
“Apa yang Carlee katakan padamu?”
Kama membawa gadisnya itu pergi ke suatu cafe yang cukup terkenal di Ibu kota.
Wajahnya begitu murka setelah mendengar Carlee begitu merendahkan Hanna. Ia menyeruput kopi panas yang baru saja tiba dimeja. Rasa muaknya pada Carlee membuat lidahnya kebal.
“Tidak, ibumu tidak mengatakan apapun.”
Jika aku mengatakan yang sebenarnya kau akan bertambah murka padanya Tuan.
“Katakan Hanna!” Kama begitu yakin jika Hanna menutupi sesuatu padanya.
Hanna mengusap-usap tangan kekasihnya yang tergeletak di samping gelas kopi, “Tuan, percayalah padaku, ibumu itu tidak mengatakan apapun.”
Kama menyingkirkan tangan Hanna geram, “Kau berbohong padaku?” Intonasi suaranya sedikit naik.
“Tidak. Ibumu tidak mengatakan apapun padaku.” Hanna masih berusaha menutupi apa saja yang Carlee katakan padanya.
“Mengapa kau menutupinya dariku? Ia menyuruhmu untuk memutuskan aku, bukan?” Kama menatap tajam.
“Tuan, wajar saja jika ibumu mengatakan hal demikian. Aku ini hanya gadis biasa yang---’’
“Jangan lanjutkan! Malam ini kita akan menginap di hotel dan aku akan memesan tiket kembali untuk besok.” Kama kembali menyeruput kopinya.
“Tuan, jangan cepat begitu. Aku masih ingin berada disini.” Tolak Hanna. Sebenarnya niatnya untuk mendamaikan Carlee dan Kama belum padam.
“Jika memang kau masih ingin disini, maka kita akan menginap di hotel saja.”
“Tuan, mengapa tidak dirumahmu saja? Lagipula, itu akan menghemat uangmu.” Hanna mencari-cari alasan agar tetap tinggal bersama Carlee, tidak peduli akan sikapnya yang licik.
“Kau pikir Tuan Kama pernah menjadikan uang sebagai masalah hidupnya?!” Kama berwajah angkuh.
Hanna menggeleng cepat, “Tapi---’’
“Jika kau protes lagi, maka kita akan kembali ke Singapura besok.” Kama akhirnya mampu membuat Hanna tak berkutik.
“Baiklah.”
Apapun caranya aku harus bisa berbicara dengan Carlee empat mata. Aku harus menyelesaikan misiku kemari.
Kama mempercepat langkahnya memasuki kediaman Carlee. Hanna setengah berlari mengikuti langkah pria bertubuh kekar itu.
Di ruang utama, ibu Kama duduk menyilangkan kakinya di sofa kesayangan yang terletak di tengah-tengah ruangan itu. Di kanan –kirinya ada pelayan yang berdiri setengah menunduk. Ratu dirumah itu ingin selalu di perlakukan dengan hormat.
“Mengapa terburu-buru Kama?” Tanya nya seraya mengambil satu buah apel merah yang terletak di atas meja.
Kama berniat untuk melanjutkan langkahnya dan mengabaikan Carlee.
“Ibu menyetujui pernikahanmu dengan kekasihmu itu. Kau sebut siapa? Oh Hanna.” Carlee mengigit kecil apelnya.
Langkah Hanna pun ikut terhenti mendengar perkataan Carlee.
Kama menoleh, “Kau tahu Carlee? Tanpa persetujuan darimu aku juga akan tetap menikahi Hanna.”
“Haha… kau begitu angkuh putraku. Apa kau tidak pikirkan reputasimu menikah tanpa restu seorang ibu? Seluruh dunia akan gempar. Pemilik Luxuria Group menikahi gadis kampung tanpa restu dari ibu?” Carlee menatap penuh licik pada Hanna.
Sementara Hanna hanya terus menunduk. Bukan karena ia tidak berani, melainkan Hanna memiliki rasa hormat yang tinggi.
“Bukan urusanmu!”
“Hanna, maafkan Bibi soal tadi.” Katanya lagi tanpa senyum.
“Tidak apa-apa Bibi.” Jawab Hanna begitu ramah.
“Apa kau bisa membuat makan malam untukku, calon menantuku?” Carlee berjalan menghampiri Hanna dengan kedua tangan melipat di belakang bokong.
“Tentu saja Bibi.” Hanna tersenyum manis.
“Tuan, tidak masalah jika Bibi ingin aku memasak baginya.”
“Malam ini kita akan menginap di hotel, kau tidak perlu menyiapkan makan malam baginya. Lagipula, di rumah ini ada banyak pelayan jadi biar saja mereka melakukan pekerjaan mereka .”
“Kama putraku, apa salahnya jika calon mertua ingin menguji masakan calon menantunya?” Tatapan Carlee penuh kelicikan.
“Tidak masalah Bibi, aku akan memasak untuk makan malam.” Hanna mengangguk dan tersenyum.
“Hanna kau ingat? Malam ini kita akan menginap di hotel, kau tidak perlu---’’
“Tuan, batalkan saja ya. Boleh tunjukan dimana dapurnya?” Hanna memandang pada seorang pelayan yang berdiri di samping singgasana Carlee. Pelayan itu mengangguk dan berjalan mengantarkan Hanna menuju dapur.
Hanya tersisa satu pelayan, Kama dan ibunya di ruang utama. Ibu Kama memandang sembari tersenyum pada putranya. Meskipun sebenarnya senyum itu ia paksakan terpasang di wajahnya yang angkuh.
“Kama, ibu tahu kau begitu membenciku. Tapi, ibu akan buktikan bahwa ibu sayang padamu dengan merestui hubunganmu dengan gadis itu.” Carlee memulai pembicaraan seraya berjalan menghampiri Kama lebih dekat.
“Aku sama sekali tidak memerlukan restumu.” Kama tersenyum miring menanggapi perkataan Carlee.
“Apa kau tahu putraku? Ibumu ini dikenal sebagai wanita yang baik, istri yang luarbiasa bagi pemilik Luxuria Group, Ayahmu. Apa jadinya jika penerus Luxuria menikah tanpa restu seorang Carlee? Aku tidak bisa membayangkan gosip itu akan berdampak buruk bagi perusahaan kita.” Carlee memiringkan bibirnya.
Kama mematung diam. Dia membenarkan bahwa reputasinya harus dijaga demi bisnis yang ia jalankan sekarang. Orang-orang memang cukup menghargai sang ibu dan almarhum Ayahnya yang dikenal baik oleh masyarakat.
Padahal, keluarga ini menyimpan banyak kebusukan. Dari dulu sang Ayah berusaha untuk menutupi bangkai keluarganya agar perusahaannya aman.
Meskipun, Kama dikenal sebagai pria yang kejam dan bengis tapi silsilah keluarganya tetap dikenal sebagai keluarga harmonis.
“Mengapa kau diam putraku? Apa yang ibu katakan itu benar?”
“Kau tidak perlu banyak bicara,” Ucap Kama penuh penekanan.
Sang ibu tertawa kecil, “Jadi kapan kalian akan meresmikan pernikahan kalian?”
Tentu saja, Hannamu itu akan aku permalukan di hari pernikahan kalian yang mungkin tidak akan terjadi.
“Setelah Hanna wisuda, aku akan segera menikahinya di Singapura.” Jawab Kama ketus.
“Kalau begitu, kau harus segera memberitahu ibu kapan Hanna akan di wisuda.”
“Baik.” Nada suara Kama terdengar terpaksa.
Untuk pertama kalinya Carlee mendukung keputusanku.
Carlee memegangi kepalanya. Ia berpura-pura merasa pusing untuk menarik perhatian Kama.
“Kepalaku sakit sekali…” Rintihnya.
Kama hanya memandang acuh padanya.
“Aduh… rasanya kepalaku ini akan pecah…” Carlee sentengah memekik. Kini ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
“Nyonya besar, apakah anda baik-baik saja?” Pelayan yang dari tadi ada disana menghampiri Carlee dan menopang tubuhnya.
“Sakit sekali…” Carlee semakin mengeraskan suaranya agar Kama terlihat ibah dan benar saja Kama memang merasa ibah.
“Kau baik-baik saja ibu?” Untuk pertama kalinya Tuan Kama spontan menyebut ibu.
Carlee terdiam memandangi putranya itu. Ya, hatinya yang licik itu sedikit tersentuh dengan sebutan yang baru saja keluar dari mulut Kama.
Apa aku tidak salah dengar? Kama menyebutku ibu? Rasanya, berbeda ketika Kama mengatakan itu.
“Ah, iya kepala ibu sakit sekali.” Carlee melanjutkan dramanya.
“Baiklah, akan aku bantu kau ke kamar.” Kama membopong Carlee ke kamarnya.