The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 11



Gorg serta Dhar harus menelan pil pahit karena sektor Q yang mereka datangi sudah dalam keadaan kosong dan hancur, serangan musuh dini hari tadi membuat beberapa sektor kecil di planet merah itu hancur dan memakan banyak korban.


Gorg sendiri sempat menghadang mereka dalam perjalanan menuju sektor tersebut.


Dia mendapatkan peringatan dari para perwira nya akan adanya serangan mendadak menjelang dini hari ini, pria gagah berambut panjang dengan alis mata tebal itu bergegas terbang bersama dengan pasukannya karena mereka pun menyebutkan sektor Q tengah dalam bahaya dalam laporan nya.


"Demi roh agung...Dimana mereka Dhar? Apakah master yang kau maksud telah tewas?" Gorg menggenggam pasir dari sektor yang kini telah hancur tersebut setelah dirinya bersama dengan sang tabib turun dari pesawat nya.


Dhar melangkah kan kakinya sesuai dengan petunjuk yang menggerakkan tubuhnya serta mengarah kan kakinya menuju sebuah goa kecil yang tertutupi bebatuan.


Gorg mengikuti langkah sahabatnya itu, lalu menyingkirkan bebatuan tersebut dengan hentakan kaki dan tangannya setelah Dhar menunjuk pintu goa tersebut dengan telunjuknya.


Keduanya memasuki goa kecil tersebut, disana mereka menemukan jejak bekas penghuni yang tak lain adalah seorang master yang dimaksud oleh Dhar.


"Ayah..." Ucap Dhar, lalu menyentuh semua benda yang ada di sana.


Sentuhan Dhar berakhir pada sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran bulan dan bintang di atas nya, pria berkulit biru dengan rambut di kepang hingga menjuntai itu membuka kotak tersebut lalu memejamkan matanya.


Dhar mendapatkan gambaran-gambaran peristiwa seketika dia menggenggam sebuah benda yang dibungkus kain kecil dari dalam kotak tersebut, sementara Gorg membiarkan sahabatnya itu untuk melakukan ritualnya dan memilih untuk berjaga diambang pintu goa.


Tak lama Dhar membuka kembali matanya, lalu melepaskan tali yang mengikat kain putih buluk tersebut dan membukanya.


"Apa itu?" Gorg menghampiri Dhar dan melihat sejumput rambut di dalam kain yang telah dibuka oleh pria tersebut.


"Rambut gadis itu Gorg...Simpanlah" Dhar menyerahkan rambut tersebut kepada sang panglima setelah dia membungkusnya dan mengikatnya kembali.


Gorg mencium benda tersebut terlebih dulu dalam-dalam sebelum akhirnya dia membuat benda tersebut menjadi bandul dari kalung kulit binatang yang dipakainya.


Benda itu yang akan membuat Gorg mengenali gadis tersebut meski sebuah tanda telah menghalangi penciuman nya yang tajam.


"Apakah ayahmu masih hidup?" Gorg kembali mempertanyakan hal itu kepada Dhar, karena sejak tadi dia belum mendapatkan jawaban darinya.


"Dia masih hidup, di suatu tempat" Jawab Dhar dengan tenang, lalu menuntun Gorg untuk keluar dari dalam goa tersebut sebelum akhirnya sang panglima menghancurkan nya dengan sekali hentakan atas permintaan nya.


"Tidak boleh ada yang menemukan keberadaanya" Ujar Dhar.


Ada satu bangsa yang merupakan musuh dari bangsa Sinth dan Babilon yang akan menjadi ancaman bagi sang ayah jika mereka berhasil menemukan nya yakni bangsa Urghu. Mereka mempunyai cara yang sama dengan kedua bangsa ini untuk mengenali musuh-musuh nya yakni dengan menyentuh lawannya atau benda apapun yang berkaitan dengan musuhnya.


Bedanya dengan bangsa Sinth dan Babilon yang terkenal halus dan berwibawa juga memiliki integritas tinggi, bangsa Urghu lebih kasar dan bertemperamen tinggi juga licik.


Pesawat yang dikemudikan oleh Gorg sudah lepas landas ketika pesawat yang dikemudikan oleh Zaya memasuki lapisan udara planet Neuro, pagi ini mereka kembali akan berlatih di sektor Z bersama dengan para monster kaki delapan yang jumlahnya semakin banyak.


Dhar kembali melihat Gorg yang memegangi dadanya, lalu tersenyum.


"Sepertinya begitu" Jawab wanita berkulit pucat itu, lalu menarik salah satu sudut bibirnya.


"Maaf semalam aku bahkan tidak bertanya tentang...."


"Jangan khawatir Zaya, kami para instruktur telah memahami resiko dari tugas kami" Potong Xande, sebelum gadis itu meneruskan perkataannya dan semakin merasa bersalah.


Sebenarnya malam itu telah terjadi perdebatan sengit diantara mereka, Xande yang tetap menyalahkan komandan pasukan daratan karena keteledoran nya hingga membuat para kadernya hampir saja terkena semburan asam dari monster tersebut. Sementara komandan itu tetap dengan pendiriannya bahwa dirinya sudah memperhitungkan secara matang strategi nya.


Untung saja pasukan Phoenix yang sempat diminta oleh Zaya untuk menolong mereka memberikan kesaksian untuk Xande, hingga untuk sementara waktu ini kasus tersebut akan terus di analisa oleh para perwira level 3 dan komandan beserta dengan para kadet nya terkena sangsi tidak diperbolehkan untuk berlatih selama satu minggu penuh.


Sayangnya bukan hanya komandan itu yang diberikan sangsi oleh Ann Marrie dan kedua anggota dewan peneliti, Xande pun sama-sama mendapatkan sangsi berupa wajib lapor dengan tempo yang sama karena telah dinilai memberikan perintah tanpa meminta ijin kepada atasannya.


"Kau lihat? Mereka sudah keluar dari sektor Z Xande, apa yang sebenarnya terjadi?"


Pertanyaan dari Zaya ini membuyarkan lamunan wanita berkulit pucat itu, dia melihat pemandangan mengerikan dibawah sana dimana jumlah monster yang semakin banyak dan para kadet terpaksa mengurungkan niatnya untuk membombardir mereka.


"Sepertinya ini ada hubungannya dengan serangan dini hari tadi, rupanya musuh sengaja memisahkan kepala mereka hingga jumlah monster-monster itu semakin banyak" Xande menjawab sambil mengaktifkan mode siaga, bersiap untuk melakukan serangan. Tetapi sebelumnya dia menghubungi pusat terlebih dulu untuk memberitahu mereka situasi terbaru disana.


"Mereka menarik mundur para kesatria daratan dan memberikan perintah penuh kepada pasukan Phoenix untuk menghabisi monster-monster itu" Ucap Xande, diikuti oleh Zaya yang mengaktifkan persenjataan nya.


Puluhan pesawat yang berlatih pagi itu membombardir monster berkaki delapan tersebut secara bertubi-tubi, para kesatria Phoenix dengan mahir melakukan manuver-manuver silih berganti sambil menembakkan sinar laser tepat di jantung mahluk buas itu hingga banyak dari monster tersebut mati seketika.


Jresssshhh!


"Ahh sial! sayap pesawat bagian kiri terkena semburan asam!" Keluh Zaya, lalu menstabilkan kembali pesawatnya sambil mencari posisi yang pas untuk kembali menembakkan laser nya.


"Rasakan pembalasan ku mahluk jelek!" Seru nya, yang tentunya bersamaan dengan dirinya yang menekan tombol pada tuas kemudi pesawat nya.


"Sudah waktunya kita kembali Zaya, kita hampir kehabisan tenaga" Titah Xande lalu mengambil alih kontrol kemudi dan melakukan manuver terakhir serta meninggalkan sektor tersebut diikuti dengan para ksatria yang lainnya.


Tiba di pangkalan, badan pesawat yang dikemudikan oleh Zaya masih menyembulkan asap akibat semburan asam tadi. Dan ketika Zaya keluar dari pesawat nya tanpa sengaja tetesan cairan asam itu mengenai bagian bahunya hingga menembus kedalam.


"Aaaaahhhhh!!!"


Secepat kilat Xande menolong Zaya dengan merobek lengan bajunya, lalu membawa gadis itu ke sektor pengobatan untuk mendapatkan bantuan medis.


Tepat di lorong menuju ruangan tersebut Zaya serta Xande berpapasan dengan Dhar dan Gorg, pria gagah itu bahkan menghentikan langkahnya setelah dirinya merasakan kembali sesuatu di jantung nya.


"Xande...Ini sakit sekali" Keluh Zaya.