
Tubuh Hira ambruk setelah memperlihatkan kristal biru itu kepada para Homobien, darah yang tetap mengalir dari tubuhnya membuat kondisi gadis itu semakin melemah. Apalagi ditambah dengan aksi peperangan kecil antara mereka melawan para musuh tadi, luka akibat tusukan benda tajam di perutnya kembali terbuka.
“Hira!” Pekik Dhar, lalu berlari ke arahnya dan meraih tubuh gadis itu dan menaruhnya di pangkuannya tak jauh dari tabung panjang tersebut.
Bersamaan dengan itu pula sang pemimpin terbangun dari tidur panjangnya. “ Siapa yang telah berani membangunkan ku?!”
Dengan serempak para homobien yang jumlahnya sangat banyak itu berlutut dihadapan sang pemimpin, dan menunduk karena tak berani menatapnya.
“Aku!” Jawab seorang pria berkulit biru dengan sesosok wanita di pangkuannya, Dhar menggunakan bahasa Amarath ketika menjawab pertanyaan mahluk kuno tersebut.
“Siapa yang telah mengutus mu mahluk biru?!” Sang pemimpin melangkahkan kakinya keluar dari tabung tempatnya tertidur selama hampir seratus tahun ini, dan berjalan ke dekat pria berkulit biru tersebut.
“Samael of Amarath dan Eden of Omarath” Jawab Dhar kembali, dia pun menundukkan wajahnya tanda penghormatan kepada mahluk bertubuh sangat tinggi itu.
“Hah! Rupanya mereka masih hidup! Aku pikir mereka telah mati dimakan usia setelah benda biru itu hancur!” Mordor sang pemimpin berlutut dihadapan Dhar, lalu memintanya untuk menyerahkan tubuh Hira kepadanya.
Mordor meletakkan tubuh Hira dalam tabung tempat dia tertidur, lalu menutup tabung tersebut dan menyalakan sistem pemindai pada benda besar itu.
“Ini akan menyembuhkan lukanya”
Para Homobien masih dalam keadaan berlutut ketika Mordor mempertanyakan apa penyebab dirinya menerima perintah dari kedua bangsa tersebut kepada Dhar, pria biru itupun menceritakan keadaan yang sedang terjadi saat ini dimana planet tempat tinggal mereka dalam keadaan terancam akibat ulah The One.
Dhar pun memberitahu Mordor jika pesawat induk milik mahluk mengerikan itu telah mendekati planet merah ini, dan hampir saja memasuki lapisan udaranya.
“Bangun kalian semua dan segera bersiap!” Dengan geramnya mahluk bertubuh tinggi dengan warna kulit yang sama dengan kedua bangsa penghuni Neuro memberikan perintahnya. Perbedaan diantara mereka hanya terletak pada tekstur kulitnya saja, jika kedua bangsa penghuni Neuro itu memiliki permukaan yang sangat halus, maka permukaan kulit homobien bersisik halus dan mengkilat seperti ular.
Seluruh pasukan Homobien pun terbangun dari posisinya secara serempak, dan tanpa menunggu perintah lanjutan dari pimpinan tertingginya mereka langsung menempati pos nya masing-masing.
“Bangunkan teman-teman kita di sektor 1 dan 4!” Titah Mordor. Seketika sebuah pintu besar pun terbuka di hadapan mereka, memperlihatkan sebuah jendela kaca besar yang mempertontonkan deretan tabung yang jumlahnya ribuan, bahkan jutaan.
Sebuah pertanyaan besar tiba-tiba hinggap di pikiran Dhar setelah pria biru itu melihat pemandangan yang luar biasa dihadapannya, siapa yang menghuni planet ini jika penghuni sebenarnya dari planet tersebut sedang dalam keadaan hibernasi seperti ini? Bukankah orang-orang seperti Damian yang selalu dia temui selama ini telah mendiami planet ini sejak dulu?
Pertanyaan tersebut terjawab setelah tanpa sengaja Mordor mengutuk perbuatan para sapien yang seharusnya mendiami sektor paling bawah kawah besar itu.
“Dasar para budak tak tahu di untung! Seharusnya aku memusnahkan mereka saja sejak dulu!”
Dhar menghela nafasnya panjang, jadi selama ini penghuni planet yang dia ketahui sangat arogan, dan selalu menganggap dirinya bangsa paling unggul hanyalah budak dari bangsa homobien! Pantas saja selama ini mereka selalu terlihat konyol dimata Dhar apalagi Gorg.
Tak lama setelah para penghuni di keempat sektor itu dibangunkan dari tidur panjangnya, dan setelah Hira kembali pulih dari luka di perutnya, Mordor pun memerintahkan seluruh pasukannya untuk segera keluar dari tempat persembunyian mereka menuju permukaan dan membantu para pasukan revolusi untuk mengambil alih kembali planet tersebut.
“Beri pelajaran kepada para budak sialan itu!”
.
.
Kebahagiaan yang dirasakan oleh pasukan pemberontak yang tergabung bersama dengan pasukan revolusi berbanding terbalik dengan apa yang sedang dirasakan oleh para pemimpin parlemen dan pemerintahan Mars, berita mengenai terbangunnya para Homobien dari tidur mereka telah membuat mereka menjadi panik. Kehidupan tentram yang telah mereka lalui selama hampir seratus tahun ini terancam akan berakhir saat ini juga, sementara The One satu-satunya harapan mereka untuk bergantung, telah mengubah haluan pesawat induknya menuju Neuro.
“Apa yang harus kita lakukan yang mulia?”
“Ternyata ramalan itu benar! Mereka telah terbangun dari tidurnya!”
“Kita terancam kemiskinan saat ini!”
Mereka yang saat ini tengah berkumpul didalam ruangan rapat yang sangat besar itu saling melontarkan pertanyaan-pertanyaan mengandung kekhawatiran terbesar mereka, sementara sang supreme leader terakhir dari Mars tengah memijat keningnya yang semakin berdenyut. Bahkan dirinya saat inipun masih tidak memercayai hal tersebut, dulu nenek moyangnya hanya berpesan untuk tetap menjaga kredibilitas mereka sebagai ras paling mulia disana.
Ramalan yang telah beredar di masyarakat selama ini hanya dianggap sebagai isapan jempol semata, karena dia pun diberikan amanat untuk menyegel sebuah sektor agar tidak terjamah oleh mahluk manapun! Dikatakan kepadanya bahwa disana telah tertidur para penjahat yang berhasil mereka kalahkan.
Sejarah yang mereka ketahui selama ini adalah bahwa nenek moyang mereka telah berhasil mengalahkan para penjajah yang berusaha untuk mengambil alih planet, dan mengurungnya di dalam kawah setelah mereka berhasil menidurkannya. Kenyataan bahwa sejarah yang selama ini mereka yakini merupakan sebuah berita bohong membuat para pemangku jabatan harus berpikir ulang tentang siapa sebenarnya mereka ini.
“Para tetua sialan itu telah membohongi kita!” Serunya, setelah dia menertibkan rekan-rekannya dengan ketukan palu saktinya.
Sementara diluar gedung besar tersebut, para kesatria tengah bersusah payah mempertahankan diri mereka serta gedung tersebut dari serangan musuh yang jumlahnya semakin bertambah banyak!
Pesawat-pesawat asing yang baru pertama kali ini mereka lihat, dengan mudahnya menjatuhkan pesawat-pesawat tempur mereka. Lebih mengejutkannya lagi setelah mereka mendaratkan pesawatnya yang ternyata ukurannya sangat besar, mahluk yang keluar dari pesawat itupun berukuran sangat besar!
“Panglima Gorg kalah besar dengan mereka!” Seru salah seorang kesatria yang sedang berlindung dibalik tembok diatas pintu gerbang raksasa menuju gedung tersebut setelah dia melihat pemandangan mengerikan didepannya.
“Hei! Bukankah itu panglima Dhar? Siapa wanita yang berjalan disampingnya?” Balas seorang kesatria wanita disebelahnya.
Para penghuni gedung pun berlarian keluar dari ruangan besar tersebut dan segera bertekuk lutut dihadapan sesosok mahluk besar yang datang bersama dengan panglima Dharco dan pasukan raksasanya serta seorang gadis yang berjalan disampingnya.
“Mana sapien-sapien sialan itu?!!”