi? Tapi apa salahku?" Tanya Hanna heran.


Kama tersenyum miring, lalu jari tangannya menyentuh wajah Hanna dari hidung, bibir, leher dan kemudian menyentuh pusar perut Hanna yang terbuka karena baju yang tertarik ke atas. Pria ini seolah ingin menghafalkan setiap lekuk tubuh Hanna di dalam otaknya.


Kama mengecup perut itu lalu menyentuhnya. Ia melakukan nya berulang kali, hingga membuat tubuh Hanna sedikit bergetar merasakan geli di pusarnya.


Kemudian Kama mengeluarkan cambuk andalan nya, hendak memberi tanda merah pula pada perut seksi milik Hanna sigadis cherry.


Namun rencananya seketika terhenti. Ia mengingat bahwa Hanna sedang tidak enak badan karena hampir tenggelam. Hal itu membuat Kama membuka kunci borgol yang mengikat kuat pergelangan tangan Hanna.


"Maaf, aku mencoba untuk menghukummu atas kesalahan yang tidak kau perbuat," Ucap Kama.


"Wajahmu terlihat begitu kusut. Apa yang terjadi? Apa kau memikirkan ibumu?" Tanya Hanna berani.


"Tidak. Aku tak memikirkan apa-apa." Jawab Kama.


Hanna memandang dengan serius, "Apa kau yakin?"


"Ya, aku tidak memikirkan apapun. Lebih baik kau beristirahat atau berkemas untuk besok." Kama menggendong Hanna dan membawanya ke kamar.


"Aku akan bersiap segera," Ucap Hanna.


"Ya, baiklah. Aku ingin pergi sebentar."


"Apa kau selalu ingin membuntutiku?" Kama mengerutkan keningnya.


"Bukan, tapi kau mau kemana?"


"Bukan urusanmu!" Kama beranjak pergi tanpa menghiraukan raut wajah Hanna yang memelas, berharap diajak.


"Aku yakin dia marah hanya karena aku membahas dan mencoba mengetahui sedikit hal tentang ibunya," Ucap Hanna setelah Kama tak terlihat lagi di kamar itu.


"Kama memang pria misterius. Mengapa dia begitu membenci ibunya. Apa ini penyebab sifatnya yang menyebalkan itu, huu..." Katanya menghela napas.


"Aku teringat tentang siapa Founder Luxuria Group. Sebaiknya aku coba cari saja di internet." Buru-buru Hanna meraih ponsel.


"Ahh, ini dia, Carlos Alfredo. Jadi, ini adalah suami wanita paruh baya bernama Carlee itu, sekaligus Ayah kandung dari Kama." Hanna menggeser layar ponsel kebawah.


"Hanya sekedar biodata biasa saja. Mengapa tidak ada informasi lebih tentang keluarga Tuan Kama?" Celoteh Hanna pada diri sendiri.


"Apa Luxuria Group menutup rapat soal ini."


Tapi, nama Carlee seperti tidak asing. Oh... Nama itu adalah nama yang tertulis di buku usang milik Kama. Yang tergambar seperti wanita yang terikat borgol tanpa busana. Batin Hanna dengan raut wajah serius.


"Apa mungkin ibu Kama adalah seorang prostitute? Tadi dia juga menyebutnya sebagai wanita murahan. Tidak mungkin Kama menyebut itu tanpa alasan."


Hanna terus berusaha berpikir, mengorek tentang keluarga Kama. Mulai dari sang Ayah, ibu bahkan mungkin soal asal-usul keluarga Kama. Namun, sulit sekali ditemukan. Semua seperti dirahasiakan.


Akhirnya, ia kalah dengan rasa kantuk yang teramat berat dan memilih untuk tidur sebelum siap mengemasi barang-barangnya.


Pukul 22.14, Kama pulang dengan bau alkohol yang begitu kuat. Dengan sayu ia berusaha memperbaiki posisi tidur Hanna.


"Kau cantik sekali Hanna. Sepertinya kau memang wanita pertama yang membuat aku sedikit gila akan kecantikan paras dan watakmu." Ucapnya dalam keadaan sedikit mabuk.


Kama membelai rambut Hanna, menyentuh bibirnya dengan ujung jempol, "Ingin sekali aku menikmati semua yang ada padamu, haha..."


"Awas saja jika kau memberikan milikku ini pada pria lain. Aku tidak akan mengampunimu." Katanya lagi.


Dengan sempoyongan Kama menaiki tempat tidur, merayapi tubuh mungil Hanna, lalu kedua tangan mencekam seprai putih. Bibirnya ia arahkan pada bibir Hanna. Tentu jika Hanna sadar maka, ia pasti akan mencium aroma alkohol dari nafas Kama.


Sebelum sampai pada ciuman bibir, Kama ternyata sudah di landa mabuk berat. Hingga membuat ia rebah tak sadarkan diri di atas tubuh Hanna.


Hanna merasa ada suatu bebas yang menimpah, hingga terasa sangat berat.


"Tuan Kama, apa yang kau lakukan?" Katanya dengan nafas terengah. "Hei! Kau berat sekali, tolong singkirkan tubuhmu dari atasku." Katanya lagi sambil berusaha mendorong tubuh Kama.


Hidungnya mengendus, "Dia sepertinya mabuk dan tidak sadarkan diri. Tapi mengapa malah menimpahku? Apa tadi dia mencoba memanfaatkan tidurku yang lelap?"


"Ayolah menyingkir dariku." Hanna mendorong kuat tubuh Kama hingga terbaring di sampingnya.


"Mengapa dia begitu mabuk? Hanna mengubah posisi menjadi duduk sambil memandangi pria mabuk di sampingnya.


Apa dia tadi tidur dengan perempuan. Batin Hanna curiga. Ia kembali mengendus mencoba mencari bau parfum wanita disana.


"Tapi, tidak ada bau yang mencurigakan sama sekali. Atau mungkin ada bekas lipstick yang tertinggal." Hanna kali ini menyentuh, menarik sana kemari secara perlahan baju yang Kama kenakan dengan mata bak seorang istri yang mencurigai suaminya.


Hanna menarik napas lega, "Ahh... dia hanya mabuk." Katanya, lalu menarik selimut untuk berdua dan tidur.