The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 55



Untuk kali ini Gorg benar-benar sudah tidak bisa lagi mengontrol gejolak jiwanya, tatapan mata Zaya dan sentuhan serta deru nafas gadis itu yang menghembus di wajahnya membuat dia benar-benar hilang kendali.


Dengan tatapan mata yang tetap tertuju kepada gadis tercintanya, Gorg mengangkat tubuh Zaya lalu menyambar bibir ranumnya setelah gadis itu melingkarkan tangannya dipundaknya serta mengaitkan kedua kakinya ditubuhnya.


Seketika awan hitam pun menyelimuti langit, petir saling bersautan dan angin kencang pun menyapu kering nya sebagian besar planet yang mulai hidup itu.


Xi, Khan serta Seren menengadahkan wajahnya ke atas langit. "Akhirnya terjadi..." Batin ketiga nya secara bersamaan dari tempat yang berbeda.


Dalam sekali tarikan keduanya saling melepaskan pakaian yang dikenakan oleh pasangan nya, Gorg lalu meletakkan tubuh gadis itu kembali ke atas ranjang dengan sangat hati-hati.


Benar dugaannya enzim yang diberikan kepada Zaya tidak seluruhnya berfungsi! Seharusnya gadis itu tidak akan se-liar ini, seharusnya dia lebih tenang dan dingin. Itu semua dia lakukan demi Zaya, agar gadis itu tidak harus merasakan kesedihan yang hanya akan menghancurkan nya pikir Gorg.


"Aku tidak bisa lagi menahannya Zaya ..." Ucap Gorg lirih, saat dia menjelajahi telinga gadis itu.


Tak ada sepatah katapun terucap dari gadis itu, dia pun tak kuasa lagi menahan gejolak jiwanya apalagi saat merasakan sensasi aliran listrik menjalar di sekujur tubuhnya akibat sentuhan lembut Gorg disana.


Dan entah darimana asalnya keberanian Zaya, hingga dirinya pun bisa membalas semua perlakuan Gorg padanya " Aku menginginkan nya Gorgen...Aku menginginkan nya..."


Dalam sekejap mata tak ada lagi sehelai benangpun menutupi tubuh keduanya, Zaya benar-benar bisa mengimbangi semua permainan yang Gorg berikan kepadanya. Hal itu membuat Gorg semakin gencar melakukan aksinya, hingga tiba saatnya dia mengarahkan benda pusaka miliknya.


Sekilas rasa ragu hinggap dalam benaknya, apakah Zaya bisa menerimanya? Pikir pria besar itu. Mengingat apa yang dia lihat sekarang ini.


Tetapi keraguannya sirna seketika setelah apa yang dilakukan oleh Zaya pada benda pusaka miliknya, gadis itu mengarahkan benda tersebut ke tempat dimana benda pusaka itu harus bersemayam saat ini. Dan bersamaan dengan menggelegar nya petir di langit, benda pusaka itupun berhasil menembus dinding pertahanan milik Zaya. Bersamaan dengan itu pula darah menetes dari pundak Gorg setelah taring Zaya mendarat disana.


Siang itu untuk pertama kalinya dalam kurun waktu hampir seratus tahun planet tersebut diguyur hujan lebat! Petir saling menyambar dan menggelegar di udara menyamarkan suara-suara yang menggema dalam satu ruangan dimana pertempuran panas tengah terjadi saat ini. Sekilas hal tersebut terlihat mengerikan tetapi tidak bagi para penghuni planet itu, mereka bersorak gembira dibawah guyuran hujan lebat itu. Mereka bahkan tidak perduli dengan angin kencang yang menyapu dan suara petir yang memekakkan telinganya.


Berjam-jam lamanya hujan mengguyur dan membasahi seluruh bagian planet Neuro, hingga sungai-sungai mulai mengalir dan danau-danau mulai terisi kembali. Bahkan pada sebagian wilayah planet itu telah terjadi banjir bandang, hingga memporak-porandakan apapun yang dilaluinya.


Tak lama berselang awan hitam yang menutupi langit perlahan berganti dengan cerahnya sinar mentari, suhu udara disana pun telah mengalami perubahan signifikan. Terbukti dengan berubahnya warna lampu pendeteksi radiasi milik Khan, alat yang melingkar di tangan pria besar itu tidak lagi menunjukkan warna yang merah! Melainkan hijau.


Hal menakjubkan pun terlihat dari jendela kapal induk milik bangsa Babilon serta Arya. Mereka melihat warna planet itu tidak lagi merah, melainkan biru kehijauan.


Musuh yang sudah bersiap untuk menyerang akhirnya mengurungkan niatnya setelah mereka melihat perubahan luar biasa pada planet dibawahnya, mereka langsung menarik mundur pasukannya setelah mendapatkan instruksi langsung dari sang Supreme Leader.


"Ini belum berakhir kawan, mereka akan kembali dengan pasukan terkuatnya " Drax membawa kembali pesawatnya memasuki kapal induk besar milik bangsa Arya, dia berniat akan mengumpulkan seluruh pasukannya agar mereka bisa mempersiapkan diri untuk serangan terbesar dalam sejarah.


Mother dragon boleh berbahagia karena dia telah menemukan tempat yang sangat tepat untuk semua kawanan naga nya, setelah dia kembali dari menjelajahi sebagian planet tersebut. Mahluk majestik itu telah menemukan sebuah air terjun yang sangat besar dengan goa besar dibelakangnya, dia pun memerintahkan kepada seluruh naga nya untuk terbang bersama dengan nya ke sana.


Ini terjadi kepada seluruh hewan besar yang ikut bersama dengan klan serigala, masing-masing dari mereka mulai menyebarkan diri untuk mendiami sarang-sarang mereka.


Dalam sekejap seluruh planet kembali menggeliat hingga kehidupan yang telah lama sirna hadir kembali disana, pepohonan dengan ajaibnya tumbuh sesuai dengan ukuran mereka masing-masing! Air mengalir dimana-mana. Bersamaan dengan itu pula kekuatan dari energi biru meningkat tajam.


"Mmhhh... berhentilah sayang, jika tidak seluruh planet ini akan tergenang air" Pinta Zaya, ketika dia merasakan sentuhan tangan Gorg di tubuhnya.


"Huuffhh...Kau baru saja menghancurkan fantasi ku..." Gorg mendengus kesal, lalu menjatuhkan kembali tubuhnya di samping Zaya.


"Tumbuhlah didalam sana serigala-serigala kecil..." Bisik Gorg saat dirinya mengelus perut rata milik Zaya, setelah dia kembali memeluk tubuh kecil itu.


Entah apa yang sedang menanti penerus dari klan serigala itu dimasa depan mereka, campuran gen yang sangat unik itu sudah pasti akan membuat musuh merasa terancam. Tetapi yang pasti planet ini sudah sangat siap untuk menyambut kedatangan mereka disana.


Jika hal baik tengah terjadi di planet Neuro, maka tidak dengan apa yang tengah dialami oleh Dhar dan Hira di planet Mars. Keduanya tengah menghindari tembakan yang dilancarkan oleh pasukan kesatria daratan disana, bersama dengan Peer dan kedua temannya di pesawat yang lain.


Entah bagaimana ceritanya hingga musuh dapat menemukan keberadaan keduanya disana, untungnya serangan terjadi jauh sebelum mereka tiba di tujuan.


"Dhar! Pergilah ke sana! Kami akan membawa mereka ke padang kematian!" Seru Peet, setelah pesawat-pesawat milik temannya tiba dan membantu mereka.


"Tidak bisa Peet! mesin kami tertembak!" Balas Dhar, dia dan Hira sama-sama tengah berjuang agar pesawat yang mereka terbangkan tidak sampai jatuh dan meledak.


"Aku telah mengirimkan titik koordinat padamu Dhar! Mendarat lah disana! temanku akan datang dan menolong kalian!" Peet lalu menuntun pesawat-pesawat musuh agar mengikuti pesawat mereka, sementara Dhar sengaja menjatuhkan pesawat nya di titik koordinat yang telah dikirimkan oleh Peet kepadanya hingga membuat musuh tidak lagi mengincarnya.


Brugh! Brak! Brak!


"Kau tidak apa-apa sayang?" Secepat mungkin Dhar melepaskan tali pengaman kursinya, dan memeriksa keadaan Hira.


"Aku tidak apa-apa Dhar"