The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 65



“Ssstttt…!”


Seorang anak tampan dengan telinga runcing dan rambut putih sebahu tengah bersembunyi di balik bebatuan, dia memberikan isyarat tangan kepada teman-temannya untuk tetap diam dan bersembunyi. Anak itu kembali mengintip sasarannya, seekor serigala kecil berwarna putih seperti warna rambutnya yang sedang berada diantara kawanan serigala dewasa.


Pemuda tampan tersebut kembali memberikan isyarat kepada teman-temannya, agar mereka bergerak secara perlahan sesuai dengan arahannya. Dia meminta kepada seorang anak laki-laki berkulit biru dan memiliki bola mata seperti seekor kucing untuk bergerak ke arah kirinya, dan meminta dua anak lain untuk bergerak ke sebelah kanannya.


“Induk nya sedang tertidur, kita harus cepat…” Batin pemuda tampan tersebut, lalu bergerak dengan perlahan menaiki batu besar di hadapannya bersiap untuk menangkap serigala kecil itu setelah ke tiga orang pemuda tadi berhasil menggiring anak serigala tersebut ke dekatnya.


“ Kenapa kalian terdiam?!” Dia menatap ketiga temannya yang tiba-tiba berdiri memaku dihadapannya, sementara serigala kecil itu tetap asik bemain di depannya.


“ Di belakang mu…” Pemuda berkulit biru itu berkata dalam diam, dia bahkan menundukkan kepalanya setelah menatap sesosok binatang dibelakang pemuda itu.


Pandangan mata pemuda berambut putih itu sontak mengarah pada tempat dimana induk serigala kecil itu terlelap tadi, dia menelan salivanya berat setelah menyadari ketidak hadiran mahluk besar itu disana.


Wuss…Wuss…


Seketika bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya berdiri ketika merasakan hembusan nafas dari mahluk yang ada di belakangnya.” Sial! Ketahuan lagi!” Batinnya.


“Baiklah…baiklah..Aku mengaku kalah…” Ucapnya, seraya memutar tubuhnya menghadap serigala putih raksasa tersebut, dia pun harus merelakan wajahnya menjadi basah akibat jilatan  mahluk besar itu.


“Sudah aku bilang, kita harus menggati strateginya Khaii!” Kesal pemuda tampan berkulit biru itu, sambil berjalan ke arah kakak sepupunya dengan wajah yang tertekuk. Padahal Abram sudah mengingatkannya berkali-kali tentang hal itu kepadanya, tetapi sang kakak tetap bersikukuh dengan pendiriannya untuk mengambil anak serigala itu dengan caranya yang lama. Dan terbukti ini sudah ke sekian kalinya mereka bisa di kalahkan oleh Ra.


Sementara kedua temannya memilih untuk bermain dengan serigala-serigala kecil disana,  Abram memutuskan untuk duduk diatas batu besar bersama dengan Khaii yang sedang mengelus Zen anak dari pasangan serigala Ra dan Ru.


“Apa kau tetap tidak mau menuruti perintah ibu mu Khaii?”


Meski usia Abram dia tahun lebih muda dari Khaii, tetapi anak itu memiliki pemikiran yang lebih dewasa dari kakak sepupunya. Dia tidak habis pikir kenapa sang kakak sepupu tidak juga mau pergi ke Colloseum, padahal usianya sudah menginjak 10 tahun seminggu yang lalu.


“Entahlah…Aku pun tak tau Ab, maksudku…Kenapa harus aku?” Khaii menghela nafasnya berat, disaat dirinya sedang asiknya bermain dengan teman-teman sebayanya kenapa dia harus mengemban tugas seberat itu? Ada rasa tidak rela meninggalkan keluarga besarnya disana, apalagi dengan teman-temannya juga binatang-binatangnya.


“Lihatlah diri kita Khaii, apakah kita terlihat sama dengan mereka?” Balas Abram dengan polosnya. Pemuda berkulit biru itu berpikir jika peredaan mereka lah yang membuat mereka memiliki takdir yang berbeda pula dengan teman-temannya.


“Maksudmu?” Khaii mengerutkan keningnya, antara ingin tertawa karena kepolosan sang keponakan juga ragu karena bisa saja apa yang dikatakan oleh Abram memang benar adanya.


“Apa kau buta Khaii? Kau dan aku sama-sama berbeda dengan mereka…Lihat wajahmu di cermin Khaii..” Balas Abram, Khaii memiliki kemiripan dengan bangsa kuno itu ketimbang dengan teman-teman mereka pikirnya.


“Hentikan kekonyolanmu Ab, kau sudah mulai terdengar seperti ibu ku!” Khaii beranjak dari duduknya.


Sebenarnya Khai sudah mengetahui alasan mengapa dirinya harus pergi ke Colloseum dari ibunya Zaya, juga ayahnya Gorg sang pemimpin klan serigala. Sang ayah menggantikan kakeknya Khan setelah pria tua itu menyerahkan mahkotanya, dan memutuskan untuk pergi ke Colloseum bersama dengan sang nenek Seren juga Xi setelah kedua bangsa kuno itu membuat satu wilayah khusus untuk mereka.


Tetapi yang membuat Khaii masih bertahan di permukaan adalah karena dirinya masih ragu apakah dirinya sanggup menghadapi mahluk kuno mengerikan itu? Apalagi dengan bala tentaranya! Ditambah lagi dirinya harus berada di tempat itu selama 7 tahun. Apa yang akan dia lakukan disana selama itu pikirnya.


Sang ayah Gorg pernah mengatakan jika Eden dan Samael akan memberikan sesuatu kepadanya di Colloseum nanti, dan mereka telah mempersiapkan hal tersebut sejak 10 tahun yang lalu.


“Kau baik-baik saja sayang?” Hira mendekati Khaii yang tengah termenung seorang diri sambil menatap ke arah danau, saat itu dirinya baru saja selesai menangkap seekor ikan trout besar untuk santapan malam mereka nanti.


“Aunt Hira, Seperti apa rasanya tinggal disana?” Khaii melemparkan batu kecil ke arah danau, lalu menatap Hira sesaat dan kembali menatap permukaan air yang kini beriak.


Hira tersenyum lalu merangkul keponakan kecilnya, “Disana sangat indah Khaii, dan penuh dengan keajaiban…”


“lalu mengapa kalian kembali ke permukaan?” Khaii menatap sang bibi dengan lekat, dia masih belum mengerti mengapa mereka harus kembali ke permukaan jika memang disana seperti yang mereka selalu bicarakan. Apa hanya karena mahluk mengerikan bernama The One itu? Ataukah karena hal lain?


“Kau tahu, dulu hanya ibu dan ayahmu saja yang bisa berada dekat dengan energi biru…Sedangkan kami hanya bisa aman setelah berada jauh dari benda ajaib itu, beruntung mereka telah membuat sebuah tempat aman untuk nenek dan kakekmu disana sekarang ini” Hira menepuk pundak sang keponakan tercinta, lalu mengajaknya untuk pulang.


“Kau memiliki keistimewaan yang sama dengan kedua orang tuamu Khaii, andai Abram memilikinya pasti dengan senang hati bocah itu akan menemanimu”


“The One, mahluk ini…Mengapa semua orang mengatakan jika dia sangat berbahaya?”


Khaii menghentikan langkak kakinya setelah sang bibi pun melakukan hal yang sama, dia melihat perubahan wajah pada wanita cantik tersebut ketika menanyakan hal tersebut kepadanya.


“Aku yakin kakak ku sudah menceritakannya kepadamu Khaii, dan jika apa yang mereka katakan tidak cukup maka kau harus membuktikannya sendiri dengan pergi Colloseum” Hira kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah, bobot ikan besar di pundaknya tiba-tiba saja terasa ringan setelah mendengar nama mahluk terkutuk itu.


Wanita itu masih ingat terakhir kalinya dia berada di situasi yang mencekam akibat harus menghadapi pasukan setia mereka dari bangsa Ghur saat sedang membantu Yasech dan pasukannya melawan mereka dalam sebuah peperangan, untungnya Hira belum mengandung kala itu. Jika tidak sudah dipastikan keberadaan Abram saat ini tidak lah mungkin.