The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 62



“Mama mu sangat merindukanmu Zaya, dia hampir tidak bisa tidur akhir-akhir ini”


Ucapan Damian masih terngiang dalam ingatannya bahkan setelah dia mengakhiri percakapan diantara mereka satu jam yang lalu, ada apa dengan Melinda? Pikirnya. Pasalnya selama ini jalinan komunikasi mereka sangat baik, meski melalui hubungan jarak jauh. Sang mama pun tidak pernah memperlihatkan kejanggalan apapun ketika mereka sedang berbincang.


“Kita bisa kesana untuk menemui mereka jika kau mau” Gorg, sang suami tercinta memeluknya dan mencium telinganya saat dia tiba di dalam kabin khususnya.


Seketika raut wajah Zaya berubah sumringah, rasa sedih dan khawatir yang melanda dirinya sejak satu jam terakhir ini seakan sirna. Meski dia akui keganjalan di hatinya tidak bisa dia hilangkan begitu saja.


“Aku ingin pergi ke sana bersama dengan kedua orang tuamu dan Hira serta Seren juga Xi” Pinta Zaya, yang tentu saja langsung mendapatkan persetujuan dari pria besarnya. Gorg tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan menolak permintaan Zaya, meski dengan cara sehalus apapun.


Terakhir kalinya Gorg menolak permintaan Zaya adalah ketika istri kecilnya itu meminta buah scorpagus kepadanya pada suatu malam, meski Gorg telah berjanji untuk mengambilkan buah itu untuknya pada keesokan paginya tetapi pada akhirnya Gorg terpaksa memetik buat asam tersebut saat itu juga, karena Zaya tidak juga mau menghentikan tangisannya. Tangisan yang membuat Ra terbangun juga Mother dragon terbang dia atas kabinnya. Lagipula ini merupakan kesempatan bagi sang istri untuk memperkenalkan orang tua nya kepada kedua orang tua Zaya di Mars.


“Apa semuanya sudah siap?” Hira menghidupkan pesawat yang akan dia terbangkan bersama dengan Dhar menuju planet Mars, dia beserta keluarga besarnya akan pergi untuk menemui kedua orang tua Zaya disana. Atas perintah langsung dari sang kakak, yang tidak pernah akan bisa menolak permintaan istri kecilnya yang sangat Hira sayangi.


“Sebentar sayang, sepertinya ibu mu baru selesai menaikan barang-barang” Khan melihat kemunculan sang istri tak lama setelah dia melihat istrinya itu memeluk orang-orang yang telah membantunya memasukkan barang-barang ke dalam kabin pesawatnya. Seren membawa banyak sekali barang untuk diberikan kepada kedua orang tua Zaya disana.


“Aku rasa kali ini semuanya sudah siap” Dhar terkekeh melihat dua pasang suami istri berbeda generasi tengah duduk saling berdekatan, sementara sang ayah Xi memilih untuk menduduki kursi tunggal di deretan paling belakang.


Tak membutuhkan waktu yang begitu lama bagi mereka untuk tiba di planet merah tersebut, saat ini Damian serta Melinda tengah menyambut kedatangan mereka dengan sangat bahagia. Meski keduanya masih terkejut dengan ukuran mereka yang ternyata sama besarnya dengan Gorg sang menantu, juga dengan banyaknya barang bawaan yang mereka serahkan kepada keduanya.


“Zaya….” Ucap Melinda saat melihat kedatangan putri kesayangannya, wanita itu segera memeluk tubuh Zaya setelah dia berjalan ke arahnya.


Xi dan Dhar yang sejak kedatangannya tadi telah merasakan aura ketidak nyamanan di tempat tersebut memilih untuk diam dan mengamati sekelilingnya, kekuatan jahat yang menyelimuti kediaman Damian terasa begitu tidak asing bagi keduanya. Apalagi saat melihat perubahan pada wajah Melinda, ketika wanita itu menyadari sesuatu pada tubuh Zaya.


“Kalian harus tinggal disini lebih lama…” Pinta Melinda, di tengah-tengah perbincangannya. Wanita itu terus saja berusaha untuk berada dekat dengan Zaya, meski Gorg memperlihatkan ketidaksukaannya.


“Kami tidak bisa tinggal lebih lama lagi Melinda, ini menyangkut kesehatan menantu kami…” Balas Seren.


Seren tahu jika Zaya tinggal disini sudah bisa dipastikan jika keluarga kecilnya ini akan mendapatkan kesulitan untuk memenuhi selera makannya yang meningkat tajam, apalagi kegemarannya terhadap daging grout panggang serta ikat trout panggang yang hanya bisa di dapatkan di planet Neuro.


“Maafkan aku mama, tetapi Seren benar…Dan…Aku tidak bisa berada jauh dari suamiku” Zaya mengelus tangan sang mama lalu memeluknya. Meski dia adalah orang yang paling berharga didalam hidupnya, tetapi saat ini kehadiran Gorg di sisinya merupakan hal paling berarti baginya.


“Baiklah nak, tetapi setidaknya kita harus makan bersama sebelum kalian kembali”


Melinda menyaksikan sendiri maksud ucapan Seren tentang kebiasaan baru anak gadisnya, dulu Zaya sangat menyukai sayuran masakannya. Tetapi saat ini gadis itu bahkan tidak bisa mencium aromanya! Hal ini membuat dirinya kecewa dan dengan sangat terpaksa mengijinkan Seren untuk memberinya satu nampan penuh daging grout panggang yang mereka bawa dari planetnya.


“Demi roh agung, demi The One, dia seperti binatang…” Batin Melinda, saat dirinya melihat betapa lahap Zaya menyantap makanan tersebut.


Zaya menghentikan makannya seketika setelah dirinya mendengar bisikan hati sang mama, dia menghela nafasnya lalu berdiri dari duduknya dan pergi dengan Gorg menyusul dibelakangnya. Melihat hal tersebut Melinda semakin kecewa, dia terpaksa menahan dirinya untuk pergi menyusul Zaya karena Damian telah melarangnya.


“Jangan diambil hati Melinda, Zaya sedang mengalami sebuah fase dalam dirinya…Bukan kah kau pernah mengalaminya dulu?” Ucap Damian tanpa mengetahui peristiwa yang sebenarnya terjadi, mereka pun meneruskan kembali ritual makan bersama tersebut tanpa adanya Zaya dan Gorg disana.


Zaya menangis sejadinya dalam pelukan Gorg, ucapan Melinda di dalam hatinya telah menoreh luka didalam dirinya.


“Menangis lah…” Gorg berkata dalam diamnya, pelukannya semakin erat tatkala merasakan perubahan suhu udara disekitarnya. Dia harus sesegera mungkin meredakan emosi Zaya sebelum planet ini terkena imbasnya.


“Kau ingat ketika kita terbang bersama dengan para naga di langit? Kau bilang pemandangan dari atas sana begitu indah…” Gorg kembali meneruskan kata-katanya, petir sudah saling bersautan di atas sana seiring dengan awan hitam yang mulai menutupi birunya langit Mars.


“Aku bahkan harus mencium mu agar kau mau kembali ke permukaan, lucunya mother dragon tidak mau menurunkan mu jika kau tak memintanya…” Pria besar itu terus berusaha untuk membujuk Zaya dengan membuat dirinya merasa nyaman dengan mengingat masa-masa indah ketika mereka sedang bersama. Jika saja mereka berada di Neuro saat ini, sudah pasti Gorg akan melakukan cara lain untuk menenangkan hati istri tercintanya itu.


“Sayang, kau tahu aku sangat mencintaimu…Aku bahkan rela melakukan apapun untukmu…Tapi aku mohon untuk kali ini, kendalikan emosimu sebelum sesuatu yang buruk terjadi di planet ini” Gorg mengangkat tubuh Zaya dan memeluknya semakin erat, lalu menciumnya hingga membuat gadis itu terbuai dan melupakan kesedihannya.


Sementara itu didalam rumah Damian, Seren dan Khan berusaha untuk menahan kedua orang tua Zaya agar mereka tidak keluar dari dalam rumahnya setelah mereka mendengar suara gemuruh dari atas langit.


“Kau masih memiliki minuman ini?! Ini sangat nikmat! Bukan begitu sayang?!” Khan sengaja menaikkan volume suaranya, dan Seren meminta kepada Melinda agar wanita itu membawakan beberapa botol tambahan untuk mereka.