The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 47



“Zaya….?!” Melinda dan Damian bersamaan menatap penuh tanda tanya melihat kedatangan sang putri secara bersamaan, bedanya Melinda langsung melepaskan pelukan Damian dari tubuhnya dan berhambur ke dalam pelukan Zaya. Putri semata wayang yang sudah sangat dirindukan olehnya.


Damian memandangi Zaya serta Gorg secara bergantian, dia bisa melihat adanya perubahan yang sangat besar kepada keduanya. Terutama pada bola mata anak gadis serta calon menantunya.


“Ada yang mengganggu pikiran mu Damian?” Gorg menyadari tatapan penuh tanda tanya dari pria yang dikabarkan sebagai ayah kandung gadis tercintanya itu, pasalnya beberapa waktu yang lalu pun dia mengabarkan kepada pria tersebut bahwa Zaya telah meninggal dunia. Tetapi pada kenyataannya disinilah mereka saat ini.


“Aku tidak tahu harus mulai dari mana panglima, semua ini begitu mengejutkanku..” Jawab Damian, untung saja dia belum memberitahu Melinda akan kabar kematian Zaya. JIka tidak sudah pasti wanita itu akan sangat marah kepadanya, satu hal yang selalu membuat Damian pusing tujuh keliling.


Gorg memutuskan untuk menunggu Zaya dan membiarkan gadis itu yang akan memberikan penjelasan kepada kedua orang tuanya, lagi pula gadis itu masih harus menceritakan sesuatu yang mungkin akan sangat mengejutkan keduanya. Saat ini dia hanya ingin menikmati pemandangan mengharukan dihadapannya, dua orang wanita berbeda usia tengah saling berpelukan.


“Zaya…matamu?” Melinda menatap kedua bola mata anak gadisnya dengan tatapan tak percaya, bagaimana mungkin Zaya bisa memiliki warna yang indah seperti itu pada pupil matanya. Sementara dia tahu benar jika dirinya melahirkan Zaya dengan warna bola mata yang berbeda.


Zaya pun menuntun sang mama untuk duduk di kursi kosong didekatnya, gadis itu punya ribuan cerita yang ingin disampaikan kepada Melinda dan Damian. Tetapi satu hal yang paling penting adalah menceritakan ketika dia bersama Gorg berada di tengah-tengah medan energi biru, saat itu dia melihat gambaran di masa lalunya.


Tak lama sebelum Melinda dikabarkan mengandung, salah satu utusan bangsa Amarath menaruh benih di rahim Melinda dengan cara memancarkan sinar kebiruan diatas perutnya. Ajaibnya benih yang ditanamkan oleh utusan itu malah menyatu dengan calon janin yang memang sudah ada disana, yakni janin dari keturunan bangsa Mars.


Jadi secara susunan DNA Zaya memiliki perpaduan antara bangsa Mars, bumi, juga Amarath. Itulah mengapa sejak awal gadis ini telah memiliki keunikan tersendiri, terutama kedekatannya dengan hewan-hewan serta tumbuhan. Dan itu pula lah faktor penyebab kenapa gadis ini memiliki keterikatan dengan energi biru.


Ini sama hal nya dengan apa yang terjadi kepada Gorg, dulu pun Seren mengalami hal yang sama dengan Melinda ketika sedang mengandung dirinya. Bedanya Seren menyadari hal yang terjadi kepadanya, karena saat itu mereka memang telah tinggal di perut planet Neuro bersama dengan bangsa berkulit abu-abu itu.


Pertanyaan yang timbul di benak Damian serta Melinda saat ini adalah mengapa mereka melakukan hal tersebut? Dan apakah masih banyak anak-anak yang bernasib sama dengan mereka?


Jawabannya iya!


Dulu kedua bangsa kuno itu tengah melakukan sebuah eksperimen dengan menaruh benih kedalam rahim para perempuan terpilih dari bangsa yang berbeda, tujuannya adalah agar mereka kelak bisa mengahadapi The One.


Jika The One melakukan eksperimen dengan membuat pasukan dark ronin yakni pasukan mahluk asing dengan gabungan DNA miliknya hingga menghasilkan sesosok mahluk yang tidak memiliki akal, maka bangsa Amarath menaruh benih-benih mereka untuk menciptakan mahluk dengan intelegensi tinggi juga kekuatan yang mumpuni. Dan yang paling utama adalah mahluk yang memiliki rasa cinta.


Damian menghela nafasnya berat, entah apa yang harus dia rasakan saat ini. Apakah dia harus memilih untuk cemburu? Seperti yang sedang dia rasakan saat ini, atau justru malah harus bersyukur karena ternyata anak gadisnya ini memang terlahir berbeda? Atau justru malah kecewa karena pada kenyataannya saat ini dia telah menjadi orang yang paling di musuhi oleh pemerintahannya.


“Hentikan pemujaan mu terhadapnya Melinda, dia sama seperti Zaya, aku bahkan kalian semua” Pinta Gorg, sebenarnya pria berambut panjang terikat itu sempat ragu untuk mengijinkan Zaya muncul dihadapan kedua orang tuanya. Alasannya karena mereka memang pemuja mahluk mengerikan itu.


“Dia bahkan memiliki kemiripan DNA dengan kami, bedanya mahluk tua itu memiliki kekuatan yang cukup besar” Tambah Gorg, sengaja dia mengucapkan kata-kata untuk merendahkannya agar mahluk mengerikan itu bisa merasakannya.


“Kau jangan menghinanya sayang, atau dia akan merajuk” Zaya terkekeh geli mendengar ucapan Gorg dan dirinya sendiri, tetapi tawanya itu berhasil membuat Damian dan Melinda terkejut untuk kesekian kalinya. Mereka melihat pemandangan baru lagi saat tanpa sengaja melihat deretan gigi anak gadisnya itu, Zaya memiliki taring!


“Itu….” Melinda menunjuk benda yang ada didalam mulut Zaya, apa yang sesungguhnya telah terjadi kepadanya? Batinnya.


“Dia sudah menjadi milikku sekarang..” Gorg melakukan penekanan pada setiap kata-kata yang dia ucapkan, dia pun menunjukan satu benda yang langsung membuat Damian serta Melinda bungkam.


Ternyata selain memiliki DNA bangsa kuno, saat ini Zaya telah menjadi bagian dari sebuah klan yang telah lama dinyatakan punah!


“Jaga dirimu baik-baik sayang, mama akan selalu menunggumu disini” Ucap Melida saat mengantarkan Zaya serta Gorg untuk menaiki pesawatnya. Wanita itu telah menolak permintaan sang anak untuk ikut bersama dengan mereka ke planet Neuro, baginya di sinilah tanah kelahirannya juga rumahnya. Lagipula Damian telah berjanji untuk menjaga dan melindungi sang mama hingga akhir hayatnya.


Tak lama kemudian pesawat itupun menghilang, dan hanya menyisakan semburan angin yang menandakan bahwa benda tersebut telah terbang kembali ke angkasa.


“Damian, apa yang akan terjadi dengan dirimu? Dengan kita? Bagaimana jika mereka mengetahui identitas anak kita?”


Damian menuntun Melinda kembali kedalam rumah, dia sangat mengerti kerisauan hati yang dirasakan oleh selir tercintanya itu. Bagaimanapun posisi Damian saat ini bagai buah simalakama, di satu sisi dia adalah anggota parlemen di pemerintahannya dan disisi lain dia adalah ayah dari orang yang paling dicari oleh pemerintahannya pula.


“Tenanglah, semua akan baik-baik saja…Mereka tidak akan pernah mengetahui identitas Zaya” Jawab Damian. Untungnya sebagai anak selir, Zaya tidak pernah mendapatkan pengakuan dari negaranya. Jadi selama ini sistem tidak pernah mengenal Zaya sebagai anak dari Damian.


Tetapi meski demikian Damian tetap harus waspada, apalagi terhadap mulut kotor istri-istrinya. Mereka bisa saja membocorkan hal tersebut jika suatu saat seseorang memberitahu siapa musuh dari bangsanya saat ini.


“Aku harus melakukan sesuatu Melinda”