
Sementara Zaya menceritakan pengalamannya kepada para tetua klan, Gorg sedang berada di tengah-tengah pertempuran menghadapi para musuh yang tiba-tiba saja menyerangnya ketika dia dan Dahr serta Sabath tengah berkunjung ke sebuah kedai makan, Dhar sengaja mengajak mereka kesana setelah dirinya menerima undangan dari salah satu temannya.
Sejam sebelumnya,
“Selamat datang kawan, lama tidak berjumpa” Pria yang sama-sama memiliki kulit berwarna biru itu menyambut kedatangan mereka dengan ramah, dia mempersilahkan ketiganya untuk memasuki ruangan yang sudah dia pesan sebelumnya.
Gorg hanya diam saja, sementara Dhar serta Sabath membalas sambutan pria tersebut lalu menduduki kursi yang sudah disediakan disana. Jika Dhar dengan temannya itu larut dalam pembicaraan mereka maka tidak dengan Gorg dan Sabath, keduanya merasa gelisah sejak kedatangan mereka ke tempat tersebut.
“Ada yang salah Gorg, aku tidak suka berada di tempat ini” Keluh Sabath, pria dengan bentuk kepala aneh ini memang kurang bisa menyembunyikan perasaannya sendiri.
Gorg menoleh dan meminta kepada Sabath untuk menutup mulutnya dengan menaruh telunjuknya di bibirnya, lalu kembali memerhatikan Dhar serta temannya yang sedang asik berbincang.
“Ini kesempatanku…” Batin Gorg, yang langsung mendapatkan perhatian dari Dhar.
Sejak tadi Gorg sudah mengetahui ada beberapa orang yang mengintai mereka dari kejauan, dia melihat pria yang sedang berbincang dengan seseorang di luar ruangan tersebut sambil menaruh salah satu tangannya didalam tas nya. Dia juga menyadari ada seorang wanita dengan penutup wajah diam-diam tengan memerhatikan dirinya dari salah satu sudut ruangan, sementara satu wanita lagi menyamar sebagai seorang pelayan disana. Gorg hanya tidak habis pikir, sejak kapan seorang pelayan mengenakan celana berbahan kulit lengkap dengan kantung pistol yang tersemat di bagian pahanya.
Gorg mengambil senjata dari balik mantelnya, dia mulai mengarahkan tembakannya kepada orang-orang yang tadi diperhatikannya secara diam-diam dan tengah bersiap untuk menembakinya. Satu orang berhasil di lumpuhkan olehnya sementara dua orang lagi berhasil melarikan diri.
Pria besar itu mengalami sedikit kesulitan untuk menggunakan senjatanya di tempat yang dipenuhi warga sipil, dia memutuskan untuk mengejar mereka dan keluar dari tempat tersebut.
Satu hal yang tidak dia sadari adalah kenyataan bahwa teman dari Dhar yang telah mengundang mereka kesana, telah mati terkena tembakan salah satu dari musuh. Beruntung Dhat serta Sabath selamat dari tembakan mereka, lalu menyusul Gorg untuk mengejar para penjahat itu.
Gorg berlari sekencang-kencangnya saat dirinya dikejar oleh musuh, ternyata ketika pria besar tersebut keluar dari kedai itu para penjahat telah menyambut dirinya di sana dan mengepungnya. Dhar dan Sabath yang baru keluar dari dalam kedai langsung menembaki mereka tanpa ampun, keduanya bermaksud untuk membuat musuh membubarkan diri hingga mereka bisa menyelamatkan diri dari sana.
“Ini konsprasi! Seseorang tengah mengetahui keberadaan kita disana!” Seru Sabath ketika mereka berhasil menaiki pesawat, dan dia menduduki kursinya.
“Bawa kita keluar dari sini Dhar, biarkan mereka mengejar kita!” Titah Gorg, lalu mengambil posisinya dan bersiap untuk menembaki para musuh yang terus mengejarnya.
“Aku akan membawa kita ke padang pasir yang mulia” Balas Dhar. Dirinya bisa melihat jumlah musuh yang semakin bertambah melalui layar radar dihadapannya.
Dhar memacu laju shinoknya dengan kecepatan tinggi sambil mengecoh lawan, sementara Gorg mengarahkan tembakan-tembakan mautnya ke arah mereka. Semakin dia berusaha untuk melenyapkan mereka, jumlah mereka semakin bertambah banyak.
“Kita tidak bisa mengalahkan mereka disini yang mulia! Ini terlalu beresiko!” Dhar kembali berseru. Bukan tanpa alasan pria biru tersebut berkata demikian, planet Mark terkenal dengan kepadatan penduduknya. Bahkan padang pasir planet ini banyak di huni oleh para penduduk planet tersebut, disana terdapat beberapa wilayah dimana para selir buangan bermukim.
“Bawa kita keatas Dhar! Aku ingin tahu kesungguhan mereka!” Titah Gorg, sambil tetap menembaki musuh dengan senjata lasernya.
“Aku akan memberikan apa yang kamu mau” Batin Dhar, yang sontak menimbulkan reaksi pada diri sesosok mahluk yang jauh ditempat tersembunyi.
“Kurang ajar!” Umpat sosok tersebut.
Dhar membawa mereka menembus lapisan udara planet Mars sesuai dengan perintah dari panglima tertingginya, dia sudah tahu maksud dan tujuan pria besar tersebut. “Ini saatnya” Gumam Dhar.
Benar saja intuisi pria berkulit biru tersebut, bahkan setelah dia berhasil membawa shinnoknya keluar dari planet merah itu di atas sana mereka pun telah disambut kedatangannya oleh banyak pesawat musuh yang telah bersiap untuk memusnahkan mereka.
“Apa ini?!” Pekik Sabath, yang melihat ada banyak pesawat musuh yang sudah bersiap menghabisi mereka di hadapannya.
“Apa mereka harus menyiapkan pasukan sebanyak itu??!” Lanjutnya. Ini aneh menurutnya, kenapa harus mengerahkan pasukan sebanyak itu hanya untuk melenyapkan satu pesawat kecil. Apa yang mereka takutkan hingga betindak berlebihan seperti ini? Batinnya.
Dhar menghentikan laju pesawatnya, lalu membuka saluran komunikasi agar apapun yang mereka ucapkan dapat terdengar.
“Apa kau sudah menghubungi mereka?” Ucap Gorg dengan menggunakan bahasa asing yang tidak dimengerti oleh siapapun kecuali Dhar dan klannya. Dhar pun mengangguk dan memintanya untuk menunggu.
Sabath menoleh dan mengerutkan keningnya, seingatnya bahasa tersebut sudah hilang bersamaan dengan hilangnya sebuah kaum dari sebuah planet yang kini sudah musnah akibat kesombongan para penghuninya.
“Mungkinkan dia…” Batin Sabath, pria berkepala aneh itupun mulai memerhatikan tampilan Gorg dari kepala hingga kakinya. Lalu menggelengkan kepalanya “Ini tidak mungkin!”
“Simpan rasa penasaranmu untuk nanti teman, saat ini kita harus menghadapi musuh” Dhar berseru, dan sepertinya dia telah berhasil menghancurkan lamunan pria berkepala aneh yang tiba-tiba saja menatap Gorg dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Dhar tahu jika Sabath bukanlah orang jahat, tetapi jika sampai Gorg menyadari kecurigaan pria berkepala aneh itu bisa saja dirinya mati ditangan Gorg saat ini juga.
“Andai zaya ada disini, dia pasti akan mencari celah untuk mereka melarikan diri” Pikir Gorg. Pria itupun mulai menatap sekelilingnya, mencoba untuk melakukan apa yang gadis bertubuh kecil itu biasa lakukan dan memahami cara berpikirnya.
Tetapi sayangnya yang Gorg lihat hanyalan pesawat-pesawat musuh yang mengelilinginya, jumlah mereka bahkan hingga ratusan! Gorg menarik salah satu sudut bibirnya, “Setakut itukah dirimu?” Batinnya dengan nada yang sangat menghina.
“Menyerah tidak ada didalam kamus kami” Balas Dhar, dia sangat familiar dengan suara yang terdengar dari alat pengeras suara di pesawatnya. Hanya saja pesawat yang digunakan oleh wanita tersebut bukannlah pesawat yang biasa dia terbangkan.
“Kita sudah tidak bisa kembali kesana yang mulia” Ucap Dhar, setelah dia mematikan alat komunikasinya.
“Hei! Darimana datangnya mereka?!!”