The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 17



"Yang mulia apa kita akan pergi ke planet Mars?" Zaya memberanikan diri untuk bertanya, keinginan tahuannya yang cukup tinggi terhadap hampir segala hal membuat gadis ini dikenal sebagai gadis yang unik dimata rekan-rekannya yang lain. Tetapi tidak untuk Gorg, sang panglima memang kurang menyukai jika ada seseorang yang mempertanyakan apa yang dia lakukan.


"Menurut mu?" Gorg tidak meneruskan niatnya untuk menegur gadis ini, dia hanya asal bertanya tanpa berharap jika Zaya akan kembali berbicara kepadanya. Pria gagah tersebut menempati kursi nya lalu memasang tali pengaman pada tubuhnya.


"Maafkan atas kelancangan saya yang mulia" Zaya memutuskan untuk berhenti mengeluarkan suara setelah mendengar intonasi suara Gorg, meski dirinya tidak berani menatapnya.


Sudah bisa Zaya bayangkan tatapan menusuk sang panglima sedang mengarah kepadanya karena kelancangan nya itu, gadis itu hanya berharap agar Gorg tidak memberikan hukuman karena nya.


"Mengalihkan kecepatan pesawat pada kecepatan cahaya dalam 3,2,1... Dialihkan" Ucap Zaya, dan pesawat itupun melesat membelah dimensi waktu dan tempat.


"Mengalihkan kemudi manual menjadi otomatis" Lanjut Zaya sambil menekan deretan tombol pada layar monitor didepannya, lalu melepaskan tali pengaman kursinya hendak melakukan protokol penerbangan lainnya. Yakni memeriksa keadaan mesin pesawat.


Terkadang terjadi benturan kecil dengan serpihan batu meteor pada saat mereka melaju dengan kecepatan cahaya seperti itu, hal ini seringkali membuat salah satu bagian pesawat tergores bahkan robek hingga serpihan itu merusak beberapa bagian kecil pada mesinnya. Dan apabila hal itu terjadi Zaya terpaksa harus mengalihkan kembali kecepatan pesawat pada kecepatan normal dan memperbaiki nya terlebih dahulu.


Beruntung selama perjalanan yang telah berlangsung selama 15 menit ini berjalan mulus tanpa kendala berarti, sehingga Zaya tidak harus melakukan manuver yang membuat perjalanan menjadi terhambat.


Tanpa Zaya sadari Gorg tengah memperhatikannya dirinya dengan seksama, pria gagah beralis tebal itu menyangga dagunya dengan sebelah tangannya dengan tubuh yang bersandar para kursinya. Diam-diam Gorg mengarahkan kursinya kemampuan gadis itu bergerak.


"Bagaimana caranya aku melihat tanda di tengkuk lehernya?" Batin Gorg.


Dia sempat membayangkan beberapa cara agar bisa melihat gambar bulan dengan kepala serigala itu, dari mulai menanyakan nya secara langsung yang membuat pria berambut panjang itu menggelengkan kepalanya, membuat seragam yang dikenakan oleh Zaya tersangkut pada aksesoris di lengannya hingga memeluk gadis itu dari belakang yang langsung juga dia hapus dalam daftar pilihan nya.


Tak mungkin dirinya akan melakukan hal yang tak senonoh itu kepada perwira pengganti nya, bisa-bisa seumur hidup dia akan menghindari Zaya karena merasa malu pikirnya. Belum lagi jika Zaya melaporkan Gorg kepada dewan perlindungan kesatria, bisa-bisa pria gagah itu akan benar-benar kehilangan muka bahkan tidak bisa kembali bertemu dengan Zaya karena sudah pasti hukuman berat akan menanti nya.


Gorg dengan gayanya berdiri dari duduknya, lalu berjalan mendekati Zaya yang sedang berdiri menatap layar didepannya dan pada saat dirinya berada dibelakang gadis itu Gorg menggerakkan tangannya hingga aksesoris di lengannya benar-benar tersangkut.


Zaya terkejut lalu memutar tubuhnya seketika, hingga seragam yang dikenakan nya terkoyak. Tetapi sayangnya kain yang robek bukan di bagian punggung dan mengarah ke atas melainkan mengarah ke bawah hingga kulit bagian punggung hingga pinggangnya terlihat.


"Demi roh agung!" Pekik Zaya sambil berusaha untuk menutupi bagian tubuh nya yang terbuka dengan menarik kembali pakaiannya.


"Diam!" Titah Gorg, dan Zaya pun menghentikan gerakannya seketika.


"Jika kau bergerak lagi maka pakaian mu itu benar-benar akan sobek" Lanjut nya. Perlahan Gorg melepaskan asesorisnya yang masih mengait disana, dan meski tangan mungil Zaya berusaha untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka tetapi Gorg masih bisa melihat kulit mulus putih itu dengan jelas.


"Ma...Maafkan saya yang mulia, saya tidak melihat anda" Ucapnya terbata. Jujur saja Zaya saat ini merasa sangat malu karena kecerobohannya itu, terlebih baru pertama kali ini ada orang lain selain dari ibunya yang melihat bagian dari tubuhnya tersebut.


"Baik yang mulia, tapi sebentar lagi kita akan sampai dan..."


"Aku yang akan mengambil alih kemudi" Potong Gorg sambil mengibaskan tangannya agar gadis itu lebih cepat lagi berlalu dari hadapannya.


Zaya merutuki perbuatan nya sendiri saat sudah berada didalam kabin kecil dan melepaskan seragamnya lalu mengganti nya dengan seragam baru, hanya sayangnya seragam baru nya ini merupakan seragam tempur bukan seragam keseharian yang biasa dipakai seorang perwira ketika mendampingi panglima nya.


Perlahan Zaya melepaskan asesoris yang terkait itu, dan tanpa sengaja dia dapat mencium wangi Gorg melalui mantel tersebut hingga memejamkan matanya. "Wanginya..." Batin Zaya, dan tanpa dirinya sadari Zaya memeluk erat mantel tersebut hingga suara berat Gorg terdengar melalui pengeras suara didalam sana dan mengejutkannya.


"Sudah yang mulia panglima" Jawab Zaya, lalu dengan cepat keluar dari kabin kecil itu dan menghampiri Gorg lalu menyerahkan kembali mantel milik nya.


Gorg hampir saja mengeluarkan suara khasnya saat melihat tampilan Zaya dengan seragam tempur nya, gadis itu terlihat begitu cantik juga gagah menurut nya.


"Maafkan saya yang mulia, hanya ada pakaian ini yang tersedia" Ucap Zaya sambil menyilang kan tangan kanannya di dada.


Zaya mengira Gorg tidak menyukai penampilan nya saat ini karena tatapan tajam yang diarahkan sang panglima kepada nya, jadi hanya permintaan maaf yang dia lontarkan kepada panglima nya itu.


"Duduklah dan ambil alih kembali kemudi, kita akan memasuki lapisan udara planet Mars" Titah Gorg.


"Demi roh agung, aku hampir saja melolong..." Batin Gorg.


Merupakan hal yang lumrah bagi anggota klan serigala baik pria maupun wanita nya untuk melolong ketika mereka sedang merasa bahagia atau jantung cinta selain karena merayakan kemenangan, dan bagi Gorg dirinya merasa bukan hanya karena bahagia melainkan juga karena jatuh cinta.


"Kita sudah sampai di titik lokasi yang mulia" Ucap Zaya, setelah pesawat yang diterbangkan oleh nya tiba di sebuah stasiun sebuah gedung parlemen dimana para diplomat berkumpul dan bekerja.


"Demi roh agung, semoga aku tidak bertemu dengan ayahku disini" Batin Zaya, lalu berjalan mengikuti sang panglima dibelakangnya.


"Kau hanya boleh menuruti perintah dariku dan meminta ijin kepadaku untuk semua hal" Gorg menghentikan sejenak langkah kakinya, dia seperti memahami apa yang sedang berkecamuk didalam benak perwira pertamanya. Lalu melanjutkan kembali perjalanannya menuju sebuah ruangan setelah mereka keluar dari dalam hangar pesawat dan bertemu dengan para pengawal.


"Selamat datang panglima tinggi Gorg, semua orang sudah menunggu kedatangan anda" Ucap salah seorang pengawal setelah melakukan penghormatan penuh kepada nya.


"Angkat wajahmu!"