The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Es kelapa muda



Ibu memperbaiki roll rambutnya yang sedikit berantakan, “Ibu ingin beristirahat.” Katanya, masih terdengar jengkel.


Hanna menghembuskan napas lega setelah ibunya tak telihat lagi. Tetapi Kama, ia terpingkal-pingkal sembari memegangi perutnya.


“Haha!... Aku belum pernah sebahagia ini,” Ucapnya.


“Mengapa kau malah bahagia?”


“Ibu dan Bibimu itu terlihat lucu, haha…”


“Maaf, karena aku ini memalukan.” Hanna duduk dengan wajah murung.


“Memalukan? Sama sekali tidak! Justru aku belum pernah merasakan hal yang seperti ini. Keluargamu terlihat hangat.”


“Hangat apanya?” Hanna menautkan alisnya.


“Hangat dalam pertengkaran haha…” Ledek Kama. “Tapi lebih baik seperti itu bukan? Memiliki keluarga yang unik itu terlihat menyenangkan.” Kama tersenyum.


“Tuan, apa keluargamu pernah seperti ini?”


Kama menggeleng, “Tidak! Aku tidak pernah merasa memiliki keluarga. Kami tidak pernah berdebat lucu seperti tadi, saling menceritakan apa yang sudah terjadi satu sama lain, tidak pernah!”


“Bi Ara itu hanya ingin pamer, bukan berbagi. Lagipula, jika dia membeli kalung emas dan sebagainya dia pasti mengunjungi ibu hanya untuk pamer Tuan.” Celoteh Hanna dengan bibir di buat mengembung.


“Itu berbagi namanya. Aku tidak pernah seperti itu dan itu terkesan menyenangkan.” Tukas Kama.


Hanna tersenyum dan memilih menyandarkan kepalanya di bahu Kama.


Aku tahu dan mengerti maksudmu Tuan. Ntah mengapa, aku seperti bisa merasakan apa yang saat ini kau rasakan tentang keluargamu.


Tidak terasa hari itu sudah menjelang sore. Kama dan Hanna sibuk membantu ibu membuat es kelapa segar di depan teras rumah.


“Tuan, kau suka es kelapa?” Tanya Hanna yang sibuk menuangkan batu es ke dalam gelas.


“Tentu saja! Rasanya manis, seperti bibirmu.” Jawab Kama dengan tatapan menggoda.


“Hei! Kau mengatakan apa pada Hanna?!” Ibu membesarkan bola matanya memandang Kama.


“Aku bilang es kelapa itu manis sama seperti---‘’


“Seperti senyumanku Bu.” Potong Hanna.


“Apa? Aku tidak mengatakan itu.” Protes Kama, namun Hanna dengan sengaja menginjak kakinya.


“Aw! Hanna, mengapa kau menginjak kakiku ini?!” Rintih Kama kesakitan.


“Maaf Tuan, aku tidak sengaja.” Hanna menyengir.


“Kapan kalian akan berencana mengunjungi Ibu Kama?” Tanya ibu sambil memberikan es kelapa pada Kama.


Kama meraih es itu, “Besok Bi, aku tadi sudah memesan tiket untuk ke Jakarta.”


“Jangan lupa untuk mengatakan tentang pernikahan kalian.” Ibu mengingatkan.


“Tentu saja Bi!”


Rasanya muak sekali jika harus bertemu Carlee. Tapi, ini semua permintaan Hanna. Kama memandangi Hanna yang sedang menyedot air kelapa segar dengan sedotan.


Hanna memandang prihatin pada Kama yang tak bergeming.


Mengapa Ibu menanyakan hal ini pada Tuan Kama? Aku jadi kasihan padanya.


“Kama, kau dengar tidak?!” Ibu mengeraskan suaranya.


“Ayahku sudah lama meninggal,” Ucap Kama terdengar sangat lambat.


“Kalau itu Bibi juga tahu, pemilik Luxuria Grup memang sudah lama meninggal. Maksudku, bagaimana hubunganmu dengan ibu atau saudara yang lain? Bibi ingin tahu.”


Kama lagi-lagi terdiam. Ekspresinya begitu datar dan kosong. Tangannya sibuk memainkan sedotan di dalam gelas.


“Kama?” Ibu memperhatikan wajah Kama.


“Ibu, apa tidak ada cemilan? Bisa kembung jika hanya minum air kelapa seperti ini.” Hanna mencoba untuk mengalihkan topik dan perhatian ibu.


“Oh iya ibu lupa. Tadi, ibu sudah siapkan pisang goreng. Sebentar ya, ibu ambil.” Ibu meninggalkan keduanya.


Hanna mengusap bahu Kama, “Tuan, kau tidak harus menceritakan hal yang tidak bisa kau ceritakan.”


“Aku tidak tahu apapun tentang Carlee ataupun Lina.” Kama tersenyum kalut.


“Aku mengerti,” Ucap Hanna.


“Ibu Jean sudah mengatakan banyak hal padamu?” Kama menoleh pada Hanna.


“Um,” Hanna mengangguk.


“Kau tidak takut padaku? Maksudku, keluargaku, masa kecilku dan segala hal yang buruk tentangku?” Kama menatap dalam.


“Tidak. Mengapa aku harus takut? Kau memang pria tergila yang pernah aku temui. Tapi, kau adalah pria yang terbaik yang aku dapatkan.” Hanna memberikan senyum manis.


“Aku tidak tahu mengapa aku segila ini. Menyiksa wanita adalah kesukaanku. Aku bahkan melakukan kekerasan padamu.” Wajah Kama memancarkan kekecewaan pada dirinya sendiri.


“Tuan, seperti musim yang berubah, maka keadaan manusia juga akan berubah.”


“Maksudmu?” Kama terlihat tidak mengerti.


Hanna menghela napasnya dalam, “Ketika musim hujan maka mugkin ada banjir dan ketika kemarau, maka mungkin akan kekeringan. Begitu juga manusia. Di lingkungan mana dia bertumbuh, maka itu akan membentuknya, tidak ada yang salah soal ini.


“Hanya saja, kau hanya belum sampai pada musim yang baik. Nanti, aku akan membawamu kesana. Kau tahu? Semakin hari, aku melihat kau yang sebenarnya.”


Kama masih menatap bingung.


“Tuan Kama yang baik hati, menghargai orang lain, menghormati orang tua, penyayang dan lembut.” Lanjut Hanna.


“Aku seperti itu?”


“Ya, itulah sisimu yang selama ini terkubur.” Hanna meraih tangan Kama dan menggenggamnya, “Tuan kita akan sampai pada musim akhir.”


“Ntahlah. Mungkin tidak semudah itu jika aku melihat wajah Carlee.” Kama memalingkan wajahnya.


“Memang tidak mudah. Tapi, apa salahnya mencoba. Memperlakukan orang yang sudah menggores luka dalam di hatimu dengan baik, itu adalah obat yang paling manjur dalam kebahagiaan.”


Kama tersenyum tipis dan kembali menikmati es kelapa mudanya.