
Sepuluh bulan berlalu semenjak mereka berkunjung ke kediaman kedua orangtua Zaya, Kini saatnya gadis itu melahirkan bayi pertama dirinya dan Gorg.
“Bagaimana kondisinya?” Gorg kembali bertanya kepada Seren, entah ke berapa kalinya pria besar itu menanyakan hal tersebut kepada sang ibu, dan jawabannya pun masih tetap sama.
“Mereka berdua akan baik-baik saja”
Zaya harus dibawa ke colloseum di kedalaman planet, tempat dimana kedua bangsa kuno itu tinggal. Dia harus mendapatkan bantuan dari Eden dan rekan-rekannya saat melahirkan bayi pertama mereka, karena di permukaan tidak ada seorang pun yang bisa menahan kekuatan yang hadir bersama dengan bayi mungil tersebut.
“Gorg, Eden memanggilmu…” Tak lama setelah Seren kembali ke ruangan dimana Zaya berada saat ini, wanita itu kembali untuk memanggil sang anak atas permintaan dari Eden. Secepat kilat anak sulung besarnya itu menghampiri sang ibu dan ikut bersamanya ke dalam ruangan tersebut.
Gorg bisa melihat Zaya yang sedang terbaring tak sadarkan diri dari balik jendela kaca besar disana, di sekujur tubuh istri tercintanya terpasang beberapa alat yang terhubung dengan sebuah benda dimana sebongkah energi biru berada.
Padahal beberapa saat sebelumnya planet Neuro hampir saja dilanda hujan serta badai saat Zaya berteriak merasakan sakit di perutnya, Gorg bahkan sempat panik begitu dirinya melihat seluruh pembuluh darah besar istri tercintanya mengeluarkan cahaya terang kebiruan. Mirip dengan cahaya yang dipancarkan oleh energi biru di Colloseum.
“Aku di sini Zaya…” Batin Gorg.
Tak lama kemudian tiga orang berkebangsaan Omarath mendekati Zaya, salah satunya merupakan Eden. Wanita itu mengangkat tangannya ke udara setelah dua orang tadi membedah perut Zaya, tak lama kemudian sesosok bayi mungil yang masih ada didalam selaput ketubannya melayang dan hinggap di pangkuan Eden.
Secepat mungkin kedua wanita di samping Eden membantu wanita itu untuk menaruh bayi tersebut kedalam sebuah tabung, lalu menutupnya. Bayi mungil itu akan tetap berada di dalam tabung itu setidaknya hingga tiga hari ke depan, agar dia dapat menyerap seluruh cairan di dalam kantung tersebut hingga habis.
Ini merupakan kali pertama bagi Gorg maupun Seren menyaksikan proses kelahiran dengan cara seperti itu, apalagi dengan lahirnya seorang bayi yang masih berada dalam kantung ketuban ibu nya.
Perlahan Zaya membuka matanya, dilihatnya Gorg tengah berdiri di samping Seren yang duduk di samping ranjangnya.
“Hallo sayang, selamat datang kembali” Ucap Seren sambil mengelus tangan Zaya. “Khaii masih membutuhkan perawatan khusus, dia aman” lanjutnya, saat menyadari sang menantu tengah mencari keberadaan bayinya dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
“Khaii?” Zaya mengerutkan kedua alisnya, lalu menatap Gorg yang tersenyum padanya.
“Bayi kita laki-laki sayang, aku dan ibu sepakat untuk memberinya nama Khaii…Kau suka?”
Zaya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, lalu menutup matanya ketika Gorg mendaratkan ciuman di keningnya.
Tiga hari kemudian, Eden mengunjungi Zaya di ruangannya dengan membawa Khaii di pangkuannya. Sesosok bayi yang tampan, memiliki hidung mancung, bola mata abu kebiruan dengan rambut halus berwarna putih perak serta bibir mungil dan telinga lancip mirip telinga Eden.
“Kau sudah siap untuk menyusuinya?” Eden menyerahkan Khaii ke pangkuan Zaya, gadis itupun mengangguk lalu membuka kancing bajunya dan mulai menyusui bayi mungil lucu tersebut.
Zaya sempat terhenyak saat pertama kali Khaii menyedot ASI nya, bayi mungil itu dengan rakus menyesap sumber makanannya hingga membuat Zaya merasakan linu disekitar dadanya. Untungnya Gorg tetap menemani dirinya kala itu, sang suami membantunya dengan mengelus sumber makanan Khaii untuk meredakan rasa sakitnya disana sementara Seren tengah berbicara dengan Eden.
“Tanamkanlah nilai-nilai luhur dari bangsa kalian kepadanya”
Eden pun meninggalkan Seren beserta keluarga kecilnya, mereka akan kembali secepatnya ke permukaan meninggalkan Colloseum dan baru akan kembali setelah anak tersebut berusia 10 tahun sesuai dengan permintaannya.
10 tahun bukanlah waktu yang lama bagi bangsa Omarath untuk mempersiapkan sesuatu bagi Khaii, anak itu merupakan satu-satu nya benih yang terlahir dari hasil ekperimen yang mereka lakukan seratus tahun yang lalu saat ini.
.
.
Seruan-seruan selamat datang ala klan serigala serta bangsa Sinth menggema di seluruh wilayah kekuasaan klan tersebut saat menyambut kedatangan cucu pertama pemimpin tertinggi mereka Khan.
“Kita akan berpesta selama tiga hari tiga malam untuk merayakan kelahiran Khaii cucu ku!” Seru Khan, disusul dengan semakin riuhnya suara mereka saat mengelukan Khan serta dewa-dewa mereka.
Kabar tentang kelahiran Khaii anak dari Gorg dan Zaya telah sampai di telinga Dhar dan Hira, keduanya saat ini tengah berada di satu planet bersuhu dingin yang selalu diselimuti oleh salju. Mereka bersama dengan Fin dan Bessara tengah menemui seorang kepala suku dari bangsa Hudh bernama Yasech.
Yasech memiliki usia yang sama dengan Zaya, dia merupakan anak dari seorang ibu yang terlahir dari benih yang ditanamkan oleh bangsa Amarath 100 tahun yang lalu. Di usianya yang masih tergolong muda dia harus menggantikan posisi sang ayah sebagai kepala suku, tak lama setelah kematian ayahnya saat berperang.
Hira menceritakan maksud kedatangannya kesana, meski pada awalnya kedatangan mereka dianggap musuh oleh pemuda tampan tersebut.
“Sudah berapa banyak anak-anak yang berhasil kalian temukan?” Yasech mempersilahkan para tamunya untuk menikmati sajian minuman hangat di hadapannya.
“Sejauh ini kami baru menemukan 100 orang, dan baru satu orang yang berhasil melahirkan penerus genetik langka ini…Dia adalah saudara iparku Zaya” Hira menerima cangkir kayu berisi minuman hangat khas bangsa itu dari salah seroang pelayan disana.
“Rata-rata dari kalian belum menikah, atau sudah menikah tetapi tidak bisa memiliki keturunan” Lanjutnya.
“The One ini, apakah dia masih hidup hingga saat ini?” Yasech menghela nafasnya panjang, setelah mendengarkan cerita tentang mahluk mengerikan itu entah kenapa dirinya merasa tidak nyaman.
Yasech sangat menentang ketidak adilan dan kekejaman dari seorang pemimpin, dan apabila apa yang dikatakan oleh para tamu yang duduk di hadapannya ini benar, bisa jadi saat ini musuh yang sedang di hadapinya merupakan salah satu pengikut setia mahluk itu.
“Untuk sementara ini dia masih terkurung di sebuah pulau terisolasi di planet kami, tetapi itu tidak menjadi jaminan jika suatu hari entah pengikutnya atau bahkan dirinya sendiri dapat melepaskan diri dari sana” Dhar mewakili Hira untuk menjawab keingintahuan Yasech, dan apa yang pria biru itu katakan memang benat adanya.
Dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini saja dirinya sudah menerima dua laporan dari pesawat induk milik bangsa Babilon yang tetap terbang mengelilingi orbit Neuro, bahwa mereka telah menghalau beberapa pesawat pengangkut asing yang berusaha untuk memasuki lapisan udara planet tersebut.