The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 23



Hari ini Gorg berencana untuk mengajak Zaya ke sektor Z untuk melihat perkembangan latihan pada kadet baru, tentunya dengan balutan sebuah perintah yang harus Zaya patuhi. Tetapi sayangnya rencana yang sudah tersusun rapih tersebut harus Gorg tunda, dikarenakan tiba-tiba saja supreme leader memanggilnya.


Gorg harus kembali ke planet Mars untuk segera menemui pria tersebut, meski dirinya berencana untuk memerintahkan kembali Zaya untuk menerbangkan kembali Shinok nya tetapi karena Gorg mencurigai hal lain dibalik pemanggilan dirinya maka dia pun memutuskan untuk memerintahkan Ann Marrie dan mengajak Dhar bersamanya.


Dan karena tidak ada perintah tugas khusus dari Gorg, maka hari ini Zaya berencana untuk latihan bertarung di ruangan simulasi. Tetapi baru saja dirinya akan menginjakan kakinya kedalam ruangan virtual tersebut, tiba-tiba alarm panggilan darurat berbunyi.


Pasukan Phoenix yang sebelumnya sudah diterbangkan kewalahan menghadapi musuh, mereka pun mengirimkan sinyal SOS ke stasiun pusat.


“Akhirnya…Tugas yang sesungguhnya!” Zaya sangat senang saat melihat pesawat yang biasa dia terbangkan bersama dengan Bessara, meski sebentar lagi dirinya akan memiliki pesawat untuk dia terbangkan sendiri.


“Kau lebih menyenangi tugas ini ketimbang menjadi perwira pertama untuk panglima?” Bessara menggelengkan kepalanya, disaat semua kesatria langit berlomba-lomba untuk menjadi seorang perwira pertama bagi seorang panglima tinggi, temannya ini malah lebih senang berada di medan perang menembaki para musuh.


“Kau tidak tahu saja tekanan yang kau dapat saat berada dekat dengan panglima, aku tidak bisa menjadi diriku sendiri…” Keluh Zaya.


“Dasar gadis yang aneh” Bessara mengaktifkan semua sistem dan menunggu perintah peluncuran dari AI, entah mengapa perasaannya hari ini kurang begitu baik. Perasaan ini tidak didapatnya dari Zaya, melainkan dari dirinya sendiri.


“All is well…” Gumamnya


“Apa ada sesuatu yang mengganggumu Bessara? Ku lihat kau sepertinya sedang mencemaskan sesuatu” Zaya beberapa kali melirik sahabatnya ini, tidak seperti biasanya Bessara menghela nafasnya kasar bahkan hingga berkali-kali.


“Aku baik-baik saja…Semoga” Jawabnya, lalu menekan deretan tombol pada layarnya dan pesawat mereka pun terbang melesat ke luar stasiun bersama dengan ratusan pesawat lainnya.


Musuh benar-benar telah membuat para kesatria phoenix kewalahan saat Zaya dan teman-temannya tiba disana, “Serang mereka teman-teman, dan jangan menyisakan satupun dari mereka!” Perintah seorang perwira level 3 melalui alat komunikasi yang terdengar di semua pesawat.


Bessara pun mulai melakukan manuver-manuver untuk mengecoh dan menembaki musuh-musuhnya, “Perlawanan mereka cukup kuat rupanya hari ini” Ujar Zaya sambil terus melepaskan tembakannya.


Lima belas menit pertama semuanya lancar, Bessara menerbangkan pesawatnya dengan sangat baik. Semua manuver-manuver yang dia lakukan pun mulus hingga semua tembakan laser Zaya hampir keseluruhannya mengenai lawan. Masalah terjadi ketika mereka menginjak menit ke 50, satu tembakan laser berhasil mengenai salah satu bagian mesin hingga pesawat yang diterbangkan oleh Bessara kehilangan kendalinya.


“Tahan Bessara! Aku akan ke ruangan mesin!” Seru Zaya, Gadis itu bahkan sudah berlari menuju ruangan sempit tersebut untuk memperbaiki kerusakan pada mesin sebelum Bessara meresponnya.


“Mayday! Mayday! Pesawat kami tertembak!” Bessara berusaha untuk meminta bantuan rekan-rekannya, dirinya pun telah mengirimkan sinyal Sos kepada pusat agar mereka segera mengirimkan pesawat penolong.


“Zaya! Bagaimana keadaan disana?!”


“Mesin sayap kiri sudah tidak bisa diperbaiki Bessara! Sebaiknya kita mendaratkan pesawat ini secepatnya!” Zaya kembali berseru sambil bergegas mendekati Bessara. “Disana! Kita bisa mendaratkan pesawat kita disana!”


“Kau gila! Itu sektor X Zaya..Disana hanya tersisa gurun tandus!”


Serangan terakhir musuh telah memporak porandakan tempat tersebut, hingga semua penduduk Sinth menghilang dari sana. Terakhir Zaya ke sektor tersebut ketika dirinya menemui seorang tabib bersama dengan Xande, dan berakhir dengan rasa perih yang menyayat di tengkuk lehernya.


“Kau memilih mati disini Bessara??? Bantuan masih lama! Cepatlah!” Zaya menempati kembali kursinya, dia memasang pengaman kursi tambahan di bahunya untuk menghindari benturan begitupula dengan Bessara.


Bessara pun mengarahkan pesawatnya ke sektor tersebut, dan dengan sekuat tenaga dia mengontrol laju pesawatnya yang melesat  memasuki lapisan udara planet Neuro.


Bessara tetap berusaha keras untuk mengendalikan pesawat jet nya agar pendaratan tidak mengalami benturan yang terlalu keras, hingga..


Brak..!!!


Sreeeekkkk!


Brak!! Brak!!


“Zaya…Zaya…Bangunlah!” Bessara menepuk pipi Zaya, gadis itu kehilangan kesadarannya akibat menahan benturan ketika pesawat mendarat dengan sangat keras. Beruntung permukaan dimana pesawat mendarat terdiri dari hamparan pasir, hingga pesawat itu tidak hancur berkeping-keping ketika mendarat.


Perlahan Zaya membuka matanya, samar dia mendengar suara Bessara yang sedang memanggil namanya. “Apa kita berhasil Bessara? Aku belum mati kan?” Zaya memegangi bahunya yang terasa cukup pegal akibat pengaman kursi yang menahan bobot tubuhnya ketika mereka terjatuh.


“Kita berhasil mendarat dengan selamat Zaya” Jawab Bessara sambil membantu Zaya melepaskan semua tali pengaman kursi, lalu menuntun Zaya untuk keluar dari pesawat tersebut.


Zaya masih ingat betul dengan suasana dimana dirinya berada saat ini, gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari sebuah tempat. Dan ketika Zaya berhasil menemukan bukit bebatuan dimana Xande pernah membawanya, dia pun mengajak Bessara untuk bergegas menuju bukit tersebut sebelum malam tiba.


“Disana Bessara!” Tunjuk Zaya. “Xande pernah membawaku ke sana!” Lanjutnya.


Untunglah pesawat tersebut dilengkapi sistem penyamaran canggih, jika tidak mungkin keberadaan mereka akan lebih mudah diketahui oleh para pemburu. Tetapi meski demikian Zaya dan Bessara tidak mungkin menunggu bantuan tiba didalam pesawat tersebut karena terkendala persediaan oksigen yang menipis.


Pilihan terbaik mereka saat ini adalah dengan bermalam di dalam goa yang terdapat di sekitar perbukitan tersebut, dimana suku Sinth bermukim sebelumnya.


.


.


Gorg tiba-tiba merasakan hal aneh ketika mereka baru saja tiba di gedung pemerintahan pusat, pria tinggi besar itu harus menghentikan langkahnya sejenak ketika merasakan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang.


“Yang mulia, apakah anda baik-baik saja?” Dhar terkejut ketika tangan kekar Gorg mendarat di bahunya, seketika dia pun mendapatkan gambaran peristiwa.


“Apa yang telah terjadi Dhar?” Gorg menarik nafasnya panjang, dia tahu jika keadaan Zaya tidak sedang baik-baik saja saat ini.


Dhar baru saja akan menjawab pertanyaan dari panglima tingginya ketika Ann Marrie tiba dengan nafas yang terengah-engah, gadis itu memberikan kabar mengenai Zaya dan pesawatnya yang tertembak.


“Posisi terakhir mereka berada di titik koordinat ini yang mulia” Ann Marrie memperlihatkan layar virtual yang muncul dari benda yang melingkar di tangannya, disana terdapat titik lokasi dimana pesawat Zaya dan Bessara berada.


Gorg mendengus kesal, ingin rasanya dia kembali saat ini juga untuk mencari keberadaan Zaya tetapi panggilan dari supreme leader ini telah menahannya disana.


“Kerahkan eagle dan hawk untuk menemukan keberadaan mereka!”