The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 46



“Kumpulkan semua pasukan inti, sekarang sudah bukan waktunya untuk bermain-main lagi” Sesosok mahluk kuno menyeramkan muncul secara virtual ditengah-tengah para supreme leader beserta para perwiranya, dihadapannya saat ini adalah X yang tengah terkapar tak berdaya dengan batu kristal biru di keningnya lalu menghilang kembali.


Kapsul X ditemukan di tengah-tengah gurun tak berpenghuni di planet Mars, setelah radar dari stasiun militer berhasil menangkap benda asing yang jatuh disana.


“Persiapkan diri kalian anak-anak, kita akan berperang!” The One membangunkan mahluk hasil temuannya yang dia pelihara serta modifikasi selama hampir seratus tahun lamanya disebuah planet terasing.


Rooaaarrrr! Roaaarrrr!!!


Mahluk yang dinamai Dark Ronan ini memiliki bola mata merah dengan deretan gigi tajam serta kulit tubuh yang tebal, tenaga mereka begitu kuat hingga bisa menghancurkan seekor cacing raksasa dengan sekali tebas. Dan saat ini jumlah mereka mencapai ribuan!


The one telah mempersiapkan mereka untuk serangan mautnya, seandainya rencana sebelumnya gagal dia lakukan. Selama hampir seratus tahun dia telah menciptakan sebuah virus yang membuat para wanita melahirkan lebih banyak bayi perempuan dibandingkan dengan bayi laki-laki, dia pun telah membuat virus lain yang membuat sebuah planet tandus hingga pada akhirnya seluruh penghuni planet tersebut musnah jika mereka tidak mau tunduk kepadanya.


Mahluk kuno menyeramkan itu bahkan tidak harus menciptakan peperangan secara langsung! Karena keinginan semua mahluk untuk bertahan hidup sangat tinggi hingga banyak dari mereka menghalalkan segala cara termasuk berperang. Siapa yang paling kuat dialah yang akan berkuasa, siapa yang berhasil menguasai sebuah sistem dialah yang akan memegang kendali. The One hanya harus menanamkan keyakinan-keyakinan menyimpang yang bisa dibenarkan secara logika oleh mereka.


Yang dia tidak percaya adalah kenyataan bahwa kedua bangsa itu telah berhasil menyelamatkan diri hingga mereka bisa membuat ulang energi biru yang saat ini tidak diketahui keberadaannya itu, dan kenyataan bahwa ternyata keyakinan-keyakinan menyimpang yang telah dia susun dengan rapi ternyata membuat sebagian dari bangsa-bangsa yang berhasil dia hancurkan memiliki keinginan kuat untuk mengubah sistem-sistem tersebut.


Terbukti dengan adanya kaum revolusi yang telah berhasil mengambil alih dua stasiun luar angkasa besar di dua planet yang berbeda, entah apalagi yang mampu mereka perbuat setelah ini pikirnya. Serangga-serangga yang dikiranya hanya sebuah gangguan kecil tak berarti, ternyata telah menjadi hambatan terbesarnya saat ini.


“Tidak akan ada yang bisa mengalahkan aku! Akulah mahluk terkuat di alam semesta ini!” Seruan mahluk menyeramkan itu menggema hingga membuat para dark ronin kembali mengeluarkan suara-suara anehnya.


Bukan hanya The One yang sedang mempersiapkan pasukannya, para supreme leader pun tengah menyiapkan seluruh pasukannya untuk berperang. Mereka bahkan menerapkan aturan wajib militer bagi seluruh penduduk planet termasuk para pria nya, spesies yang selama ini mereka lindungi dengan segenap jiwa dan raga.


“Ini tidak adil ayah! Bukankan kita para pria memiliki keistimewaan selama ini?” David, anak laki-laki paling tua diantara semua anak laki-laki Damian akhirnya angkat bicara setelah mereka menerima surat perintah dari perwira tertinggi di kesatriaan. Mereka bahkan harus segera bersiap karena para kesatria tak lama lagi akan menjemputnya.


Damian menghela nafasnya kasar, dia tidak menyangka ternyata mental para anak laki-lakinya berada jauh dibawah Zaya, anak gadisnya yang telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Sang ayah bahkan tidak memiliki keinginan untuk memperjuangkan nasib mereka seperti permintaan para ibu dari anak-anak tersebut.


“Bangsa ini sedang membutuhkan kalian, bersiaplah” Damian meninggalkan mereka di ruangannya, dia tidak mau memperdulikan lagi rengekan semua anak laki-lakinya serta para wanita yang ada didalam ruangan itu. Saat ini hanya ada satu tempat yang bisa membuatnya tenang, yakni kediaman Melinda.


Selama beberapa bulan ini Damian tidak berani mengunjungi selirnya itu, dia tidak tahu bagaimana caranya memberitahu Melinda perihal kabar meninggalnya Zaya. Damian memilih untuk menghindar dan menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan, dia bahkan rela untuk menghabiskan waktunya untuk mencari tahu siapa yang telah memfitnah Gorg meski saat ini pria itupun telah dikabarkan mati di medan perang.


“Kau tidak akan pergi ke rumah wanita hina itu kan Damian?!” Salah satu istri sah Damian mengejarnya, dia mencoba untuk mencegah laki-laki itu untuk mewujudkan niatnya menemui Melinda.


Sang istri tidak berani meneruskan niatannya, dia tahu apa akibatnya jika membuat Damian marah. Dirinya terancam tidak memiliki akses keuangan dari laki-laki perkasa tersebut, dan itu akan membuatnya malu dihadapan teman-temannya. Sesama istri dewan parlemen!


Hanya Melinda yang di ijinkan untuk melawan perkataan Damian meski hal itu tak pernah dilakukan olehnya, wanita itu hanya akan diam jika sedang marah. Paling ujung-ujungnya menangis pikir Damian, tidak seperti para istri yang mengamuk meski hal tersebut hanya berani mereka lakukan dibelakangnya.


Sepanjang jalan menuju kediaman Melinda, Damian disuguhkan sebuah pemandangan yang membuatnya miris. Para supreme leader bahkan telah memberlakukan wajib militer bagi anak-anak selir buangan, Damian harus menunggu semua perwira itu meninggalkan wilayah tersebut sebelum dia mengunjungi kediaman Melinda karena jika tidak resiko penalti akan menunggunya karena telah berani mengunjungi selir buangan.


Damian tidak takut kehilangan semua harta bahkan jabatannya, tetapi jika memang itu sampai terjadi bagaimana dengan nasib Melinda nanti? Diam-diam Damian selalu memberikan sejumlah uang kepada selir kesayangannya itu meski harus menggunakan segala macam cara, agar Melinda tidak mengetahuinya.


“Damian? Apa kau sudah menerima kabar terbaru dari anak gadisku?” Melinda langsung mencecar Laki-laki itu dengan berbagai pertanyaan, termasuk menanyakan dimana Zaya berada sekarang ini saat dirinya mendapati Damian telah berdiri dibalik pintu.


“Tentang itu…Kita harus berbicara didalam” Kilah Damian, saat ini batinnya pun tengah berkecamuk. Dia harus menahan dengan sekuat tenaga agar air mata yang selama ini telah dibendungnya tidak menetes apalagi sampai membuat wanita itu bersedih.


“Damian, ceritakan kepadaku…Apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak mengunjungi ku selama ini? Apa ini ada hubungannya dengan Zaya?” Kembali Melinda mencecar Damian dengan banyak pertanyaan, tetapi laki-laki yang masih mengisi hatinya itu masih tetap bungkam. Melinda bahkan berusaha untuk menatap wajah Damian, meski pria tersebut selalu membuang pandangannya.


Damian menghela nafasnya berat, dan dengan segenap keberanian dia menatap wajah selir tercintanya.


“Dengarkan aku sayang…Anak kita Zaya…Dia…”


“Kenapa dengan Zaya Damian?! Apa yang telah terjadi dengannya? Dimana dia sekarang?” Melinda berusaha untuk memukul dada bidang pria gagah itu, tetapi Damian mencegahnya dengan menariknya kedalam pelukannya.


“Maafkan aku Melinda, tapi Zaya…”


Brak!


“Hallo mama…”


“Damian...Melinda…”