
“Tunggu Khaii lihat disana!” Abram melihat para naga yang beterbangan diatas langit sambil menyemburkan apinya, sepertinya mahluk-mahluk besar itu sedang kebingungan saat ini hingga dia menyerang semua mahluk yang ada dibawahnya.
“Panggil mereka Khaii, kita harus menyelamatkan mereka!” Lanjutnya.
Ini kesempatan bagi Abram untuk mengulur waktu, agar Khaii melupakan sejenak niatnya untuk meledakkan planet ini dari dalam sekaligus memberikan waktu kepada pasukan revolusi untuk menyelamatkan mereka.
Khaii pun memejamkan matanya, berusaha untuk memanggil naga-naga tersebut agar mau terbang mendekati mereka dan membawa mereka terbang ke tempat aman. Tetapi aksinya itu terlebih dulu diketahui oleh The One yang saat itu diam-diam memperhatikan mereka dari atas altar dengan seorang wanita berjubah hitam.
Dalam satu kali hentakan mahluk mengerikan itu mengarahkan telunjuknya ke udara dan mengeluarkan sinar kemerahan darinya hingga memusnahkan salah satu naga tersebut.
“Tidak! Father dragon!” Pekik Abram, saat melihat mahluk majestik itu hancur terkena sengatan cahaya merah yang terpancar dari jari tangan mahluk mengerikan yang berdiri diatas altar.
Secepat kilat Abram pun menarik tubuh Khaii yang saat itu masih memejamkan matanya agar terhindar dari sengatan cahaya merah milik The One, saat mahluk mengerikan itu mencoba untuk melenyapkannya pula.
“Khaii! Khaii! Bangunlah! Bukan saatnya kau tertidur sekarang ini!” Abram mengguncangkan tubuh saudaranya yang masih tetap memejamkan matanya meski dirinya terjatuh bersama, dia harus segera membawanya pergi dari tempat ini sebelum mahluk mengerikan itu menemukan mereka disana.
Khaii terhenyak dan membuka matanya, dihadapannya sekarang ini adalah telapak tangan Abram yang sudah siap mendarat di pipinya.
“Jangan bercanda bodoh!” Maki Abram, dia tidak percaya dengan senyuman manis pemuda tampan itu saat sudah membuka kedua matanya.
“Aku tidak bercanda Ab! Lihat diatasmu!”
Pandangan Abram seketika mengikuti kemana telunjuk Khaii mengarah, diatas langit tengah terbang satu naga besar serta beberapa naga kecil juga pasukan revolusi yang mulai memenuhi langit Krox!
Drat!!
Khaii menggerakkan tangannya, dia menahan serangan yang dilancarkan oleh The one ke arahnya dengan telapak tangannya. Pemuda itupun beranjak dari posisinya agar dirinya berada sejajar dengan mahluk mengerikan tersebut.
Abram bisa melihat perubahan besar yang telah terjadi pada tubuh saudara laki-lakinya itu, Khaii memancarkan sinar kebiruan dari tubuhnya, termasuk kedua bola matanya! Sinar kemerahan yang di pancarkan oleh mahluk mengerikan itu telah diserapnya, hingga membuat sinar kebiruan pada tubuhnya semakin besar.
“Demi roh agung! Khaii…” Gumamnya.
Dari atas langitpun Gorg beserta Zaya bisa melihat pemandangan indah tersebut, keduanya memutuskan untuk mendaratkan pesawat tempur mereka di tempat yang aman. Sementara di lapisan terluar planet kecil itu tengah terjadi peperangan besar antara pasukan revolusi dan pasukan pengikut setia The One.
“Sebelah kirimu Fin! Habisi mereka!” Bessara mengingatkan sahabatnya agar terhindar dari serangan laser musuh sekaligus memintanya untuk melenyapkan mereka tanpa ampun. Entah berapa banyak musuh yang telah berhasil dia lenyapkan, pada kenyataannya jumlah mereka memang sangat banyak saat ini.
“Rasakan ini budak brengsek!” Bessara melepaskan tembakannya bertubi-tubi seraya melakukan manuver memutar, hingga posisinya saat ini berada di atas musuh dan memudahkan dirinya untuk melenyapkan mereka.
Satu persatu sosok tabib dari bangsa yang berbeda mendarat diatas permukaan tanah Krox, mereka terlahir sama dengan Zaya. Saat ini tugas mereka adalah melenyapkan para tabib pengikut The One dan membantu pasukan revolusi untuk melenyapkan pasukan black ronin yang ternyata semakin kuat.
Bagi mereka melenyapkan para tabib sialan itu bukanlah sebuah masalah besar, tetapi untuk melenyapkan satu black ronin mereka harus mengeluarkan tenaga lebih besar lagi.
“Demi roh agung! Mahluk sombong itu sangat bersungguh-sungguh dengan ucapannya!” Kesal Hira. Wanita itu sangat geram dengan tingkah para Homobien yang hanya mengawasi Khaii dari angkasa, sementara disekitarnya banyak dari pasukan revolusi telah menjadi korban karena kebrutalan monster berkaki delapan dan para black ronin.
“Biarkan mereka Hira, setidaknya kita bisa sedikit bernafas lega karena keselamatan Khaii telah terjamin saat ini” Dhar kembali melepaskan tembakannya, dia berharap agar Gorg serta Zaya lebih cepat lagi mengeluarkan Khaii dan anaknya Abram dari sana. Dengan itu dirinya bisa meminta kepada Drax untuk segera menekan tombol penghancur yang akan melenyapkan planet kecil itu beserta isinya.
Aksi penyelamatan hewan serta para peri tempo hari dimanfaatkan oleh mereka untuk memasang penghancur masal di planet itu, seharusnya ketika mereka berhasil memindahkan The One serta para black roninnya Drax langsung menekan tombol penghancur masal itu dari orbit Neuro. Sayangnya insiden kecil yang terjadi telah memicu peristiwa besar yang tengah terjadi saat ini.
Disisi lain Zaya tengah berhadapan langsung dengan Melinda, mama tercintanya.
“Mama…Ini aku Zaya, apa kau telah melupakan aku?” Zaya kembali mencoba untuk menyadarkan Melinda, wanita itu seperti telah kehilangan dirinya sendiri saat ini. Sorotan mata Melinda terlihat kosong, kehangatan diwajahnya pun telah sirna entah sejak kapan.
Srak!
Brug!
Melinda menghempaskan tangannya, hingga membuat Zaya terpental seketika. Zaya bangkit sambil memegangi bahunya yang terkilir akibat benturan yang dia alami “Aku tidak akan membalas mu mama…Lakukan apa yang kau inginkan tapi sadarlah!”
“Kau telah menghancurkan segalanya gadis bodoh! Seharusnya kau mati saat itu!” Ucap Melinda dengan geramnya, tetapi suara yang keluar dari mulut wanita itu bukanlah suara miliknya. Zaya semakin yakin jika The One telah berhasil memengaruhinya selama ini, apalagi karena Melinda merupakan pemuja setianya.
Sementara itu tak jauh dari posisi Zaya dan Melinda saat ini, Gorg tengah berjuang untuk mengenyahkan para black ronin dengan pedang maut serta senjata laser besarnya.
“Matilah kau mahluk bodoh!” Umpat nya. Wajahnya kini telah di penuhi cipratan darah berwarna hitam yang berasal dari mahluk-mahluk mengerikan yang telah mati di ujung pedangnya.
Entah berapa ratus ronin yang telah berhasil dia musnahkan, tetapi saat ini masih banyak pasukan mahluk mengerikan tersebut di sekelilingnya. Hampir saya serangan salah satu dari mereka berhasil mengenai tubuhnya, saat Gorg melihat Zaya yang terpental akibat hempasan tangan Melinda. Beruntung Abram tiba diwaktu yang sangat tepat! Pemuda itu berhasil menghunuskan pedang besarnya tepat di leher black ronin tersebut.
“Tetaplah fokus ayah! Ibuku itu bukanlah mahluk yang lemah!” Serunya, lalu kembali melenyapkan para musuh dengan pedang dan sejata lasernya.
“Hei Khaii! Bisakah kau melenyapkan mahluk itu lebih cepat lagi??! Ini bukan waktunya bermain-main bodoh!” Lanjutnya dengan kesal, baginya saat ini saudara tampannya itu tengah sengaja memamerkan kemampuannya.
“Aku tidak sedang bermain-main sialan!” Geram Khaii, bahkan dirinya pun hampir kewalahan menahan serangan-serangan mahluk mengerikan itu agar tidak mengenai orang-orang terdekatnya. Apalagi ayah dan ibu nya.