The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 12



Xande menganggukkan kepalanya saat berpapasan dengan panglima Gorg, dia tidak bisa melakukan penghormatan seperti biasanya kepada atasannya itu karena sedang memapah tubuh Zaya.


Keringat bercucuran di kening Zaya karena menahan sakit yang luar biasa di bahunya, baru pertama kali ini tubuhnya terkena luka separah itu. Hingga tiba-tiba gadis itu kehilangan kesadarannya tepat disaat Gorg meminta keduanya untuk menghentikan langkahnya.


“Tunggu!”


“Demi roh agung! Zaya..!” Pekik Xande sambil menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh ke lantai.


Entah dorongan darimana yang membuat Gorg segera menghampiri Zaya dan meraih tubuhnya serta mengangkatnya lalu membawanya ke ruangan pengobatan, dan ini baru pertama kalinya di lakukan oleh pria yang terkenal penyendiri tersebut.


Xande terpaku melihat aksi panglima nya itu, lalu segera menyusul mereka setelah tabib Dhar menyadarkan lamunannya dengan memanggil namanya.


“Perwira…Xande!” Dhar harus membaca papan nama wanita tersebut sebelum dia menyebutkan namanya, dan meminta wanita itu untuk segera mengusul panglima serta gadis tersebut.


Sontak saja keadaan di ruang pengobatan tersebut menjadi ricuh karena tiba-tiba kedatangan seorang panglima tinggi yang membopong tubuh seorang kadet wanita yang dalam keadaan tidak sadarkan diri.


“Cepat tolong dia!” Titah Gorg dengan suara beratnya.


Tidak ada seorang pun yang berani meminta pria gagah tersebut untuk meninggalkan ruangan itu sementara tim medis menolong Zaya, bahkan Dhar dan Xande hanya bisa berdiri di ambang pintu dan melihat panglima tingginya disana tidak melepaskan pandangannya dari gadis itu.


“Katakan padaku” Titah Dhar sambil mengulurkan tangannya kepada Xande.


Gorg sempat melihat aksi Dhar yang memegangi tangan wanita yang tadi bersama dengan gadis yang ada dihadapannya ini dengan sudut matanya, tetapi memandangi wajah gadis ini lebih menenangkan dirinya ketimbang melihat tingkah keduanya.


Entah mengapa Gorg pun enggan meninggalkan gadis yang masih tidak sadarkan diri tersebut, ada sesuatu yang membuatnya tertarik tapi dia pun lupa apa itu.


“Bau ini…” Batin Gorg, dan perlahan menarik nafasnya dalam.


Gorg mengenali bau pheromones yang diciumnya, tetapi entah mengapa ada hal lain yang membuat dirinya menyangsikan penciumannya sendiri. Ingin rasanya dia menghirup bau rambut gadis tersebut dan menyamakan baunya dengan bandul yang dikenakannya, tetapi dia harus menyimpan keinginannya itu untuk sementara waktu karena khawatir akan penilaian orang-orang yang memenuhi ruangan tersebut.


Hanya Dhar yang menjadi kunci bagi Gorg untuk mengetahui identitas gadis ini, dan mengapa dirinya merasa begitu tertarik kepadanya.


“Panglima, sebaiknya kita kembali dan biarkan gadis itu untuk beristirahat” Pinta Dhar sambil memberikan isyarat dengan jemari tangannya.


Saking lamanya Gorg berada di lingkungan suku Sinth sampai-sampai dia hafal dengan bahasa isyarat tangan mereka, Dhar tengah berusaha untuk memberitahunya bahwa ada sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan dengannya saat ini juga.


“Hormat panglima, saya Xande dari kesatriaan phoenix pendamping Zaya” Ucap wanita berkulit pucat itu sambil menyilangkan tangan kanannya di dada lalu membungkuk.


“Aku terima penghormatan mu perwira 3, segera melapor setelah gadis itu siuman kepadaku” Gorg menganggukkan kepalanya, lalu meninggalkan Xande disana.


“Kenapa aku harus melapor kepada panglima?” Batin Xande, Zaya hanya seorang kadet pikirnya. Hanya kepada dirinya saja Zaya melapor dan itu sudah cukup.


“Sejak kapan seorang panglima tinggi tertarik dengan urusan kecil seperti ini?” Xande masih tidak percaya dengan apa yang diperintahkan oleh Gorg kepadanya.


“Apa yang kamu ketahui Dhar?” Tanpa ingin menunda lagi Gorg langsung bertanya kepada tabib kepercayaannya tersebut, terlebih tadi dia sempat melihatnya tengah menyentuh tangan wanita berkulit pucat itu.


“Tapi?” Gorg kembali bertanya, karena dirinya tahu jika sahabatnya ini belum sepenuhnya berbicara.


“Belum saatnya kau mendekati gadis itu, ini demi kebaikan banyak pihak” Balas Dhar.


Gambaran yang dia lihat saat menyentuh tangan wanita dari suku babilon tersebut cukup untuk membuat dirinya menahan keinginan Gorg untuk memiliki gadis itu saat ini, meski penciuman Gorg masih terhalang tetapi naluri serigala pria tersebut sudah bisa terlihat dari tingkahnya tadi.


Meski sekilas, Dhar bisa melihat saat Gorg meng-imprint gadis tersebut dengan tatapan tajamnya. Bahkan jika semua orang meninggalkan ruangan tersebut sudah pasti pria gagah berambut panjang ini langsung mencari tanda di tengkuknya lalu mengigit dan menjilat darahnya.


Gorg menghela nafasnya kasar sambil meremas rambutnya yang dibiarkan terurai, dia tahu pilihannya saat ini begitu berat. Disisi lain dia harus melindungi ketiga suku yang saat ini hidup dengan harmonis di suatu tempat di kedalaman, tetapi disisi lain dia tidak bisa menahan nalurinya sebagai pria dari klan serigala.


“Berikan aku pilihan Dhar” Geram pria tinggi besar tersebut, tanpa melihat ke arahnya.


“Dia aman karena dikelilingi kaum Sinth dan babilon, kau hanya harus memastikan gadis itu tidak kembali ke planet nya hingga keadaan memungkinkan untuk kalian berdua bersatu dan membawanya ke sana” Dhar berjalan mendekati Gorg dan berdiri dibelakangnya.


“Ada apa disana Dhar?”


“Bahkan seorang supreme leader akan tertarik dengan kecantikan dan kepintaran gadis itu Gorg, apalagi jika mereka tahu jika Zaya adalah gadis yang terpilih…Mereka akan memanfaatkan gadis itu untuk menemukan keberadaan kalian, itulah kenapa ayahku memberikan tanda berkekuatan tinggi kepadanya” Dhar menyentuh bahu Gorg untuk memberikan gambaran langsung kepada sahabatnya itu.


“Demi roh agung! Itu tidak boleh terjadi…” Gorg memegangi dadanya dengan nafas yang memburu, gambaran yang dilihatnya begitu sangat mengerikan.


“Zaya….Zaya…Kau bermimpi Zaya…” Xande menggoyangkan tubuh Zaya agar gadis itu terbangun dari tidurnya, pasalnya Zaya mengigau dalam tidurnya. Sepertinya Zaya tengah bermimpi buruk.


Zaya membuka matanya perlahan dan mengedarkan pandangannya, lalu menatap Xande lekat setelah netra mereka bertemu dan bertanya kepadanya.


“Apa yang terjadi Xande?”


“Kau pingsan tadi Zaya, untung saja panglima tinggi Gorg menolong mu” Jawab wanita itu sambil memeriksa bahu kadet sekaligus temannya ini. Kemungkinan terjadinya pendarahan serta infeksi di bahu Zaya masih tinggi, karena selain zat asam itu telah membuat kulit Zaya melepuh juga telah meracuni tubuhnya.


Untung saja tim medis dengan sigap menangani Zaya dengan memasukan gadis tersebut kedalam kapsul untuk menetralisir racunnya dan mempercepat pertumbuhan sel di sekitar lukanya, jika tidak sudah bisa dipastikan kondisi Zaya saat itu mungkin tidak akan tertolong.


“Panglima tinggi Gorg?? Demi roh agung! Aku telah lancang!” Zaya berniat untuk beranjak dari duduknya, tetapi ditahan oleh Xande.


“Tenang Zaya, saat itu memang yang mulia sedang berada disana dan aku sudah terlalu lelah untuk membopongmu” Kilah Xande.


Xande berada di atas sumpah Dhar saat ini, dia mendapat perintah dari tabib berkulit biru itu untuk melindungi Zaya dan tidak mengatakan hal yang sesungguhnya kepadanya.


“Aku harus berterimakasih kepadanya Xande..”


“Aku sudah melakukannya untukmu, lagipula sorang kadet sepertimu mana mungkin bisa mendapatkan ijin untuk bertemu dengannya secara langsung…Kau harus menjadi perwira level 3 baru bisa bebas bertemu dengannya”


“Oia??” Zaya tersenyum