The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Sisi Kama yang ketiga



Kama menatap dalam pada pasangan dansanya, "Kau ingin tahu sisi diriku yang ketiga?"


Hanna mengangguk sambil terus menikmati dansanya.


"Karena kau waktu itu sudah membayarnya dengan sebotol minuman, maka aku berhutang padamu." Kama menahan pinggang Hanna agar tidak bergerak lagi.


"Baik. Katakan Tuan Kama, apa itu?" Mata Hanna ikut bertanya melalui tatapan nya.


Kama memberi kode pada pianis, bahwa tugasnya sudah selesai. Pria itu pun pergi meninggalkan apartemen Kama.


"Kau sangat ingin tahu?" Kama mendekatkan wajah Hanna.


"Um..." Hanna mengangguk cepat.


"Aku suka akan penyiksaan." Kama memegang kedua tangan Hanna bagaikan borgol yang begitu kuat. "Aku suka memberikan hukuman dengan siksaan, khususnya pada wanita."


Hanna tetap tidak takut dengan perkataan Kama yang terlontar dengan muka yang serius.


"Ikut aku." Kama menarik Hanna.


Ia membawa gadis itu ke kamarnya. Lalu, Kama mengeluarkan berbagai jenis borgol, cambuk, pukulan, rantai bahkan benda mengerikan lain nya yang tersimpan di lemari pribadinya.


"Benda apa semua ini Tuan Kama?" Hanna mulai sedikit gelisah.


Kama memperlihatkan benda itu satu-persatu, "Ini adalah bagian dari hobiku dan mungkin akan menjadi senjata neraka bagimu." Kama menoleh ke arah Hanna yang terlihat kaget.


Ya, jantung Hanna berdetak kencang, bahkan wajahnya memucat setelah melihat semua benda itu. Berbagai macam hal mengerikan yang pernah ia lihat di buku usang milik Kama.


"Apa kau takut padaku?" Kama mengambil sebuah borgol dan mendekati Hanna.


"Aku takut jika aku tidak mengenalmu. Tapi, aku rasa aku cukup mengenal Tuan Kama, jadi aku tidak takut." Bibir Hanna bergetar.


"Haha... Hanna bibirmu bergetar ketika mengatakan bahwa kau tidak takut padaku." Kama membelakangi Hanna sambil terus memegang borgol itu.


Hanna mendekatinya, "Apa yang kau lakukan pada orang lain dengan alat ini?"


"Haha... bukan orang lain, tapi wanita! Tidak ada yang tahu tentang ini sebelumnya. Tapi, karena kau sudah memulai semua keingintahuan mu jadi, dengan terpaksa aku menunjukkan nya padamu." Kama memainkan borgol yang ada di tangannya.


"Setelah ini, jika kau ingin berhenti dengan rasa penasaranmu terhadapku atau mungkin memilih mundur dari pekerjaanmu, silakan!"


"Tidak akan!" Ucap Hanna berani.


Kama memandangnya, "Jangan! Aku akan melukaimu."


"Tidak ada luka dari rasa penasaran dan ingin tahu yang tidak terobati." Bantah Hanna percaya diri.


Kama menelan ludahnya.


Gadis ini, mengapa ia membuatku tidak berdaya?


"Apa yang menjadi dasar kebodohan itu, hah ?!" Kama melebarkan bola matanya.


"Aku tidak tahu," Hanna menunduk bingung.


Kama meraih tangan Hanna dan menguncinya dengan borgol, "Kau takut? Haha..."


Hanna menggeleng dan lagi menggigit bibirnya, yang sudah menjadi kebiasaannya ketika berpikir, bingung dan gugup.


Kama terus memperhatikan bibir itu


Mengapa ia terus melakukan itu.


"Lupakan aturan yang aku buat!!!..." Ucap Kama dan langsung mengecup bibir Hanna.


Mata Hanna terbelalak kaget dengan tindakan yang di lakukan Tuan Kama padanya.


Dia sudah menjilat ludah dan aturannya sendiri. Dengan mencium bibirku. Ia sudah melupakan kata-katanya bahwa ia tidak tetarik denganku.


Pertama kali, Kama meminta maaf setelah mencium bibir wanita. Biasanya ia melakukan lebih dari itu. Tapi, kali ini ia menahan dirinya untuk hal lebih jauh.


"Tuan, lepaskan borgolnya." Hanna menunjukkan tangan nya yang masih terborgol.


"Kau akan tetap terikat dengan nya hingga pagi." Kama menggendong Hanna untuk keluar dari kamarnya.


"Tuan turunkan saya!" Hanna meronta-ronta.


Kama menurunkan sekretaris magangnya itu dan mengunci kamarnya. "Kau katakan bahwa kau tidak takut padaku, jadi malam ini dengan tangan yang terborgol kau akan menginap di sini!"


"Untuk apa saya menginap di sini Tuan? Saya harus kembali ke kosan sekarang." Rengek Hanna bukan karena takut. Ia memikirkan Azel yang seorang diri.


"Mengapa? Kau sudah memulai semuanya, jadi kau sudah masuk dalam perangkapku. Ikuti setiap apa yang aku katakan!" Kama berjalan mendahului Hanna.


"Baik, saya akan menginap di sini. Tapi, setidaknya lepaskan borgol ini." Pinta Hanna yang melangkah menyusul Kama.


"Haha... akan aku lepaskan dan jika kau berubah pikiran untuk menutup semua rasa penasaranmu terhadapku. Pergilah menjauh, agar aku tidak mencarimu dan menghancurkanmu!" Kama mendekati Hanna hendak membuka borgolnya.


Tidak akan ada wanita, yang akan bertahan dengan ku. Batin Kama.


Hana menarik tangan nya, "Saya berubah pikiran. Karena, saya akan tetap terus menggali rasa penasaran saya, maka jangan lepaskan borgolnya Tuan."


"Mengapa kau tidak takut sama sekali jika mungkin aku bisa melukaimu?" Kama menyentuh dagu Hanna.


"Kau tidak akan melukaiku,"


Rasa ingin tahuku ini adalah cara untuk menggali kau yang sebenarnya. Aku tidak tahu apa alasan nya, tapi aku tertarik pada sosok pria sepertimu.


"Baik... Tapi, aku tetap katakan kau boleh melarikan diri kapan saja setelah malam ini." Kama melepaskan sentuhannya.


Aku tertarik pada wanita sepertimu. Tapi, jangan terus seperti ini. Karena aku, hanya akan bisa melukaimu nanti... Gumam Kama.


"Aku akan menunjukkan kamar untukmu. Ikuti aku." Kama melangkah dan di ikuti oleh Hanna.


"Ini kamarmu, tidurlah dan jangan pergi kemanapun malam ini!" Kama membuka pintu itu dengan lebar dan memberi jalan pada Hanna untuk masuk.


'Tuan aku haus." Hanna memperlihatkan tangan nya yang terborgol, seolah memberi isyarat bahwa ia tidak minum dengan tangan seperti itu.


Kama meraih segelas air putih yang ada di meja kamar dan memberikan nya pada bibir Hanna yang sedikit kering.


Hanna meminumnya hingga habis tak bersisa. Ya, ntah rasa haus atau gugup yang ia rasakan sehingga, membuat tenggorokan nya kering.


Hanna kemudian berbaring di tempat tidur, "Tuan mengapa kau suka berbuat kasar pada wanita?"


"Aku melakukannya hanya ingin membuat mereka takut dan menyiksa mereka, lalu membayarnya dengan uang." Kama duduk di tempat tidur.


"Tapi saya rasa banyak wanita yang sebenarnya tertarik pada Tuan Kama." Hanna mencoba memandang Wajah Kama yang tertunduk.


"Haha... Ya, tapi aku katakan aku hanya tertarik untuk memakai mereka bukan untuk percintaan bodoh yang sering di lakukan orang-orang. Ketika mereka takut, aku akan merasa puas dan bahagia haha..."


"Mereka mungkin berusaha menarik perhatianmu, tapi tidak ada satupun dari banyak wanita yang bisa membuatmu merasakan cinta?" Hanna mengerutkan keningnya.


"Ya, aku hanya menikmati mereka. Membuatnya takut tidak berdaya karena tindakanku. Tapi, tidak denganmu." Kama mendekati Hanna.


Hanna menelan ludahnya, "Maksud Tuan?"


"Jika kau ingin tahu jawaban nya. Aku adalah pria yang tak suka berbagi." Kama menyentuh bibir Hanna dengan jempolnya.


"Tuan aku tidak mengerti." Hanna berwajah bingung.


Kama memandangi tangan Hanna yang terborgol dan tersenyum miring. "Malam ini kau akan aku kunci. Tidurlah, hingga pagi.


Kama beranjak meninggalkan Hanna tanpa menjawab pertanyaan wanita yang terborgol itu.


Tetapi, sikapnya tidak membuat Hanna sama sekali takut. Bahkan, ketika ia terborgol dan terkunci pun Hanna tetap merasa nyaman. Mungkin, karena hati Hanna percaya bahwa Tuan Kama tidak akan melakukan sesuatu yang bisa menyakitinya. Ya, Hanna sudah terpikat oleh pesona nya.