The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 56



"Aku tidak apa-apa Dhar..." Hira menghela nafasnya berat, dia merasa sesuatu telah menghalangi dirinya untuk beranjak dari kursinya.


Uhuk...Uhuk...


"Demi roh agung! Hira!" Dhar panik seketika setelah gadis itu memuntahkan darah dari mulutnya, dan betapa terkejutnya pria berkulit biru itu saat mengetahui bahwa patahan pengaman kursi yang di duduki oleh Hira telah menancap di perutnya.


Perlahan Dhar melepaskan semua benda yang menghalangi tubuh Hira, lalu mengangkat gadis itu dan memindahkan nya keluar pesawat. Dia menaruh tubuh Hira tepat dibawah badan pesawat, hingga posisi mereka saat ini terhalangi oleh benda besar tersebut. Semua itu dia langsung agar keberadaan mereka tidak diketahui oleh musuh yang sewaktu-waktu bisa saja datang, juga untuk melindungi tubuh gadis itu dari panasnya sinar matahari.


Hira terus memuntahkan cairan merah itu dari mulut nya, bahkan ketika Dhar melakukan proses pemindahan dengan alat yang melingkar di tangannya.


"Untung tidak sampai mengenai organ vital mu Hira, aku harus segera melepaskan benda ini dari tubuhmu" Dhar beranjak dari posisi dan segera masuk kembali kedalam pesawat, dia harus mengambil peralatan medis darurat dari sana dan sesegera mungkin menolong Hira. Waktu berputar semakin cepat! Mereka harus secepatnya pergi dari sana menuju tempat dimana bangsa homobien itu tertidur saat ini.


"Aaaarrrgghhhhh!!!!" Hira memekik ketika Dhar menarik benda tersebut dari perutnya, rasa sakit yang dialaminya hampir sama ketika dia terluka akibat sabetan belati dahulu kala saat memasuki usia remaja nya.


Budaya klan serigala mengharuskan para remaja nya untuk melewati sebuah ritual pertarungan saat mereka menginjak usia 17 tahun. Tak tanggung-tanggung, mereka harus mengalahkan 5 orang sekaligus untuk mendapatkan pengakuan dari pemimpin klan.


Perlahan pandangan mata Hira mulai memudar, dia bisa mendengar teriakan Dhar saat memanggil namanya sebelum kedua matanya benar-benar tertutup.


Untung saja Dhar telah selesai melakukan pertolongan pertama terhadap Hira sebelum pesawat milik salah satu teman Peet menjemputnya, Dhar langsung meminta kepada wanita itu untuk segera mengantarkan mereka ke lokasi tujuan awal. Yakni tempat dimana mahluk kuno para penghuni planet ini bersemayam.


"Apa kau yakin? " Ucap wanita tersebut, pasalnya dia bisa melihat Hira yang masih tergeletak tak berdaya dipangkuan Dhar.


"Cepatlah, kami tidak punya banyak waktu"


Dhar pasti yakin jika Hira pun akan meminta hal yang sama kepada wanita itu jika dirinya dalam keadaan sadar saat ini, keduanya tahu benar jika mereka tengah berpacu melawan waktu saat ini.


Pesawat induk milik The One mulai mendekati planet Mars saat ini, terbukti dengan adanya bayangan hitam besar yang mulai menutupi sebagian kecil dari planet tersebut. Sepertinya mahluk jahat itu akan menarik semua pasukannya dari planet ini sebelum mereka terbang menuju planet Neuro.


Dhar harus berhasil membangun semua mahluk itu sebelum semuanya terlanjur terjadi.


"Kau benar mahluk biru..." Wanita tersebut menambah kecepatan laju pesawatnya setelah melihat bayangan hitam di angkasa, dia bisa memperkirakan kedatangan mereka ke planet nya berdasarkan bayangan yang dia lihat di atas langit.


Jika perkiraan nya tepat, The One dan pasukan dark ronin nya akan tiba dalam waktu tiga hari ke depan.


Tak lama mereka pun sampai di atas sebuah kawah besar, permukaan nya yang hitam serta suhu panas yang menyertainya membuat semua mahluk pasti enggan mendekati tempat tersebut.


"Mengaktifkan pelindung panas" Ucap sang pilot, lalu mengarahkan pesawat nya memasuki lobang kawah yang sangat besar tersebut.


Dhar merasa dirinya tengah menelusuri lorong menuju perut planet Neuro saat ini, bedanya adalah lorong yang dia lalui saat ini lurus tidak berkelok seperti disana.


Tiba di penghujung lorong, mereka dihadapkan pada sebuah pintu besi tebal yang sangat besar.


"Bagaimana caranya kita bisa membuka pintu itu?" Ucap sang pilot, seraya menoleh ke arah Dhar. Dia melihat mahluk berkulit biru tersebut tengah meraih sesuatu dari balik jubahnya.


Seketika sinar laser mulai keluar dan memindai alat yang dipegang oleh Dhar, dan pintu besar itupun terbuka. Perlahan sang pilot mulai mengarahkan kemudinya memasuki ruangan dibaliknya.


"Whoa....Ini sangat luar biasa!" Sang wanita berdecak kagum melihat pemandangan didepannya, untuk ukuran mahluk kuno teknologi mereka terlalu canggih pikirnya.


Diapun mendarat pesawatnya setelah melihat sebuah permukaan datar didepannya, lalu mematikan mesin pesawat nya.


"Aku akan menunggu kalian disini"


Dhar membawa Hira bersama dengannya menuruni pesawat tersebut, gadis itu telah sadar dari pingsannya beberapa saat yang lalu.


"Aku bisa..." Ucap Hira saat Dhar menatapnya.


Dhar tidak akan bisa membangunkan mahluk kuno tersebut seorang diri, dia membutuhkan Hira untuk membantunya melakukan sesuatu didalam sana.


Perlahan mereka pun mulai melangkahkan kakinya memasuki ruangan besar dihadapannya, dengan Dhar yang memapah tubuh Hira disebelah kanannya.


Kembali ke planet Neuro, dimana Gorg beserta anggota klan nya dan hampir seluruh pasukan revolusi tengah berkumpul bersama saat ini. Mereka telah menerima kabar bahwa saat ini pesawat induk milik The One hampir saja mendekati planet Mars.


"Aktifkan mode phantom pada pesawat induk milik kita, biarkan mereka mengira jika planet ini dalam keadaan lengah" Gorg menghela nafasnya sejenak, dia harus memilah di sektor mana mereka akan menghabisi pasukan dark ronin dan black horn nantinya.


"Disini kita akan menghabisi mereka" Gorg menunjuk sebuah sektor dengan telunjuknya.


"Apa kau yakin? Disana saat ini telah di huni oleh para cacing raksasa" Khan segera memperlihatkan deretan gigi runcingnya setelah memahami kemana arah pemikiran anak sulungnya itu.


"Kau akan memberikan makanan gratis pada cacing-cacing besar itu" Lanjutnya.


Gorg pun kembali menuturkan rencana besarnya.


Zaya melihat semua itu tak jauh dari posisi Gorg saat ini, pikirannya berkelana ke planet dimana sang mama sekarang ini berada.


"Bagaimana keadaan Melinda dan Damian saat ini?"


Zaya masih mengingat ucapan sang mama sesaat sebelum akhirnya wanita itu mengijinkan nya untuk pergi, dia berkata bahwa dirinya akan membawa perubahan pada tatanan kehidupan di planet nya bersama dengan seorang pria yang mengenakan bandul kalung berkepala serigala.


Ditatapnya Dhar seketika, pria yang telah berhasil mengambil hatinya ini telah membuat perubahan besar pada dirinya.


"Ingat Zaya, jangan biarkan apa yang sangat berarti bagimu membutakan pandangan mu"


Ucapan Xi ini masih dia ingat dan dia pegang teguh hingga saat ini, meski tak lagi membuat dadanya sesak dan membuatnya meneteskan air mata.