
Keesokan paginya Zaya terbangun karena mimpi yang dialaminya, sebuah mimpi yang terasa begitu nyata baginya.
Dalam mimpinya Zaya melihat tubuhnya yang mengalami perubahan setelah merasakan sakit yang luar biasa, diapun melihat jika darahnya tidak lagi merah saat seseorang melukainya.
“Zaya..! Zaya…!” Hira memanggil namanya, berusaha untuk menyadarkan gadis itu dari keterkejutannya.
“Apa kau baik-baik saja?” Lanjutnya setelah gadis itu menoleh ke arahnya.
Zaya mengambil lap kecil dari tangan Hira, ketika gadis itu akan membantunya menyapu keringat dari dahinya lalu menggunakannya sendiri setelah dia beranjak dari tidurnya. Setidaknya rasa dingin dari air yang membasahi kain itu bisa sedikit memberikan kesejukan baginya.
“Aku mengalami mimpi yang sangat aneh Hira” Ucap Zaya sambil menyapu wajahnya, lalu menatap gadis yang masih duduk di dekatnya dan menatapnya.
“Dimana Gorg?”
“Kakak ku harus kembali ke permukaan, dia tidak bisa berada ditempat ini terlalu lama karena akan beresiko sangat besar untuk kami dan tempat ini” Hira menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikannya kepada Zaya.
“Pelan-pelan Hira, apa kau mau membuat gendang telingaku pecah?!” Zaya menutup kupingnya dengan kedua tangannya, ternyata selain kuat Hira mampu membuat suara yang sangat nyaring ketika menuangkan air tersebut kedalam gelas perak.
Hira tersenyum melihat reaksi Zaya, dia menarik kedua tangan gadis itu lalu memintanya untuk menghabiskan air yang telah dia tuangkan serta memintanya untuk segera bersiap. Hira akan mengajak Zaya kembali ke hutan agar gadis itu segera menyadari perubahan pada dirinya.
“Se! Kemarilah!” Seketika serigala besar berwarna coklat keemasan itu menghapiri Hira, tetapi tidak bagi Ru. Senyaring apapun Zaya meneriakkan namanya serigala hitam dengan tanda bulan di keningnya itu tetap tidak bergeming, “Kenapa dia?” Gumam Zaya.
“Dia sudah tidak akan menemanimu lagi Zaya, kau akan mengerti setelah kita kembali kesana” Hira meminta Zaya untuk mengikutinya dan berlari mengejarnya.
Awalnya gadis itu merasa ragu, mengingat terakhir kali dia berlari menyusul gadis itu dia kalah telak. Hira sama seperti Gorg ketika sedang berlari, keduanya bisa menyaingi kecepatan serigala-serigalanya sendiri. Tetapi setelah Zaya menyadari bahwa saat ini dirinya berlari disamping Hira dan serigalanya, dia mulai menyakini perubahan besar yang terjadi pada tubuhnya.
“Wohooouuu!!! Aku bisa mengalahkan mu Hira!” Seru Zaya, lalu menambah kecepatan pada larinya.
“Selamat pagi Ra…” Hira menyapa serigala putih yang baru saja terbangun dari tidurnya itu dari atas batu besar, dimana mahluk itu selalu bersembunyi tepat dibawahnya.
“Kau tidak akan memperlihatkan taring mu lagi kan kawan?”
Ra meregangkan tubuhnya, lalu berjalan menjauhi gadis itu tanpa menghiraukan sedikitpun ucapannya. Biasanya dia akan memperlihatkan deretan gigi tajamnya ketika gadis itu mendekatinya ataupun mendengus kasar ke wajahnya, tetapi kali ini ada Ra mencium sesuatu yang baru dari tubuh gadis tersebut.
“Ayolah Ra, kau tidak akan mempunyai kekasih jika bersikap seperti itu” Zaya melompat dari batu tersebut, lalu berjalan menyusul serigala sombong itu. Satu hal lagi yang baru dia sadari yakni dia bisa meringankan tubuhnya sendiri saat sedang melompat tadi, seperti ini kan rasanya ketika Gorg melompati tebing kemarin? Pikir Zaya.
Sementara Zaya sedang berusaha untuk mengambil hati Ra, Hira asik memperhatikan kedua mahluk dengan karakter yang sama itu sambil menuntun Se dari kejauhan. “Lihatlah mereka Se, mereka sama-sama keras kepala” Kekeh Hira.
Dari situlah ikatan persahabatan mereka terjalin hingga saat ini.
“Baiklah…Baiklah…Jika kamu tidak mau jadi temanku, maka pilihan terakhirku adalah menjadikan naga-naga itu sebagai penggantimu” Hira menghentikan langkahnya, sepertinya apapun yang telah dia lakukan untuk mendapatkan hati Ra tidak juga membuat serigala cantik itu mau mempercayainya. Dia pun memutuskan untuk menghampiri para naga ke sarangnya kembali.
“Sampai bertemu lagi Ra!” Ucap Zaya sambil berlari meninggalkan serigala besar tersebut.
Hira pun sama, dia bersama dengan Se mengikuti kemana Zaya berlari dan berhenti ketika gadis itu sedang memanggil teman-teman bersayap nya dari tepi danau didepan sebuah air terjun yang besar.
“Kau tidak berpikir sama denganku kan Se?” Hira memerhatikan tingkah gadis tersebut tetap dari kejauhan.
“Hei teman-teman kecil, dimana kalian?!” Zaya berseru, tetapi sekeras apapun dia mengeluarkan suara naga-naga kecil itu tidak juga menghampirinya.
Entah ide dari mana tetapi Zaya memutuskan untuk menirukan suara mereka, siapa tahu kali ini mereka akan keluar dari dalam goa besar tersebut untuk memenuhi panggilan darinya.
KKrrrrrkkkkk….KKkkkkrrrrkkkkkk….
Wussss! Wusss! Wusss!!
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Zaya untuk berhasil mengeluarkan mereka dari sarangnya, tak tanggung-tanggung kali ini bahkan induknya pun terbang bersama dengan anak-anaknya ke langit, lalu menukik dan mendarat tepat dihadapan Zaya.
“Demi roh agung!” Pekik Hira, “Ini peristiwa yang sangat langka!” Hira beranjak dari duduknya, dia bermaksud untuk mendekati Zaya dan mencoba untuk memberikan peringatan kepada gadis kecil itu. Tetapi saat dirinya baru saja melangkahkan kakinya, dia melihat naga besar itu menundukkan kepalanya dan membiarkan Zaya untuk menyentuh dahinya.
“Dia telah mendapatkan kepercayaan dari induk naga”
“Hallo mother dragon, aku Zaya” Ucapnya saat menyentuh dahi mahluk raksasa tersebut.
Sementara dari kejauhan Ra memandangi Zaya dan para naga nya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, dia mendengus kasar lalu pergi meninggalkan tempat itu.
“Zaya…” Gumam Gorg, pria besar tersebut bisa merasakan degup jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang. Andai dirinya bisa tetap berada disana dan menemani gadis kecilnya saat ini, tetapi keadaan sangat tidak memungkinkan. Apalagi saat ini masalah besar tengah menimpanya, seseorang telah menyebarkan berita palsu mengenai dirinya dan membuat posisinya terancam saat ini.
Meski demikian Gorg bersyukur jika berita yang tersebar bukanlah mengenai identitas aslinya atau tentang kunjungannya ke perut bumi untuk menemui Zaya dan keluarganya saat itu, tetapi berita mengenai skandal dirinya dengan mendiang Zaya dan tuduhan bahwa dirinya telah membangkang pada peraturan supreme leader hingga menimbulkan pemberontakan di kalangan para kesatria, perwira tinggi juga para panglima tinggi lainnya.
Saat ini Gorg harus mempersiapkan dirinya sebaik mungkin di pengadilan, hal yang harus dia hindari adalah pecahnya pemberontakan sebelum energi biru berhasil dikembangkan secara menyeluruh oleh kedua bangsa yang saat ini hidup damai di perut bumi.
“Apa anda sudah bersiap yang mulia?”