The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 60



Sebuah kapal pengangkut berhasil mendarat di wilayah terjauh dari planet Neuro, ketika peperangan hebat sedang terjadi di dalam dan di luar planet tersebut. Tak lama kemudian sebuah pesawat tempur berukuran kecil pun mendarat tak jauh dari benda besar berwarna hitam itu.


“Keluarlah kalian semua!” Sesosok mahluk berjubah hitam keluar dari pesawat yang berukuran lebih kecil dari pesawat yang tengah berdiri begitu megah dihadapannya, disusul dengan terbukanya pintu besar pada pesawat tersebut.


Drap! Drap! Drap!


Ratusan mahluk mengerikan keluar dari sana, mereka berbaris rapi dengan pakaian perang melekat pada tubuhnya. Tak berselang lama, pesawat-pesawat serupa pun mulai mendarat di sekeliling wilayah itu.


Sebuah pulau berbatu tak berpenghuni yang dulunya merupakan sebuah gunung merapi, terletak di tengah-tengah perairan yang ombaknya selalu menerjang disekelilingnya membuat kedatangan mereka disana tidak akan disadari oleh siapapun bahkan bangsa Amarath sekalipun.


The one, mahluk kuno mengerikan itu menghentakkan tongkatnya ke atas permukaan tanah hingga terbelah dan memperlihatkan aliran lava dibawahnya.


“Ini akan menjadi rumah kalian!” Ucapnya dengan suara menggema.


Sementara di langit, mereka bisa melihat jejak-jejak kehancuran pesawat induk milik mereka akibat serangan dasyat yang dilancarkan oleh pasukan revolusi.


Beberapa saat sebelumnya…


Serangan meriam yang dilancarkan oleh The one kepada ketiga pesawat induk di depannya, ternyata tidak bisa menghancurkan pesawat-pesawat tersebut. Meski dia pun memerintahkan kepadan pasukannya untuk menghujani mereka dengan tembakan-tembakan laser, tetapi ketiga pesawat tersebut tetap tak bergeming.


Pesawat-pesawat tempur milik pasukan revolusi selalu berhasil mengecoh rudal yang mereka luncurkan dengan melakukan manuver-manuver lincah, hingga peledak yang seharusnya mengenai pesawat induk milik mereka berakhir mendarat di badan pesawat induk milik The one sendiri!


Meski jumlah pasukan mereka tidak sebanyak pasukan black ronin miliknya, tetapi dengan kepiawaian mereka mengendalikan pesawat seperti itu tetap membuat The one dan pasukannya kewalahan. Dia bahkan harus menerima kekalahan dengan hancurnya sang pesawat induk, dan memutuskan untuk kabur dengan sisa black roninnya menuju suatu tempat di planet Neuro.


“Ini baru permulaan! Tunggu pembalasanku!”


Krak! Duar! Duar! BUMM!!!


Sebuah ledakan maha dasyat terjadi tak lama setelah seluruh pasukan revolusi kembali memasuki ketiga pesawat besar itu, dan tak lama setelah ketiganya mengaktifkan kecepatan cahaya untuk meninggalkan planet tersebut guna menghindari efek dari ledakan tersebut.


“Sungguh indah…” Ucap Zaya. Gadis itu tengah berada dalam pelukan sesosok pria besar, ketika keduanya menyaksikan pemandangan indah dilangit yang  menyerupai hujan meteor dari atas sebuah bukit berbatu.


“Setidaknya mereka tidak akan bisa keluar dari pulau itu untuk sementara waktu” Gumam Gorg. Meski dirinya kini harus benar-benar mempersiapkan diri, jika suatu hari nanti mahluk kejam itu akan bangkit dan kembali membuat ulah.


Samael telah memberi tahu pria itu sebelumnya, jika kemungkinan besar The one akan mendiami pulau tak berpenghuni itu jika dirinya akan mengalami kekalahan. Mereka pun telah memasang sebuah sistem keamanan canggih yang membuat pulau tersebut tersegel secara otomatis setelah mahluk mengerikan itu beserta sisa pengikutnya telah masuk kedalam sana.


Pilar-pilar besar yang telah dibuat oleh kedua bangsa kuno itu akan menyeruak ke permukaan, lalu memancarkan sinar elektomagnetik yang akan membuat siapapun didalamnya terkurung dan terisolir dari dunia luar.


“Sampai kapan mereka akan tertahan disana?” Zaya sudah berada didalam dekapan Gorg ketika dirinya bertanya, gadis itu bahkan sudah tidak lagi bisa menghindar dari incaran pria serigala itu.


“Sampai kita semua siap melenyapkannya beserta seluruh mahluk menjijikan itu” Gorg menatapnya tajam, dia tidak rela jika gadisnya terus membicarakan mahluk kuno laknat itu. Hal tersebut telah membuat reaksi aneh pada jantungnya.


“Kau cemburu sayang?” Zaya terkekeh, dia bisa menyaksikan secara langsung perubahan pada wajah pria besarnya.


Secepat kilat Gorg membawanya ke suatu tempat, dengan membawa tubuh gadis itu di badannya setelah Zaya melingkarkan kaki dan tangannya disana. Tempat yang baru saja selesai dibuat oleh para Sinth, dimana keduanya bisa mencurahkan hasratnya tanpa membuat seisi planet menjadi hancur! Dan mereka berhasil memindahkan kehancuran itu ke sebuah tempat yang sudah terpasangi segel saat ini, dengan bantuan alat canggih yang berhasil dibuat oleh ilmuwan bangsa Amarath.


“Samael!!! Aku tidak akan mengampunimu!!!” Pekik sesosok mahluk mengerikan dari sebuah tempat terpencil di tengah deruan badai dan ombak lautan. Di tempatnya kini telah terjadi hujan badai serta petir yang saling bersautan! Dia dan para black ronin harus bersembunyi jauh di kedalaman pulau agar terhindar dari kilatan petir yang dasyat itu.


Mau tidak mau The one harus tinggal dan bersanding dengan lava yang selalu bergejolak disana! Dia harus mulai membuat rencana untuk membuat Lava tersebut berguna untuknya, selain hanya memberikan rasa panas yang terasa membakar sekujur di tubuhnya.


Khan terkekeh saat menyaksikan layar monitor besar dihadapannya, disana dia bisa melihat awan hitam telah menyelimuti sebuah pulau. Khan juga melihat angka kenaikan suhu pada tempat terdalam di pulai tersebut sekaligus dengan penuruhan suhu di permukaannya.


“Aku bisa menyaksikan hal ini sepanjang waktu!” Gelak pria besar tersebut, dia juga berharap agar Gorg serta Zaya lebih sering melakukannya! Khan sudah bisa membayangkan betapa sengsaranya The one saat ini, terisolir dan tersiksa akibat ulahnya sendiri.


.


.


Mohon maaf teman-teman othor masih istirahat hari ini, besok kita crazy up yaaa