The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 15



Zaya sudah berada di level 2 perwira kesatria phoenix saat teman-temannya diresmikan sebagai perwira level 1, bersamaan dengan itu pula ribuan kadet datang untuk bergabung bersama dengan mereka. Markas besar para kesatria udara ada di luar angkasa dimana Zaya berada saat ini, sedangkan markas besar kesatria daratan berada di koloni X yang terdapat di planet Neuro. Sebuah planet berwarna kemerahan dimana terdapat stasiun luar angkasa mega basar mengudara saat ini.


Itu artinya sudah hampir satu tahun Zaya meninggalkan rumahnya di planet Mars, itu juga artinya sebentar lagi usia gadis ini menginjak 20 tahun. Usia dimana seorang gadis akan menerima pinangan dari seorang pria. Beruntung jika nantinya Zaya bisa melahirkan seorang bayi laki-laki karena dengan itu dirinya akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi seorang istri. Lain hal nya jika ternyata Zaya melahirkan seorang bayi perempuan, maka Zaya pun akan berakhir seperti mama nya yang hanya seorang selir.


Zaya bersyukur saat ini dirinya sudah berada di tempat ini dan bergabung bersama dengan para kesatria phoenix, meski kerap kali gadis itu merindukan mama tercintanya.


“Apa yang sedang dipikirkan gadis itu?” Gorg bergumam sambil menatap layar monitor kecilnya, pria yang mengenakan seragam lengkap seorang panglima tinggi ini pun melihat gadis pujaannya yang sedang menatap sebuah foto yang dia simpan di dalam sebuah kotak didalam laci kamarnya.


Gorg memicingkan matanya saat berusaha untuk melihat foto yang ada ditangan Zaya, disana dirinya berhasil melihat sekilas seorang gadis kecil yang mirip dengan gadis itu tengah meniup sebuah lilin yang ada di atas benda yang dia kira adalah sebuah kue tart. Hanya bentuknya saja yang terlihat sedikit aneh dimatanya,


“Apakah gadis itu akan berulang tahun?” Batin Gorg. Lalu mulai menelusuri informasi tentang Zaya di dalam penyimpanan data pada sistem.


Benar saja dalam satu minggu mendatang gadis itu akan merayakan ulang tahunnya yang ke 20, Gorg tersenyum tipis saat tiba-tiba terbersit sebuah ide gila dipikirannya.


“Aku akan memerintahkan dia untuk mengendarai pesawat ku” Gorg kembali bergumam, tetapi sebelum itu dia harus mengirim Ann Marrie untuk melakukan sebuah misi khusus di koloni X dan meminta Dhar untuk mengatur segala sesuatunya.


Berbeda dengan Gorg dan ide gila nya, di sebuah rumah mungil yang terletak di atas bukit di planet dimana Zaya dilahirkan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tengah menggiling biji-bijian untuk persiapannya membuat kue ulang tahun untuk anak gadisnya yang kini sedang berada jauh di planet Neuro.


“Mama akan tetap membuatkan mu kue ulang tahun kesukaanmu sayang” Batinnya. Tetapi aktivitasnya terhenti dikala seseorang membuka pintu depan rumahnya, “Siapa?!” Seru Melinda


Melinda tidak pernah mengunci pintu rumahnya karena hanya Petunia dan Lily yang selalu mengunjungi rumahnya, “Petunia, apakah itu kamu?” Lanjutnya sambil mengelap tangannya yang penuh dengan bubuk biji jagung dengan kain yang menggantung di celemek nya dan berjalan mendekati pintu masuk rumahnya karena siapapun itu tidak juga menjawabnya.


“Hallo Melinda” Ucap Siron, wanita berdarah Martian murni yang berstatus sebagai istri pertama dari Damian tengah berdiri dihadapannya Melinda saat ini.


“Siron? Apa yang sedang kamu lakukan disini?” Melinda mengerutkan keningnya, darimana dia tahu rumahnya pikir Melinda.


“Aku mencari suamiku” Jawabnya singkat, wanita angkuh itu memang selalu menganggap rendah Melinda yang hanya berdarah campuran.


“Bukankah Damian selalu bersamamu? Aku tidak pernah bertemu dengannya semenjak aku meninggalkan rumah itu” Kilah Melinda, dia harus menyembunyikan kenyataan bahwa Damian pernah sekali mengunjunginya waktu itu.


“Semalam dia pergi, dan aku menemukan ini di kamarnya” Siron menyerahkan sebuah foto dengan seorang gadis kecil sedang meniup lilin di hari ulang tahunnya, dibelakangnya terdapat nama dan tanggal lahir gadis tersebut.


“Lalu apa hubungannya denganku? Bukankah kami bukan siapa-siapa baginya?” Melinda menaruh foto tersebut diatas meja di samping mereka berdiri, Siron bahkan tidak berniat untuk mengambilnya kembali.


“Itu bukan urusanmu Siron, lagi pula percuma kau mencarinya Zaya sudah pergi sejak setahun yang lalu” Melinda mengikuti Siron yang berusaha mencari anak gadisnya di rumah kecil tersebut.


“Kau jangan berbohong Melinda, kau akan tahu akibatnya jika kau menyembunyikan suami dan anak gadismu” Lagi-lagi Siron tidak menghiraukan ucapan Melinda dan tetap mencari keberadaan suami dan Zaya di setiap ruangan yang ada disana.


“Terserah apa katamu Siron, kau boleh menghancurkan rumah ini jika kamu mau tetapi kau tidak akan menemukan anak gadis ku apalagi suamimu” Melinda kembali ke dapur dan meninggalkan Siron yang masih tidak percaya dengan ucapannya. Wanita kedua yang hadir didalam rumah besar itu memang hanya meyakini ucapannya sendiri, bahkan Damian sering kali dibuat kesal olehnya karena dianggap tidak menghormati dirinya sebagai kepala keluarga di rumahnya sendiri.


“Ada apa ini?” Petunia memasuki rumah yang kini dalam keadaan berantakan itu dengan membawa keranjang sayuran kosong dan menatap Siron yang kebetulan sedang memandangnya dengan tatapan tidak suka.


“Siapa kau?” Siron menunjuk wanita paruh baya itu dengan angkuhnya.


“Kau yang siapa? Apa suamimu tidak pernah mendidik mu bersikap sopan santun terhadap wanita yang lebih tua darimu?” Petunia tua yang selalu pandai memainkan kata-katanya membuat Siron gelagapan, wanita itu menghentakkan kakinya lalu berjalan keluar dari rumah kecil tersebut.


“Melinda, apa kau baik-baik saja?” Petunia menghampiri Melinda di dapurnya, dan mendapati wanita itu tengah terisak. Hatinya hancur diperlakukan seperti itu oleh Siron yang selalu menatapnya seperti sedang menatap sampah yang menjijikan.


“Aku baik-baik saja Petunia” Jawab Melinda lalu bergegas membereskan kembali perabotan rumahnya.


“Siapa wanita angkuh itu? Apa kau mengenalnya?” Petunia pun membantu Melinda untuk merapikan kembali perabotan rumahnya yang sudah berserakan.


“Dia istri Damian…” Ucapnya dengan suara yang terisak, Melinda harus menahan tangisnya dihadapan Petunia. Dia tidak mau wanita tua itu merasa kasihan kepadanya.


“Jangan kau hiraukan mahluk planet itu, mereka diciptakan saat roh agung sedang marah hingga sulit bagi mereka untuk tersenyum” Kekeh Petunia, wanita tua itu mencoba untuk menghibur Melinda dengan lawakannya.


“Ini anak mu Zaya?” Lanjutnya saat menemukan sebuah foto dengan seorang gadis yang sedang meniup lilin. “Dia lucu sekali…” Petunia menaruh foto tersebut sambil tersenyum.


“Apa dia sudah memberimu kabar?”


“Sudah…Semalam Zaya menghubungiku dan mengatakan bahwa dirinya saat ini sudah menjadi seorang perwira” Seketika tangisan diwajahnya berhenti dan wanita itu menggantinya dengan sebuah senyuman.


Ada harapan yang begitu tinggi terhadap Zaya dari Melinda, dia berharap kepergian anak gadisnya itu akan membawa sebuah perubahan besar pada tatanan kehidupan mereka di masa depan. Meski mungkin saat itu dirinya sudah tidak lagi hidup dan hanya bisa melihatnya di Valhala, dan yang menjadi harapan tertingginya adalah nagi Zaya yang akan dipertemukan dengan pria yang pernah muncul dalam bayangannya ketika dia sedang berdoa.


“Melinda, apa yang telah terjadi?”