
Gorg memberikan penghormatan nya kepada sang Supreme Leader, pria gagah itu berlutut dengan satu kakinya dan menahan bobot tubuh nya dengan kaki yang lainnya. Hal yang kurang berkenan didalam hati Gorg, karena satu-satunya pemimpin yang dia beri penghormatan penuh adalah pemimpin klan Serigala yakni ayah nya sendiri.
Disana bukan hanya dia sendiri yang sedang menghadap sang pemimpin tertinggi di galaksi tersebut, melainkan para panglima perang yang sama-sama menentang kebijakan baru yang dibuat oleh anggota dewan parlemen, juga perwakilan dari anggota parlemen itu sendiri.
"Supreme Leader" Ucap Gorg, lalu berdiri kembali.
"Panglima tinggi Gorg, saya mendapatkan sebuah kabar jika kau menentang aturan baru yang dibuat oleh parlemen...Jelaskan" Pria berkebangsaan Mars dengan jubah kebesarannya duduk di singgasananya dengan tatapan tajam mengarah kepada Gorg.
"Benar yang mulia.." Bukan Gorg namanya jika tidak langsung mengakui dengan jujur perbuatannya, tetapi meski demikian pria tinggi besar berambut panjang ini memberikan penjelasan secara sistematis berkenan dengan alasan kenapa dia menentang aturan tersebut.
Fakta di lapangan yang membuat Gorg dan rekan-rekannya enggan untuk menyetujuinya, karena untuk berperang melawan musuh bukan hanya keberanian dan kekuatan fisik saja yang diperlukan melainkan kepiawaian dalam menguasai strategi, kelihaian dalam bertarung serta penguasaan seluruh senjata perang baik miliknya sendiri maupun lawan. Dan hal yang paling penting yang Gorg tanamkan kepada para kesatria nya yakni menguasai dirinya sendiri.
Bayangkan saja jika satu kesatria tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, mungkin yang terjadi bukan nya melawan musuh dengan menggunakan akal sehat tetapi justru yang terjadi malah kalah sebelum berperang.
Semua pertanyaan yang diberikan oleh Gorg mendapatkan persetujuan dari rekan-rekannya, tetapi tidak dari sang dewan perwakilan parlemen.
"Pasukan kita berkurang banyak setiap harinya Supreme Leader, sementara pembinaan kader baru memakan waktu hampir satu tahun... Bagaimana caranya kita bisa memenangkan peperangan ini?"
Apa yang dikatakan oleh pria berkebangsaan Mars ini memang benar adanya, tetapi ada hal yang bisa mereka lakukan untuk mengatasi hal tersebut menurut Gorg.
"Bukankah tugas dari anggota parlemen untuk mencari koalisi sebanyak mungkin?" Sindiran halus Gorg membuat situasi menegang.
Alasan yang dikemukakan oleh Gorg sudah sangat jelas dan sistematis, mereka tidak bisa memaksakan aturan baru yang dibuat tanpa berkonsultasi dengan para panglima tinggi terlebih dulu.
Kesabaran Gorg sudah hampir habis saat itu, pikirannya bercabang! Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Zaya saat ini, meski demikian sang panglima tinggi ini harus sebisa mungkin menyembunyikan perasaannya sendiri dan mengedepankan kepentingan orang lain dengan tetap berada di ruangan tersebut hingga pertemuan tersebut berakhir.
Beda halnya dengan Gorg, Zaya dan Bessara saat ini sedang bersembunyi dalam sebuah goa tempat sang tabib dulu tinggal, berusaha untuk menghindari para perampok yang sedang berpatroli.
Kedua gadis itu bukan tidak berani menghadapi mereka, tetapi saat ini mereka sudah kalah dalam jumlah. Dari pengamatan dan suara yang terdengar ditelinga keduanya, jumlah mereka lebih dari dua puluh orang dengan persenjataan lengkap!
"Apa kau tidak salah lihat?!! Disini tidak ada apa-apa!"
"Aku tidak mungkin salah! Alatku ini menangkap sinyal dari pesan SOS yang dikirimkan dari lokasi ini!"
"Mana buktinya bodoh! Disini kosong!"
Zaya meminta kepada Bessara untuk mematikan sinyal SOS yang masih terpancar lewat pesawatnya, gadis itu memberikan isyarat kepada sahabatnya untuk menekan tombol pada alat dipergelangan tangannya.
Ini keputusan mutlak yang harus mereka ambil, karena jika tidak para perampok tersebut tidak akan meninggalkan lokasi.
Pria dengan penutup mata aneh itu memukuli alat ditangannya berkali-kali saat sinyal yang telah terdeteksi menghilang secara tiba-tiba. "Kenapa tiba-tiba menghilang?!"
Tak lama kemudian merekapun meninggalkan lokasi.
"Kita tidak bisa menghidupkan kembali sinyal bantuan Bessara, lambat lain mereka akan menemukan kita disini" Zaya keluar dari persembunyiannya, lalu menduduki batu besar yang ada di depan goa.
"Satu-satunya cara adalah kita harus ke sektor Z, disana para kesatria daratan pasti sedang berlatih menghadapi para monster mengerikan itu " Lanjutnya.
Awalnya Bessara merasa keberatan dengan ide gila Zaya, pasalnya perjalanan yang akan mereka tempuh tidaklah mudah. Keduanya harus melewati sektor Y yang orang akan berpikir ratusan kali untuk melewati nya.
Konon dulu disana tempat blue energi berada, sekaligus pusat kehidupan planet tersebut. Tetapi setelah The One menghancurkan benda tersebut, disana hanya tertinggal sebuah dataran panas yang diselimuti radio aktif. Belum lagi rumor mengenai mahluk yang mendiami wilayah tersebut.
"Apa kamu yakin Zaya? Kau tahu kan disana ada apa?" Bessara menyusul Zaya untuk menduduki batu besar tersebut, kebetulan saja malam ini bulan terlihat sangat besar di langit. Mereka merebahkan tubuhnya dan memandangi benda tersebut bersama.
"Apa kau pernah melihatnya sendiri Bessara? Maksud ku mahluk yang dibicarakan oleh orang-orang itu?"
"Tidak, aku hanya mendengarnya saja dari orangtuaku juga orang-orang yang selamat dari tempat itu" Jawab Bessara, seketika timbul keraguan akan rumor tersebut sekaligus keingintahuan didalam dirinya.
"Well, hanya ada satu cara...Kita harus membuktikannya sendiri" Kekeh Zaya, setelah melirik sekilas ke arah Bessara yang tengah asik memandangi bulan.
Zaya memutuskan untuk memulai perjalanannya keesokan paginya, untuk menghindari resiko bertemu dengan para perampok. Mahluk malam itu hanya muncul di malam hari untuk menghindari sengatan panas di siang hari.
"Apa kau sudah membawa semua perlengkapan mu?" Zaya meraih ranselnya lalu menggendong tas berisi perlengkapan penting untuk persiapan perjalanan mereka tersebut di punggungnya.
Dan setelah keduanya memeriksa alat pendingin yang ada di pakaiannya, mereka pun mulai melangkahkan kakinya.
"Sial! Sinyalnya hilang!" Umpat Ann Marrie, begitu pula dengan orang-orang yang sedang bertugas di stasiun luar angkasa diluar planet Neuro.
"Apa yang mereka pikirkan!" Lanjut nya, sambil menekan deretan tombol virtual yang muncul dari alat yang melingkar di tangannya.
"Status!" Gorg memasuki ruangan nya bersama dengan Dhar, suara beratnya hampir saja membuat jantung Ann Marrie keluar dari bilik nya.
"Mereka mematikan sinyalnya yang mulia" Ann Marrie bahkan tidak bisa menatap wajah sang panglima yang kini sudah seperti akan melahap nya hidup-hidup.
"Yang aku tanyakan bagaimana status Eagle dan Hawk!!!" Kilah Gorg, lalu menduduki kursinya dengan kasar.
"Kendalikan emosi mu yang mulia, aku yakin mereka memiliki alasan kuat mengapa mereka mematikan sinyalnya" Dhar mencoba untuk menengahi, pria berkulit biru itu paham jika perwira pertama nya saat ini sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik.
"Mereka masih mencari kebenaran keduanya, dan jika...."
"Aku tahu peraturan yang aku buat sendiri!