The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 59



Bodohnya disaat semua sapiens tengah berlutut dihadapan Mordor dan pasukannya termasuk Dhar dan Hira, para kesatria dan pasukan black horn yang masih tersisa dengan serempak membentuk sebuah formasi lingkaran untuk mengepung mereka sambil mengarahkan senjatanya ke arah mahluk-mahluk besar yang ada dihadapan mereka.


Klak! Klak! Klak!


“Bodoh…” Ucap Dhar seraya menggelengkan kepalanya, saat melihat pemandangan konyol dihadapannya. Apalagi saat seorang panglima dari pasukan black horn memerintahkan mereka untuk menyerahkan diri, setelah pasukannya mengaktifkan sistem persenjataan mereka.


Mordor mendengus kesal dengan kelakuan para sapiens juga mahluk-mahluk aneh yang masih memiliki keberanian untuk mengancamnya, sementara para pemimpin mereka jelas-jelas sedang berlutut dihadapannya. Mahluk besar tersebut menghentakkan tongkatnya ke permukaan tanah hingga membuat sebuah getaran elektromagnetik yang langsung mengakibatkan senjata laser musuh mati seketika, bersamaan dengan itu pasukan homobien yang baru saja mendarat langsung mengepung seluruh areal gedung.


“Berani-beraninya kalian budak! Panggil Klaus si sapien gila itu ke hadapanku!” Seru Mordor dengan suara yang menggelegar, dia lupa jika dirinya serta pasukannya telah tertidur selama hampir seratus tahun. Tentu saja Klaus sang pemimpin para sapiens sudah mati sejak lama.


Dhar memberikan isyarat tangan kepada mahluk besar tersebut agar dia mendekatkan telinganya ke arahnya, lalu membisikkan sesuatu kepada Mordor hingga membuat mahluk besar tersebut semakin geram.


“Enyah lah kalian semua dari hadapanku! Dan kembalilah ke habitat kalian!”


Mereka pun membentuk sebuah barisan atas perintah dari para homobien, para sapiens tersebut di giring kedalam pesawat-pesawat pengangkut yang akan membawa mereka ke tempat dimana para manusia bumi sekarang ini berada. Yakni di beberapa pemukiman di wilayah gurun pasir dimana para selir buangan, serta para budak tinggal.


Lalu apa yang terjadi kepada pasukan Black Horn? Mordor memerintahkan kepada pasukannya untuk mengirim kembali mereka ke planetnya di galaksi yang lain. Dia juga mengirimkan oleh-oleh untuk diingat para pasukan sialan itu agar mereka selalu ingat kesalahan yang telah mereka perbuat, yakni dengan memotong tanduk disebelah kiri mereka.


“Mordor sialan!!!”


Sementara migrasi besar-besaran itu sedang terjadi, Dhar tengah meminta bantuan kecil kepada Mordor.


“Pasukan revolusi jumlahnya sangat sedikit yang mulia, kami akan sangat berterimakasih jika anda bersedia untuk membantu kami untuk mengalahkan pasukan The One” Dhar bertekuk lutut dihadapan Mordor yang sedang menduduki singgasananya, dia bahkan tidak berani menatap mahluk kuno tersebut.


“Akan aku pikirkan mahluk biru, meski saat ini aku tidak memiliki keinginan untuk mencampuri urusan kalian” Mordor menghela nafasnya perlahan, lalu meminta kepada Dhar serta Hira untuk segera meninggalkan planetnya.


Kini setelah planet merah tersebut kembali dalam kekuasaannya, maka mau tidak mau dia harus mengembalikan tatanan kehidupan disana. Hal pertama yang harus dia lakukan adalah membersihkan udara Mars dari virus dan bakteri yang membuat kulitnya gatal, serta bersin-bersin.


“Apa yang telah mereka lakukan terhadap udara di planet ini?!”


Dhar mengulum senyum saat mendengar teriakan Mordor yang menggema ke seluruh istana megah tersebut, gedung yang dulu dibuat sebagai pusat pemerintahan para sapiens kini telah kembali pada pemiliknya. Meski dia belum berhasil membujuk mahluk besar itu untuk membantunya melawan pasukan The One, tetapi setidaknya dengan para Homobien membersihkan udara mars dari virus dan bakteri yang telah disebarkan oleh mahluk mengerikan itu ke udara, kesempatan bagi para wanita disana untuk bisa melahirkan kembali bayi laki-laki akan menjadi sangat besar.


“Bawa kita kembali ke Neuro sayang..”


.


.


Pesawat induk miliknya telah tiba di orbit Neuro, dan kini bukan hanya planet itu saja yang ada di hadapannya. Melainkan tiga pesawat induk! Meski ukuran pesawat itu tidak sebesar dengan pesawat induk miliknya, tetapi ketiga pesawat itu telah dalam keadaan siap siaga, belum lagi dengan pesawat-pesawat tempur yang mulai bermunculan di sekitarnya.


“Kerahkan seluruh pasukan untuk melawan mereka!” Serunya, dia pun memerintahkan sebagian pasukannya untuk memasuki lapisan udara Neuro dan menghancurkan isinya.


The one berencana untuk mengambil alih kembali planet tersebut, apalagi dia meyakini jika hidupnya kembali Neuro pasti bersangkutan dengan aktifnya kembali energi biru.


“Serang!”


Xande mengajak pasukannya untuk melakukan manuver untuk mengecoh pesawat musuh sambil menembak ke arah mereka, sementara Fin dan pasukannya berusaha untuk menghalau pesawat musuh agar tidak masuk kedalam Neuro. Dan Bessara, dia serta pasukannya masuk kedalam lapisan udara neuro dan menghalau pesawat musuh yang sudah telanjur masuk ke sana.


“Waspadai pesawat induk nya kawan-kawan!” Sabath memerintahkan seluruh pasukan yang ada didalam ketiga pesawat induk tersebut untuk bersiaga, dia dan Drax tetap mengawasi pergerakan The one dari dalam pesawat induknya masing-masing.


“Mereka datang kawan-kawan!” Zaya berseru, gadis itu sudah berada dipunggung leher mother dragon saat naga tersebut terbang ke udara. Begitu pula dengan Gorg, pria serigala itu menunggangi father dragon dan terbang bersama dengan Hira dan naga-naga besar lainnya.


“Apa itu?!” Para dark ronin yang berhasil terlepas dari sasaran laser Bessara terkejut saat melihat ada ratusan mahluk besar terbang ke arah mereka sambil menyemburkan api dari mulutnya.


“Aaaarrgghhhh!”


Satu persatu pesawat musuh menukik dan jatuh tepat di mulut para cacing raksasa yang telah menunggu makan siang mereka, akibat terkena semburan api dari naga-naga besar itu. Pesawat yang berhasil di tembak jatuh oleh Bessara dan pasukannya pun menambah banyaknya sajian makan siang mahluk-mahluk besar tersebut.


“Sebelah kirimu Gorg!” Seru Zaya, hampir saja naga yang ditunggangi pria besarnya itu terkena tembakan musuh. Zaya meraih senjata miliknya dan menembak pesawat itu tepat mengenai mesinnya hingga terjatuh dan meledak.


The one bukan hanya geram, mahluk kuno mengerikan itu sudah sangat murka melihat seluruh pasukan udaranya dapat dikalahkan oleh musuh yang sangat hina di matanya. Dia pun memerintahkan awak kapalnya untuk segera mengaktifkan sistem persenjataan guna memudahkan pasukan miliknya memenangkan peperangan tersebut.


Sementara didalam sebuah ruangan di dalam pesawat induk miliknya, para dark ronin tengah mengaum. Mereka resah! Dan ingin agar The one segera menurunkan mereka di planet Neuro, dan membantai musuh dengan senjata-senjata miliknya.


Bersamaan dengan itu, ruangan tersebut perlahan terpisah dari pesawat induk milik The one dan melepaskan dirinya dari pesawat besar itu. Lalu terbang memasuki lapisan udara Neuro setelah mengitari planet besar tersebut terlebih dulu.


“Serang mereka!” Pekik mahluk mengerikan tersebut.


Perang laser serta meriam antar pesawat-pesawat induk pun terjadi, untungnya ketiga pesawat induk milik pasukan revolusi telah mengaktifkan pelindung anti meriam terlebih dulu sebelum serangan itu terjadi. Hingga pesawat tersebut terhindar dari kehancuran saat meriam milik The one menghantam mereka.