
“Dengar, aku tidak mau menyakitimu karena kau adalah bagian dari keluarga kami” Zaya masih menahan amarahnya dihadapan para serigala liar tersebut, meski mother dragon sudah bersiap untuk untuk menyemburkan apinya.
“Apapun yang terjadi antara kau dan Ra aku tidak akan mencampurinya, sekarang pergilah kalian…Aku harus mengobati serigala ku” Zaya memutar tubuhnya, dia meminta tolong kepada mother dragon untuk membawa tubuh Ra ke kediamannya. Tetapi pada saat semua serigala meninggalkan tempat itu, sang serigala besar tetap menyerang Zaya jika saja mother dragon tidak menyemburkan apinya terlebih dulu ke arahnya.
Beruntung api dari naga besar itu tidak membuatnya mati, karena Zaya menghentikan kemarahan mother dragon tepat pada waktunya. Gadis itu meminta bantuan kepada para naga untuk membawa keduanya ke desanya, terutama agar Ra segera mendapatkan pertolongan dari para tabib disana.
“Xi! Serigala ku terluka!” Zaya berseru seraya berlari memasuki pemukiman klan serigala, disusul oleh dua naga besar yang membawa tubuh Ra dan serigala besar tersebut lalu menaruhnya perlahan di atas bebatuan. Kedua naga tersebut kembali terbang ke sarangnya setelah Zaya mengucapkan terimakasih kepada mereka.
Pemandangan yang sangat langka tersebut disaksikan oleh seluruh anggota klan, mereka yang awalnya merasa takut dengan kehadiran dua mahluk besar tersebut dan bermaksud akan menyerangnya mengurungkan niatnya setelah Khan memerintahkan mereka untuk tetap berada di tempatnya.
Xi beserta Khan dan Seren berlari mendekati kedua serigala yang sedang terluka itu, rasa takjub yang menyelimuti mereka saat ini harus mereka tahan sementara waktu karena kedua serigala yang telah menjadi legenda disana ternyata telah berada dihadapan mereka dengan keadaan terluka.
Sang serigala putih dengan beberapa luka terkoyak pada bagian kaki dan lehernya, dan sang serigala besar yang diketahui sebagai pimpinan kawanan serigala liar memiliki luka bakar di sebagian tubuhnya.
“Apa yang terjadi?!” Hira berlari secepat mungkin menghampiri Zaya diikuti oleh para tabib yang telah dia panggil untuk mengobati dua serigala besar dihadapannya, dia juga melihat ada banyak noda darah pada tangan dan wajah serta pakaian gadis itu.
“Aku tidak apa-apa Hira, darah ini milik Ra” Zaya menyerahkan kedua serigala tersebut kepada para tabib, lalu meninggalkan mereka disana untuk membersihkan tubuhnya.
Keesokan harinya Zaya melihat keadaan dua serigala itu ditempat semula dia meninggalkan mereka, sang serigala besar masih tertidur pulas sementara Ra sudah terbangun tetapi masih terbaring lemah.
“Apa kabarmu hari ini kawan? Aku harap kau segera pulih…” Zaya memeluk Ra, meski tangan mungilnya itu hanya bisa merangkul sedikit bagian pada tubuh besarnya.
Sementara Zaya menjaga Ra yang masih terbaring lemah jauh di perut planet Neuro, Gorg saat ini tengah menghadapi sidang pertamanya dengan di dampingi oleh Dhar dan Sabath di planet Mars. Pria besar tersebut harus menahan amarahnya sekuat tenaga saat mendengar kesaksian dari para anggota parlemen yang sama-sama menghadiri pertemuan kala itu, dan sebisa mungkin bersikap tenang.
“Apa ada pembelaan dari pihak tertuduh?” Hakim agung mengarahkan pandangannya ke arah Gorg dan kedua temannya, tiga mahluk dari bangsa yang berbeda tengah berdiri di atas podium menghadapnya.
Sabath pun memulai aksinya,
“Yang mulia para anggota parlemen, ijinkan saya untuk mengajukan sebuah pertanyaan penting kepada anda semuanya dan saya harap anda dapat menjawabnya langsung tanpa berpikir terlebih dulu” Sabath mengangguk perlahan ke arah sang hakim agung, lalu membuang pandangannya ke arah para anggota parlemen yang berderet di belakangnya.
Sabath memandangi para pria penghuni planet tersebut satu persatu, lalu menghela nafasnya dan tersenyum.
“Apakah anda bersedia ikut bergabung dalam peperangan saat ini juga?”
Seketika seisi ruangan itu menjadi ricuh, karena peraturan mengatakan jika para pria di planet ini tidak diwajibkan untuk berada di medan peperangan mengingat spesies mereka yang dilindungi oleh undang-undang disana.
Sang hakim agung terpaksa mengetukkan palunya agar semua anggota sidang menjadi tertib kembali. “ Silent..!!”
“Statistik anda mengatakan jika jumlah korban dalam peperangan semakin tinggi dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, dan jika hal ini dibiarkan maka dalam waktu kurang dari lima tahun ke depan jumlah populasi wanita akan menurun drastis dan sudah pasti undang-undang yang melindungi anda semuanya tidak akan berlaku kembali” Sabath kembali memandangi mereka satu persatu, lalu memberikan senyuman uniknya.
“Sekarang saya ingin agar anda menempatkan diri anda semua di posisi para panglima tinggi, atau mungkin yang mulia bisa menugaskan mereka secara bergantian untuk pergi ke planet Neuro…Yaa hanya sebagai pengamat saja, hitung-hitung mereka membiasakan diri sebelum pada akhirnya nanti terjun langsung bersama para kesatria untuk menghadapi musuh?” Sabath mengibaskan tangannya.
Kembali seisi ruangan itu ricuh, hanya beberapa orang saja yang terdiam disana, diantara mereka adalah Damian. Keinginannya untuk menghentikan peperangan lebih tinggi ketimbang harus terus menerus berperang melawan musuh tanpa tahu apa sebenarnya yang telah terjadi, siapa yang harus dilindungi? Sementara penduduk planet tersebut dikabarkan sudah musnah sejak ratusan tahun yang lalu. Belum lagi keadaan disana sangat tandus dengan radiasi tinggi di beberapa wilayah, apa lagi yang tersisa disana? Pikir Damian.
“Yang mulia, sidang ini bertujuan untuk meminta pertanggung jawaban dari panglima tinggi Gorg atas perbuatan asusilanya! Juga atas pemberontakannya terhadap dewan parlemen” Sang penuntut berseru dikala keributan yang terjadi berhasil diredam kembali oleh ketukan palu milik sang hakim agung.
“Maaf yang mulia, tindakan asusila akan terjadi jika tidak ada rasa ketertarikan dari kedua belah pihak. Lagi pula yang mulia panglima Gorg memang sudah memiliki rencana untuk menikahi mendiang perwira pertamanya” Sabath memanjatkan doa setelah dia menyebutkan kata mendiang Zaya, lalu mempertanyakan kembali asas dasar dari tuduhan tersebut yang tentunya tidak bisa dijawab oleh mereka.
“Panglima kami tidak terikat di dalam undang-undang yang dibuat di planet ini, jadi dia bebas memilih calon istrinya sendiri tanpa memandang kastanya” Sabath kembali melakukan pembelaannya terhadap pria tinggi besar yang sudah terlihat sangat bosan itu, setelah perwakilan dari dewan parlemen mengungkit masalah aturan yang melindungi spesies mereka.
“Sidang akan dilanjutkan kembali besok!”
Keputusan yang disambut sangat baik oleh Sabath juga Dhar, terutama Gorg. Pria gagah itu sudah tidak sabar ingin memisahkan diri dari mereka dan mencari tahu kondisi terakhir kekasihnya Zaya, sejak tadi perasaan aneh menghantui dirinya. Bayangan darah yang memenuhi tubuh gadis itu telah membuat konsentrasi Gorg buyar selama persidangan berlangsung.
“Dia baik-baik saja yang mulia” Dhar berjalan disamping Gorg tanpa mengeluarkan suara. “Dia telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari para serigala…dan para naga” Lanjut Dhar, kali ini dia menoleh ke arah Gorg dan tersenyum tipis.
“Hhhhmmmhhhh”