The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Pulang



John F. Kennedy International Airport


New York, United States


Para perempuan cantik berjalan dengan anggun di atas heels enam sentimeter dan dress yang ketat menampakan lekuk tubuh yang sempurna.


Mereka adalah para pramugari yang berjalan menuju pesawat dengan rute penerbangan New York-Singapore.


Hanna dan Kama melangkah beriringan. Terlihat Hanna yang menggandeng erat lengan Kama yang berjalan dengan pesona ketampanannya.


Hampir, semua wanita menoleh dan melirik Kama walau hanya sejenak untuk menikmati ketampanannya.


05.29 dini hari, pesawat akan segera di terbangkan. Tentunya perjalanan dari New York ke Singapore memakan waktu yang cukup lama.


“Kau ingin pesan sesuatu ketika kita di atas?’’ Tanya Kama pada Hanna yang sudah duduk di kursi pesawat dengan nyaman.


“Mungkin kopi hangat.” Jawabnya singkat.


Beberapa saat kemudian seorang pramugari yang cantik, berdiri mempragakan hal-hal penting yang harus di lakukan selama penerbangan berlangsung.


Kama melirik ke arah pramugari itu, “Dia kalah cantik denganmu.”


Hanna yang tadi sibuk memandang ke arah jendela teralih dengan perkataan Kama, “Aku?”


“Ya, kau wanita tercantik.” Puji Kama sambil mendaratkan ciuman di kepala Hanna.


“Tapi mengapa kau bandingkan aku dengan pramugari itu?”


“Aku tidak membandingkannya, hanya saja jika kau adalah pramugarinya maka aku pasti akan kesal.”


‘’Mengapa seperti itu?” Hanna menautkan alisnya.


“Kau lihat pramugari itu, dia berpakaian begitu ketat hingga lekuk tubuhnya tergambar jelas. Lalu gerakannya ketika mempragakan sesuatu terlihat centil dan menggoda.”


“Lalu?” Hanna tak sabar.


“Ya tentu saja aku tidak akan izinkan kekasihku di nikmati oleh mata pria lain.” Kama mendekatkan bibirnya ke telinga Hanna, “Kau hanya boleh di nikmati oleh Tuan Kama.” Bisiknya.


Hanna tersenyum menatap manik coklat milik Kama yang ikut berbicara bahwa perkataannya ialah sunguh-sungguh.


“Excuse me Sir, ini pesanan anda.” Seorang pramugari mengantarkan dua gelas kopi hangat.


“Terimakasih.” Jawab Kama singkat.


Penerbangan panjang tentu memakan waktu yang sangat lama. Tidak masalah bagi Hanna, asal ia selalu berada di samping Kama, kekasihnya, boss sekaligus majikan cintanya.


Singapore Changi International Ariport


Kama berjalan beriringan sembari merangkul pinggang Hanna mesra. Sedangkan Arkhan, ia berjalan di belakang mereka membawa koper serta barang-barang Tuan Kama dan kekasihnya itu.


Mereka ke New York untuk berkunjung atau berbulan madu. Mengapa jadi semakin mesra? Batin Arkhan.


“Tuan apa boleh aku kembali ke kostan terlebih dahulu? Aku sangat rindu pada Azel.” Suara Hanna terdengar manja.


Kama tak merespon apapun, ia hanya mendengar dan tiba-tiba memanggil Arkhan, “Arkhan!”


Arkhan buru-buru menghampiri tuannya itu, “Iya Tuan.”


“Antarkan Hanna ke kostannya dan tunggu disana. Setelah itu bawa ia pulang kembali ke apartemen sebelum malam!” Perintah Kama.


“Baik Tuan,”


“Aku tidak boleh menginap sebentar?” Hanna membujuk lagi.


“Kau sudah di beri waktu untuk bertemu dengan Azel, lalu apa yang kau mau?!” Mata Kama menjadi sinis.


“Ya sudah baiklah. Terimakasih sudah mengizinkan aku.”


Mereka berjalan menuju mobil mewah yang sudah terparkir dan Arkhan membukakan pintu bagi keduanya untuk masuk.


“Untuk hari apa Tuan?”


“Untuk besok. Aku dan Hanna akan ke Bali, jadi urusan kantor aku serahkan padamu.”


“Baik Tuan.” Jawab Arkhan sembari menyalakan mobil.


Gadis ini sebenarnya bernasib baik sekali. Dia bisa sangat dekat dengan Tuan Kama, bahkan di ajak jalan-jalan.


“Tuan, aku berjanji pada ibu akan mengunjunginya bulan depan. Mengapa cepat sekali?” Protes Hanna.


“Bukankah lebih cepat lebih baik?”


Hanna memanjangkan bibirnya kesal, “Iya. Tapi aku harus mulai menyelesaikan laporan akhir kuliahku, kau tahu sebentar lagi aku akan di wisuda.”


“Kau harus bisa mengatur waktumu lebih baik!” Kama mencubit geram pipi Hanna.


“Bagaimana bisa aku mengaturnya, kau selalu mengajakku berpergian!” Tukas Hanna.


“Kau menyalahkan aku?! Lihat saja akan aku beri nilai yang buruk di laporan magangmu nanti!” Ancam Kama.


“Ya, kau memang tidak pernah salah Tuan Kama.” Bola mata Hanna berputar, dan ekspresinya terlihat begitu kesal.


Sesuai dengan kemauan Tuan Kama, Arkhan mengantar Kama ke apartemen lebih dulu dan kemudian mengantarkan Hanna kembali ke kostan untuk bertemu Azel.


Di tengah perjalanan yang dingin tanpa pembicaraan, Hanna mencoba untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang.


“Arkhan,” Panggil Hanna.


“Iya Nona.” Arkhan menoleh ke arah spion yang ada di depannya.


“Kau sudah bekerja dengan Kama berapa lama?”


“Kurang lebih sudah sangat lama nona. Dulu, Ayah saya juga bekerja di sini sebagai sopir dari Ayah Tuan Kama.”


“Berarti kau sudah begitu mengenal keluarga Tuan Kama?”


“Tentu saja nona. Tapi, Tuan Kama itu berbeda dari kakaknya yang serakah dan jahat, itu sebabnya dia di penjara sekarang.” Ceplos Arkhan.


“Maksudmu, Lina?”


Arkhan mengangguk ragu, “Maaf nona.” Katanya.


“Mengapa kau meminta maaf?” Hanna menaikkan sebelah alisnya.


“Saya merasa tidak pantas berbicara seperti itu di depan nona.”


“Arkhan, kau tidak perlu takut. Aku tidak mungkin memakanmu hanya karena berkata seperti tadi.” Hanna tertawa kecil melihat ketakutan di wajah Arkhan.


“Baiklah nona terimakasih.”


Arkhan memarkirkan rapi mobilnya tepat di halaman kostan Hanna.


“Kau tidak ingin masuk?” Tanya Hanna sembari bersiap untuk turun.


“Nona, apakah teman nona itu sudah memiliki kekasih?” Arkhan bertanya percaya diri.


Kening Hanna mengerut seperti memikirkan sesuatu dari pertanyaan yang di lontarkan oleh Arkhan.


Apa mungkin Arkhan menyukai Azel? Tapi itu hal yang baik. Arkhan pria yang baik dan juga manis di bandingkan dengan Louis.


“Nona,” Panggil Arkan sembari memandang Hanna yang terlihat bengong.


“Em i –iya Arkhan. Tidak, Azel belum punya kekasih.” Jawab Hanna berbohong.


Raut wajah Arkhan seketika memerah dan senyum lebar terpampang di wajahnya. Sementara Hanna, ia turun dengan rasa tak sabar untuk segera bertemu dengan sahabat terbaiknya itu.