The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 18



Tidak ada waktu bagi Zaya untuk terkejut setelah mendengar suara Gorg yang tiba-tiba muncul di kepalanya, dia mengangkat wajahnya seketika dan menghilangkan semua ekspresi pada wajah cantiknya.


"Dia ikut bersamaku" Titah Gorg, saat dua diantara para pengawal itu menghentikan langkah Zaya untuk mengikuti dirinya memasuki ruangan parlemen.


Zaya berdiri dibelakang kursi yang di duduki oleh Gorg setelah panglima nya itu bergabung bersama para anggota dewan disana, dan tetap dalam posisi siaga.


Deg!


"Zaya..." Damian hanya bisa menatap nanar anak gadisnya itu, tanpa ada kuasa untuk mendekati bahkan menegurnya setelah melihat dengan siapa Zaya berada saat ini.


Siapa yang tidak mengenal panglima tinggi Gorg? Pria yang terkenal sangat disiplin, tegas dan sadis serta sulit untuk didekati itu tidak pernah mengijinkan siapapun untuk mengganggu dirinya bahkan perwira pertamanya.


Tak hanya Damian yang mencuri pandang terhadap Zaya, gadis itupun sama. Meski Damian adalah seorang ayah pernah mengecewakan diri maupun ibunya tetapi pria itu tetaplah ayah kandung baginya.


"Tidak!" Teriakan Gorg menggema ke seluruh ruangan serta membuyarkan lamunan Zaya.


"Apa kau tahu betapa bahayanya situasi di atas sana?! Mereka harus tetap menjalankan proses pelatihan nya sesuai dengan peraturan yang sudah berlaku atau akan aku pastikan setiap kalian yang ada di ruangan ini menggantikan para Phoenix untuk bertempur melawan musuh!" Geram Gorg.


Dan bukan hanya sang panglima saja yang merasa keberatan dengan aturan baru yang akan diberlakukan oleh dewan parlemen, melainkan seluruh panglima tinggi baik dari kesatriaan udara maupun daratan.


Bagaimana mungkin para kadet akan siap berperang hanya dengan menjalani pelatihan dalam waktu yang singkat seperti itu pikir Gorg, itu sama saja dengan bunuh diri! Apa mereka tidak memikirkan keberlangsungan hidup dari seluruh bangsa yang bersekutu batinnya.


Gorg dan para panglima lainnya meminta pertemuan tersebut untuk di akhiri serta memberikan waktu 2x24 jam untuk mengembalikan kebijakan dan aturan yang sedang berusaha untuk mereka ubah ke semula, meski aturan tersebut sudah disetujui oleh Supreme leader, untungnya belum.


Tanpa mendapatkan perintah, Zaya mengikuti Gorg setelah panglima nya tersebut beranjak dari kursinya. Sekilas Zaya melihat sang ayah menatap kearahnya, tetapi terpaksa gadis itu tidak memperdulikannya karena perintah langsung yang telah diberikan oleh Gorg sebelumnya.


Zaya berjalan di samping Gorg setelah pria itu mengajaknya berbicara, sementara para pengawal berjalan dibelakang mereka menuju tempat istirahat yang telah disediakan khusus untuk panglima tinggi kesatria udara tersebut selama empat hari ke depan.


"Temanku akan mengirimkan sebuah paket kepadaku, temui dia di sektor industri di distrik 2 satu jam lagi" Titah Gorg.


"Baik yang mulia" Jawab Zaya, dirinya sudah sangat hafal dengan semua wilayah disana. Jadi untuk pergi ke lokasi tersebut, gadis itu sudah tidak perlu menanyakan kembali dimana letak distrik itu kepada Gorg.


Tiba di kediaman sementara mereka, Gorg memerintahkan Zaya untuk menempati kabin yang terletak diseberang kamarnya diruang besar tersebut dan meminta Zaya untuk segera bersiap.


"Ingat semua perintah ku" Ucap Gorg pada Zaya setelah sebelum gadis itu meninggalkan ruangan untuk menemui seseorang di sektor industri, setelah sebelumnya dia memberikan identitas orang yang akan ditemui oleh Zaya.


"Baik panglima" Zaya mengangguk lalu menyilang kan tangan kanannya di dada nya.


"Zaya...." Damian memanggil anak gadis yang telah dia tunggu disebuah lorong tak jauh dari ruangan kerjanya dengan setengah berbisik.


Zaya menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Damian, gadis itu tahu siapa pemilik suara yang telah memanggil namanya.


Damian mendekati nya bermaksud untuk memberikan jubah kepada anak gadisnya itu, mengingat pakaian yang dikenakannya sekarang ini adalah pakaian perang yang pastinya kurang begitu nyaman jika dikenakan ataupun dilihat oleh orang lain.


"Maaf ayah, aku tidak bisa menerima pemberian mu" Tolak Zaya, mengingat perintah yang telah diberikan oleh Gorg kepadanya.


"Ayah mohon terimalah, kau bisa membuangnya jika kau akan kembali... Penampilan mu bisa membuat orang lain tidak nyaman" Ucapan Damian memang benar adanya, tetapi saat ini Zaya berada dibawah sumpah panglima nya. Lagipula untuk apa berusaha untuk membuat orang lain nyaman? Pikir Zaya, toh dirinya merasa baik-baik saja dengan penampilan nya saat ini.


Apa karena dirinya seorang gadis maka harus berpenampilan yang membuat mata-mata para pria nyaman?? Seketika rasa kesal timbul dalam pikiran gadis itu.


"Pria... Sungguh sangat aneh" Batin Zaya. Adakah pria di alam semesta ini yang tidak akan mengatur dirinya pikir Zaya, karena hampir semua pria yang dia kenal kesemuanya mengatur hidupnya bahkan Gorg!


"Hei...Kenapa aku harus mengingat laki-laki menyeramkan itu??" Gumam Zaya lalu menggelengkan kepalanya dan mempercepat langkahnya.


Tiba di lokasi yang sudah ditentukan Zaya menduduki sebuah kursi didalam sebuah kedai minuman, dia diperintahkan untuk menunggu kedatangan seseorang yang akan mengucapkan sebuah kata sebagai kode kepadanya.


"Bulan bersinar terang di atas langit di hamparan gurun yang membentang luas" Ucap seseorang yang belum lama duduk membelakangi Zaya.


"Dan lolongan serigala memecah keheningan malam" Jawab Zaya, lalu menenggak minuman nya.


Zaya beranjak dari duduknya dan berjalan melewati orang yang tengah duduk tersebut, dia tidak memperdulikan jika suara yang keluar dari mulut orang tersebut merupakan suara yang dimiliki oleh seorang wanita meski terdengar sedikit berat. Dan dengan gerakan yang sangat cepat Zaya menerima sebuah paket dari tangan wanita tersebut, lalu pergi meninggalkannya.


Dengan sengaja Zaya berjalan diantara keramaian, karena sejak tadi dirinya merasa jika ada seseorang yang tengah mengikuti nya.


"Pasti karena paket ini" Batin Zaya, lalu memasukkan bungkusan tersebut kedalam baju perangnya.


Penampilan nya yang cukup mencolok membuat Zaya sedikit mendapatkan kesulitan untuk menghindari orang-orang yang sedang mengikutinya dari jauh, andaikan aku menerima mantel itu tadi pikir Zaya.


Tiba didepan sebuah lorong, Zaya dengan sengaja melaluinya dengan maksud akan menghabisi mereka disana. Gadis itu sudah memperkirakan panjang serta lebar lorong tersebut untuk memudahkan dirinya dalam beraksi.


Bugh!


Tak! Tak!


Krak!


Bugh!


Bugh!


Trak!


Krak! Krak!


"Fiuh!" Keluh Zaya setelah menghabisi empat orang yang mengikuti nya. Dengan gerakan yang cukup cepat Zaya melayangkan pukulan-pukulan telaknya ke arah leher, ulu hati serta kepala mereka sambil melayang kan tubuhnya.


"Sleb!"


"Ahh sial!" Umpat Zaya saat sebuah pisau berhasil menancap di lengannya. Untung saja Zaya menyadari kedatangan seseorang dibelakangnya dan memutar tubuhnya, jika tidak sudah pasti pisau tersebut akan menembus jantung nya.


Zaya menarik tangan orang bertopeng tersebut, dan memutar nya dengan cepat lalu mematahkan lehernya.


Krak!


Zaya berlari secepat mungkin, untuk menghindari kemungkinan serangan yang akan datang. Dia juga harus segera menemui Gorg untuk memberikan paket tersebut dan mengobati lukanya.