
Tangga pesawat yang dinaiki Zaya tengah tertutup bersamaan dengan Ann Marrie yang memecahkan konsentrasi Gorg, padahal hanya sedikit lagi saja pria perkasa itu mengarahkan pandangannya ke arah Zaya.
“Kau telah ditandai oleh pria dari klan serigala, berhati-hatilah” Ucap salah seorang pria tua saat Zaya dan Xande tiba di kediamannya diantara bebatuan di gurun pasir sektor Q.
Zaya semakin tidak mengerti dengan ucapan ketiga orang tersebut kepadanya, pertama Fin yang kedua adalah Xande dan sekarang tabib ini. Apa maksud dari perkataan mereka? Pikir Zaya.
Zaya merasa jika dirinya hanyalah seorang anak dari seorang selir, apa istimewanya hal tersebut? Mungkin jika dirinya dilahirkan sebagai seorang pria dari seorang bangsawan baru pantas mendapatkan predikat itu.
Sang tabib tua meminta Zaya untuk mengikat rambut panjangnya tinggi-tinggi, dia akan membuat sebuah tanda di tengkuk leher gadis itu. Hanya tanda inilah yang akan mempertemukan mereka berdua sekaligus menyelamatkan Zaya dari ancaman bangsa lainnya.
Hanya bangsa Sinth dan orang-orang dari bangsa Babilon yang tahu jika klan serigala masih ada hingga saat ini, meski tidak ada seorangpun dari mereka yang tahu keberadaan ras dengan gen luar biasa tersebut.
“Setidaknya dia membuat tanda bulan yang bagus di tengkuk mu” Kekeh Xande, dia menertawakan Zaya yang hampir saja menangis karena menahan rasa sakit ketika si tabib itu membuat tanda tersebut dengan alat khusus di tengkuknya.
“Sakit tahu…” Keluh Zaya, gadis itu harus melapisi kerah jaketnya dengan perban untuk sementara waktu hingga luka di belakang lehernya itu benar-benar sembuh.
Untung saja kerah leher jaketnya dibuat hingga menutupi lehernya, jika tidak dia akan merasa malu saat dirinya mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Apa bagusnya dengan gambar garis lingkaran berwarna merah itu pikir Zaya.
Xande membawa Zaya kembali ke pangkalan pesawat di sektor A, hari ini mereka bertugas untuk menggempur musuh di sektor Z dimana monster kaki delapan berada. Meski telah puluhan tahun mereka menggunakan Monster tersebut sebagai sasaran dalam latihan perang, tetapi keberadaannya malah semakin banyak dan bukannya punah.
“Apa kau sudah siap?” Xande menekan tombol-tombol untuk menyalakan kembali pesawat mereka.
Keduanya telah kembali menaiki pesawat setelah menikmati sarapan kesiangan mereka, dan baru kali ini Zaya memakan daging dari binatang yang bentuknya mirip dengan domba tersebut. Mungkin domba di planet ini memiliki tinggi yang hampir sama dengan kuda dan bulu yang hampir sama dengan domba di planetnya.
“Aku sudah mempersiapkan hari ini sejak lama” Zaya menjawab dengan penuh percaya diri.
Satu persatu pesawat jet tempur lepas landas dari landasan menuju sektor Z bergantian dengan pesawat yang sejak semalam telah menggempur mereka disana, meski tidak ada satupun korban jiwa tetapi pesawat yang mereka tumpangi sudah dalam keadaan yang sangat buruk.
Zat asam yang monster itu semburkan bisa membuat badan pesawat meleleh! Zaya harus memutar otaknya mencari cara untuk dapat terhindar dari semburan asam mahluk itu nantinya.
“Oke! Kita berangkat!” Lanjut gadis itu dengan semangat juang yang sangat tinggi.
Xande hanya bisa terkekeh melihat tingkah juniornya, Zaya telah mengingatkan pada dirinya yang dulu. Yang mempunyai semangat juang yang sangat tinggi tanpa mengenal rasa takut sedikitpun!
Tetapi setelah terjun langsung kedalam peperangan selama beberapa kali, Xande memutuskan untuk menjadi instruktur bagi para kadet baru alih-alih terjun kembali ke medan perang.
Sulit rasanya bagi dirinya untuk membunuh musuh padahal musuhnya itu memiliki energi yang baik, hanya karena keegoisan dan tirani para supreme leader yang gila akan kekuasaan lah mereka berakhir sebagai kesatria perang baik di udara maupun di daratan.
“Ingat Zaya, arahkan tembakan mu tepat di jantungnya, jika kau menembak kakinya dia akan tumbuh kembali dan jika kau membuat kepalanya lepas dari tubuhnya maka mereka akan memperbanyak dirinya” Xande memberikan kendali pesawat kepada Zaya, agar juniornya tersebut terbiasa untuk menerbangkan sekaligus menembaki musuhnya seorang diri.
Xande perhatikan Zaya ini adalah gadis yang cepat sekali belajar, baru kali ini dia mengajari seorang kadet yang bisa menjalankan perintahnya dengan sangat baik hanya dengan satu kali perintah dari ratusan kadet yang telah dia dampingi.
“Tembakan mu hampir tidak meleset Zaya, itu bagus sekali!” Puji Xande, lalu meminta Zaya untuk memperagakan manuver-manuver yang telah dia pelajari selama di stasiun luar angkasa pusat.
“Sekarang kita habisi mereka dari arah utara, gunakan manuver 3” Titah Xande
Zaya pun menarik tuas untuk membuat pesawatnya naik, dia tahu persis ketinggian yang aman agar terlepas dari semburan asam monster-monster itu lalu menukik tajam setelah berada di koordinat yang tepat sambil melepaskan tembakannya berkali-kali.
“Whoooo!!!” Kau hebat Zaya! Sepertinya aku akan merekomendasikan dirimu lebih cepat untuk terjun langsung di medan perang” Seru Xande.
“Jangan terburu-buru Xande! Aku masih belum siap!” Balas Zaya, lalu kembali melakukan manuver yang lain sambil menembaki monster-monster tersebut.
Jresss! Krak!
“Owh tidak! Sayap kanan terkena semburan asam!” Pekik Zaya, lalu menekan beberapa tombol untuk menstabilkan kembali pesawatnya.
“Jangan khawatir, kau masih bisa terbang bahkan tanpa sayap! Nyalakan mode siluman!” Titah Xande, dan Zaya pun segera melakukan perintah darinya.
“Xande! Mereka akan tersembur cairan asam! Mereka terlalu dekat!” Zaya berseru setelah dirinya mengaktifkan mode siluman pada pesawatnya dan tanpa sengaja melihat para kadet baru yang sudah berada terlalu depan di bawah sana.
“Lindungi mereka! Dan hubungi temanmu yang lainnya!” Kembali Xande memerintahkan Zaya, kali ini dirinya pun membantu gadis itu.
Tidak boleh ada korban jatuh saat latihan, bisa-bisa para instruktur akan kena getahnya pikir Xande.
“Perhatian phoenix 10, 11, 3, 6 dan 8! Lindungi para kadet di bawah!” Seru Zaya melalui alat komunikasi di pesawatnya.
“Copy phoenix 1, kami akan menembak sesuai dengan instruksi dari mu” Jawab mereka saling bersautan.
“Perhatian komandan pasukan panther! Tarik mundur pasukan mu! Aku ulangi tarik mundur pasukan mu! Kami akan menembak!” Kali ini Xande yang memberikan perintahnya kepada pemimpin pasukan daratan.
Siuttt….Siuuuttt…Siuuuttt!!!!
Serangan laser pun secara bertubi-tubi menerjang monster-monster tersebut, setelah komandan pasukan panther menarik mundur pasukannya hingga mahluk berkaki delapan itu masuk kembali ke sarangnya.
Latihan kali ini menuai konflik meski keberhasilan telah mereka raih, Xande tidak percaya jika komandan pasukan phanter hampir saja membuat para kadet itu tewas ditangan monster-monster tersebut.
“Apa kamu gila hah! Kau hampir saja membunuh mereka brengsek!” Xander menerjang sang komandan seketika dia keluar dari dalam pesawatnya.
“Diam kalian semua!”