
"Kau bahkan tidak becus menyelesaikan masalah sekecil itu dan kau masih berani berbicara didepan ku?!"
Seketika suasana menjadi hening, suara majestik milik manusia kuno itu mampu membuat siapapun yang mendengarnya terdiam seketika. Seperti yang telah terjadi dihadapannya saat ini, ketika tiga orang pria tak lagi bisa membuka suara nya bahkan menatap wajahnya.
Hampir seratus tahun ini dirinya membangun sebuah tatanan kehidupan setahap demi setahap di seluruh galaksi secara diam-diam, dia memimpin sebuah pergerakan dibalik sebuah struktur pemerintahan pada setiap bangsa melalui seorang Supreme Leader.
Dendamnya yang mendalam kepada sukunya sendiri telah membentuk sebuah kepribadian baru pada dirinya, begitu pula dengan tubuhnya. Saat ini dia sudah tidak lagi terlihat sebagai bagian dari suku Amarath ataupun Omarath karenanya.
Jika suku Amarath memiliki kulit abu-abu dengan bola mata agak besar dengan warna pupil hitam serta hidung mancung dan bibir agak tebal juga hampir di sekujur tubuhnya tidak ditumbuhi rambut, begitu pula dengan Omarath tetapi dengan rambut panjang di kepalanya. Pria yang menyebut dirinya sebagai The One ini memiliki kulit tebal berwarna merah kehitaman, dengan bola mata yang juga kemerahan serta rambut yang panjang dan bergigi tajam. Selama ini dia menyamarkan tampilan dirinya dengan jubah yang menutupi kepala hingga ujung kakinya.
"Bunuh Gorg segera! Dia akan menjadi penghalang terbesar untuk semua rencana kita"
Sementara itu di sebuah tempat di planet Neuro, Dhar sedang berkumpul bersama dengan teman-teman Sinth nya. Jika suasana ramai akan menghiasi pertemuan sebagian besar bangsa-bangsa, maka suasana hening akan tercipta dikala orang-orang dari bangsa Sinth sedang bertemu. Hanya mereka sendiri yang tahu apa yang sedang mereka bicarakan, terkecuali untuk orang-orang yang terlahir dengan memiliki kelebihan seperti Gorg.
"Peristiwa besar akan terjadi dalam waktu dekat"
"Energi biru sudah mulai pulih"
"Bersiaplah"
"Akan ada banyak korban berjatuhan"
"Kita harus melindungi Gorg"
"Seorang gadis terpilih akan muncul dengan membawa perubahan besar"
Bersamaan dengan itu jauh di kedalaman planet, tepatnya di sektor Y sekawanan serigala besar tengah berlari dan membawa Zaya semakin dalam.
Entah sihir apa yang telah mempengaruhi gadis itu hingga membuat rasa takutnya hilang, padahal rute yang mereka tempuh selain gelap juga berbatu dan berkelok. Zaya berpegangan erat pada rambut serigala tunggangannya, agar dirinya tidak jatuh selama mereka menelusuri jalan yang tak juga ada ujungnya itu.
Anehnya Zaya terlihat begitu menikmati perjalanan tersebut, sesekali dia tersenyum saat melihat kawanan serigala yang semakin bertambah banyak dibelakangnya.
"Kau pemimpin kelompok rupanya sobat" Batin Zaya, lalu mengelus leher samping serigala besarnya.
Setelah berjam-jam lamanya mereka menelusuri lorong itu bersama, akhirnya Zaya bisa melihat secercah cahaya dari kejauhan. Gadis itu memejamkan matanya karena kemilau cahaya tersebut hampir saja membutakan matanya ketika mereka telah mendekati ujung lorong tersebut.
"Demi roh agung! Ini sangat indah..." Zaya merasa begitu takjub tatkala memandang hamparan indah dihadapannya, rumput yang hijau serta bunga-bunga bermekaran juga pohon-pohon yang rindang. Gadis itu merasa sedang berada di planet yang berbeda saat ini.
Zaya melepaskan helm di kepalanya, karena dia yakin jika udara disana sangatlah sejuk. Dan memang terbukti kala gadis itu menghirup udara dalam-dalam, dirinya seperti sedang melayang keluar angkasa! Para serigala pun menghentikan larinya dan berjalan menelusuri hamparan rumput hijau indah tersebut, membawa Zaya ke suatu tempat.
"Master Xi! Master Xi! Mereka datang!"
"Masteri Xi? Kedengarannya sangat familiar" Batin Zaya, tetapi saat ini Zaya belum juga bisa mengingat seseorang bernama Xi atau dimana mereka pernah bertemu.
"Akhirnya kau datang juga Zaya" Xi membuka jubah yang menutupi sebagian wajahnya, lalu tersenyum ke arah Zaya dan menekuk lutut nya dihadapan mahluk-mahluk majestik itu.
"Master Xi? Kau kah yang telah membuat tanda di tubuhku?" Zaya menuruni punggung sang serigala setelah mahluk besar itu menekuk kedua kaki belakangnya.
Xi tersenyum dan mengangguk pelan, menuntun Zaya memasuki sebuah bangunan lalu menyuruh gadis itu untuk berganti pakaian. Zaya pun kembali dibuat takjub dengan kecanggihan teknologi yang ada didalam ruangan tersebut, apalagi diluar ruangan ini suasana begitu asri. Berbeda terbalik dengan kondisi di planet asalnya, dimana teknologi semakin pesat maka semakin hancur pula lingkungan disekitarnya.
"Kita akan bertemu dengan mereka, bersiaplah" Xi meninggalkan Zaya didepan pintu sebuah ruangan lalu pergi entah kemana.
Zaya memasuki ruangan tersebut, gadis itu sempat kebingungan mencari pakaian yang akan dikenakan nya. Pasalnya dirinya tidak menemukan lemari di manapun di ruangan itu, disana hanya ada dinding dan sebuah meja tepat ditengah ruangan tersebut.
"Pakaian... Pakaian...Dimana aku akan menemukan pakaian?" Batin Zaya.
Gadis cantik berambut panjang terikat itu hampir saja melompat akibat terkejut karena tiba-tiba saja dinding disebelah kanannya terbuka, dia bergeser sebelum memperlihatkan deretan pakaian yang tergantung dengan rapi didalamnya.
Zaya tidak langsung mengambil pakaian tersebut, dia ingin mencoba peruntungannya sekali lagi.
"Sepatu" Batinnya lagi, dan benar saja disebelah ruangan yang terdapat banyak pakaian tersebut dindingnya kembali bergerak, kali ini bukan bergeser kesamping melainkan keluar.
"Whoaww... Sepatu-sepatu yang sangat indah" Gumam Zaya, diapun mulai memilih sepatu dan pakaian yang akan dikenakan olehnya.
Ada satu model pakaian yang sangat menarik perhatian Zaya, dan begitu menggoda dirinya untuk tidak sampai tidak memakai nya. Baju kulit berwarna hitam dengan paduan kain katun alami berwarna coklat tua yang menambah kesan earthy, juga membuat penampilan Zaya semakin mencolok apalagi saat dirinya menambahkan aksesoris kulit dengan banyak tali pada pergelangan tangannya juga jubah dan sepatu boots sebagai sentuhan akhir penyempurna penampilan nya.
Xi membawa Zaya ke sebuah wilayah perbukitan, mereka harus melewati hutan rimba yang dihuni oleh banyak spesies tumbuhan dan binatang yang baru pertama kali ini Zaya lihat.
"Apa ini? Sepertinya sangat lezat bila dimakan" Batin Zaya, tetapi saat dirinya baru akan mendekati buah berwarna keemasan tersebut sang serigala mendengus hingga udara yang keluar dari hidung nya berhasil membuat buah itu menampakkan wujud aslinya.
"Wow! Rupanya tidak akan bagus jika sampai masuk ke dalam mulut mu"
Seketika buah tersebut mengeluarkan duri-duri halus yang sangat tajam, bisa dibayangkan bagaimana nasib tangan apalagi mulut kita jika sampai menyentuh atau memakan buah yang mirip dengan apel berwarna emas itu.
"Kita sudah tiba, persiapkan dirimu Zaya..."