The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 66



Krak! Krak! Krak!


Bunyi retakan dari pilar yang menjulang tinggi itu kembali terdengar diantara deruan ombak yang menghantam bebatuan di tepi pulau terisolasi tersebut, udara panas disana bisa terlihat dengan adanya kepulan asap dari setiap celah permukaan tanah disana. Padahal seharusnya udara disana sangat dingin, karena wilayah tersebut selalu tertutupi awan gelap.


“Retakan itu kembali terjadi Gorg” Dhar memasuki ruangan dimana Gorg saat ini berada, dengan para panglima perang revolusi. Dia menekan tombol-tombol yang ada di meja pertemuan mereka untuk menampilkan layar virtual, dan memperlihatkan penemuan tim nya.


Hari ini bertepatan dengan 6 tahun kepergian Khaii ke Colloseum, sayangnya setahun terakhir ini keretakkan pada pilar-pilar penyangga segel semakin sering terjadi. Padahal masih 1 tahun lagi anak itu berada disana. Hal ini terjadi dikarenakan ulah dari pengikut setia mahluk mengerikan terebut, mereka terus menerus mencari cara untuk mengeluarkan pemimpin mereka dari pulau terisolir itu.


Gorg menghela nafasnya kasar, bagaimana pun bangsa Amarath dan Omarath tidak akan membiarkan Khaii pergi dari Colloseum sebelum apa yang mereka lakukan terhadap anak itu selesai dilakukan. Zaya yang sejak tadi berada di sampingnya, mengelus pundak sang suami lalu meminta ijin kepada pria besar tersebut untuk pergi ke Colloseum.


“Ijinkan aku untuk meyakinkan mereka sayang, bagaimana pun kita tidak bisa menunggu terlalu lama lagi”


Zaya bisa melihat keraguan dari raut wajah pria besar tersebut, dia pun kembali meyakinkan Gorg bahwa hanya dirinya lah yang bisa berada dekat dengan energi biru itu selain Gorg. Dan pria besar itu tidak mungkin bisa meninggalkan Neuro dalam keadaan seperti ini, sebaliknya Zaya tidak mungkin bisa mengambil alih tugas Gorg sebagai seorang pemimpin disana.


Meski berat hati, akhirnya pria besar yang kini terlihat lebih matang tersebut mengijinkan istri kecilnya yang sudah terlihat seperti seorang wanita dewasa itu untuk pergi ke Colloseum seorang diri. Bukan tanpa alasan Gorg sangat mengkhawatirkan dirinya, tetapi peristiwa terakhirnya dengan Melinda menyisakan trauma kecil dalam diri Gorg.


Setahun setelah kelahiran Khaii Zaya merasakan hal aneh pada dirinya, dia sering kali di hantui oleh mimpi buruk pada saat tidur entah itu siang maupun malam hari. Zaya juga seringkali mendengar suara bisikan mirip dengan suara Melinda, yang menyuruhnya untuk kembali ke Mars dan meninggalkan keluarganya di Neuro karena mereka merupakan petaka baginya di masa depan.


Zaya yang saat itu tidak memercayai suara bisikan tersebut berperang dengan dirinya sendiri, karena dulu saat dirinya akan bergabung dengan para kesatria langit justru sang mama lah yang mengatakan bahwa dirinya akan membawa perubahan besar terhadap tatanan kehidupan disana dan memberikan dukungan penuh untuk meninggalkan Mars.


Tetapi kata hati Melinda yang sempat terdengar oleh Zaya saat mereka berkunjung kesana membuat dirinya ragu apakah sang mama masih orang yang sama dengan Melinda yang dulu.


Kejadian terparah adalah ketika Zaya terperosok kedalam sebuah dimensi ketika dirinya tengah tertidur lelap, ini lah yang membuat Gorg sangat mengkhawatirkan dirinya. Karena pada saat itu sang suami berusaha sekuat tenaganya untuk membangunkan dirinya, tetapi Zaya tetap dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan energi kemerahan keluar dari dalam tubuhnya dan menghancurkan sekelilingnya.


“Ingat Zaya, jangan biarkan sesuatu yang berharga membutakan pandanganmu!”


Kata-kata Xi yang berulangkali dilontarkannya kepada Zaya pada akhirnya dapat mengembalikan dirinya ke dunia nyata, setelah sang master bersama dengan sang suami memasuki dimensi aneh tersebut. Disana ketiganya bisa melihat sosok Melinda tengah berada didalam genggaman tangan besar mahluk terkutuk itu.


Semenjak kejadian itu Gorg melarang Zaya untuk mengunjungi Melinda di Mars, meski berkali-kali Damian menghubungi mereka atas permintaan wanita itu.


.


.


“Aku rasa kita tidak bisa menunggu satu tahun lagi…” Lanjutnya.


Alih-alih menjawab pernyataannya, mahluk besar itu memanggil seseorang ke hadapannya.


“Yang mulia” Ucap seorang pemuda tampan berambut putih panjang dengan telinga runcing, sambil berlutut di hadapan mereka.


Zaya menatap Khaii dengan takjub, anak semata wayang yang sangat dirindukannya itu telah tumbuh menjadi pria yang tampan juga berwibawa. Tubuhnya tidak lagi seukuran dengannya, suaranya pun tidak lagi seperti suara anak kecil. Zaya bisa memperkirakan jika tinggi Khaii saat ini sama seperti ayahnya Gorg, dan pakaian yang dikenakannya membuat siapapun tidak akan percaya jika pemuda tampan tersebut baru berusia 16 tahun!


“Kembalilah bersama dengan ibumu, ingat ucapanku…” Ucap Samael, diikuti oleh anggukan kepala Eden juga Khaii.


Keduanya pun meninggalkan aula besar itu menuju pesawat yang akan membawa Zaya serta Khaii kembali ke permukaan.


“Aku sangat merindukanmu ibu…” Khaii memeluk erat Zaya setibanya mereka didalam pesawat tersebut, diam-diam pemuda tampan itu memasukan sesuatu ke dalam tubuh Zaya hingga membuatnya tak sadarkan diri.


“Maafkan aku ibu, tapi aku harus mengenyahkan pengaruhnya terhadap dirimu” Batin Khaii, lalu mendudukkan Zaya diatas kursi serta memasang pengaman pada tubuhnya. Setelah itu dia pun menghidupkan pesawat jet tersebut dan membawanya terbang keluar dari Colloseum.


Khaii membawa tubuh Zaya keluar dari pesawatnya setelah dia mendaratkan benda tersebut tak jauh dari kediamannya. Seluruh mata memandang ke arah pemuda tampan tersebut, terlebih saat ini sang ibu masih dalam keadaan tak sadarkan diri ditangannya.


“Apa yang telah terjadi dengan ibumu Khaii?” Gorg menyambut kedatangan sang anak, dan mengambil Zaya dari tangannya. Secepat mungkin mereka membawa wanita itu kedalam ruangan medis untuk mendapatkan perawatan.


“Dia tidak apa-apa ayah, aku hanya menaruh sesuatu dalam tubuhnya setelah mengambil benda ini dari sana” Khaii menaruh sebongkah batu berwarna merah api yang dari telapak tangannya di atas meja, lalu meminta kepada Dhar untuk meneliti apa sebenarnya benda tersebut dan mengapa benda itu bisa ada didalam tubuh ibunya.


“Selamat datang kembali nak…”


Gorg memeluk tubuh Khaii erat, sang anak yang kini memiliki tinggi yang sama dengannya pun menyambut pelukannya dengan erat pula.


“Kau tidak merindukan aku??”