
Zaya kembali dihadang musuh ketika dirinya akan menaiki kendaraan nya, untungnya orang yang Zaya temui sebelumnya datang untuk membantu dirinya.
Bahu membahu keduanya berusaha untuk menghabisi mereka, akan tetapi bukannya berkurang jumlah mereka justru malah makin banyak.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" Ucap wanita berjubah kulit tersebut, dia mengambil sebuah peluit yang dijadikan bandul kalung olehnya lalu meniupnya sekeras mungkin.
"Zaya pergilah! Serahkan semua kepada kami!" Seru wanita dengan penutup mata mirip robot tersebut, lalu bersiap kembali menghadang musuh-musuhnya.
Tak lama setelah Zaya menaiki motor besarnya, sekelompok orang dengan model jubah yang sama muncul secara tiba-tiba dan mengelilingi para musuh. Masing-masing dari mereka menggunakan pedang serta pistol laser dan menembakkan senjatanya ke arah musuh hingga mereka berlari menyelamatkan diri, bahkan banyak dari mereka mati ditempat.
"Sialan!" Umpat Zaya, karena kini selain seragamnya terkoyak akibat terjangan pisau pakaian itupun menjadi kotor karena darah yang mengalir dari lengannya.
Secepat mungkin gadis itu berjalan menuju kediaman sementara mereka, dan pada saat Zaya akan membukakan pintu untuknya tiba-tiba saja pintu tersebut terbuka dan Gorg menyambutnya.
" Maafkan atas keterlambatan ku yang mulia" Zaya mengangguk setelah memasuki ruangan tersebut dan Gorg menutup pintunya, lalu mengeluarkan paket tersebut dari balik baju seragamnya dan menyerahkannya kepada sang panglima.
Tanpa berkata sepatah katapun Gorg meraih lengan Zaya dimana sebuah pisau masih menancap disana, lalu dengan cekatan menarik benda tersebut dan menutup luka itu dengan kain yang sudah ada ditangannya.
" Aaakkhh!!" Zaya memalingkan wajahnya, selain karena menahan rasa sakit yang menyayat dirinya tidak mau sang panglima melihat wajahnya.
"Tetap tekan lukamu" Titah Gorg sambil menuntun perwira pertama nya untuk menduduki kursi sofa panjang disana, lalu mengambil kotak pertolongan pertama untuk menjahit luka di bahunya.
Zaya yang sudah lemas merebahkan tubuhnya disana sambil tetap menekan luka di bahunya agar darah yang mengalir tidak terlalu deras, pandangannya pun perlahan kabur. Sekilas Zaya melihat Gorg yang berlari kearahnya sambil memanggil namanya sebelum kedua matanya tertutup.
Gorg menatap lengan Zaya sambil memegang sebuah laser kecil berbentuk pena sambil berpikir, bagaimana caranya menutup luka tersebut jika masih tertutup benda seperti itu pikirnya.
"Andai Dhar ada bersamaku saat ini... Demi roh agung!" Batin Gorg.
Tidak ada waktu lagi untuk berpikir, saat ini yang terpenting adalah menutup luka tersebut dan membuat Zaya siuman pikir Gorg. Dia merobek lengan baju yang cukup tebal itu dengan mudahnya dan melepasnya, lalu mengarahkan pena laser kecil tersebut ke atas luka nya dan setelah itu menutup nya.
Selesai menutup kembali kulit yang ternganga dengan sinar laser nya, Gorg membalut bekas luka tersebut dengan kain. Tak hentinya dia mendengus karena tidak rela kulit mulus gadis itu kini dalam keadaan tergores, kenapa dia tidak kabur saja tadi pikir Gorg.
Untuk ukuran tubuh sekecil ini ternyata keberanian nya mengalahkan Ann Marrie dan para mantan perwira pertamanya yang lain batin pria berambut panjang dan beralis tebal itu, lalu membiarkan Zaya tertidur disana sementara dia membuka paket yang diterimanya di kursi diseberang nya.
"Demi dewa perang! Ini artinya aku benar-benar harus membuka baju gadis itu" Batin Gorg setelah dia membuka paket tersebut dan mendapati benda yang diberikan oleh salah satu anggota klan nya ternyata harus ditanam di dalam tubuh nya.
Gorg kembali mengarahkan tatapan matanya pada Zaya, gadis yang telah dia imprint dan akan menjadi miliknya kelak.
"Demi roh agung, jam berapa ini?" Perlahan Zaya membuka matanya, dirinya merasakan sensasi perih di lengan serta tengkuk nya.
Zaya meraba lengannya yang masih tertutupi oleh kain, lalu meraba tengkuk lehernya. Meski terasa perih tetapi dia tidak berhasil menemukan bekas luka disana. "Apa ini..??" Gumam Zaya saat jari tangannya merasakan permukaan keras tapi kecil disana.
"Tunggu, bagaimana caranya aku bisa berada disini?" Zaya beranjak dari tidurnya, saat ini dirinya sudah berada didalam kabin nya dengan pakaian yang tidak lagi sama.
"Demi roh agung! Apa mungkin...." Seketika Zaya menutupi mulutnya, tidak mungkin Gorg yang melakukan hal ini batinnya.
Zaya memberanikan diri untuk keluar dari ruangan itu, dan pada saat dirinya baru saja akan melangkahkan kakinya seorang budak wanita dari bangsanya menyapanya.
"Selamat siang nona Zaya" Ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya.
"Siang? Jam berapa ini!?" Pekik Zaya, jika ini sudah siang itu artinya dirinya telah melewatkan waktu untuk mendampingi panglima nya. Secepat kilat gadis itu kembali memasuki kabinnya, lalu melihat tanda waktu di atas mejanya.
"Semoga The One melindungi ku dari hukuman panglima!" Zaya tidak percaya dengan deretan angka dihadapannya, disana tertera jam serta tanggal dan hari dimana saat ini dirinya baru menyadari bahwa dia telah tertidur selama dua hari dua malam!
" Nona... Pakaian anda " Ucap budak wanita tadi, yang hampir saya membuat Zaya kembali berteriak.
"Te... Terimakasih" Ucap Zaya sambil mengusap dadanya.
"Panglima Gorg berpesan jika anda sudah bangun, anda diminta untuk segera menemuinya di ruangan pertemuan" Lanjut nya, lalu pergi meninggalkan Zaya.
Secepat mungkin Zaya mempersiapkan dirinya untuk menemui panglima tinggi nya disana, tak jarang gadis itu merutuki kebodohannya sendiri karena telah lancang tidur selama itu. Gadis itu bahkan tidak menyadari jika pakaian tugas hariannya yang sempat terkoyak dan pakaian perangnya yang robek sudah dalam keadaan rapi.
Dua orang pengawal membukakan pintu ruangan pertemuan saat Zaya berjalan dengan cepat ke arah mereka, merekapun memberikan penghormatan saat gadis itu melewati nya.
"Sebelah kananmu" Kembali suara Gorg terdengar di kepalanya, tanpa mencari keberadaan sang panglima Zaya pun mengarahkan langkahnya ke sisi kanan lalu menghentikan langkahnya ketika dirinya sudah berada di belakang kursi yang di duduki oleh Gorg.
"Aku benar-benar harus menanyakan perihal suara-suara aneh ini" Pikir Zaya, dia merasa sudah menyerupai kaum Mordor yang berkomunikasi lewat telepati dengan sesama nya.
"Bertanyalah..." Kembali suara Gorg terdengar di kepalanya.
"Demi roh agung! Aku bisa gila...!" Batin Zaya, lalu menutup matanya. Sekuat tenaga Zaya menahan emosinya saat ini, kenapa hanya suara pria mengerikan itu yang ada dipikirannya batin Zaya semakin meronta.
Tidak mungkin Gorg berbicara kepadanya saat ini, pasalnya Zaya melihat dengan mata kepalanya sendiri dimana Gorg tengah berbicara dengan anggota parlemen lainnya dihadapannya.
Zaya memberanikan diri untuk bertanya setelah suara Gorg kembali terdengar di kepalanya, " Apakah kau ini mahluk astral??"
"Uhuk...Uhuk..." Tiba-tiba saja Gorg tersedak ditengah-tengah perdebatan nya dengan anggota parlemen, dia tidak percaya dengan pertanyaan konyol yang diajukan oleh Zaya kepada nya.
"Demi roh agung! Ternyata ini semua benar!"