
Dua hari sebelumnya.
Damian melihat Gorg datang seorang diri tanpa Zaya ke ruangan parlemen pagi itu, kondisi panglima tinggi yang terkenal misterius itu terlihat sedang kurang baik dimatanya hingga saat pertemuan sudah berakhir dirinya memberanikan diri untuk bertanya.
"Maafkan atas kelancangan saya panglima, apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran anda?" Damian menghampiri Gorg yang saat itu memang masih berada didalam ruangan setelah semua orang pergi dari sana.
Gorg tak langsung menjawabnya, dia menatap sang anggota dewan yang pernah dia lihat dalam data lengkap milik Zaya belum lama ini.
"Anda Damianus Yorgan? Ayah biologis dari perwira pertama ku bukan?"
"I..iya panglima, saya Damian" Jawab Damian sedikit ragu, karena sang panglima tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan kepada nya.
"Bagus! buatlah dirimu berguna dan ikut denganku"
Mau tidak mau Damian mengikuti langkah kaki Gorg setelah pria tinggi besar itu beranjak dari tempat duduknya, meski perkataan terakhir nya membuat hatinya sedikit terusik. "Apa maksud ucapannya?" Batin Damian.
Gorg mengajaknya memasuki ruangan dimana Zaya masih terbaring tak berdaya di kursi sofa panjang yang ada disana, dengan lengan terbalut kain dan baju yang terkoyak. Damian segera menghampiri anak gadisnya dan memeriksa keadaannya.
"Dia sudah baik-baik saja, Aku meminta mu untuk datang kemari karena aku tidak tahu bagaimana cara mengganti pakaiannya" Ucap Gorg saat melihat kekhawatiran yang terlihat di wajah Damian.
Sebenarnya Gorg bisa saja meminta bantuan kepada orang lain disana, tetapi dia tidak ingin sebarang memasuki ruangannya apalagi menyentuh Zaya.
"Ijinkan saya meminta bantuan kepada budak saya yang mulia" Damian menundukkan wajahnya saat dirinya melihat perubahan pada mimik wajah pria yang tetap berdiri tegak dihadapannya itu.
"Pekerja wanita maksud saya panglima"
"Baiklah" Gorg menjawabnya dengan cepat, dia tidak pernah suka dengan istilah perbudakan. Karena menurutnya semua mahluk itu setara, yang membedakan mereka hanyalah kebaikan dan keburukan yang dilakukan oleh masing-masing mahluk.
Sepeninggal Damian, Gorg kembali memeriksa tengkuk leher yang sebelumnya telah dia pasangi sebuah benda. Dengan benda tersebut ditubuh Zaya maka tidak akan ada seorangpun dari klan nya maupun klan yang lainnya akan berani meng-imprint gadis itu.
"Bulan...Belum saatnya tanda ini terlepas kekuatan nya" Batin Gorg.
Dirinya lebih memilih untuk menunda ritual penghapus segel pada tanda tersebut ketimbang harus mendahulukan ego nya dan membahayakan banyak pihak.
Kembali ke masa sekarang.
Zaya sudah mendapatkan perintah untuk segera menyiapkan Shinuk dari Gorg, karena hari ini mereka akan kembali ke stasiun luar angkasa tempur di planet Neuro. Meski dirinya sudah begitu merindukan mamanya Melinda, tetapi dia harus menahannya lebih lama lagi untuk bertemu dengan wanita itu.
"Zaya..."
Damian bergegas menghampiri Zaya dengan satu kantung kulit ditangan kanannya, gadis itu sangat mengenali tas tersebut. Tas yang pernah dibuat oleh Melinda untuknya dulu ketika dia masih kecil.
"Ayah....Itu" Zaya menatap tas yang disodorkan oleh Damian kehadapan nya, dengan perasaan ragu dia mengambil tas tersebut dari tangannya.
"Mama mu menitipkan tas itu untukmu, didalamnya ada makanan yang dia buat untukmu dan...Dia menitipkan salam untukmu"
"Terimakasih ayah.. Terimakasih karena telah menjaga mamaku, aku akan kembali secepatnya setelah semua tugasku selesai" Ucap Zaya, lalu melepaskan emblem berbentuk burung Phoenix yang dulu dia ambil dari atas bukit dan memberikannya kepada Damian. "Titip ini untuk mama..."
Gorg yang tadinya akan memasuki hangar mengurungkan niatnya untuk mendekat, setelah dirinya menyaksikan pertemuan ayah dan anak tersebut dan memilih untuk menyaksikan dari kejauhan. Dia tidak mungkin melanggar aturan nya sendiri untuk tidak menghukum Zaya yang telah melanggar peraturan nya berbicara dengan orang lain tanpa seijin nya jika Zaya mengetahui bahwa dirinya telah menyaksikan peristiwa tersebut.
"Pergilah ayah, sebelum panglima memergoki kita atau dia akan menghukum ku karena telah melanggar peraturan nya" Pinta Zaya dengan berat hati.
"Baiklah nak, jaga dirimu baik-baik dan pulang lah jika kau sudah tidak lagi ingin berada disana"
"Dan menikah dengan pria beristri banyak? Tidak ayah..." Kekeh Zaya yang disambut dengan senyuman Damian.
Zaya pun segera menaiki Shinuk nya setelah Damian berlalu dari hadapannya, untuk menyembunyikan tas yang diberikan oleh Damian kepadanya.
Meski saat ini dia was-was karena khawatir Gorg memergoki aksinya, tetapi hatinya bahagia. Setidaknya sekarang dirinya tidak terlalu mengkhawatirkan sang mama karena pada kenyataannya Damian pasti sering menemui wanita itu.
Gorg memasuki pesawat dan langsung menyebut kan deretan angka kepada Zaya, titik koordinat dimana mereka akan kembali dan melanjutkan tugasnya.
"Semua sudah siap, menunggu pintu hangar terbuka" Ucap Zaya sambil menekan beberapa tombol pada layar monitor didepannya.
Perlahan pesawat itu melayang ke udara setelah pintu hangar di atas mereka terbuka, dan suara AI terdengar. Zaya mengarahkan pesawat nya sesuai dengan titik koordinat yang telah diberikan oleh Gorg sebelumnya, dan menerbangkan nya dengan kecepatan normal.
"Memasuki lapisan udara menuju luar angkasa" Zaya kembali melaporkan posisinya kepada Gorg, meski pria tinggi besar itu tidak memberikannya jawaban.
"Tunggu sebentar..."
Zaya mengurungkan niatnya untuk mengubah kecepatan normal nya ke kecepatan cahaya setelah suara berat Gorg terdengar ditelinga nya. "Apa kita melupakan sesuatu yang mulia?" Zaya menoleh kearah samping nya, disana Gorg terlihat sedang mengambil sesuatu dari samping kursi nya.
"Buka"
Zaya terkejut karena ternyata yang dia berikan kepadanya adalah tas yang diberikan oleh Damian tadi, "Maafkan saya yang mulia, saya siap di hukum karena telah melanggar perintah" Ujarnya.
"Hukuman untukmu adalah membuka benda ini dan mengeluarkan isinya"
Zaya mengambil tas tersebut dan membukanya, lalu mengeluarkan isinya yang terdiri dari beberapa kotak yang berisi makanan favoritnya. Makanan yang biasa dibuatkan oleh Melinda ketika dirinya sedang berulang tahun.
"Apa ini?" Gorg mengambil salah satu kotak berisi kue kering yang terbuat dari tepung jagung, beri kering dan gula dari dari bunga.
"Itu kiskis yang mulia, cobalah....Rasanya enak" Zaya mengambil satu keping kue tersebut dan mendekatkannya ke mulut Gorg "Buka mulutnya...Aaaa" Ucapnya sambil memperagakan gerakan tersebut.
Gorg pun menuruti Zaya untuk membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali setelah benda yang bernama kiskis itu masuk kedalamnya. Ini pengalaman pertama bagi Gorg memakan sesuatu selain daging dan telur, satu-satunya jenis sayuran yang dia makan adalah wrokh. Benda berbentuk bulat panjang berwarna hijau tua yang hanya terdapat di sebuah tempat rahasia.
"Ini enak..."