The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 36



Dhar memasuki ruangan pribadi Gorg, pria berkulit biru tersebut menjemput sang panglima tinggi untuk menemui seseorang sebelum esok lusa proses pengadilan dimulai.


Keduanya harus kembali ke planet Mars untuk memenuhi panggilan sidang, tetapi sebelum hari yang ditentukan Gorg memutuskan untuk menuruti keinginan Dhar untuk menemui  panglima perang bangsa Hork di planet Beta. Sabath merupakan teman masa kecil Dhar, dia terkenal dengan kepiawaiannya dalam memenangkan serta memecahkan sebuah kasus sesulit apapun itu.


“Ingat, saat bertemu dengannya jangan pernah melihat kepalanya” Pinta Dhar ketika dirinya menerbangkan Shinok miliknya menuju planet Beta.


Gorg hanya menghela nafasnya kasar tanpa memberikan tanggapan maupun pertanyaan kepada Dhar, dia sudah mulai tahu jika teman-teman dari mahluk biru dihadapannya ini memang aneh-aneh. Pernah satu waktu dia mengajak Gorg pergi ke sebuah kedai, kebetulan disana mereka bertemu dengan salah satu temannya. Gorg hampir saja menyemburkan minumannya saat dia melihat penampilan Hu, dia memiliki banyak mata di wajah dan kepalanya! Gorg tidak tahu mata yang mana yang harus dia lihat, ujung-ujungnya dia lebih banyak melemparkan pandangannya ke arah lain ketika mereka sedang berbincang.


“Teman mu itu sangat tidak sopan karena tidak mau melihat wajahku saat berbicara denganku” Ucap Hu dengan bahasa Sohx kepada Dhar, tetapi dengan cepat Gorg menjawabnya hingga membuat Hu malu dan memutuskan untuk meninggalkan mereka di kedai itu.


Tiba di planet Beta keduanya langsung menemui Sabath di kediamannya , benar saja tebakan Gorg pasti kali ini dia akan menemui salah satu temannya yang aneh lagi. Bangsa Hork memiliki bentuk kepala yang lonjong dan tinggi, tidak bulat seperti Gorg maupun Dhar. Gorg hampir saja menyebut kata tanduk saat pertama kali dia melihat Sabath yang menyambut kedatangannya di rumahnya.


“Selamat datang di kediamanku” Sabath menganggukkan kepalanya pelan, lalu mempersilahkan kedua tamunya untuk memasuki kediamannya.


Kita tinggalkan Gorg dan Dhar serta Sabath berbincang bersama, dan kembali pada Zaya yang tengah asik bermain dengan teman-teman bersayap nya di pinggir danau.


Hira meninggalkan Zaya bersama dengan keluarga naga dan kembali ke kediamannya untuk memberitahukan hal yang luar biasa tersebut kepada kedua orang tuanya.


“Apa katamu?! Mother Dragon?” Seren berusaha untuk menerima ucapan anak gadisnya, dia kembali dengan terburu-buru dan membawa berita yang hampir saja tidak bisa dicerna oleh otaknya.


Hira mengatakan jika Zaya saat ini tengah berada di sarang Naga, dan luar biasanya lagi gadis itu telah mendapatkan kepercayaan dari Mother Dragon.


Ingin membuktikan secara langsung ucapan Hira, akhirnya Seren dan Khan memutuskan untuk melihat secara langsung interaksi mereka disana.


“Demi roh agung!” Ucap Khan dan Seren hampir bersamaan, saat keduanya melihat Zaya yang sedang meminta tolong kepada naga besar itu untuk menyalakan api karena dirinya bermaksud untuk membakar ikan untuk makan siangnya.


“Bagaimana dengan Ra?” Seren bertanya tanpa melepaskan pandangannya dari Zaya.


“Sepertinya Ra sedang cemburu saat ini” Jawab Hira, terakhir kali dia melihat serigala putih itu ketika mahluk tersebut kedapatan mengintip Zaya dari kejauhan lalu pergi.


“Maksudmu?” Khan mengerutkan keningnya, lagi-lagi anak gadisnya itu mengucapkan kata-kata yang tidak dimengerti olehnya.


“Kau akan mengetahuinya nanti ayah” Hira mengajak kedua orang tuanya untuk pulang, dan menunggu kedatangan Zaya bersama dengan serigala putih itu dirumahnya. Gadis itu sangat yakin jika Zaya akan berhasil membawa pulang Ra kali ini.


Saat tengah asik Zaya menyantap ikat Trout bakar super besar hasil tangkapannya, tiba-tiba saja dirinya teringat akan serigala putih yang cantik itu. Zaya kembali mengambil tombak kayu untuk menangkap kembali ikat buas tersebut dan bermaksud akan memberikannya kepada Ra dan teman-temannya, karena tidak mungkin mahluk cantik itu akan menghabiskannya seorang diri.


Awalnya Zaya akan menggeret ikan besar itu, karena tinggi badannya yang kecil akan membuat ikat tersebut menjuntai ketika dirinya mengangkat monster tersebut di pundaknya. Tetapi dua ekor anak naga tiba-tiba datang dan membantu Zaya untuk membawakan ikan hasil tangkapannya itu dan terbang mengikuti Zaya ke depan mulut Goa lalu meletakkannya disana.


“Terimakasih teman-teman!” Seru Zaya saat keduanya terbang kembali dan meninggalkannya disana.


“Ra, aku tahu kau disana…Keluarlah, aku membawakan ikan ini untukmu” Zaya menepuk ikan super besar tersebut, sekaligus untuk menarik perhatian para penghuni goa.


“Kau tahu, aku tidak ada waktu untuk melayani sikap kekanakkanmu Ra…Aku akan pergi, makanlah! Sepertinya memang benar, para naga itu lebih mudah menerimaku sebagai temannya dari pada kamu” Cicit Zaya, lalu memutar tubuhnya bermaksud untuk meninggalkan tempat itu.


“Owh..Aku tidak merasakan kehadiranmu” Ucap Zaya berusaha untuk tetap santai, padahal mahluk besar itu tengah bersiap untuk menerkamnya.


“Mungkin sebaiknya aku pergi dan meninggalkan ikan itu disini”


Gggrrrrrrr…!


Zaya mendengar geraman Ra yang telah bersiap untuk melawan serigala besar tersebut, kini posisi gadis itu ada diantara keduanya. Zaya menatap keduanya saling bergantian, satu gerakan saja akan membuat keduanya saling menyerang.


“Wow…wow…Tenanglah Ra”


Tetapi percuma saja, karena keduanya tetap melancarkan aksinya. Baik Ra maupun serigala besar disamping Zaya tidak mau mengalah. Keduanya saling menerjang dan menggigit, lalu menyalak dan kembali menerjang satu sama lain hingga berguling-guling.


Tidak ada pilihan lain bagi Zaya saat ini selain melolong, dia telah melihat aksi Gorg ketika melolong kemarin dan berhasil membuat semua hewan mengalihkan perhatiannya. Jadi kenapa tidak kita coba saja pikir gadis itu.


“Aaauuuuuuuuuuuuu!!!!…Uhuk…Uhuk…”


“Sial!” Umpat Zaya, gadis itu hampir saja bisa meloloskan lolongannya dari tenggorokannya. Tetapi dia merasa sesuatu telah menghalangi alur pita suaranya, gadis itupun mencoba untuk mengulangnya. Zaya menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan, lalu melakukannya lagi hingga degup jantungnya kembali normal dan semua ketegangan menghilang.


“Aaaaauuuuuuuuuu!!!”


“Aaaauuuuuuuuuuu!!!”


Seketika perkelahiannya terhenti, Ra terlihat mengucurkan darah dari beberapa bagian tubuhnya begitupun serigala besar itu. Tetapi sayangnya semakin banyak serigala yang keluar dari dalam goa tersebut, dan sayangnya lagi merekapun berdiri dibelakang serigala besar tersebut lalu menggeram.


GGgggrrrrr!!!


“Ra! Kau terluka!” Pekik Zaya, lalu bergegas mendekati serigala putih tersebut dan memeluknya.


GGggrrrrr….!!!


Zaya geram melihat luka pada tubuh serigala kesayangannya, perkelahian sengit tadi telah menyebabkan beberapa luka sobek di kaki serta lehernya.


KKkkkkkkrrrrrrrrkkkkkk…..KKkkkrrrrrrrkkkkkk…..


Zaya mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya setelah gadis itu berdiri membelakangi Ra dengan sorot mata tajam mengarah pada kawanan serigala dihadapannya sambil mengepalkan kedua tangannya, ingin rasanya dia menerjang kawanan serigala tersebut saat ini. Tetapi Zaya tahu jika dirinya bisa mati di mulut mereka.


Wuussss!! Wussss!!! Wusss!!!


Kkkraaaaaaakkkkkkk!