The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 51



Tepat setelah seluruh anggota klan selesai bersiap-siap, mereka dikejutkan dengan getaran pada tanah yang hebat. Sebagian dari mereka mengira bahwa telah terjadi gempa ditempat itu, sebagian lagi mengira bahwa gunung api akan meletus.


“Zaya…” Batin Gorg, dia mengenali bau pheromones milik gadis nya tersebut meski dari jarak yang cukup jauh.


Benar saja, kemunculan gadis itu dikenali dengan terbangnya naga yang ditungganginya di atas wilayah klan. Tak lama kemudian hewan-hewan besar pun bermunculan dan mengelilingi tempat tersebut.


“Apa kami terlambat?” Seru Zaya dari atas ketinggian, gadis itupun meminta naga nya untuk mendarat.


“Kau telah berani membuatku menunggu semalaman gadis kecil” Gorg menghampiri Zaya, meski mother dragon mendengus ke arahnya setelah mendengar perkataan pria berambut panjang tersebut.


“Hah! Dia bahkan berani membelamu sekarang!” Gorg meraih tubuh Zaya dan mengangkatnya, lalu menciumnya. Semalaman menunggu kemunculan gadis itu telah membuat dirinya begitu merindukan kehadiran Zaya, jangan tanya dengan seberapa besar rasa cemburu yang menyelimutinya saat itu.


“Well, sebagian dari mereka telah menahan ku untuk pergi dari sana…” Kekeh Zaya, lalu membalas pelukan pria besarnya itu. Dirinya pun sangat merindukan Gorg sejak semalam, jika bukan karena naga-naga kecil yang terus saja menjahilinya mungkin Zaya akan pulang terlebih dulu malam tadi.


“Apa kalian sudah siap?!!” Seru Khan. Suaranya menggema ke seluruh wilayah dan langsung disambut dengan seruan seluruh anggota klan nya.


Mereka pun menunggangi serigala-serigala miliknya, sebagian dari mereka menaiki pesawat dengan seluruh barang bawaannya, sementara Zaya dan Gorg menunggangi naga-naga besar dan terbang tepat di atas Ru dan Ra disusul oleh hewan-hewan besar yang bergerak secara hampir bersamaan.


Sementara mereka kembali menelusuri lorong gelap yang berliku menuju permukaan sektor Y, di luar angkasa tepatnya di stasiun luar angkasa Neuro seluruh pasukan tengah bersiaga. Dihadapan mereka saat ini terdapat dua pesawat induk masing-masing milik bangsa Mars dan bangsa Kerz, diantara mereka pun telah bertebaran pesawat tempur para kesatria langit serta pasukan black horn.


“Gorg, kami membutuhkan pertanda darimu…” Batin pria berkulit biru sambil memejamkan matanya, sementara kedua tangannya telah bersiap untuk meluncurkan tembakan.


Drax yang sejak tadi membalas ucapan dari musuh yang memintanya untuk menyerah, semakin geram dengan sikap arogan kedua bangsa tersebut. Jika saja dia tidak memikirkan nasib anggota pasukannya sudah sejak tadi dia meluncurkan tembakan ke arahnya dia tahu betul jika saat ini bahkan jumlah mereka hanya separuh dari jumlah pasukan musuh yang telah muncul dihadapannya.


“Perintahkan semua pasukan untuk menaiki pesawat phantom, dan segera berlakukan kode merah” Ucap Dhar. Sebelumnya dia telah memberikan isyarat kepada Drax untuk menutup saluran komunikasi terlebih dulu.


Gorg mendapatkan pertanda dari Gorg agar dia memberitahu semua anggota pasukan untuk segera bersiap, karena sebentar lagi dia akan tiba di permukaan bersama dengan bala bantuan. Dan bukan hanya itu saja, Sabath pun telah memberitahukan kedatangannya bersama dengan pasukan perang dari bangsa Cosmix dan bangsa Arya.


“Menyalakan sistem pertahanan otomatis” Xande menekan deretan tombol pada layar monitor dihadapannya, lalu meninggalkan anjungan bersama dengan rekan-rekannya yang lain menuju hangar pesawat. Disana seluruh anggota tengah bersiap-siap untuk meninggalkan stasiun menuju planet Neuro menggunakan pesawat yang tidak bisa terdeteksi oleh musuh.


Seluruh sistem persenjataan didalam stasiun besar itupun berfungsi secara otomatis, jalur peluncuran meriam mulai terbuka dan mengarah ke arah musuh, begitu pula dengan senjata laser yang ikut bergerak secara bersamaan. Sementara seluruh awak pesawat mulai meninggalkan hangar dan terbang tanpa terlihat di belakang stasiun menunggu kedatangan pasukan bantuan yang dibawa oleh Sabath.


Jreg…jreg…jreg..


Satu persatu pesawat milik bangsa Cosmix dan bangsa Arya mulai bermunculan setelah mereka mengubah kecepatannya dari kecepatan cahaya, turut hadir bersama dengan mereka tiga pesawat induk yang dilengkapi dengan persenjataan canggih buatan bangsa Arya. Saat ini kedudukan musuh dan pasukan revolusi menjadi sama, baik dalam jumlah maupun dari segi kekuatan.


Musuh pun mulai menembakkan sinar laser nya, karena mereka berpikir jika pasukan revolusi telah mengancam keselamatan mereka dengan kemunculan pasukan dari bangsa lain yang akan membantu mereka saat ini.


Pasukan revolusi sengaja membuat musuh membidik stasiun luar angkasa Neuro, mereka membuat manuver-manuver cerdas serta berbahaya agar musuh lengah dan terus menembaki pesawat mega besar tersebut, dan tentunya dengan bantuan dari pasukan bantuan yang dipimpin oleh Sabath agar benda besar tersebut lebih cepat hancur.


Satu persatu pasukan revolusi mulai menarik dirinya, mereka terbang masuk kedalam lapisan udara planet Neuro, diikuti oleh pasukan bantuan pimpinan Sabath. Saat itu posisi mereka langsung digantikan oleh pesawat tiga pesawat induk super canggih yang tetap menghadang mereka di udara, membuat pasukan musuh kelabakan dan pada akhirnya mulai menarik dirinya dari sana.


Tak lama kemudian sebuah ledakan besar terjadi, setelah ketiga pesawat induk itu mengaktifkan pelindung anti ledakan dan terbang menjauhi stasiun luar angkasa Neuro yang sudah mulai hancur.


DUARRR! DUARRR! BUMMM!


Untuk sesaat pasukan revolusi boleh merasa bangga karena kemenangan yang berhasil mereka raih, tapi semua itu tidak membuat mereka menjadi lengah. Karena mereka tahu musuh masih akan datang dengan membawa pasukan yang lebih banyak lagi.


Keseruan bukan hanya terjadi di luar angkasa, di daratpun sama.


Getaran hebat yang terjadi yang berasal dari mulut goa sektor Y telah membuat seluruh pasukan perompak panik pada awalnya, mereka langsung bersiaga dan mengaktifkan seluruh persenjataan yang mereka miliki. Kepanikan tersebut semakin tinggi akibat bermunculannya pesawat-pesawat tempur di atas langit.


“Kita akan mati! Kita akan mati!” Seru salah seorang dari mereka. Untuk meluncurkan tembakan pun rasanya akan sangat percuma saat ini pikirnya.


“Hei! Mahluk apa itu?!!”


“Demi dewa perang! Kita akan mati saat ini juga! Mereka sangat besar!!”


Teriakan dan teriakan pun mulai terdengar, saat ini mereka hanya berharap jika dewa perang yang selalu mereka sembah mengirimkan keajaibannya.


“Zaya! Lihat! Itu Zaya!” Pekik Fin sambil menunjuk kearah seekor naga besar yang muncul dari mulut goa dan terbang mendekatinya.


“Gila! Ini benar-benar gila!” Balas Bessara, menyisakan mulut yang tetap menganga melihat pemandangan luar biasa di hadapannya.


“Kakak ku itu benar-benar konyol!” Ucap Hira seraya mengarahkan pesawatnya untuk segera mendarat. Gadis itu melihat sang kakak yang menunggangi seekor naga besar sambil melolong! Bersamaan dengan itu bermunculan pula sekawanan serigala serta hewan-hewan buas besar penghuni perut planet dan beberapa pesawat pengangkut.


Dua naga terbesar langsung menyemburkan apinya ke arah gurun pasir tandus dimana para cacing raksasa bermukim, dan tak lama kemudian mahluk-mahluk mengerikan itupun mulai bermunculan.


“Oke…Mereka cukup menjijikan…”