The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 32



Pagi hari diam-diam Zaya kembali seorang diri masuk kedalam hutan tempat dimana dia bertemu dengan serigala putih itu kemarin, saat pergi bersama dengan Hira. Zaya bertekad untuk mendapatkan kepercayaan dari mahluk yang sangat indah itu, meski dirinya harus kembali dan kembali lagi ke sana.


“Kamu bisa Zaya! Kamu bisa…” Zaya menghirup udara segar untuk memenuhi paru-paru serta keberaniannya, dia harus meyakinkan dirinya sendiri meski tubuhnya jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan semua mahluk yang ada disini tetapi dia yakin bahwa dirinya memiliki keberanian yang sama dengan mereka.


 Zaya harus memastikan bahwa Ru masih tertidur pulas ditempatnya, yakni di atas batu besar dimana Zaya sering berlatih memainkan pedangnya atau sekedar beristirahat sebelum dirinya berlari secepat mungkin memasuki hutan. Untungnya untuk urusan tidur mahluk besar berbulu itu memang jagonya, Zaya berhasil meninggalkan tempat itu tanpa kendala yang berarti.


Sementara di tempat lain Gorg harus memutar otaknya mencari cara bagaimana agar dirinya bisa pergi ke sektor Y tanpa diketahui oleh siapapun, dia masih mengingat peringatan Dhar tentang kemungkinan seseorang tengah mengincarnya saat ini. Gorg tidak boleh gegabah dalam bertindak, belum saatnya dia mengungkap jati dirinya saat ini. Selain itu dia juga harus menjaga keselamatan tiga bangsa yang saat ini tengah berusaha keras untuk membangkitkan energi biru itu hingga kembali pada fungsi awalnya, membuat seluruh planet ini hidup kembali.


Penampilannya yang terlalu mencolok akan memudahkan siapapun mengenalinya, Gorg berusaha untuk menutupinya tetapi sejak tadi pria tinggi besar itu tidak juga berhasil melakukannya.


“Mmmhhh!!” Kembali Gorg melemparkan baju serta mantelnya ke atas tumpukan baju yang telah dia coba untuk kenakan sebagai penyamaran.


“Yang mulia, anda mendapatkan undangan penting untuk menghadiri pertemuan dengan para panglima dari bangsa Sinth dan Babilon” Dhar yang telah mengetahui rencana Gorg memutuskan untuk memberikan sedikit batuan kepada pria besar tersebut.


“Aku tidak ada waktu Dhar!” Sahut Gorg tanpa melihat ke arah pria berkulit biru tersebut.


“Tetapi ini sangat penting yang mulia, mereka ingin membicarakan tentang peristiwa terakhir yang terjadi belum lama ini….Lagipula ini kesempatan bagimu untuk sejenak menghirup udara segar” Dhar memutuskan untuk menepuk bahu Gorg dan berhasil mengambil sedikit perhatian dari sahabatnya tersebut.


“Kalau begitu aku harus segera ke sana”


Gorg mengenakan kembali pakaian yang biasa dia kenakan ketika sedang menghadiri sebuah pertemuan penting dengan rekan-rekannya, tak lupa dia membawa mantel yang belum lama ini dia dapatkan dari Dhar.


Gorg dan Dhar secara kebetulan berpapasan dengan Ann Marrie ketika keduanya bermaksud untuk menaiki shinok yang biasa diterbangkan olehnya, gadis itu sempat menawarkan bantuannya untuk membawa mereka ke tempat pertemuan tetapi ditolak oleh Dhar dengan alasan gadis itu masih harus bersiaga disana. Mengingat peristiwa terakhir yang telah terjadi belum lama ini.


“Aku tidak akan mengambil resiko untuk terlalu mempercayai gadis itu, dia menyembahnya sama seperti kebanyakan orang Mars” Ucap Gorg saat shinok nya sudah keluar dari landasan. Dhar hanya tersenyum tipis mendengar ucapan yang keluar dari mulut pimpinannya itu, lalu mengarahkan pesawatnya memasuki lapisan udara planet besar dihadapannya.


“Mmhhhh!” Udara yang keluar dari hidung serigala berbulu putih itu menyapu wajah Zaya, saat gadis itu kembali dikejutkan oleh kehadirannya dengan cara yang sama. Mahluk besar itu tiba-tiba saja berdiri dibelakang Zaya saat gadis itu tengah bersembunyi di tempat yang sama.


“Ha..Hai…Aku Zaya, kita bertemu kemarin…Kau masih ingat aku bukan?” Zaya berusaha untuk tersenyum, dihadapannya saat ini terlihat deretan gigi-gigi tajam milik mahluk indah tersebut.


Ggrrrrr….


“Tenanglah, aku tidak bermaksud jahat padamu…” Zaya berusaha untuk meraih sesuatu dari dalam tas nya dengan sangat hati-hati. “Kau mau ini?” Ucapnya sambil menyodorkan seekor ikan Trout seukuran lengannya yang masih bergerak meski sudah terlihat lemas.


Dalam perjalan menuju hutan ini tadi, Zaya memutuskan untuk mengambil ikan itu terlebih dulu. Dia telah mempelajari cara untuk menangkap ikan buas itu dari Hira, ketika gadis itu memberikan berbagai tips untuk mendapatkan kepercayaan dari seekor serigala baru-baru ini.


Grep!


“Sampai ketemu besok Ra!” Seru Zaya, dirinya pun memutuskan untuk pulang.


Sengaja Zaya memberinya nama Ra, sama seperti dewa matahari dalam dongeng yang sering diceritakan oleh sang mama ketika dirinya masih kecil dulu.


“Apakah gadis itu sudah kembali?” Khan terlihat sangat mengkhawatir kan Zaya, seharusnya dia menghentikan gadis itu tadi pagi saat dirinya melihat Zaya sedang mengendap-endap ketika akan melewati Ru. Atau bahkan memerintahkan beberapa pria anggota klan nya untuk mengikuti Zaya.


“Tenangkan dirimu Khan, aku yakin dia baik-baik saja” Sahut Seren, seperti biasa wanita itu harus mengelus pundak ataupun punggung suami besarnya saat pria tersebut sedang merasa khawatir.


“Semoga saja apa yang kau katakan itu benar Seren” Gorg kembali menatap ke arah pintu, berharap agar orang yang selanjutnya memasuki rumah itu adalah Zaya.


Dia tidak bisa membayangkan kemarahan Gorg jika gadis nya itu sampai tewas didalam hutan sana, bisa-bisa seluruh kawanan serigala penghuni hutan tersebut musnah ditangannya.


Sementara didalam hutan Ru sedang mencari keberadaan Zaya, serigala besar itu mengendus jejak yang telah ditinggalkan oleh gadis itu disepanjang jalan menuju ke dekat mulut sebuah goa.


“Apa kau menemukannya Ru?” Hira yang berjalan mengikuti Ru dan serigala miliknya Se bertanya setelah kedua mahluk besar itu berhenti, lalu kembali menelusuri jalan yang tadi ditempuhnya.


“Apa mungkin Zaya tersesat?” Gumam Hira, lalu mengikuti kembali kedua serigalanya.


Ditengah perjalanannya kembali kedua serigala tersebut berjalan ke arah yang berbeda, Hira semakin yakin jika Zaya tengah tersesat di hutan belantara tersebut saat ini. Dia berharap gadis itu dalam keadaan baik-baik saja dan tidak gegabah mengambil sesuatu untuk dimakan atau pun untuk diminum.


Hira juga tidak mungkin berteriak memanggil Zaya dan beresiko membangunkan naga-naga yang tengah tertidur didalam sebuah goa besar tak jauh dari posisinya sekarang ini, ataupun meminta kepara Ru dan Se untuk melolong.


“Demi roh agung!” Cicit Hira sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya, dia tidak memercayai penglihatannya saat ini.


Dihadapannya sekarang ini dia melihat Zaya sedang bermain-main dengan anak-anak naga! Gadis itu berlarian mengejar mereka ataupun sebaliknya, dia bahkan tertawa ketika salah satu dari naga itu terbang dan menerjangnya lalu menjilati wajahnya.


Gggrrrrr…


“Tenang Ru…Tenang kawan, dia sedang bermain bukan sedang bertengkar” Hira mengusap tubuh serigala besar itu, mencoba untuk membuatnya tidak menggeram. Tetapi semuanya terlambat, karena saat ini naga-naga kecil tersebut tengah mengarahkan pandangannya ke arah dirinya dan kedua serigalanya sambil merentangkan sayapnya.


Kkkkkrrrrrrkkkkkk…..


“Tenanglah…Mereka keluargaku…” Ucap Zaya