The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 40



Sabath terkejut dengan kedatangan pesawat-pesawat tempur yang tiba-tiba muncul mengelilingi pesawat musuh dengan jumlah yang tak kalah banyak, dia bisa melihat kejadian tersebut melalui jendela di sekeliling shinok milik teman berkulit birunya.


Seketika rasa takjub sekaligus takut menyelimuti dirinya, bagaimana jika salah satu dari mereka mulai menembakkan senjatanya? Sementara posisi pesawat yang ditumpanginya saat ini berada di tengah-tengah antara musuh dengan pesawat yang baru datang itu, pikirnya.


“Urusan kita belum selesai Gorg!” Ucap seseorang, lalu pesawat-pesawat musuh pun mulai bergerak mundur dan meninggalkan mereka.


“Syukurlah…syukurlah…” Cicit Sabath sambil mengelus dadanya.


“Jangan berbahagia dulu kawan, kau tidak bisa kembali ke planet mu untuk waktu yang sangat lama mulai saat ini” Kekeh Dhar, lalu menekan titik-titik koordinat di layar monitor dihadapannya.


Dhar akan membawa mereka mengikuti pesawat-pesawat yang hadir untuk membantu mereka tadi ke suatu tempat, dia tahu mulai saat ini baik dirinya maupun Gorg bahkan Sabath sudah tidak bisa lagi kembali ke stasiun luar angkasa tempat mereka mengabdi ataupun mengunjungi planet Neuro jika masih menggunakan pesawatnya saat ini.


Revolusi yang selama ini bergerak dibawah permukaan, akhirnya sudah harus memperlihatkan dirinya ke permukaan. Baik Dhar maupun Gorg sudah tahu jika saat ini pada akhirnya akan tiba, dan keduanya berniat untuk mengakhiri semuanya dengan memusnahkan tirani The One hingga ke akar-akarnya.


“Bagaimana dengan istri dan anak-anakku?” Keluh Sabath


“Kita sama-sama tahu jika kau bahkan tidak memiliki seorang wanita untukmu berkembang biak sobat, jadi hentikan rengekan mu dan mulai buat dirimu berguna” Dhar menggelengkan kepalanya, seseorang seperti Sabath bahkan dirinya butuh waktu hingga puluhan tahun untuk menemukan pasangannya.


“Sepertinya roh agung sedang bermain-main saat menciptakan bangsa kami” Batin Dhar. Proses untuk berkembang biak bangsanya memang membutuhkan waktu yang cukup lama, mereka bahkan harus memiliki kecocokan dalam struktur DNA, jika tidak sudah dipastikan jika hubungan antara pria dan wanita dalam sukunya tidak akan berhasil membuahkan seorang penerus.


Tiba di sebuah planet yang selama ini terlewatkan oleh perhatian seluruh penghuni galaxy, setelah melewati lorong kawah berukuran sangat besar di bagian tergelap planet itu, mereka pun keluar dari pesawat mereka masing-mading dan berkumpul dalam sebuah ruangan besar untuk menyambut kedatangan seorang panglima tinggi ke tengah-tengah mereka.


“Selamat datang kembali panglima” Ucap seorang mahluk kuno dengan tinggi badan melebihi tinggi badan pria besar yang disambutnya, lalu meminta Gorg untuk menempati posisinya.


Untuk sekilas Gorg tidak lagi terlihat seperti Gorg yang dikenal semua orang, apalagi Sabath yang mengenal Gorg sebagai seorang pria kejam misterius dengan sedikit kata yang keluar dari bibirnya saat berbicara dan tatapan mata membunuhnya. Gorg mulai berbicara di hadapan mereka yang selama ini menjalankan sebuah revolusi secara diam-diam untuk mengungkap siapa dibalik aksi-aksi genosida yang terjadi di galaksi tempat mereka bermukim.


“Sepertinya kita memang sudah siap untuk menghadapi mereka, tetapi kita juga harus mempertimbangkan nasib orang-orang yang terpaksa mengikuti perintah tanpa mengetahui alasan sebenarnya dibalik aksi mereka” Gorg menghela nafasnya kasar. Dia tahu benar apa maksud dari semua ucapannya, pasalnya selama bertahun-tahun dirinya mengabdikan diri sebagai seorang panglima tinggi dia sudah cukup banyak melihat orang-orang dengan kebanggaannya sebagai seorang kesatria tetapi dia sendiri tidak tahu sebenarnya apa yang sedang dia hadapi.


Berbicara mengenai planet yang terkenal tandus tersebut, penduduk disana tengah menyadari hal aneh yang belum lama terjadi. Pasalnya tempat yang selama ini mereka kenal sebagai tempat dengan paparan radiasi paling tinggi disana, tiba-tiba saja memunculkan hal yang tidak bisa dicerna oleh nalar mereka sendiri. Saat ini disana tiba-tiba saja dipenuhi dengan rumput yang hijau!


Banyak dari mereka yang sangat bahagia menyambut kehidupan baru disana, terutama para perompak yang selama ini berjuang untuk bertahan hidup disana. Harapan mereka untuk mendapatkan sumber air terjawab sudah, juga ramalan-ramalan yang selama ini hanya menjadi isu terlarang untuk diperbincangkan pada akhirnya terbukti.


Sayangnya banyak pula dari mereka yang terancam dengan bermunculannya bukti dari ramalan yang selama ini beredar di penduduk sekitar, bahwa energi biru akan muncul lagi dan mengembalikan keadaan planet tersebut seperti semula.


“Benda biru itu semakin membesar” Ucap Xi, sambil menatap kubah besar tersebut dari kejauhan. “Tidak akan lama lagi kita harus meninggalkan tempat ini” Lanjutnya.


Energi biru memang bisa mendatangkan kehidupan di planet itu, tetapi hanya bangsa amarath dan omarath saja yang bisa berada dekat dengan benda tersebut. Sementara selain kedua bangsa itu justru akan menimbulkan kematian, terbukti saat Ru mendekati tempat tersebut. Serigala besar itu hampir saja pingsan karena lemas, berbeda dengan Zaya yang memang memiliki keunikannya tersendiri padahal dia tidak terlahir dari kedua bangsa penghuni asli dari planet tersebut.


“Gorg meminta kepada mereka untuk tidak memindahkan benda itu dari tempat ini, dan membiarkan efek dari energi ini saja yang akan dirasakan oleh orang-orang di permukaan” Khan mematikan kembali alat komunikasi virtualnya, setelah dia membaca hasil pertemuannya dengan semua perwakilan bangsa pendukung revolusi yang sedang terjadi saat ini di bulan.


“Kita harus menunggu kedatangan anak itu terlebih dulu, hanya ada satu hal lagi yang harus dilakukan olehnya dan gadis itu disini” Lanjutnya, lalu mengarahkan serigalanya menjauhi tempat tersebut.


Sementara itu saat ini Zaya tengah asik bermain dengan serigala putihnya, juga para naga nya di padang rumput yang telah ditunjukan oleh Gorg beberapa waktu yang lalu. Dan bukan hanya itu saja, gadis itu pun berhasil mendapatkan kepercayaan dari semua hewan yang menghuni tepat hijau yang luas itu. Hira hanya bergidik ngeri melihat interaksi antara Zaya dan kesemua mahluk buas dari kejauhan, mana mungkin gadis sekecil itu bisa berada diantara mahluk yang besar seperti mereka pikirnya.


“Zaya! Sudah waktunya kita pulang!” Seru Hira dari atas bukit berbatu, dia melihat alarm pengingat yang tiba-tiba mengeluarkan suara di tangannya. Tanda seseorang akan tiba di pemukimannya.


Tetapi gadis itu langsung dikejutkan oleh suara lolongan dari seseorang yang dikenalnya, saat dirinya kembali akan mengingatkan gadis itu untuk segera beranjak dari tempatnya saat ini. “Demi roh agung! Ternyata dia sudah berada disini” Pekik Hira.


Gorg melompati tebing berbatu itu bersama dengan Ru untuk mendekati Zaya yang sedang berada ditengah-tengah kerumunan para hewan.


“Kau telah berselingkuh dariku gadis kecil!”