The Other Side Of Kama

The Other Side Of Kama
Tragedi resmi menjadi kekasih



“Lagipula, kau ini kenapa kak? Jangan melarangku untuk duduk di samping Hanna.” Celoteh Ardi.


Kama tersenyum miring, “Kau tahu, Hanna itu adalah milikku!” Tegas Kama.


Ardi mengerutkan kening, “Milikmu? Hanna saja tak punya kekasih.” Sanggahnya.


Hanna menelan paksa sisa daging dalam mulutnya, “Ardi, daging panggangmu enak sekali.” Katanya, mencoba untuk mengganti topik.


“Kapan dia mengatakan itu padamu?” Tanya Kama pada Ardi sambil menoleh ke arah Hanna.


“Tadi pagi. Sewaktu kami meminum kopi, Hanna bilang bahwa ia tak memiliki kekasih.” Jelas Ardi.


Kama menatap tajam Hanna, “Mulai sekarang Hanna adalah kekasihku!”


Jantung Hanna seketika berdetak kencang. Darahnya mengalir cepat dari telapak kaki hingga ubun-ubun, sampai membuat sekujur tubuhnya mendadak kaku dan dingin.


Apa maksudnya? Aku adalah kekasihnya. Batinnya sambil menundukkan kepala.


“Bagaimana bisa seperti itu kakak?” Ardi memasang wajah tak terima.


“Hanna,” Panggil Kama lembut.


Hanna tak berani menoleh ke arah Kama, ia terus menundukkan kepalanya menahan gejolak yang menggetarkan hati atas kalimat yang sudah di ucapkan oleh Kama.


“Hanna,” Panggil Kama kedua kali. Ia meraih wajah Hanna dan mengarahkan padanya.


“Mulai sekarang, kau bukan hanya milikku! Kau adalah kekasihku, Aku adalah kekasihmu!” Kama mengatakannya dekat pada bibir Hanna.


“Tu –tuan---“ Kalimat Hanna mendadak tertahan.


“Aku tidak main-main! Mungkin ini cinta atau sejenisnya, tapi persetan akan hal itu! Mulai sekarang kau adalah kekasihku dan ini adalah perintah!” Kama tersenyum mengintimidasi.


Ardi menelan ludahnya dan memilih untuk bangkit dari tempat ia duduki. Ardi menutupi rasa patah hatinya yang terdalam dengan mencoba untuk tersenyum.


Benar, keraguanku lebih besar dari perasaanku pada Hanna. Sekarang kakak sudah melangkah mendahului aku. Batin Ardi yang menahan perih.


“Tuan Kama, kau---“ Lagi-lagi kalimat Hanna terpotong.


“Aku tidak pernah main-main dalam ucapanku, kau tahu itu Hanna?!” Menatap penuh kharismatik. “Malam ini sudah menjadi peresmian bagimu, setelah semalam kita bercinta.” Katanya tanpa rasa malu seolah ingin memanasi Ardi.


Ardi melangkah mundur dan memilih menyibukan diri di samping ibu Jean yang terpaku mendengar perkataan putra angkatnya pada gadis cantik yang di bawanya ke New York.


“Tuan seharusnya tidak begini.” Bisik Hanna pelan.


“Kau ingin seperti apa? Kau ingin aku menyatakannya lebih kencang? Apa kau ingin Ardi dan ibu mendengar lebih jelas ucapanku?” Kama menyelipkan rambut Hanna ke telingannya.


“Bukan itu!” Bisik Hanna semakin kencang.


Apakah ini serius atau apa maksud dari semua ini?


Seolah mengetahui arti dan pikiran Hanna, Kama tersenyum tipis lalu menarik Hanna untuk bangkit. Ia menggenggam kedua tangan Hanna, “Hanna, aku nobatkan kau di hadapan ibu juga adikku, bahwa setelah apa yang kita lakukan semalam, mulai sekarang kau adalah kekasihku!” Kata Kama dengan suara lantang.


“Tuan Kama---“


“Ssst! Kau tahu ketika aku sudah mengkehendaki sesuatu maka semua harus terjadi, bukan?” Kama menatap tajam sambil menempelkan jari telunjuknya di mulut, memberi tanda bahwa Hanna tidak boleh mengucapkan apapun lagi.


“Um…” Hanna mengangguk paham.


Ini benar? Bukan mimpi? Aku harus apa sekarang, senang, bahagia atau takut? Ya Tuhan, aku menjadi kekasih pertama Tuan Kama, benarkah? Ah tidak! Tapi, aku bisa pastikan aku tidak akan hanya menjadi kekasihmu, aku harus bisa menggali dan mengubah sisi burukmu Tuan Kama.


“Baik. Jika Tuan Kama mengatakan kau adalah kekasihnya, maka artinya?” Tanya Kama.


“Aku adalah kekasihmu, Tuan.


Ya, aku adalah kekasihmu Kama.


“Jika, kau adalah kekasihku maka tandanya?” Tanya Kama lagi.


“Tandanya adalah…” Hanna tak mengerti akan melanjutkan apa.


“Tandanya adalah...“ Hanna berpikir keras untuk melanjutkan apa yang harus di ucapkan berikutnya.


Kama menggigit lebih kuat jari Hanna dan menatap penuh penantian.


“Tandanya adalah aku hanya akan boleh bersentuhan, bertegur sapa, pergi dan melakukan apa saja yang kau kehendaki.” Kata Hanna dengan nada cepat.


Apakah yang aku katakan barusan benar? Tidak juga! Sebelum resmi menjadi kekasihnya, aku memang sudah di kekang. Ahh, tidak! Pasti kalimatku salah.


Kama melepaskan jari Hanna dan mendekatkan wajahnya, “Tandanya adalah, selamanya kau akan terikat dengan rantaiku. Kau tidak akan pernah aku bebaskan!” Bisiknya dengan desahan nafas.


Hanna mengangguk pelan dan menelan ludahnya.


Mungkin suatu saat aku akan menikah dengannya.


“Ya, ya, ya! Sudah cukup kisah asmara ini. Ayolah kakak, di sini ada ibu.” Ardi menepuk-nepuk tangannya sambil tertawa.


Ibu Jean menghampiri Kama dan mengusap punggungnya, “Ibu senang kau akhirnya memiliki kekasih. Ingat, kau tidak boleh main perempuan lagi!”


“Iya ibu, aku sudah punya Hanna yang akan memenuhi segalanya.” Jawab Hanna sambil tersenyum tipis.


“Ya, Hanna akan memberikanmu segalanya.” Jean mengedipkan sebelah mata pada Hanna.


Gadis ini pula yang akan mengubah hidupmu, sayang. Batin Jean.


“Ibu, terimakasih.” Hanna menundukkan kepalanya sejenak.


“Kalau begitu, mari kita lanjutkan makannya!” Seru Ardi yang terlihat sangat jengkel akan apa yang ia saksikan.


“Maaf-maaf. Karena kami makannya jadi tertunda,” Ucap Hanna.


“Seharusnya kakakku ini menyatakan cinta dengan romantis bukan seperti tadi. Terlihat seperti sebuah tragedi pemaksaan!” Ledek Ardi.


“Hanna tidak menyukai hal yang manis seperti itu.” Sanggah Kama sambil menoleh ke arah Hanna.


“Sudah-sudah! Mari kita makan saja, sebelum akhirnya beristirahat.” Sambung sang ibu sambil kembali menawarkan daging panggang pada Hanna.


Hanna meraih sepotong daging itu dengan garpu, “Terimakasih ibu.”


“Ya, kau harus makan yang banyak karena sudah resmi menjadi kekasih putraku.’’ Canda ibu Jean.


“Ibu jangan katakan seperti itu, nanti kakak ipar akan menjadi malu.” Goda Ardi pula.


Hanna terpingkal melihat tingkah Ardi juga ibu Jean. Mereka semua kemudian duduk berdekatan, bercanda dan saling mengangkat gelas isi anggur untuk bersulang hingga satu jam lamanya.


“Kau ingat bukan, kau harus melukisku malam ini dengan hanya mengenakan lingeri?” Bisik Kama di telinga Hanna yang sibuk tertawa.


Hanna menghentikan tawanya dan raut wajahnya menjadi tegang, “Iya Tuan, kau tenang saja!”


“Aku sudah tidak sabar untuk itu. Bisa kita menyelesaikan semua ini lebih dulu?” Bisik Kama lagi.


“Tidak mungkin! Tidak enak dengan ibu.” Hanna menyatukan alisnya.


Kama bangkit berdiri dan membersihkan mulutnya dengan tisu, “Ibu aku dan Hanna ingin beristirahat lebih cepat.”


“Tuan kau---“ Hanna tersentak mendengar perkataan Kama.


“Silakan, pergilah ke kamar kalian dan nikmati tidur yang nyenyak.” Ibu mempersilakan.


“Baik bu, terimakasih untuk hidangan lezatnya. Hanna ayo,” Ajak Kama seperti tak sabar.


“Ibu, aku dan Kama pergi tidur terlebih dahulu, apa kau tidak keberatan?” Tanya Hanna yang merasa tak enak.


“Tenang saja sayang. Kau tidak perlu merasa tak enak. Silakan, pergilah.”


Ardi mengunyah geram sisa daging yang ada di hadapannya seperti orang yang kelaparan. Tentu saja, setelah patah hati ia pasti sedang membayangkan apa yang akan kakaknya lakukan malam ini bersama Hanna, yang telah gagal menjadi kekasihnya itu.