
“Zaya Peters! Pasukan Phoenix!”
“Fin Zorx! Pasukan Phoenix!”
Satu persatu dari para kadet yang telah lulus seleksi dipanggil oleh sang perwira tertinggi sesuai dengan emblem yang telah berhasil mereka dapatkan kemarin, Phoenix adalah nama pasukan udara penyerang dimana Zaya dan Fin beserta kadet yang sama-sama telah berhasil mendapatkan emblem tersebut tergabung.
Kedua gadis itu begitu senang dengan keberhasilan yang telah mereka raih bersama, dan saking bahagianya sampai-sampai Fin tidak menyadari bahwa dirinya tengah berpelukan dengan Zaya saat ini.
“Bunuh dia…”
“Dia akan menghancurkan tatanan…”
Potongan-potongan gambar itu kembali hadir dalam bayangan Fin, dan kali ini gadis itu bahkan bisa mendengarkan suara dari orang yang tidak dikenalnya memberikan perintah untuk membunuh.
Peperangan yang terjadi begitu dahsyat, Fin melihat ada banyak sekali mayat bergelimpangan dan kehancuran dimana-mana dan satu hal yang dia lihat adalah sosok seorang pria dengan liontin kepala serigala tengah menggendong tubuh Zaya.
“Huh…huh…” Fin mendorong tubuh Zaya seketika, dia bahkan sudah tidak bisa lagi mengontrol degup jantungnya. Tubuhnya terasa begitu lemas, Fin hampir saja terjatuh jika Zaya tidak menahannya dan menuntunnya untuk kembali duduk di kursinya.
“Demi roh agung! Fin apa kamu baik-baik saja?!” Zaya berusaha untuk menyentuh kening Fin saat gadis itu mengenyahkan tangannya dari keningnya.
“Aku…Tidak Zaya, aku mohon jangan menyentuhku…” Pintanya dengan bibir yang berubah pucat.
“Maafkan aku Fin, tapi aku benar-benar tidak mengerti…Bukankah kita sedang berbahagia tadi?” Zaya kembali akan mendaratkan punggung tangannya di kening Fin, tetapi gadis itu langsung menepisnya seketika.
“Sebaiknya kita bersiap-siap untuk mengikuti mereka” Fin mengalihkan pembicaraannya, dia lebih baik diam daripada harus membicarakan tentang bayangan yang dia dapatkan tadi dengan resiko seseorang akan mendengarnya hingga membahayakan dirinya juga Zaya.
Para kesatria udara datang untuk menyisir deretan kadet yang hadir disana, mereka akan membawa kadet yang telah terpilih untuk segera mengikuti mereka keluar dari barisan untuk segera bersiap.
Zaya dan Fin kembali berdiri saat satu orang kesatria Phoenix berjalan kearah mereka dan meminta mereka untuk mengikutinya.
“Kemasi barang-barang kalian, dan segera ke landasan dalam waktu lima menit!” Titah wanita berambut merah tersebut saat Zaya dan Fin sudah keluar dari pintu aula, lalu kembali ke dalam ruangan.
Zaya mengulum senyumnya saat menatap penampilan wanita tersebut, terlebih lagi warna rambutnya yang merah menyala seperti halnya burung phoenix yang tengah mengibarkan sayapnya.
“Jangan berpikir macam-macam Zaya, kita semua akan mendapatkan warna rambut yang sama nanti” Tebak Fin. Dirinya seperti memahami apa isi otak Zaya saat ini.
Zaya terkekeh geli karena ternyata Fin dapat menebak apa yang sedang dia pikirkan saat itu, lalu menggelengkan kepalanya. Dia dan gadis itu secepat mungkin mengemasi semua barang-barangnya dan bergegas menuju landasan dimana para kadet kesatriaan udara tengah berkumpul saat ini.
“Pasukan Phoenix menuju pesawat nomor 1, pasukan Falcon menuju pesawat nomor 2, pasukan Eagle menuju pesawat 3 dan pasukan Hering menuju pesawat 4!!!” Seru seorang wanita berkulit pucat dengan bola mata biru dan tanda bulan di keningnya sambil menunjuk ke arah pesawat-pesawat yang dia maksudkan.
Pasukan Phoenix adalah pasukan penyerang yang akan menerbangkan pesawat perang yang dilengkapi dengan persenjataan yang canggih yang akan selalu berada di lini belakang setelah pasukan Falcon berhasil mengintai musuh dan memberikan titik koordinat keberadaan musuh yang harus di hancurkan.
“Sampai berjumpa kembali mama…” Batin Zaya saat pesawat yang ditumpanginya sudah mengudara dan bersiap untuk masuk kedalam mode kecepatan cahaya.
Zaya memejamkan matanya saat pesawat itu melesat hingga berhenti di luar angkasa, sang pilot mengubah kembali mode terbang mereka ketika Fin memanggil namanya dan memintanya untuk membuka matanya.
“Lihat keluar jendela Zaya” Pintanya, lalu tersenyum saat sahabatnya itu perlahan membuka matanya.
“Demi roh agung! Sungguh sangat indah Fin…” Zaya begitu takjub melihat pemandangan di luar jendela, dia bisa melihat betapa besar planet nya jika dilihat dari posisinya saat ini. Gadis itu juga bisa melihat tebaran batu meteor yang sempat dia kira sebagai bintang terhampar dihadapannya, belum lagi stasiun luar angkasa yang melayang megah didepannya.
Sementara di daratan tepatnya disebuah kebun kecil dimana seorang wanita paruh baya cantik tengah menyirami tanamannya, Melinda bersenandung ria bahkan mengajak bicara tanaman sayur yang sedang dia sirami saat dehaman berat seorang pria yang begitu sangat familiar ditelinga nya mengejutkannya.
“Demi roh agung! Semoga The One memaafkan aku..” Pekik Melinda dan menjatuhkan tempat airnya karena terkejut.
“Apa kabarmu Melinda?” Ucapnya ketika wanita itu menoleh ke arahnya.
“Damian? Angin apa yang membawamu kemari? Apa kamu baik-baik saja?” Melinda tidak menghiraukan pertanyaan Damian, dia melihat banyak sekali perubahan pada raut wajah dan tubuh mantan pria nya tersebut.
Damian terlihat lebih kurus dan raut wajahnya tidak lagi segar serta terkesan kusut, Melinda bisa mengira jika mantan pria nya ini tengah jatuh sakit.
“Kau tidak menjawab pertanyaan ku” Balasnya, meski keadaannya demikian tetapi tidak menghilangkan sikap tegas dari pria yang dulu setiap hari membuatnya menangis itu.
“Aku baik-baik saja Damian, apa kamu baik-baik saja? Kau terlihat sangat pucat” Melinda menatap pria yang tengah berdiri dihadapannya ini dengan penuh selidik, dia bahkan memandanginya dari atas kepala hingga ujung kakinya.
Alih-alih menjawab Damian menarik tubuh Melinda kedalam dekapannya, lalu memeluknya erat dan memejamkan matanya.
“Biarkan seperti ini sejenak” Gumam Damian.
Andaikan wanita ini tetap bertahan di rumah besarnya mungkin deraan hidup seberat apapun akan tetap kuat dia hadapi, tetapi Damian tidak bisa egois karena diapun cukup tahu jika selir kesayangannya ini hidup tersiksa disana.
Bukan sekali dua kali Damian tanpa sengaja memergoki wanita ini tengah menangis dan mengurungkan niatnya untuk menghabiskan malam dengannya, Damian pun merasakan sakit hati yang mendalam ketika Melinda tersakiti karena dirinya.
Damian bahkan menangis diam-diam setelah dia menghukum Zaya karena telah berani membantahnya dan berlaku tidak sopan dihadapan para istri dan selirnya, hingga membuat keduanya memutuskan untuk hengkang dari istananya.
“Dimana anak gadis ku?” Damian mengedarkan pandangannya ke semua penjuru rumah, sejak kedatangannya ke rumah tersebut dia tidak juga mendapati kehadiran putri kesayangannya bahkan suaranya pun tidak terdengar disana.
“Itu…Maafkan aku Damian, tapi Zaya…” Melinda menghela nafasnya sejenak, dia mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal sebenarnya tentang putrinya yang saat ini mungkin sudah tidak ada lagi di planet nya.
“Katakan padaku Melinda, dimana anakku?!”