
“Buka mata kalian…” Suara berat Gorg mengejutkan sebagian pasukan perompak yang berkumpul di satu tempat sambil berpelukan satu sama lain, mereka tetap memejamkan matanya meskipun suara gemuruh yang mereka dengar sebelumnya sudah senyap.
Mereka berpikir jika saat ini mereka telah berada di Valhala dan siap disambut oleh para bidadari disana.
“Panglima Gorg?? Apa kau juga telah mati bersama dengan kami? Atau jangan-jangan kau adalah panglima dewa perang??” Seorang pria berkacamata bulat tebal mengelap kaca dimatanya berkali-kali, mencoba meyakinkan dirinya tentang siapa pria besar yang berdiri tegak dihadapannya. Hingga menghalangi pancaran sinar matahari dibelakangnya.
“Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni kekonyolan kalian, berdiri kalian semua!” Gorg memutar tubuhnya, lalu meninggalkan sekelompok orang konyol itu disana, dan meminta kepada salah seorang anggota pasukannya untuk menggiring mereka agar bergabung dengan pasukan revolusi lainnya.
“Mereka benar-benar ada!” Melihat ke arah klan serigala yang sedang menuruni tunggangannya dan pesawat-pesawat pengangkut barang.
“Demi roh agung mereka sangat besar!” Melihat ke arah hewan-hewan yang mengelilingi sektor.
“Apakah mereka klan serigala yang legendaris itu?” Memandangi seluruh anggota klan
“Lihat serigala-serigala itu! Mereka terlihat sangat menyeramkan!” Membalas tatapan mata serigala yang mengarah kepada mereka.
“Demi dewa perang! Kenapa mulut cacing-cacing raksasa itu tetap terbuka?!!” Melihat sekilas ke arah cacing-cacing yang tetap memunculkan kepalanya.
“Apakah itu yang disebut dengan naga??” Menatap langit dengan mata yang menyipit, dan melihat naga-naga yang masih berterbangan.
“Mengapa mahluk-mahluk itu mirip dengan orang dari bangsa mars? Tetapi dengan banyak bulu ditubuhnya??” Menatap segerombolan kong yang sedang berdiri dengan kedua tangan tetap didepannya.
“Aku ingin tahu, seberapa besar ukuran….” Melihat ke bagian bawah semua hewan.
PLETAK!
“Tutup mulutmu brengsek!”
Sementara Drax sedang memberikan arahan kepada sebagian anggota revolusi dan para anggota perompak, Gorg serta Zaya tengah berbicara dengan Dhar dan Hira setelah sebagian anggota revolusi kembali mengangkasa dan seluruh anggota Klan dan bangsa Sinth tengah berbenah.
Zaya menyerahkan kotak berukuran sedang berisi kristal biru dan sebuah kantung yang terbuat dari kulit grout kepada Dhar, ketika Gorg sedang berbicara dengan keduanya.
“Kita tidak bisa berada dalam satu tempat yang berbeda di waktu yang sama, hanya mereka yang bisa membantu kita untuk menyelamatkan planet Mars dari kehancuran yang dibuat oleh The One” Gorg menepuk kedua bahu Dhar, guna memberikan sedikit dorongan kepada sahabat birunya itu. Perjalanan yang akan ditempuhnya bersama dengan Hira akan sangat berbahaya bagi keduanya, meski disana telah menunggu sekelompok orang yang akan membantu mereka.
Ancaman dari pendukung The One pun akan menambah level kesulitan mereka dalam beraksi nantinya, apalagi dengan kehadiran pasukan black horn disana.
“Aku akan mengemban tugas ini sebaik mungkin Gorg” Dhar menganggukkan kepalanya lalu memeluk sahabat besarnya itu, diapun meraih tangan Hira dan mengajaknya untuk segera menuju pesawatnya setelah dia melepaskan pelukannya.
Tak jauh dari mereka telah menuggu Khan beserta istrinya Seren juga Xi, mereka memeluk anak-anak mereka sebelum keduanya menaiki pesawat dan terbang menuju planet Mars untuk menyelesaikan satu tugas yang sangat berbahaya yang diberikan oleh Gorg.
Se sang serigala pun tak mau ketinggalan, dia yang tadinya sudah akan mendahului sang majikan untuk menaiki pesawat dihentikan langkahnya oleh Hira. Gadis itu memintanya untuk tinggal disana bersama dengan keluarganya, karena tidak mungkin dia akan ikut ke planet mars tanpa langsung ketahuan.
“Tunggu aku disini kawan, aku akan kembali untukmu…” Ucap Hira sambil mendekatkan keningnya dengan kening mahluk besar dan berbulu itu.
Di markas pengikut The One, para supreme leader tengah geram karena kekalahan demi kekalahan yang telah mereka alami. The one semakin menekan mereka untuk segera memusnahkan kaum revolusi dengan menggunakan cara apapun! Saat ini di planet mars bahkan telah terjadi perbudakan, mereka sedang membuat banyak senjata untuk mengalahkan musuh.
“Kita semakin kekurangan budak untuk segera menyelesaikan senjata-senjata itu yang mulia” Salah satu perwira tinggi tengah menghadap para supreme leader, dia bahkan mengusulkan untuk menggunakan tenaga dari para selir buangan yang menempati beberapa wilayah di gurun pasir.
Untung saja Melinda sudah tidak lagi tinggal disana, Damian telah meminta kepada wanita itu untuk segera kembali ke kediamannya sebelum peraturan itu diberlakukan. Itu terjadi sehari setelah dia membawa selir tercintanya itu kembali.
“Aku jamin kau tidak akan tersentuh oleh wanita-wanita itu” Jawab Damian ketika melinda mempertanyakan nasibnya jika dia sampai harus kembali ke rumah besar tersebut.
Sesaat setelah kunjungan Zaya serta Gorg beberapa waktu yang lalu, Damian kembali ke rumah besarnya. Disana dia mendisiplinkan semua istri-istrinya dan melepaskan selir-selirnya yang belum memiliki anak, agar mereka dapat melanjutkan hidupnya kembali. Tentunya dengan jaminan sejumlah uang untuk kehidupan mereka sebelum mereka diambil oleh para pria.
Awalnya para istri Damian merasa keberatan dengan peraturan baru yang dia terapkan disana, apalagi dengan kabar bahwa pria itu akan membawa kembali Melinda ke sana. Tetapi ancaman Damian lebih mengerikan jika mereka sampai menolak aturan baru yang diberlakukan pria tersebut.
Dalam aturannya Damian mengharuskan para istri untuk menutup mulut mereka rapat-rapat tentang kehidupan pribadi suaminya dari siapapun, mereka bahkan dipasangi alat pada bandul kalung yang mereka gunakan yang memungkinkan Damian untuk mengetahui kemana mereka pergi, dengan siapa mereka berbicara dan apa saja yang mereka bicarakan. Dan bukan hanya itu saja, ada banyak aturan baru yang membuat mereka mau tidak mau mentaati nya karena jika tidak mereka terancam akan terusir dari rumah besar tersebut tanpa jaminan apapun untuk keberlangsungan hidup mereka dan anak-anaknya.
Melinda menempati ruangan Damian, atas permintaan khusus dari pria itu. Meski pada awalnya dia sempat menolaknya, tetapi setelah menyadari kondisi yang sekarang terjadi di rumah itu Melinda pun akhirnya menyetujuinya.
Wanita itu baru menerima kabar akan wajib bekerja untuk para selir buangan setelah dia kembali bersama Damian.
“Demi roh agung…Apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini?” Ucap Melinda lirih, wanita itu menyambut kepulangan Damian dari aktivitas bekerjanya di ruangan pribadinya. Damian tidak mengijinkan Melinda untuk keluar dari ruangannya sebelum dia pulang.
“Saat ini dewan pemerintahan telah diambil alih kekuasaannya oleh para supreme leader secara langsung, kami dewan parlemen hanya bisa mengikuti aturan itu Melinda…Sekarang kau mengerti kan apa yang aku maksudkan?” Damian memeluk wanita itu erat, untung saja bujukannya berhasil, jika tidak dia tidak tahu bagaimana nasib Melinda saat ini.