The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Tragedi Kama dan ibu Hanna



Ibu Hanna yang tengah menunggu memasang raut wajah galaknya ketika ia melihat Kama dan putrinya menuju meja makan.


Bukan karena tidak menyukai Kama, hanya saja memang ibu Hanna selalu bersikap kurang ramah pada setiap pria yang mendekati putri semata wayangnya.


Hal itu di sebabkan karena Ayah Hanna yang meninggalkan mereka tanpa alasan, hingga membuat ibu Hanna merasa trauma dan terbawa hingga ke putrinya.


“Dari mana saja? Ibu sudah lama menunggu!” Gerutunya sebal.


“Maaf Bibi---‘’Kama tak sempat melanjutkan kalimatnya.


“Aku tidak bicara denganmu!” Potong ibu.


Apa ibu Hanna punya sakit darah tinggi ya. Sepertinya dia sangat tidak menyukaiku.


Hanna tersenyum menahan rasa tak enaknya pada Kama, “Tuan, mari kita duduk. Nanti makanannya dingin.”


Kama mengangguk dan duduk di sebelah Hanna, berhadapan dengan ibunya yang memperhatikannya begitu tajam. Bahkan, saat menuangkan nasi ke piring pun tatapan ibu Hanna tak juga di ahlikan dari Tuan Kama dan untuk pertama kalinya Tuan Kama merasa sungkan.


Hanna yang menyadari hal itu, memandang sang ibu, “Ssst… ibu, jangan seperti itu. Tidak baik!” Bisiknya pelan.


“Kau ini tidak sopan sekali pada ibu. Mengapa sst… begitu? Apa kau pikir ibu ini kucing?” Protes ibu.


Haduh! ibu jadi galak seperti ini lagi kalau melihat aku dekat dengan seorang pria. Bahkan, dia tidak peduli jika di hadapannya sekarang bukan pria sembarangan.


“Makanlah yang banyak Hanna. Kau pasti bekerja terlalu berat dengan pria ini,” Ucap ibu sembari memberikan sepotong ikan ke piring putrinya lalu memiringkan bibirnya sejenak ke arah Kama.


“Tidak ibu. Justru Tuan Kama tidak pernah memberikan aku pekerjaan yang berat.” Sanggah Hanna dengan lembut.


“Kau jangan menutupinya! Dia ini kan terkenal kejam, ibu yakin kau pasti tersiksakan magang di sana?” Ceplos ibu begitu yakin, hingga perkataannya sedikit menusuk Kama yang tengah mengunyah.


“Uhuk!!!...”


“Tuan kau tidak apa-apa?” Tanya Hanna sembari memberikan segelas minum pada Kama.


Kama meraih air putih itu dan menghabiskannya, “Terimakasih Hanna.”


“Hati-hati makannya. Jika tulang ikan itu menyangkut di leher, itu bisa berbahaya.” Omel ibu.


Apa mungkin kata-kataku terlalu tajam ya pada pria ini. Kasihan juga dia.


“Terimakasih Bibi. Makanannya juga enak sekali.” Puji Kama mencoba untuk mengambil hati sang ibu.


Ya! Ibu Hanna adalah wanita mudah luluh ketika ada orang yang memuji makanannya dan untuk hal ini Kama sedikit memenangkan skor. Wajah sang ibu kini sedikit ramah.


“Bibi memang jago memasak Kama. Kau tahu tidak? Semua orang mengakui itu.” Tambahnya, sekarang ia mengatakannya dengan sedikit salah tingkah.


“Wah pantas saja Bibi. Mengapa tidak membuka restoran saja?” Kama mencoba untuk memanjangkan topik mereka agar terlihat lebih akrab.


“Ya, sebenarnya memang itu yang Bibi inginkan. Hanya saja…” Raut wajah ibu menjadi murung.


“Hanya saja, ibu sudah terlalu tua dan mudah kelelahan Tuan,” Sambung Hanna beralasan.


“Jangan bicara begitu! Ibu ini masih muda dan cantik, tenaga ibu juga masih kuat.” Bantah ibu.


“Ya, menurutku Bibi memang cantik dan awet muda.” Kama mulai memahami karakter ibu yang suka di puji.


“Ah, jangan mengatakan hal itu Kama. Kau ingin menambah? Kau juga harus makan yang banyak agar otot-ototmu itu semakin kencang.” Ibu Hanna menuangkan sesendok nasi serta lauk pauk lagi di piring Kama.


Dasar ibu! Kelemahannya tidak bisa di puji. Lihat dia, jadi bertingkah manis seperti ini pada Kama. Batin Hanna yang sedikit menahan tawa di bibirnya.


“Terimakasih Bibi. Bagaimana jika nanti, Bibi aku bukakan usaha saja di sini?” Kama menawarkan diri.


“Bibi tidak punya uang banyak Kama,” Ucapnya terdengar lesuh.


“Kau tidak perlu khawatir Bi, aku akan memberimu modal.” Kama tersenyum ramah.


Mata Hanna terbelalak dan dengan cepat ia menelan makanannya, “Tuan! Kau ini mengatakan apa? Jangan! Kau tidak perlu lakukan itu pada kami.”


“Hanna benar. Lagipula, kami tidak bisa membayar hutangmu itu Kama.”


Jika diberi cuma-cuma mungkin itu lebih baik. Pikir ibu dalam hati.


Hanna mengangguk menyetujui perkataan ibunya.


Kama tertawa kecil, “Haha… Tenang saja Bi, aku tidak akan menganggapnya sebagai hutang dan kalian tidak perlu membayar apapun padaku.”


Mata dan senyum ibu kian melebar bahagia mendengar kalimat yang baru saja terucap dari mulut Kama, “Kau serius dengan perkataanmu nak?” Nadanya semakin lembut.


“Ibu…” Hanna mencubit pelan punggung tangan ibunya.


“Ya! Aku hanya ingin agar bakat Bibi ini berkembang. Berapa modal yang diperlukan?” Kama meraih ponselnya di dalam saku celana.


“Tuan, jangan!” Bisik Hanna.


Kama hanya tersenyum pada Hanna dan sibuk menggeser layar ponselnya, ia membuka mobile banking untuk melakukan transfer.


“Hanna berapa nomor rekeningmu?” Tanya nya.


“Kau tidak perlu lakukan itu!” Hanna masih mencoba untuk menolak.


“Hanna, kau ini kenapa? Tidak perlu menolak rejeki seperti itu!” Ujar ibu yang mengedipkan satu matanya pada Hanna.


“Bu, tapi---‘’


“Hanna, sebutkan saja berapa nomor rekeningmu?” Potong Kama.


“831675432 Tuan, atas nama Hannatasya.” Jawab Hanna.


“Baiklah, aku sudah transfer 100juta.” Kata Kama dengan nada santai.


“100 JUTA???” Hanna dan ibu tersentak.


Kama mengangguk dan melanjutkan makannya. Sementara, ibu Hanna seketika berubah menjadi sepuluh kali lipat lebih ramah pada Kama. Ia berkali-kali memberikan Kama beberapa potong ayam goreng bahkan, menuangkan minuman segar di gelasnya.


“Kama, kau baik sekali. Ternyata semua orang itu mengatakan hal yang salah tentangmu. Bibi jadi malu sudah memperlakukanmu tidak ramah seperti ini.” Ibu meremas-remas jarinya.


“Tidak apa-apa Bibi. Tapi, semua itu ada imbalannya.” Kama tersenyum miring.


Hanna menoleh begitu cepat ke arah Kama seraya menelan ludah pelan. Ia seakan-akan tahu pasti Tuan Kama akan meminta imbalan yang aneh.


Sudah kuduga, belas kasih Tuan Kama itu tidak cuma-cuma.Dia akan mengatakan apa pada ibu, haduh bagaimana ini?


“Jadi kau ingin apa Nak?” Tanya ibu masih terdengar tenang.


“Aku inginkan putrimu.” Sebut Kama berani.


Hanna terus menyimak dalam rasa waspada. Ia berdoa dalam hatinya agar Tuan Kama tidak mengatakan hal yang bukan-bukan seperti memintanya untuk tidur dengannya pada ibu.


“Ma –maksudmu?” Tanya ibu lagi.


Kama merapikan sendok di piringnya, tanda ia telah selesai dengan makanannya. Ia bergerak tenang, membersihkan tangan dan mulut dengan tisu dan menghela nafas sejenak. Itu membuat ibu dan Hanna memperhatikan gerak-geriknya seksama dengan rasa penasaran akan apa yang Kama katakan setelah ini.


“Baikah Bibi. Seperti yang kau katakan padaku, bahwa segala sesuatu tidak ada yang gratis.” Kama berhenti sejenak dan itu semakin membuat mata Hanna dan ibunya membolak menunggu dalam penasaran.


“Jadi, sebagai imbalan aku ingin kau memberi putrimu ini untukku.” Lanjut Kama seraya tersenyum genit pada Hanna.


“Kau ingin menikah dengan putriku ini?” Ibu menebak.


Kama tersenyum miring, “Bibi kau tahu? Aku dan Hanna sebenarnya sudah resmi menjadi kekasih. Jadi, kami sudah sering tinggal bersama dalam satu atap dan---“


“Apa katamu?! Kurang ajar! Kau sudah lakukan apa pada putriku, hah?!” Ibu Hanna dengan garangnya mendekati Kama dan memukul-mukul tubuhnya.


“Ibu jangan! Bu sudah cukup!...” Histeris Hanna sembari menghalangi ibunya yang memukuli Kama.


Ya Tuhan, habislah aku.


“Kau memang bukan pria yang baik! Kau sudah apakan putriku, hah?! Jawab!!!” Ibu terus memukuli sebelum akhirnya ia merasa lelah dan berhenti dengan napas yang terdengar penuh amarah.


Kama memegangi kepalanya yang sedikit terasa sakit, “Bibi kau galak sekali. Apa salahnya jika satu atap dan tidur bersama? Kami ini sepasang kekasih.” Kama masih terus menantang.


“Hei! Hentikan omong kosongmu itu atau kau akan aku pukul lagi!” Ancam ibu masih dengan napas yang terdengar lelah. Ya! Ia memukul Kama dengan penuh tenaga.


“Ibu sudahlah! Maafkan kami.” Hanna merengek memeluk ibunya.


Sang ibu mendorong Hanna sediki kuat dan juga tidak terlalu pelan, “Kau juga, apa kau sudah memberi dirimu ini padanya, Hanna?”


Hanna mengangguk dan menunduk. Ibunya langsung menjewernya dengan kuat tanpa ampunan.


“Dasar kau bodoh sekali!... Kau harusnya menjaga dirimu.” Omel ibu.


“Bibi sudahlah, jangan kasar begitu pada Hanna.” Sambung Kama pula.


Ibu Hannna membesarkan matanya menatap Kama, “Kau! Aku tahu kau memang tampan, berkuasa dan kaya raya. Tapi, kau tidak boleh merusak wanita semaumu!”


“Bibi aku tidak merusak putrimu. Tapi, itulah yang di sebut sepasang kekasih.” Suara Kama terdengar berani.


“Tidak!!!... Oh Tuhan, dunia memang sudah gila!...” Pekik ibu yang begitu frustasi menghadapi Kama dan Hanna. “Baiklah. Ibu memaafkan kalian. Tapi kau harus segera menikahi putriku ini!”


“Menikah???” Sontak Kama dan Hanna.