The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Hanna, Please!



“Ya menikah!” Tekan ibu.


Masa depan Hanna pasti akan cerah jika menikah dengan Kama. Lagipula, di awal saja dia sudah memberikan aku uang 100 juta. Apalagi jika aku jadi mertuanya, ahh senangnya.


“Ibu ini bicara apa?! Tidak mungkin aku dan Tuan Kama menikah sekarang.” Protes Hanna dengan bibir yang di buat menggembung.


Ibu menarik telinga Hanna, “Setelah resmi menjadi kekasih harusnya menikah, lalu apa lagi?! Kau ini bodoh sekali! Seharusnya kau minta pertanggung jawaban dari bossmu ini.”


Hanna berusaha melepaskan tangan sang ibu yang menarik kuat telinganya, “Iya ibu. Tapi, aku ini masih harus kuliah dan sebentar lagi akan wisuda.”


“Benar juga! Kalau begitu, setelah kau wisuda Kama harus segera menikahimu!” Ibu melepaskan tangannya dari telinga Hanna, kali ini dia berpangku tangan memandang ke arah Kama yang dari tadi diam dengan mimik wajah seakan memikirkan sesuatu.


“Hei Kama! Kau dengar tidak?!” Bentak ibu.


Kama menatap dalam, “Menikahi putrimu? Mengapa harus? Menjadi sepasang kekasih saja cukup, aku tidak harus menjadikan dia istri, bukan?”


“Apa katamu?! Setelah kau merusak putriku, kau enggan menikahinya?” Intonasi ibu menaik.


Kama tersenyum miring, “Bibi, kau tahu? Jika seorang Tuan Kama ingin merusak wanita atau menjadikan mereka sebagai pemuas nafsunya saja, dia tidak perlu Hanna untuk melakukannya. Hanya saja, putrimu ini dengan segala keberaniannya masuk ke dalam kehidupanku.”


“Apa maksudmu berkata seperti itu?” Nada bicara ibu masih tetap meninggi.


“Hanna adalah milikku Bibi. Kau tenang saja, aku tidak akan merusak putrimu ini jika dia terus menjadi milikku dan aku tidak inginkan wanita lain untukku, selain Hanna.” Kama duduk santai menselonjorkan kakinya ke depan.


“Apa maksudmu? Putriku ini milikmu tanpa ikatan suami istri? Apa kau pikir putriku ini sebuah barang bagimu, hah?!” ibu membesarkan bola matanya.


“Ibu sudahlah---‘’ Hanna berusaha mencegah ibunya agar tidak marah lagi.


Mana mungkin Tuan Kama mau menikahiku, dia saja belum menyatakan cinta padaku.


“Kau tidak usah ikut campur!” Bentak ibu pada Hanna.


“Tuan, aku ingin bicara denganmu.” Hanna menarik tangan Kama pergi dari hadapan ibunya.


“Hei! Kalian mau kemana? Ibu belum selesai bicara!” Teriak ibu.


Hanna mengajak Kama ke sebuah pantai yang tidak telalu jauh dari rumahnya. Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai.


Pantai itu di penuhi banyak turis dan tentunya para pedagang es kelapa, juga banyak anak-anak yang bermain ria.


Hanna berdiri di tepi, sesekali ombak menyapu lembut kakinya, “Tuan,” Panggilnya.


“Mengapa kau mengajakku kemari? Aku tidak suka pantai!” Ketus Kama.


“Kau tidak perlu menyukai sesuatu agar kau bisa mengunjunginya, kan? Sama seperti, kau tidak perlu menikahiku untuk memilikiku,” Hanna mengarahkan pandangannya pada seorang yang berselancar di tengah laut.


“Mengapa ibumu itu bersikeras sekali agar aku menikahimu?” Kama menoleh pada Hanna.


“Kau tahu? Seorang wanita di ciptakan untuk dicintai, bukan sekedar untuk dimiliki. Kau mungkin benar, apa saja yang kau kehendaki itu pasti terjadi. Sama seperti aku,” Hanna melirik ke arah Kama sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, “Kau inginkan aku menjadi milikmu dan itu terjadi. Aku terikat dengan rantaimu.”


“Apa masalahmu?” Kama menatap tajam.


“Aku tidak punya masalah apa-apa. Kau yang punya masalah.” Hanna mengambil posisi duduk dengan kedua tangan bertumpuh pada pasir untuk menahan tubuhnya.


“Hanna, katakan apa maksudmu?!” Kama menyusul posisi Hanna.


“Jika kau kehilanganku akan apa jadinya?”


“Kau tidak akan pernah aku lepaskan Hanna! Sungguh! Aku sudah katakan ini berulang kali padamu!” Kama menarik wajah Hanna agar menoleh ke arahnya yang sedang berbicara serius.


“Tuan Kama, mungkinkah kepemilikan tanpa sebuah sertifikat akan bertahan lama?” Hanna menyerang manik coklat Kama.


Kama menekan rahang pipi Hanna, “Katakan apa maksudmu?!” Tatapannya seperti sebuah api.


“Aku akan wisuda dan masa magangku akan berakhir. Lalu, aku akan memilih untuk tinggal bersama ibu dan tidak kembali padamu,” Ucap Hanna berani.


Kama semakin menekan jarinya di rahang Hanna dan ia menatap penuh amarah, napasnya mulai terdengar tajam, “Kau tidak boleh meninggalkanku, Hanna! You are mine!”


“Kau hanya mengatakan aku ini milikmu, tapi apa buktinya? Apa kau pikir aku tidak bisa lari darimu?” Tantang Hanna.


Kita lihat, bagaimana kau akan murka atas ucapanku Kama.


“Kau ingin lari dariku? Aku akan menghancurkanmu!” Kama mengeluarkan tatapan mencekik.


“Aku tidak akan hancur Tuan, kaulah yang akan hancur!” Desis Hanna.


“Hanna, jangan pernah mengancamku!” Bisik Kama dengan penuh penekanan, ia mendekatkan bibirnya ke bibir Hanna, seperti seorang yang haus dan hendak mengecap sesuatu.


Hanna mendorong pelan bibir Kama dengan jari telunjuknya, “Kau tidak boleh menyentuhku. Kau ingat akan janjimu?”


Aku tahu kau pasti sangat tersiksa Tuan. Ketika amarahmu datang tapi kau tidak bisa melakukan apapun padaku.


Napas Kama semakin cepat dan ia menempelkan keningnya di kening Hanna, “Hanna please!” Kama terlihat tak bisa menahan rasa hausnya pada bibir Hanna.


Hanna mengecup ujung jari telunjuknya lalu menempelkannya pada bibir Kama, “Kiss for you honey!” Han tersenyum dan hendak berdiri, namun tangan Kama terus menahan wajahnya.


“Jangan pergi dariku, please!” Kama menatap penuh permohonan, ia sudah seperti tak berdaya walaupun Hanna belum meninggalkannya.


“I don’t know.” Mata Hanna seolah menjawab hal yang sama.


Aku tidak tahu, apa aku harus pergi atau tidak.


Untuk pertama kalinya mata Kama berbinar, pria itu menahan air matanya di hadapan mata Hanna, “Please…” Bisiknya memohon.


Hanna memandang kedua bola mata itu. Ia tidak menyangka bahwa Tuan Kama hampir saja menangis demi memohon agar ia tidak meninggalkannya.


Mata seorang pria yang di kenal berhati Lucifer itu, mata yang mengutuki banyak orang dan mata yang juga bisa menghancurkan sekaligus mencekik nasib orang lain.


“Tuan,” Hanna menempelkan telapak tangannya di wajah Kama.


“Hanna kau tidak boleh pergi.” Kama berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh. Tapi, ia berkata dengan napas yang terdengar begitu takut kehilangan.


“Mengapa aku tidak boleh pergi?” Tanya Hanna, ia ingin mengetahui sebenarnya apa yang Tuan Kama rasakan.


Katakan Kama, Mengapa aku tidak boleh pergi?


“Aku tidak tahu,” Ucap Kama.


“Kau tidak tahu? Maka aku juga tidak tahu, apa aku akan tetap bersamamu.” Hanna melepaskan tangannya dari wajah Kama dan Kama menariknya lagi dan meletakkan nya kembali di tempat yang sama.


“Aku---‘’ Kalimat Kama tertahan di ujung bibir.


Katakan saja apa! Batin Hanna dengan tatapan penantian.


Kama mengecup kening Hanna dengan begitu lembut, bahkan tidak seperti biasanya, “Aku mencintaimu, Hanna.” Bisiknya di dekat telinga Hanna.


“Kau mengatakan apa?” Hanna pura-pura tidak mendengar.


“Aku mencintaimu.” Kama mengulang kalimatnya.


Hanna tersenyum bahagia mendengar perkataan Kama. Seorang monster, bisa mengatakan cinta bahkan dengan manik mata yang berbinar? Tentu saja itu hal yang langkah! Apalagi, Kama sangat tidak berdaya memohon Hanna agar tidak pergi. Cinta seolah-olah mencabik-cabik daya kuasa Tuan Kama.


Hanna mendaratkan ciuman di pipi Kama dan dengan manja Kama berbaring, ia meletakkan kepalanya di paha Hanna.


“Kau terlihat begitu bahagia?” Tanya Kama yang memperhatikan wajah Hanna yang memerah.


“Ya! Aku bahagia, karena Tuan Kama mencintaiku.” Hanna tersenyum seraya mengusap lembut rambut hitam Kama.


“Mengapa seorang bisa sebahagia itu ketika jatuh cinta?”


“Aku juga tidak tahu sayang.” Hanna mencubit gemas pipi Kama.


“Sebutkan lagi.” Pinta Kama, ia ingin Hanna mengulang kata sayangnya.


“Apa? Aku bilang aku tidak tahu Tuan.”


“Bukan yang itu, kalimat terakhir.”


“Yang mana? Kau mendengar apa memangnya?” Hanna masih tidak mengerti, kali ini ia mencubit pipi Kama dengan geram.


“Aw!... Kau mencubit seperti kepiting.” Kama menggosok-gosok pipinya.


“Haha, aku kan tidak punya capit sayang.” Hanna mencium rambut Kama.


“Apa aku dapat sertifikat kepemilikan atas nama Hannatasya?”


Hanna menahan geli atas pertanyaan yang begitu polos yang terlontar dari mulut Tuan Kama.


Maksudku suatu saat kau harus resmi menjadikan aku istri. Dasar payah!