The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 33



Zaya sedang dalam perjalanan pulang ketika gadis itu menemukan seekor mahluk kecil yang lucu dan bersayap sedang berjalan terpincang-pincang menuju semah belukar, gadis itu memutuskan untuk mengikuti kemana mahluk yang mirip dengan seekor naga dengan ukuran hampir sama besarnya dengan ikan trout yang berhasil dia tangkap sebelumnya tersebut pergi.


“Dia sangat lucu sekali” Batin Zaya.


Zaya belum tahu apakah mahluk tersebut termasuk mahluk yang buas atau tidak, itu kenapa dia tetap menjaga jaraknya dan melangkahkan kakinya secara perlahan tak jauh dibelakangnya.


Zaya kembali dibuat takjub dengan pemandangan air terjun yang besar didepannya, belum pernah selama hidupnya dia melihat air yang begitu berlimpah seperti itu. Dia juga melihat mahluk kecil tersebut langsung sembuh ketika dia muncul kembali ke permukaan setelah sebelumnya dia menceburkan dirinya kedalam air.


“Tunggu, bukankah itu mahluk yang tadi? Secepat itukah dia bisa menyembuhkan dirinya?” Gumam Zaya, dan tanpa sadar diapun mulai mendekati tempat tersebut.


Bruk!


Zaya hampir saja terjatuh saat naga kecil itu menyadari kehadirannya disana dan memutar tubuhnya lalu berjalan mendekati Zaya, dan bukan hanya satu ekor saja tetapi banyak! Mereka mulai bermunculan dan secara serempak mengelilingi gadis itu.


“Demi roh agung! Mereka banyak sekali…!”


Salah satu naga tersebut bahkan menaiki tubuh Zaya dan berdiri di atas perutnya. “ Kau cukup berat rupanya kawan..” Ucapnya, tanpa ada keberanian untuk sedikitpun menggerakkan badannya.


Saru hal yang membuat Zaya langsung jatuh cinta kepada mahluk tersebut adalah bola matanya yang terlihat sangat lucu, Zaya merasa seperti sedang bertatapan dengan seorang bayi mungil dengan bola mata yang bulat dan menggemaskan.


KKkkkrrkkkkk….


“Owh..jadi seperti itu suara kalian” Zaya memperbaiki posisi duduknya, setelah naga kecil tersebut turun dari perutnya. Gadis itu mengambil sesuatu dari dalam tas nya, dia masih ingat jika didalam tasnya masih terdapat daging kering untuk bekal makan siangnya. Zaya pun membagikan makanan tersebut kepada mahluk-mahluk kecil dan menggemaskan itu, dan ternyata mereka langsung melahapnya hingga habis.


“Ternyata kalian menyukainya” Zaya terkekeh.


“Zaya, apa kau tahu mahluk apa yang sedang bermain denganmu itu?” Hira tetap pada posisinya, gadis itu berpikir puluhan kali untuk mendekati Zaya dan teman-teman kecil barunya.


“Mereka hanya naga-naga kecil yang sangat lucu Hira, mendekatlah...Tidak ada yang perlu kamu takutkan” Balas Zaya, gadis itu bahkan mengelus kepala salah satu naga kecil yang mendekatinya.


“Bukan mereka yang aku takutkan Zaya, dan sebaiknya kau mulai menjauh karena aku yakin sebentar lagi induk mereka akan muncul” Hira mencoba untuk memperingatkan Zaya, gadis itu pernah melihat salah satu induk naga yang sedang terbang yang kepakan sayapnya saja bisa menimbulkan hembusan angin yang cukup dahsyat.


Zaya berpikir jika anak-anaknya saja sangat menggemaskan seperti itu, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal induknya. Karena sudah pasti induknya pun akan terlihat sama menggemaskannya dengan anak-anak mereka, setidaknya itu yang Zaya kira sebelum apa yang diucapkan oleh Hira menjadi kenyataan.


Zaya mendengar suara yang sangat menyeramkan yang keluar dari dalam goa yang berada dibalik air terjun, gadis itupun bisa merasakan sedikit hembusan angin dari sana.


“Kita harus cepat-cepat pergi dari sini Zaya, sebelum induk dari salah satu mahluk kecil itu terbangun dan marah!”


Tanpa pikir panjang Zaya pun mengikuti perintah Hira, meski dirinya belum seratus persen yakin jika apa yang dikatakan oleh calon adik iparnya itu memang benar adanya. Secepat mungkin Hira menaiki Se dan Zaya menaiki Ru, dan kedua serigala besar itupun berlari membawa keduanya menjauhi tempat tersebut menuju kediamannya kembali.


Deg!


Zaya menghentikan langkahnya saat gadis itu mengenali sumber suara yang berasal dari dalam rumah, suara yang begitu familiar di telinganya. Tetapi apa yang sedang dia lakukan disini? Pikir Zaya, dan bagaimana pria tinggi besar yang selalu membuat jantungnya berdegup kencang itu bisa tahu keberadaan dirinya saat ini?


“Demi dewa perang, sepertinya kakakku telah kembali” Hira mempercepat langkah kakinya, gadis itupun mendorong tubuh Zaya agar masuk kedalam rumah bersama dengannya.


Benar saja, suasana mencekam langsung terasa saat keduanya memasuki ruangan. Gorg sedang berdiri menghadap jendela kaca besar membelakangi Zaya dan Hira yang melakukan penghormatan kepadanya, sementara kedua orang tua gadis itu tidak ditemukan keberadaannya disana.


“ Jawab pertanyaan ku!” Seru Gorg tanpa menoleh sedikitpun ke arah Zaya maupun Hira.


“Maafkan aku yang mulia, ini semua salahku. Tadi pagi aku…” Zaya tidak berani meneruskan kembali kata-katanya, karena dihadapannya saat ini Hira tengah menatap tajam sang kakak dengan mata elangnya.


“Bagaimana kau bisa mendapatkan cintanya jika kau bertingkah seperti itu?!” Geram Hira, gadis itu tidak percaya dengan tingkah sang kakak yang masih menganggap jika Zaya adalah perwira pertamanya.


Rupanya seluruh keluarga ini telah mengetahui banyak hal mengenai Zaya dan Gorg, meski mereka tinggal sangat jauh dikedalaman planet.


“Mmmmhhhh!” Gorg melangkahkan kakinya meninggalkan semua orang yang telah membuatnya kesal saat ini.


Sesampainya dia disana, pria besar tersebut sudah dikejutkan dengan berita kehilangan Zaya hingga dirinya pun turut mencari keberadaan gadis tersebut dan masuk kedalam hutan bersama dengan para anggota klan nya, belum lagi perjalanan berat yang telah dia tempuh untuk sampai ditempat itu. Dimulai dari harus mengalihkan perhatian semua orang, lalu dirinya harus menelusuri lorong berkelok  hingga tembus ke perut planet itu dan pada akhirnya bisa sampai ditempat tersebut dengan selamat.


Zaya mengikuti Gorg saat pria berambut panjang itu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut menuju taman belakang rumah, disana dia melihat Gorg yang sedang menaiki batu besar tempat dirinya biasa menghabiskan waktu dan berlari mendekatinya.


“Apa kau marah yang mulia?” Ucap Zaya ragu, saat ini dirinya tidak tahu harus memanggil Gorg dengan sebutan apa.


Gorg melipat kedua tangannya di dada, pria besar itu berkali-kali menghela nafasnya kasar. Satu sisi dia sudah sangat merindukan Zaya, disisi lain dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaannya terhadap gadis tersebut. Dia bahkan belum berani memandangi wajah gadis itu, dan masih berdiri membelakanginya.


Waktu seakan terhenti saat Gorg tiba-tiba melihat tangan mungil Zaya yang melingkar di perutnya, perlahan diapun membuka lipatan tangannya lalu mengelus tangan yang terlihat kecil itu sementara sebelah tangannya menggenggamnya.


“Kau sudah tahu?”


“Belum…Aku belum mendengarnya langsung darimu” Jawab Zaya, seraya menyadarkan kepalanya di punggung pria besar tersebut.


Gorg melepaskan tangan Zaya, lalu membawa gadis itu untuk berdiri dihadapannya.


“Aku….” Entah apa yang membuat gorg tak kuasa meneruskan ucapannya, tetapi saat ini mulutnya seakan terkunci. Pria besar itu memang paling tidak pandai dalam mengungkapkan perasaannya, dia lebih memilih untuk menunjukan rasa cintanya kepada Zaya.


“Aku juga mencintaimu…”