The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 26



Seumur hidup Zaya dia tidak pernah melihat seekor anjing dengan ukuran yang sangat besar, bahkan dulu ketika masih mendiami istana milik Damian anjing paling besar yang pernah dia ajak main hanya setinggi lututnya.


"Apakah ini monster yang dimaksud oleh orang-orang?" Batin Zaya.


Zaya mencoba untuk mengukur ketinggian anjing raksasa tersebut dengan jari tangannya dari kejauhan, dia bisa memperkirakan ukuran mahluk tersebut hampir sama tingginya dengan tinggi badan Gorg. Bahkan lebih!


"Jika aku mengitari tempat ini, aku harus menghabiskan lebih banyak waktu dan aku yakin perbekalan ku ini tidaklah cukup...Jalan satu-satunya adalah dengan menyebrangi wilayah ini" Zaya bergumam, sambil memikirkan bagaimana caranya menyebrangi kawah tersebut dengan sekawanan anjing raksasa yang tengah tertidur di sekitarnya.


Zaya bisa memperkirakan suhu udara ditempat tersebut sangatlah panas, terbukti dengan permukaan tanah yang hitam seperti telah terbakar. Dia pun bisa merasakan hal tersebut ketika sensor di pakaiannya memperlihatkan angka 75° celsius, dan mulai berkeringat meski alat pendingin udara di dalam pakaiannya berfungsi dengan baik.


"Aku bisa.... aku bisa....aku bisa..."


Setidaknya sedikit afirmasi diri sebelum melangkahkan kakinya ke sana bisa sedikit membantu Zaya yakin jika dirinya bisa melewati tempat tersebut.


Perlahan dan sangat hati-hati Zaya melangkah, dia memilih permukaan yang empuk agar langkah kakinya tidak mengeluarkan suara, karena jika dia sampai mendaratkan kakinya di bebatuan atau pada permukaan yang keras maka akan menimbulkan bunyi ketika keduanya saling beradu.


Zaya bisa mendengar deru nafas dari semua mahluk tersebut saat mereka sedang terlelap, entah kenapa semakin lama dia berada disana keinginannya untuk mendekati dan mengelus bulu-bulu di tubuh mahluk tersebut semakin tinggi. Sekuat tenaga Zaya mengenyahkan pikiran nya dan terus melangkahkan kakinya, hingga dia tidak menyadari bahwa salah satu dari mereka telah bangun dan mengikuti nya secara diam-diam.


"Demi roh agung! Kenapa godaan ini begitu besar" Zaya menghentikan langkahnya sejenak, gadis itu mengelus dadanya yang mulai berdetak kencang. Andrenalin sudah memenuhi tubuhnya, hingga dengan keberanian penuh dia memutuskan untuk mendekati mereka.


Zaya memutar tubuhnya, bermaksud untuk lebih mendekatkan dirinya kepada salah satu anjing raksasa disana.


"Demi roh agung!" Zaya memekik pelan. Gadis itu berusaha untuk tidak berteriak dengan kehadiran seekor dari mereka yang berdiri tegak dihadapannya, moncong monster besar tersebut sudah berada di hadapannya saat ini. Zaya mengatur nafasnya sekuat tenaga, begitu pula dengan degup jantungnya.


"Brrrrhhhhh..." Jika saja Zaya tidak sedang mengenakan helmnya mungkin saja dirinya bisa merasakan hembusan nafas mahluk besar itu.


Waktu seakan terhenti saat kedua mata mereka beradu, aura kebengisan dari mahluk yang ada dihadapannya saat ini seakan menguap ke luar angkasa. Sebaliknya Zaya justru merasa nyaman, begitu pun mahluk tersebut.


Zaya mengulurkan tangannya untuk menyentuh keningnya, dan diluar dugaan dia merendahkan posisinya agar gadis itu bisa menyentuhnya.


Seketika muncul bayangan-bayangan dari masa yang tidak Zaya kenali, menarik garis waktu hingga 100 tahun kebelakang dimana seseorang dengan menggunakan jubah hitam telah menghancurkan energi biru yang terdapat disana.


Seketika ledakan menghancurkan wilayah yang dulunya sangat tertata rapi tersebut, kemajuan teknologi yang adapun ikut musnah bersama dengan para penghuninya.


"Demi roh agung!" Zaya melepaskan tangannya dari dahi besar milik binatang buas tersebut, tubuh gadis itu hampir saja ambruk ke tanah sebelum anjing besar tersebut menahannya.


Dari kejauhan sekelompok orang tengah menyaksikan peristiwa besar paling langka disana, belum ada satu orang pun dari klan mereka yang bisa mendekati serigala milik Gorg apalagi dari luar klan!


"Kita tidak bisa mengganggu ritual yang akan berlangsung sebaiknya kita pergi, dia aman berada disana" Ucap salah seorang dari mereka, lalu memerintahkan semua teman-teman nya untuk meninggalkan tempat tersebut.


Tempat yang semua orang mengira merupakan tempat paling berbahaya di planet tersebut setelah sektor Z.


Entah berapa lama Zaya tak sadarkan diri, gadis itu terbangun diantara para serigala yang tertidur didekat nya. Dia langsung memeriksa semua peralatan yang melekat pada baju anti radiasi nya, karena saat ini Zaya merasakan suhu udara yang normal didalam pakaiannya tersebut.


"Tadi panas sekali, sekarang....Owh 35° celsius?" Zaya menepuk alat yang melingkar ditangannya, gadis itu mengira telah terjadi kerusakan pada alat canggih tersebut.


"Bagaimana bisa? Saat ini aku masih berada didalam kawah besar ini..." Gumam Zaya.


Salah satu serigala terbesar disana terbangun karena gerakan tubuh Zaya dan suara-suara yang ditimbulkannya, dia berdiri dari posisinya lalu meminta Zaya untuk menaiki punggungnya.


Entah bagaimana caranya Zaya bisa tiba-tiba memahami bahasa tubuh mahluk tersebut, dan menaiki punggungnya yang tinggi itu yang dia tahu saat ini mahluk tersebut telah membawanya kedalam sebuah lubang besar tak jauh dari tempat mereka berada. Diikuti oleh kawanan serigala lainnya.


"Dia membawanya ke sana" Gorg baru saja menyelesaikan pertemuan panjangnya bersama dengan Supreme leader dan para anggota parlemen juga rekan sesama panglima tinggi nya, saat dia melihat bayangan serigala milik nya tengah membawa Zaya pergi ke suatu tempat. Pria tinggi besar itu memerintahkan Ann Marrie untuk segera membawa mereka kembali.


"Yang mulia, mereka hanya menemukan salah satu dari mereka" Gadis itu memberikan laporan terakhir yang diterima nya dari pusat belum lama ini kepada Gorg, saat pesawat yang diterbangkan nya sudah berada di lapisan udara paling luar planet merah itu.


"Posisi terakhir mereka?" Gorg harus berpura-pura tidak tahu dan bersikap layaknya seorang panglima yang meminta data lengkap mengenai nasib para kesatria nya.


"Posisi terakhir berada di perbatasan sektor X dan Y yang mulia, dan saat ini pusat telah memberlakukan kode merah untuk Zaya" Jawab Ann Marrie dengan nada penuh penyesalan. Kode merah diberikan kepada seorang kesatria yang telah dinyatakan gugur dalam bertugas, hal yang paling berat untuk seorang pemimpin disaat harus mengatakan berita duka tersebut kepada keluarga mereka.


"Biarkan Dhar yang akan menghubungi keluarga Zaya, tugasmu sampai disini" Titah Gorg, lalu memerintahkan Ann Marrie untuk segera mengubah kecepatan.


"Memasuki kecepatan cahaya, bersiap!" Ann Marrie menekan deretan tombol dilayar monitor didepannya.


Gorg harus menahan keinginannya untuk segera menemukan Zaya, karena dia tahu apa yang akan dilakukan oleh kawanan serigala tersebut terhadapnya.


Sementara itu disebuah tempat yang dipenuhi kegelapan seorang pria tengah menghadap pimpinan tertinggi nya, dia bertekuk lutut dihadapan mahluk kuno yang duduk di singgasananya.


"Maafkan aku yang mulia, perintah telah dilaksanakan...Hanya saja...."


"Diam!!!"